RISAU

RISAU
DILEMA (End)


" aku kaget sehingga diam saja ketika dia menciumku tadi , belum sempat menolak kamu sudah mematung di depan pintu, kejadian itu cepat sekali, percayalah padaku kali ini saja megan , aku mohon " suara Raka bergetar, aku masih diam mendengarkan penjelasannya.


(menatap Raka)


" Raka aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini" Aku berkata tanpa melihat wajahnya.


" kamu sudah tidak percaya dengan semua perkataanku megan?" tanyanya dengan nada sedikit meninggi. Wajahnya memerah seketika.


" hubungan kita tidak bisa lebih jauh lagi, tante veron jelas lebih mempertimbangkan nanda dibanding aku. Lebih baik kita mengakhirinya Raka" aku menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis lagi. Aku berusaha kuat karena kedepannya aku harus lebih kuat untuk meninggalkan Raka


" apa kamu menyerah sekarang?" tanyanya masih dengan nada kesalnya.


" ya aku menyerah. Aku dan kamu terlalu berbeda Raka" tak terasa air mataku jatuh di pipiku. Sekuat tenaga aku menahan akhirnya lolos juga.


Saat ini entah apa yang ada dalam perasaanku. Berharap Raka mempertahankan. Atau justru berharap dia pergi untuk melepaskan. Aku menyerah dalam keadaan ini. Sekali lagi aku menyerah dengan situasi ini. Dari awal kenapa aku tidak ingin menjalani seperti ini,karena aku tau akhirnya akan seperti apa. Tapi Raka justru meyakinkan perasaanku. Aku tidak pernah ingin berada dalam situasi ini. Betapa sakit hatinya aku sekarang. Berhadapan namun hatiku terasa jauh. Dia berada di depanku tapi aku sulit untuk menggapainya.


" hari ini aku ingin mengajakmu mempersiapkan acara lamaran kita, dengan hebatnya mami merusak semuanya, dan kamu sama sekali tidak mempercayaiku" ucapnya dengan suara bergetar. Apakah aku benar-benar melukainya saat ini? aku pun tidak mengerti mengapa situasinya berubah menjadi seperti ini.


" Raka aku harap kamu menyimpan keinginan mu untuk melamarku sebelum kamu bisa membujuk mamimu itu. " Aku menatap Raka ada terlihat kesedihan mendalam di wajahnya.


" aku tidak akan sekalipun melepaskanmu, atau pun menghilang dari hidupmu. Namun jika aku terlalu banyak menyakitimu aku takkan pernah memaksamu untuk tetap tinggal. Untuk terus ada disampingku. " Mata Raka memerah dan dia menitikkan air matanya. Saat ini benar-benar membuatku frustasi . Dilema antara tetap bersamanya atau aku yang harus merelakannya pergi. Jika aku harus bersikap egois aku akan bertahan dengan hubungan ini. Seperti nanda yang egois , dia bisa membujuk tante Veronica agar tetap di sisinya.


" aku butuh waktu" Aku bergegas meninggalkan Raka yang sedang duduk. Dia sama sekali tidak menghentikanku kali ini . Air mataku lagi-lagi jatuh. Aku meninggalkan gedung itu.


Sepanjang jalan aku hanya menangis. Rasanya hancur . Aku terlalu lemah dengan perasaanku sendiri sehingga tidak bisa menguatkan diriku agar menerima keadaan ini. Saat ini aku ingin menenangkan diriku. Butuh waktu untuk sendiri. Aku membuka aplikasi kereta api. Dan memesan tiket perjalanan ke yoyga untuk besok.


***to mamah


mah megan hari ini pergi ke rumah teteh di yogyakarta. Mamah jangan mengkahawatirkanku. Aku hanya ingin berlibur sebentar.


*** mamah


kenapa mendadak?apa kamu sudah menghubungi teteh mu dulu sebelum kesana.


***to mamah


sudah mah , teteh mengizinkanku datang. Mamah hati-hati di rumah yah.


Aku tidak ingin pulang kerumah saat ini , aku memutuskan untuk bermalam di hotel sebelum aku berangkat . Karena Raka pasti akan mencariku ke rumah. Setelah check in kamar. Aku merebahkan tubuhku di kasur. Sepi. Ya itu yang aku rasakan aku kesepian. Namun untuk bercerita pada mamah saat ini sepertinya tidak mungkin. Setelah berkirim pesan dengan tetehku yang di yogya aku menonaktifkan hapeku. Dan aku pun tertidur.


Dari dalam kamar hotel terdengar suara adzan subuh. Matahari belum menampakkan cahaya nya. Aku bergegas ke kamar mandi , dan bersiap untuk berangakat ke stasiun kota.Aku mengambil handphoneku dan mengaktifkannya kembali. Begitu banyak pesan dari Raka.


***Rakus


Sayang kamu dimana?


Aku ada di rumahmu, dan mamah bilang kamu sudah berangkat ke yogya?


maafkan aku selalu nyakitin hati kamu.


Tolong balas pesanku.


Aku hanya menatap setiap pesan dari Raka. Aku menyimpan kembali hapeku. Aku mengambil tas dan memesan taksi online untuk menuju stasiun


Raka aku sangat sayang sama kamu, bahkan aku terlalu mencintaimu sehingga sulit bagiku untuk melepaskanmu . Kamu harus tau kamu mempunyai tempat dihatiku sampai kapanpun. Andai kamu tau aku begitu kecewa saat ini, aku butuh waktu untuk sendiri. Maafkan aku ..Aku tidak ingin terlalu egois menahanmu karena perasaanku. Mami mu lebih berhak atas hidupmu.


Fikiranku tak hentinya tertuju pada Raka. Duniaku telah habis bersamanya. Telah habis hati ini. Entah selanjutnya aku bisa membuka hatiku untuk orang lain. Sekarang aku sudah berada dalam kereta api menuju yogyakarta.


Aku berharap disana aku bisa menenangkan hatiku bahkan bisa merelakan Raka untuk selamanya.


(suara dering hapeku)


Aku melihat layar hapeku. Alex meneleponku .


" lu dimana?" tanyanya tanpa mengucapkan salam.


" lu gak sopan kalau telepon salam dulu kenapa ada sopan santunnya dikit gitu " ucapku kesal.


" gue nanya lu dimana malah ngomel" tanyanya kesal.


" gue lagi di kereta mau ke yogya. kenapa sih" tanyaku ikut kesal juga.


" lu gak apa-apa , ? " tanyanya


" kenapa sih lex , gue gak apa-apa gue pengen liburan aja" timpalku kesal dengan segala pertanyaannya.


" hati-hati lu disana. Hari Rabu lu harus udah di bandung, kamisnya kita ada jadwal"


" iyah bawel, udah dulu gue mau tidur" alasan ku ingin mengakhiri teleponnya.


" gue khawatir sama lu, gue tau apa yang terjadi kemarin, " lirihnya.


"sudahlah gue baik-baik aja. Gue mau liburan dulu gue penat "


bipp


aku mematikan telepon dari alex. Aku menonaktifkan simcard hapeku.


Raka aku rindu. (batinku)


Setelah hampir 9jam di kereta akhirnya sampai di stasiun Tugu kota yogyakarta. Suasana yogya memang berbeda, adat istiadat nya terasa kental ketika aku menginjakan kaki di stasiun ini.


Aku memesan taksi segera setelah berada di luar. Memberikan alamat rumah tetehku. Hampir satu jam dari stasiun ke rumah teteh. Sampailah aku di sebuah rumah asri nan sederhana.Di sanalah teteh tinggal bersama keluarga kecilnya.