RISAU

RISAU
SUKA (BERSEMI)


" iyah aku percaya kamu bisa menyelesaikan ujianmu dengan baik, megan apakah kamu sudah memaafkanku" Raka menatap dalam mataku. Aku memalingkan pandanganku dari Raka, tak ingin terlena oleh ketampanan nya.


" iya pastilah, buktinya aku mau diajak makan disini sama kamu" aku menjawab dengan senyumanku.


" syukurlah, maaf aku sudah membuatmu takut bahkan sampai menangis" ada kesungguhan dalam perkataan Raka. Matanya memancarkan kejujuran.


" sudah jangan membahas itu lagi, aku sudah melupakannya dan sudah memaafkan mu" dalam hatiku ,aku tidak pernah melupakan kejadian itu. Bahkan selalu terekam jelas di ingatanku. Namun hatiku lah yang ingin menutup semuanya.


" baiklah" Raka menjawab simpel.Hati Raka kecewa mendengar perkataan megan. Tapi lebih baik begini daripada Raka tidak bisa mendekatinya.


Keheningan pun terjadi. Aku tidak berani membuka mulutku lagi, aku yang selalu heboh, di depan Raka tidak bisa bertingkah. Aku yang selalu bawel, bahkan hanya bisa membisu di depannya. Setelah kejadian malam itu. Ada rasa sedih di hatiku. Ditengah keheningan pelayan datang membawa pesanan kami.


" silahkan dinikmati,jika ada perlu tambahan lainnya anda bisa panggil saya kembali" ucap pelayan itu ramah


" baik terima kasih" jawabku.


Sindi masih belum kembali dari toilet , mataku mengitari seluruh ruangan. Dan sindi muncul dari arah utara tempat kami duduk. Kemudian sindi mendekati kami dan duduk di sampingku.


"lama banget sindi" tanyaku dengan memonyongkan bibirku.


"apa sih megan aku sengaja loh biar kalian bisa berduaan,aku gak mau jadi obat nyamuk" sindi mengedipkan sebelah matanya padaku , kemudian tersenyum pada Raka, Raka pun membalas senyumannya.


" apaan sih sindi" aku mnyenggol tangannya.


Kami menyantap makanannya. Mie di kedai ini enak banget, sesuai dengan lidahku. Aku masih heran, kenapa Raka bisa mengetahui apapun tentang apa yang aku sukai. Dan aku mencurigai Sindi dalangnya. Makanan yang dihidangkan habis tak tersisa. Sindi dan Raka pun menghabiskannya sepertinya mereka sama laparnya denganku. Aku melirik jam di tanganku. Sudah hampir waktu maghrib. Malam ini aku ada janji dengan 3 sahabatku.


" Raka terima kasih traktirannya yah, tapi aku kayaknya harus pulang sekarang, apa kalian masih mau disini?" aku melirik sindi, dia melotot menatapku.


" emang mau kemana sih megan" tanya sindi kesal. Kenapa juga dia kesal. Sungguh aneh sikap sindi ini . Raka hanya tersenyum manis ke arah kami


" aku ada janji dengan ketiga sahabatku malam ini ,aku sudah kangen banget sama mereka bertiga" jawabku, kemudian aku menikmati jusku.


" oke kita pulang, aku anterin kalian pulang" Raka mengiyakan ajakanku.


" kamu gak usah nganterin aku kasian harus memutar balik ,kamu nganterin megan aja. aku bisa naik ojeg online" sepertinya sindi sengaja membiarkan kami berdua lagi.


" bener sin?" Raka bertanya meyakinkan ucapan sindi.


" beneran, aku udah pesan ojegnya ,ni ojol nya udah nunggu di depan. Aku sepertinya harus pulang duluan , terima kasih traktirannya Raka" sindi membereskan tasnya. Meninggalkan kami dengan terburu-buru.


Raka membayar makanan kami, kami pun meninggalkan kedai mie itu, menuju parkir mobil. Lagi dan lagi situasi yang canggung , aku bahkan risih kalau harus berdua sama Raka. Sindi keterlaluan memang . Meninggalkanku hanya berdua dengan Raka. Aku harus membayar perlakuannya nanti.


"kamu pulang duluan aja Raka ,aku ada mau beli sesuatu dulu di minimarket" aku berusaha menghindari Raka . Dan sepertinya Raka mengetahui gelagatku.


" ya udah aku anterin kamu dulu trus antar kamu pulang" Raka menarik tanganku ke arah mobilnya. Aku terpaksa mengikutinya karena genggaman tangannya yang kuat sekali.


Raka membuka mobil pintu di depan tapi aku menolaknya. Aku membuka pintu mobil di belakang, dan segera duduk di kursi belakang mobilnya. Raka tidak menghiraukannya, dia duduk dibalik kemudinya memasang seatbelt dan melajukan mobil sportnya.


" jadi nona mau membeli apa?" Raka menghentikan mobilnya di depan mini market dekat rumahku.


" apa maksudnya memanggilku nona?" aku mengernyitkan dahiku.


" habis aku kayak supir kamu sih dari tadi dianggurin terus" jawabnya .


" aku gak seperti itu loh, membiarkan gadis yang aku jemput kemudian menyuruhnya pulang naik angkot, sadis banget " Raka melemparkan senyumnya . Ya tuhan lesung pipitnya membuatku semakin jatuh hati padanya. Aku mengusap dadaku. Aku bahkan tidak sadar diri dengan hatiku .


" ya udah kamu tunggu dulu aku mau membeli beberapa keperluan rumah sebentar" aku membuka pintu mobil dan meninggalkan Raka. Tapi Raka mengekor dibelakangku.


"mengapa kamu mengikutiku?" tanyaku heran.


" aku mau mengantarmu, aku gak mau seperti supir yang menunggu majikannya" Raka mendahukuiku masuk ke dalam mini market. Aku berjalan menuju lorong keperluan rumah, mengambil beberapa sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, detergen,pewangi dan berbagai keperluan lainnya .Tiba di sebuah rak berisikan keperluan intim wanita. Aku bingung Raka masih mengikutiku.


" kamu tunggu disana saja" aku mendorong tubuh kekar Raka, namun tubuhnya tak bergerak karena tenaga ku tidak sebanding dengan tubuh kekarnya.


" memangnya kenapa?" tanyanya keheranan


" pokoknya tunggu saja disana , bawel banget sih " aku menunjuk tanganku ke arah showcase minuman. Raka pun menurut . Aku segera mengambil beberapa pembalut yang biasa aku pakai. Kemudian bergegas menghampiri Raka.


"yuk aku sudah selesai" ajakku.


"tunggu aku mau membeli sesuatu" Raka meninggalkanku , Aku menuju kasir untuk membayar keperluanku.


Kasir sudah men_scan beberapa belanjaanku.


Raka sudah berada di belakang ku membawa 2 buah eskrim rasa coklat ditangannya. Memberikan nya pada kasir


" sekalian mbak ini" ucapnya.


" totalnya 267rb mbak" kasir memberikan tas belanjaanku, tas belanja lipat yang selalu aku bawa di dalam tas kecilku.


" ini mbak" Raka memberikan credit cardnya pada kasir itu.


" gak usah mbak, ini pake uang cash aja." aku memberikan 3 lembar uang seratus ribu , tapi Raka mengambilnya dan memberikannya pada tanganku.


" gak usah megan , biar aku aja" Raka menyuruh kasir itu untuk membereskan pembayarannya. Raka membawa belanjaanku, satu tangannya memegang tanganku. Hatiku meletup-letup dengan perlakuannya. Aku menepis tangannya, berjalan menuju mobil Raka.


" kamu gak usah bayarin belanjaanku Raka, aku gak mau punya hutang sama orang" gerutuku.


" lagian siapa yang mau hutangi kamu, aku cuman pengen nraktir kamu aja. sesekali" jawabnya. Raka mengambil es krim yang dibelinya.


" nih es krim kesukaanmu, makan dulu daripada emosional terus" Raka menyodorkan nya padaku. Akupun mengambil dan membukanya. Rakapun membuka eskrimnya kemudian melahapnya.


" kamu kenapa bisa tau makanan favoritku?" Raka tersedak mendengar perkataanku, dia sepertinya terkejut dengan pertanyaanku.


" enggak kok , aku kebetulan aja" Raka menjawab gugup


" gak usah bohong" ketusku


" beneran kebetulan" Raka menjawab dengan cepat


" sindi memang keterlaluan,memberitahukan semuanya padamu tanpa bertanya dulu padaku" aku melihat wajah Raka yang sudah kebingungan.


" apa hubungan nya sama sindi?" Raka menjawab dengan pura-pura