
*Tolong tinggalkan jejak like, komen, dan vote untuk novel ini terima kasih.*
Proses perceraian Megan dan Rizal berjalan sangat alot. Rizal tidak pernah menghadiri sidang. Saat mediasipun hanya pengacara Rizal saja yang mewakili. Berita perceraian ini telah menghancurkan dua keluarga. Sejak awal pernikahan Megan dan Rizal tidak bisa mempersatukan dua keluarga. Keluarga Rizal tidak pernah menghargai Megan sebagai istrinya. Namun Megan selalu berupaya menjadi istri yang baik untuk Rizal.
Hari ini sidang mediasi tahap kedua, Megan keluar ruang persidangan dengan wajah murung. Megan tidak ingin hak asuh anaknya jatuh pada Rizal. Diluar pengadilan sebuah mobil sport berwarna metalik terparkir. Megan memasuki mobil itu setelah berpamitan dengan pengacaranya.
"Sayang bagaimana sidangnya?." Tanya Raka.
Dengan potongan rambut barunya sedikit fresh. Rambutnya dulu sedikit panjang dan berantakan, hari ini Raka telah merapikannya dengan potongan mohawk namun rambut atasnya masih sedikit panjang.
"Minggu depan keputusannya Rakus, semoga Rizal bisa memberikan hak asuh Tasya padaku." Megan memakai seatbeltnya.
"Kamu tidak usah khawatir sayang, pengacara yang mendampingimu itu sangat hebat. Urusan hak asuh aku jamin akan jatuh padamu." Raka melajukan mobilnya menuju rumah yang telah dia tinggali beberapa hari lalu.
" Terima kasih sayang, setelah ini kita pergi kemana?." Tanya Megan dengan bibir melengkung menampakan senyumnya.
" Kita pergi ke rumahku, nenek, ayah dan Rika sudah menunggu kita disana." Raka fokus dalam kemudinya.
Hampir satu bulan Raka tidak pernah menjadikan Jimmy supirnya lagi. Jimmy fokus bekerja di kantor membantu Raka masalah pekerjaan. Setelah Megan kembali dikehidupan Raka, Raka selalu membawa kendaraanya sendiri. Raka sudah memarkirkan mobilnya didepan area perumahan elit di pusat kota Bandung. Sebelum akhirnya satpam membuka pintu gerbang rumah minimalisnya.
"Siang pak." Satpam itu membungkukkan badannya ketika Raka memajukan mobilnya kedalam rumahnya.
" Ayo kita turun." Raka membukakan pintu mobil untuk Megan.
Dengan ragu Megan memasuki rumah itu. Hati Megan resah bagaimanapun kali ini kedua kali Megan bertemu papi Raka. Dan hari ini pertama kali Megan akan bertemu nenek Raka. Mereka menuju meja makan yang terletak antara dapur dan ruang televisi.
"Tenanglah sayang, tidak usah gugup. Aku disini bersamamu." Raka memberikan senyum terbaiknya agar Megan bisa bersikap lebih santai.
"Selamat siang nenek, ayah, kak Rika." Raka menyapa semua anggota keluarganya. Megan hanya tersenyum melihat seluruh keluarga sudah berkumpul di meja masing-masing.
Raka menarik kursi untuk Megan duduk. Megan duduk disamping nenek Raka. Ada perasaan was-was ketika Megan menatap nenek Raka.
"Siapa namamu?." Sebelum hidangan tertata dimeja makan oleh pelayan, terdengar suara nenek menggema di ruangan.
Megan tercekat sesaat, menatap nenek Raka.
" Megan nek." Jawab Megan dengan gugup.
Setelah itu tidak ada obrolan lagi karena makan siang sudah berlangsung.
"Setelah selesai temui aku di ruang keluarga." Nenek beranjak dari kursinya kemudian berjalan menuju arah ruang keluarga. Semua orangpun berdiri mengikuti nenek.
Megan nampak gelisah. Hari ini kedua kalinya Megan bertemu dengan keluarga Raka. Mereka berkumpul di ruang keluarga yang cukup besar. Megan duduk disamping Raka. Rasa gugupnya tak berhenti.
"Saya tidak ingin berbasa-basi. Megan sudah sampai mana perceraianmu?." Nenek menatap megan yang nampak kaget mendengar pertanyaan nenek Raka.
"Saya ingin setelah perceraianmu selesai. Kalian segera melangsungkan pernikahan. Kemungkinan mami Raka sudah bisa dibebaskan dalam waktu 2 minggu ke depan." Ucap nenek Raka dengan aura kewibawaan yang tak hilang dimakan waktu.
"Benarkah nek?." mata Raka berbinar kemudian memeluk neneknya dengan erat.
Wajah Megan nampak pucat pasi mendengar perkataan nenek Raka. Bahagia dan gelisah bercampur menjadi satu. Megan belum siap menjalani kembali sebuah pernikahan. Apalagi mami Raka yang menentang keras hubungan mereka.
"Nenek apa yang nenek katakan Rika belum menemukan pasangan. Mengapa Raka harus melangkahi Rika. Rika keberatan nenek." Rika merajuk menatap neneknya.
"Anak nakal apa kamu sudah punya pasangan seperti Raka. Kamu sudah menemukan Yadikamu itu?." Nenek menatap Rika dengan tajam.
"Rika tidak setuju nenek. Raka masih muda. Masih bisa menunda pernikahannya. Bisakah Raka menikah setelah Rika?." Rika terus memohon.
Usia Rika dan Raka hanya terpaut 3 tahun. Tapi Rika tidak ingin jika adiknya mendahuluinya. Rasanya sulit diterima bagi hidupnya.
"Hei Rika sampai kapan aku harus menunggumu. Pasangan saja kamu belum menemukannya." Raka menatap Rika dengan kesal karena rencana menikahnya harus terganggu oleh rengekan Rika.
"Diam kalian anak-anak nakal. Rika nenek sudah mempunyai rencana. Nenek akan menjodohkan kamu dengan keluarga Diningrat. Yakni Alex Diningrat."
"APA?" Raka, Rika, Megan dan Pak Prambudi serentak kaget menatap nenek.
"Kenapa kalian terkejut seperti itu. Setelah menemui mamimu waktu dipenjara, nenek membujuk ayah Alex untuk tidak mengakuisi perusahaan ayahmu. Tapi mereka mengajukan persyaratan perjodohan ini. Nenek terpaksa menerima semua itu. Dan apa salahnya dengan Alex. Dia pria hebat. Dia mewarisi bisnis ayahnya. Apalagi dia seorang anak band. Bukan begitu Megan?." Mata nenek Raka tertuju pada Megan yang masih terlihat gelisah ditengah perbincangan keluarga ini.
"Benar nek." Megan menjawab seperlunya. Megan bingung bagaimana harus berkata dalam perdebatan kecil ini.
"Nenek Alex seumuran dengan Raka. Apa nenek tidak salah menjodohkan Rika dengan Alex?." Rika kembali merajuk. Rika sungguh tidak mengerti dengan pemikiran keluarga dua keluarga ini.
"Papi setuju saja Rika. Apalagi jika Alex bersedia menerima perjodohan ini. Alex tampak lebih dewasa pemikirannya daripada kamu." Pak Prambudi membuka suaranya.
"Raka juga setuju nek. Raka mengenal baik Alex dengan baik." Tentu saja Raka menyetujuinya. Dengan perjodohan ini,Alex tidak akan menjadi saingannya untuk mendapatkan Megan.
"Tapi nek." omongan Rika terpotong.
"Sudah Rika nenek tidak menerima negoisasi lagi. Jika kamu tidak ingin dilangkahi Raka kamu harus menerima perjodohan ini. Jangan sekali lagi kamu membantah ucapan nenek."
"Nenek aku tidak akan menyetujui ini jika Alex sendiri yang menolaknya." Rika masih tidak percaya dengan apa yang akan terjadi pa da hidupnya.
"Tentu saja keputusan terbesarnya ada di tangan Alex. Tapi jangan harap kamu bisa lolos dari perjodohan ini jika Alex bersedia menerimanya. Kalian tidak harus terburu-buru. Nenek akan mengatur makan malam bersama keluarga Diningrat dengan secepatnya untuk perkenalan kalian."
Keputusan yang dibuat nenek sudah final. Pak Prambudi pun tidak bisa berkata apa-apa jika sudah nenek yang berbicara. Secara kekuasaan nenek mutlak dan tak terbantahkan.
Rika menarik nafas dalam. Kemudian membuangnya kasar. Yadika memang tak pernah bisa terlacak jejaknya. Mami Veronica dengan sangat baik menghilangkan jejak Yadika. Memang Rika masih sangat berharap bertemu dengan Yadika. Namun setelah beberapa tahun silam Rika sudah pasrah dengan nasib percintaannya. Rika ingin membuka kembali kisah cintanya dengan orang lain. Tapi bukan cara dijodohkan seperti ini.