RISAU

RISAU
DILEMA (pengkhianatan)


Hari itu dimana aku mendengar pernyataan Alex. Aku berusaha menetralkan suasana. Aku melupakan apa yang telah di ucapkan alex tempo itu. Aku menganggap semuanya tak pernah terdengar di telingaku. Sebisa mungkin sikapku seperti biasanya pada Alex. Sebelum kejadian malam itu. Persahabatan yang aku bangun tidak akan hancur hanya karena perasaan . Kami akan seperti ini selalu menjaga walaupun ada rasa sakit dalam persahabatan kami. Aku pernah sakit hati ketika Rasya menolakku, dan siapa sangka dari dulu alex adalah orang paling menderita diantara kami. Dia begitu hebat menyimpan perasaanya padaku. Aku bahkan hanya menganggap alex lelaki dingin tanpa sebuah perasaan. Yah terakhir kali aku mendengar hubungan percintaannya kandas di tengah jalan. Itupun aku dengar dari cerita iko.


Aku masih disibukkan dengan acara tour dan promo album bersama band ku . Terakhir hari ini setelah sebulan lamanya kami bisa berlibur beberapa hari . Seperti biasa pak hendrik akan mengantar kami ke rumah setelah tour keliling selama sebulan ini .


" alex ikut kita pulang ?"pak hendrik menatap alex yang belum beranjak pulang dari kursinya


" aku ikut aja pak. Pak santoso sepertinya terkena macet " Alex melirik jam tangannya.


Kami masuk , aku dan alex duduk di kursi jok belakang. Aku sempat heran sama alex kenapa dia bisa sedingin itu setelah kejadian sebulan lalu. Nampaknya dia masih sama seperti dulu, tidak sepertiku yang berusaha mati-matian menetralkan suasana saat bersamanya. Enak banget punya sifat cuek seperti dia. Bisa mengendalikan keadaan. Justru aku lah yang dibuat tidak nyaman saat bersama Alex. Tidak adil memang. Mau cuek salah, mau biasa juga takut salah. Entar salah paham lagi. Aku memutuskan untuk tidur. Aku tidak ingin terlihat serba salah kalau duduk berdampingan dengan Alex seperti ini.


drrt


drrt


Sebelum memejamkan mata , aku mendengar getaran hape di tasku. Raka meneleponku.


" assalamualaikum" sapaku.


" waalaikumsalam, sayang kamu dimana?" tanyanya .


" dijalan mau pulang.kenapa?" tanyaku.


"jalan mana?berhenti disana sayang" Raka menyuruhku untuk turun.


"aku dijalan soetta nih. Emang kamu lagi dimana?" tanyaku tidak mengerti.


" aku di jl. jakarta kamu berhenti disana yah, aku jemput sekarang " perintahnya.


" mau kemana emang?" tanyaku.


" aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, tapi mampir ke apartemen dulu. aku mau ganti baju" di balik telepon suara Raka terdengar bising .


" aku turun di depan apartemen aja kalau gitu, jadi kamu gak usah bolak balik." usulku.


" ya udah tunggu disana, kamu langsung ke unitku aja. " Raka memutuskan panggilan.


" ngapain lu ke apartemen Raka" alex melotot menatapku.


" apaan sih alex. bukan urusan lu" balasku kasar


"megan jangan sampe lu macem-macem yah" alex menarik lenganku dengan kasar.


" lu kenapa sih alex ?" aku menarik lenganku karena sudah kesakitan .


" lu gak usah kesana, gue gak mau lu kenapa-kenapa" ucapnya sambil membenarkan duduknya.


" pak turun di apartemen grand royal yah" perintahku kepada supir .


" mau kemana kamu" pak hendrik menoleh menatapku.


"aku ada urusan pak. " jawabku singkat


" ya udah, hati-hati kamu istirahat yah megan jangan terlalu kecapean . Kamu pake ni masker sama topi jangan sampai fans kamu mengerubuni mu. "pak hendrik memberikan masker dan topi padaku. Aku mengambil dan memakainya. Ku lihat Rasya dan Iko tertidur pulas .


" megan ingat kata-kata gue jangan sampai kamu melebihi batasmu" alex berbisik ketika aku sudah beranjak dari mobil. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam . Dia memang terlalu banyak mengurusi kehidupanku .


Akupun berhenti di sebuah gedung tinggi. Aku memasuki lobby apartemen itu. Aku meminta sekuriti untuk mengizinkanku masuk menuju lift. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menuju lift apartemen dan menekan tombol lantai menuju apartemen Rika. Yah itu apartemen Rika , Raka hanya menempatinya sementara waktu .


Aku melewati beberapa lorong dan sampai lah di unit apartemen . Aku tidak memencet bel terlebih dahulu. Ku buka pintu apartemen itu. Pintunya tidak terkunci. Aku masuk dalam ruang tamu namun tak ada orang lain disana.


Aku memberanikan diri masuk menuju kamar utama yang tidak dikunci dan terbuka lebar. Betapa terkejutnya aku saat ini.


" Raka" kataku lirih ketika aku melihat pemandangan yang begitu vulgar disana.


Nanda berada dalam pangkuan Raka sedang berciuman dengan mesra . Tangannya melingkar pada leher Raka. Begitu intim, sampai aku tidak bisa lagi berkata. Bahkan Raka sama sekali tidak menolaknya. Raka melihatku yang sedang mematung menatapnya. Dengan kuat dia mendorong nanda sampai tersungkur ke lantai. Nanda meringis kesakitan . Air mataku menetes di pipiku. Terpukul, ya aku sangat sakit hati melihat pemandangan seperti itu. Raka yang begitu aku percaya, ternyata selama ini tega mengkhianatiku. Fikiranku sangat kacau. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku hanya air mata yang terus mengalir di pipiku.


" megan ini gak seperti apa yang kamu lihat" Raka memegang lenganku. Aku hanya diam tanpa berkata apapun. Aku shock. Aku sangat kecewa saat ini.


Aku membalikkan badanku namun Raka menarik tanganku. Aku melepaskan genggaman tangannya dengan kuat. Dan berlari meninggalkan Raka. Namun Raka berhasil mengejarku. Aku sesekali menghapus air mata yang menetes di pipiku.


" aku bisa jelasin megan" katanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Raka menggenggam tanganku dengan erat . Lagi aku hanya diam mendengar segala ucapan Raka.


" aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan" Raka mengenggam tanganku.


" baiklah" hanya itu kata yang keluar dari mulutku .


" kita ngobrol di cafe di bawah" Raka menuntun tanganku . Aku mengikutinya, aku tidak ingin amarah dan emosi menguasaiku saat ini. Aku memang ingin mendengar penjelasannya saat ini . Walaupun kepercayaan ku terhadapnya mulai terkikis .


Kami duduk di pojok cafe, Raka memesan minuman untuk kami. Dan duduk berhadapan denganku. Aku menatap dan memegang gelas yang ada di depanku. Raka menggenggam tanganku namun aku menepisnya


" jelaskan" aku menatapnya dengan mata yang sembap. Hatiku masih perih apalagi ketika menatapnya . Bayangan pemandangan itu seketika terlintas dalam fikiranku .


"tadi dia datang atas suruhan mami. Dia diberi alamat apartemen ini oleh mami. Dan hari ini adalah pertama kalinya dia datang aku sama sekali tidak tau dia akan datang" Raka menatapku dengan dalam,menelan salivanya namun aku hanya menunduk, aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku hanya ingin mendengar tanpa melihatnya. Memang benar tidak mungkin Raka menyuruhku datang kalau tau dia akan datang. Aku mulai menerima alasannya


" aku lupa mengunci pintu ketika sampai, dia datang ketika aku berganti baju dan langsung mendorongku kemudian menciumku tiba-tiba" Raka masih menatapku. Ada kesungguhan dalam setiap katanya. Atau aku terlalu mencintainya. Ketika sudah melihatnya seperti itu aku masih percaya padanya.


* reader tolong like setiap episode novel ini yah. View nya udah banyak tapi masih sedikit like. Jangan lupa author berharap kalian bisa memberikan kritik dan saran di kolom komen. Jangan. lupa vote yah .*