
Walaupun hari ini hari Minggu aku tidak bisa berleha-leha, hari ini aku masih harus bekerja. Karena libur kerjaku sudah ku ambil di awal ujianku. Aku membuka mataku , mencuci muka, dan mengganti pakaianku dengan baju basket. Hari ini aku sudah janji dengan sindi untuk bermain basket, walaupun sindi feminim tapi dia menyukai olahraga ini sepertiku. Sejak smp, kami selalu bermain basket bersama.
" assalamualaikum" terdengar suara sindi di balik pintu rumah. Aku bergegas membukanya.
" masuk sindi, sarapan dulu yuk, mamah membuatkan nasi goreng special loh" aku menarik tangan sindi menuju dapur.
" wah enak ni tante" sindi mendekati mamah yang sedang memasak. Mamah tersenyum ke arah sindi. Kami duduk di meja makan , mamah menyiapkan 3 porsi nasi goreng.
Ayah dan keluarga abang sudah pulang, dan rumah ini sepi kembali. Seperti biasa hanya tinggal aku dan mamah di rumah sederhana ini.
" megan , kamu gak latian band lagi sama 3 sahabat idiotmu itu" sindi menanyakan iko alex dan rasya. Aku hampir tidak berkomunikasi dengan mereka setelah kejadian malam itu. Bahkan mereka tidak menghubungiku
"heh malah bengong" sindi melambaikan tangannya ke depan wajahku.
" aku sibuk karena urusan kerja, belum sempet ketemu mereka lagi sin" , aku belum bercerita ke sindi tentang sahabatku, tidak mungkin juga aku bercerita di depan mamah.
Kami melahap nasi goreng yang dibuat mamah, setelah selesai aku berpamitan pada mamah untuk bermain basket di gor depan rumahku. Sesampainya di gor kami melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi gor, hari ini gor nampak ramai. Aku dan sindi bahkan harus menunggu agar dapat bermain basket dengan nyaman dan harus bergabung dengan orang lain disana. Setelah melakukan latihan basket beberapa menit aku dan sindi beristirahat. Ada seseorang duduk diantara kami berdua. Dan lagi Raka selalu membuat ku terkejut dengan kehadirannya
"Raka!" aku dan sindi memanggilnya secara bersamaan. Raka hanya tersenyum menatapku.
"raka suka main basket disini juga" ucap sindi.
" iyah,tuh teman-temanku disana. kalian udah selesai latihannya" tanya Raka. Aku diam masa bodo dengannya.
" oh pantesan , belum kami mau latihan sekali lagi. " sindi menatapku dan tersenyum.
" kalau gitu aku ikut latihan sama kalian, aku deh yang ngajarin kalian" Raka mengusulkan ide gilanya lagi. Dan lagi aku tak merespon ucapannya.
" boleh" sindi menjawab cepat. Aku hanya diam melihat keakraban mereka.
" sindi sepertinya saudaramu sedang sariawan yah, daritadi diam trus" Raka berusaha menggodaku tapi aku tak mengihraukannya.
"iyah nasib jomblo gitu deh pak, banyak makan ati" sindi terkekeh menggodaku
" sama dong aku juga jomblo tapi gak sampe kena sariawan." Raka terus menatapku namun aku tak menggubris obrolan mereka aku sibuk dengan hp ku.
" oh jadi kamu jomblo. Duh pasti banyak cewek yang antri" lagi-lagi mereka berdua melakukan obrolan konyol di depanku. Aku beranjak dari kursiku dan mengambil bola basketku, meninggalkan keakraban mereka.
Sindi mengikutiku dari belakang disusul Raka. Aku melakukan latihan drible, dan lay out beberapa kali. Ketika hendak melakukan layout tali sepatuku terlepas dan aku menginjak dengan kaki ku yang lain. Aku terjatuh sangat keras
brukkk
Lututku terbentur lantai , kedua tanganku menahan tubuhku. Sakit banget kakiku, ku lihat sekeliling gor dan semua menatap ke arahku. Betapa malunya aku., aku merintih kesakitan . Sindi menghampiriku
" megan kamu gak apa- apa?" sindi terlihat khawatir. Aku masih meringis kesakitan.Lututku memar, perlahan membiru. Sindi membantuku berdiri. Aku kesulitan untuk berdiri. Sindi memapahku ke pinggir lapangan.
" kita pulang aja yah, kamu kuat berjalan gak, dari sini ke rumahmu lumayan jauh, kita kan gak bawa motor tadi" raut wajah sindi berubah cemas.
" aku kuat kok sindi, aku malu diliatin banyak orang gini mening pulang aja." rasa sakitku pun hilang seketika ketika ku lihat beberapa orang memperhatikanku.
Raka menghampiri kami.
" lukamu parah, aku antar kamu pulang, kasian sindi kalau harus memapah kamu" Raut mukanya begitu khawatir melihatku.
" makasih,aku gak mau repotin kamu" aku meniup-niup lututku yang memar. Tanpa memintaku dulu, tiba-tiba Raka menggendongku ,tubuhku yang kecil begitu ringan digendongnya. Aku meronta berusaha melepaskan gendongan Raka.
"kamu bisa diem gak sih megan, kita bisa jatuh kalau gerak-gerak terus, udah tau lagi sakit sok mau jalan sendiri." aku berhenti meronta , aku melingkarkan tanganku di pundak Raka, agar aku tak terjatuh.Raka berjalan keluar di susul sindi.
Sesampainya di rumah, Raka menurunkanku. Aku duduk di teras depan rumah.
" dimana kotak p3k kamu? "tanyanya
" ada di dapur dekat kulkas . " jawabku terbata
" coba kamu ambilkan sindi sekalian dengan es batu dan kompresan " Perintah Raka. Sindi pergi ke dapur dan mengambilnya. Raka mengambil es batu dan membungkus nya dengan kain , mengompres luka memar pada lututku.
"awww" aku memekik kesakitan
"maaf megan aku terlalu menekannya yah" Raka meniup lututku kemudian mengompresnya dengan hati-hati
"bodoh kenapa kamu ceroboh sekali" Raka mengomel sambil mengeringkan lututku kemudian memasang perban pada kedua lututku.
" kamu jangan banyak gerak dulu, aku antarkan kamu ke kamar" Raka kembali menggendongku , Sindi mengikuti kami.
" mana mamahmu?" tanya Raka
" mungkin sedang ke pasar" jawabku.
Sindi membuka pintu kamarku. Raka membaringkan tubuhku di ranjang. Sindi duduk disampingku.
" terima kasih" aku menatap Raka.
" kamu jangan ceroboh lagi sampai terluka parah gini" Raka mengacak rambutku. Aku merapikannya. Sindi tersenyum melihat kelakuan kami. Raka mengambil buku harianku. Membuka lembar demi lembar.
" hei kamu ngapain" aku hampir berdiri mengambil buku yang ada di tangan Raka, tapi lututku masih sakit, jadi aku tidak bisa mengambilnya. Raka menunjukan sebuah tulisan padaku.
" ini tulisanku, apakah kamu masih meragukannya" Raka menatapku dengan sangat hangat, sampai aku terbuai oleh tatapannya.
" megan kamu masih ragu" sindi memecah kekakuan diantara kami. Aku tak menjawabnya, bagaimana bisa aku menjawab nya di depan Raka.
" aku pulang dulu, kamu gak usah masuk kerja hari ini aku memberikan kamu libur" ucapnya.
" aku gak apa-apa kok luka memar begini sebentar saja sembuh, lagian gak enak sama manager" aku menolak permintaannya
" yang bos disini aku apa managermu?" tanya Raka dengan aura bossy nya yang terpancar.
"kamu" jawabku pelan
" ya sudah gak usah ngebantah istirahat saja kalau besok sudah baikan kamu bisa kembali bekerja , jangan banyak bergerak, kalau ada apa-apa minta bantuan sindi saja" Raka meninggalkan kamarku. Aku dan sindi saling tatap melihat kelakuan Raka.
" megan kamu masih belum bisa nerima dia" pertanyaan yang sama .
" aku belum yakin sin" aku tertunduk lesu
" Raka dan Nanda sudah putus beberapa waktu lalu. kamu bisa menanyakannya pada alex , kamu tau megan, aku belum pernah menemukan seseorang yang tulus seperti pak Raka terhadapmu" sindi meyakinkanku
" Tapi aku belum bisa sin,untuk sekarang aku masih belum yakin dengannya, jujur aku memang menyukai perhatiannya padaku, tapi aku takut dia mempermainkanku" aku menatap sindi .Sindi memelukku.
" baiklah kamu bisa melihat kesungguhannya, jangan biarkan ketakutan itu membohongi perasaanmu, perlahan kamu akan sadar megan" sindi menenangkanku
kami berpelukan sangat lama. Persaudaraanku dan sindi adalah salah satu anugerah dari tuhan untukku. aku selalu bersyukur bisa bersama menghabiskan waktu bersama sindi
* jangan lupa koment, dan like nya yah, vote juga novel risau. ,caranya kumpulkan koin mangatoon mu, kemudian klik profil novel ini dan vote sebanyak banyaknya yah, terima kasih yang sudah meluangkan waktu membaca novel ini*