
" rakus aku ingin bicara,tapi kamu hanya cukup diam ketika aku belum menyelesaikan ucapanku" aku menatap Raka dengan wajahnya yang tampak kebingungan.
" rakus kita harus nengakhiri hubungan ini" belum selesai aku berbicara Raka sudah memotong pembicaraanku, dia benar-benar tidak bisa mendengar penjelasanku.
" aku tidak akan mendengar ucapanmu, terserah" Raka menjauhiku, dia duduk kembali di samping jendela.
" Rakus please kita harus menyelesaikan ini semua, aku tidak ingin melanjutkan hubungan yang tidak ada tujuan akhirnya" aku berusaha berbicara dengan tenang, walaupun hatiku sendiri tidak tenang. Aku menahan rasa sakit hati ku saat ini. Perasaan sedih, perasaaan sesaknya menahan air mata agar tak lolos jatuh ke pipi.
" megan, apa kamu tidak dengar yang aku katakan" Raka berbicara sedikit meninggi, baru pertama kali aku mendengarnya berbicara seperti itu. Wajahnya merah padam menampakkan amarahnya. Aku tertunduk diam, air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya lolos membasahi pipiku. Aku mengusap sesekali , aku menunduk menahan setiap isakanku.
" maafkan aku" Raka tiba-tiba memelukku, disaat seperti ini tangisanku semakin menjadi. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi.Aku menangis sejadinya dalam pelukan Raka. Seolah dia tahu ,Raka memelukku semakin erat. Sesekali dia mengusap rambutku, kemudian mengusap punggung menenangkanku.
hiks.hiks.hiks
Tangisanku masih terdengar jelas, Raka terus memelukku tanpa berkata apapun. Kalau boleh egois aku tidak ingin dia pergi saat ini. Kalau boleh aku tidak ingin menjauh darinya. Itu terasa menyakitkan. Semuanya terasa penuh di dadaku, dengan pelukan Raka aku bisa melepaskan semuanya.
" sudah jangan menangis lagi,aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kamu nangis terus seperti ini" Raka melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mataku yang jatuh berkali-kali di pipiku. Raka mengusap-ngusap kedua punggung tanganku. Akupun mulai tenang dan berhenti menangis. Aku tidak ingin membuatnya khawatir lagi.
"tidakkah kamu percaya dengan semua janjiku padamu? bahwa aku akan menepati semua ucapanku. Kamu hanya perlu tunggu dan jangan pergi" ucapnya dengan nada penuh ketulusan .Aku hanya memandang nya dengan tatapan sendu tanpa berkata sepatah katapun.
" aku ingin kamu bertahan dengan hubungan ini, cukup dengan sabar mencintai dan tetap berada di sisiku. Selebihnya biar aku yang akan menyelesaikan nya" Raka menggenggam tanganku. Entah mengapa aku selalu percaya setiap ucapannya. Aku yakin dia akan selalu menepati janjinya .
" jangan sesekali menjauhi ku megan, karena aku bisa gila kalau kamu menghilang dari pandanganku " Raka memelukku dengan erat, aku sudah tidak berkata apapun lagi. Aku hanya bisa mempercayai setiap kalimat yang di ucapkannya.
" bagaimana dengan mami mu, aku tidak ingin kamu menyakiti perasaannya" aku berucap dengan terbata, menatap nanar wajah Raka. Wajah teduhnya selalu membuatku tenang, bisa membuat beban dalam hidupku menghilang seketika. Aku sudah sangat mempercayainya. Sehingga aku sulit untuk melepaskan semuanya.
(menggeleng kepala)
" kamu tidak usah kamu memikirkan masalah itu lagi. Kamu hanya cukup menunggu, aku akan segera melamarmu ." Raka mengecup puncuk rambutku. kemudian dia mengusapnya.
tok.tok.tok
Terdengar suara laki-laki di balik pintu itu.
" pak makanannya sudah siap"
" masuklah" perintah Raka.
Pelayan datang dan nenata makanan yang dia bawa di meja.
" jika anda membutuhkan sesuatu bisa panggil saya tuan"pelayan itu berlalu setelah Raka mengisyaratkan dia untuk pergi.
" makanlah yang banyak tenagamu banyak terkuras sejak kemarin" Raka menatapku yang masih diam tanpa menyentuhnya. Dalam keadaan seperti ini selera makan ku tiba-tiba hilang. Mana bisa disaat seperti ini.
" buka mulutmu" Raka menatapku ditangannya ada sendok yang sudah terisi makanan . Aku menatapnya tanpa membuka mulut.
" ayo buka mulutmu tanganku sudah pegal dari tadi" Raka mendekatkan sendok ke dekat mulutku , aku pun membukanya.
" apa aku harus terus menyuapimu?" tanyanya dengan senyum terkembang.
" tidak usah " aku mengambil sendokku dan menyantap makanan di piring. Raka hanya tersenyum melihat tingkahku..
" di kuningan , setelah itu hanya di bandung dan sekitarnya" aku menyeruput jus ku.
" boleh aku ikut?" Raka menatapku . Aku menatapnya yang masih memandangku dengan penuh pengharapan.
" gak usah. Kamu kan sibuk. Lagian manager hendrik tidak akan mengizinkanmu ikut" Kulihat wajahnya berubah menjadi lesu.
"Kamu benar-benar ingin menjauhiku" ucapnya datar dengan wajah yang sama.
" bukan gitu rakus,sejak kapan kamu ingin mengikuti jadwal tour ku. ?" tanyaku
" sejak kejadian ini, aku gak ingin kamu jauh dariku lagi" Raka duduk bersandar pada punggung kursi.
" Raka aku bisa meminta nomer kak Rika aku belum mengucapkan terima kasih" ku lihat dia sedang memegang handphone. Sehingga aku teringat untuk menghubungi Rika.
" tidak usah, biar aku aja yang sampein berabe kalau kamu dan dia saling komunikasi, kemarin saja aku dihajarnya sampai babak belur begini" Raka menunjuk mukanya yang masih lebam biru akibat bogem mentah dari kakaknya sendiri.
"baiklah sampaikan terima kasihku pada kak Rika, kamu sepertinya jarang bertemu dengannya?" tanyaku yang masih penasaran dengan cerita kakak beradik itu.
" iyah dia pindah ke medan meninggalkan bandung jadi kami jarang bertemu" bohong Raka. Padahal dia tidak berjumpa kakaknya selama 2 tahun, kalau bukan karena ku dia tidak akan pernah bertemu kakaknya...
" Raka aku ingin bertanya sesuatu? tapi kamu harus menjawab dengan jujur" aku menatapnya berharap dia menjawab iya. Karena aku tau kenapa Rika sampai membuat dia babak belur, seperti ucapannya Raka seorang playboy jadi aku menanyakan nya
" tanyakanlah , kenapa harus sungkan bertanya apapun aku akan menjawab nya dengan jujur" ucapnya sambil menenggak minuman
" kamu pernah melakukan itu dengan pacar-pacarmu dulu?" tanyaku pelan. Raka yang mendengar pertanyaanku tersedak dengan mata yang membelalak.
" maksudmu?" Raka pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaanku. Padahal dia sangat paham.
"sudah lupakan saja" aku mengurungkan niatku untuk bertanya.
cuppp
tiba-tiba Raka mendekatiku kemudian mencium bibirku . Refleks aku memukul lengan Raka , sudah sekian kali dia selalu tiba-tiba menciumku.
cupp
Raka kembali menciumku kemudian ******* bibirku, ada aroma mint segar di setiap nafasnya. Aku memejamkan mata kemudian membalas setiap lumatan bibir Raka tanpa sadar. Tangan Raka menekan tengkuk ku dan memperdalam ciumannya. Lidahnya bermain-main dalam mulutku. Setelah lama berpagutan, aku melepas ciuman itu karena sudah sangat sulit bernafas. Raka pun tersenyum menatapku.
"aku merindukanmu" bisiknya di telingaku yang tentu saja membuat wajahku memerah seperti tomat.
"aku sudah pernah melakukannya , apa kamu kecewa" bisiknya lagi di telingaku. Aku tak percaya dengan ucapannya karena dulu pun dia pernah bilang , aku lah perempuan pertama yang dia cium. Jujur ada rasa kecewa ketika mendengarnya, namun aku sudah terlanjur menyayanginya sehingga biarkan masa lalu itu terkubur bersama masa depannya.
" kamu sepertinya kecewa sayang, tapi tenang saja aku berbohong padamu tadi. Aku masih perjaka ,dan itu akan kuberikan untukmu, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang" bisiknya dengan tatapan licik. Sontak saja aku memukul dadanya yang bidang. Raka menahan tanganku untuk tidak memukulinya lagi
" kamu jangan memukul dadaku seperti ini, lihat juniorku bangun" dia melihat arah celananya, reflek akupun melihat arah matanya, Dan benar saja juniornya sudah berdiri tegak. Aku menutup mata dengan kedua tanganku.
"dasar mesum, ayuk pulang" aku beranjak dari tempat dudukku dan berlalu meninggalkan ruangan itu, Raka tersenyum kearahku dan mengikutiku dari belakang.