RISAU

RISAU
BAHAGIA (Memories)


*Hai hai readers kesayanganku. Jangan lupa dukungan nya. Like komen dan vote novel ini yah. Vote kalian akan membuatku lebih semangat up ceritanya.*


"Terima kasih pak, saya pamit." Jimmy menyerahkan kunci mobil pada Raka membungkukkan badannya dan pergi ke dalam kantor.


Raka berpindah ke kursi kemudi.


"Kamu duduk di depan. Aku gak mau seperti supir kamu." Perintah Raka.


Megan duduk di samping Raka, setelah itu Raka melajukan kendaraannya menuju restoran Jepang saat pertama kali mereka berkencan.


"Kamu masih ingat tempat ini sayang." Tanya Raka sambil memarkirkan mobilnya.


"Tentu saja. Aku tidak pernah melupakan apapun tentang kamu." Megan membuka pintu mobil dan masuk ke area restoran .


Suasana restoran masih sama seperti 4 tahun lalu. Raka memesan private room tempat mereka pertama kali ke restoran ini . Raka memesan beberapa hidangan.


"Wah masih sama seperti dulu." Megan duduk di dekat jendela.


Diam-diam Raka memotret Megan dengan handpdonenya.


"Sayang lihatlah perubahan kamu setelah empat tahun." Raka mengambil foto Megan seperti dulu. Posisi dimana megan duduk pertama kali. Dan sekarangpun sama. Raka mengeditnya kemudian.


Megan meraih handphone yang diberikan Raka.


"Aku nampak lebih dewasa dan lebih cantik sekarang." Jawab Megan


"Memang benar. Tapi lihat tubuhmu tambah kurus. Pria brengsek itu tidak bisa memberikan makanan enak sepertinya." Raka memandang foto yang dia edit barusan.


Megan diam, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Megan mengeluarkan air matanya . Dan jatuh di tangan Raka. Raka kaget, dan menarik dagu Megan. Benar saja Megan sedang menangis .


"Kenapa kamu menangis, apa ucapanku menyakitimu?." Raka menghapus air mata Megan . Kemudian memeluknya. Megan hanya diam terduduk . Tidak ada lagi keceriaan dari wajahnya.


"Sayang kumohon berhentilah menangis. Maafkan aku." Raka mengelus rambut Megan. Memeluknya sangat erat. Megan kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Raka. Balas memeluk Raka dengan erat.


"Tiga tahun ini aku tidak bisa menceritakan seluruh kesulitanku kepada orang lain, sekalipun pada Mamah. Raka terima kasih sudah hadir lagi. Maafkan aku yang tidak memperjuangkanmu di masa lalu. Aku takut, aku takut menyakiti hati ibumu. Aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka. Aku menyerah pada keadaaan karena aku terlalu lemah. Kamu jauh dari ku. Saat itu aku tidak mempunyai kekuatan untuk berjuang lagi." Megan berkata dengan terisak.


"Sudahlah sayang, sekarang aku disini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Maafkan aku , aku tahu kamu sudah banyak menderita." Raka menatap mata Megan. Kemudian mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Megan.


Raka meraih dagu Megan. Kemudian mengecup bibir megan dengan bibirnya . Sangat lembut, Megan merasakan ciuman itu penuh dengan rasa cinta yang tidak pernah dia dapatkan dari Rizal. Megan merasakan bau rokok yang menyengat dari mulut Raka. Namun Megan tidak memungkiri Megan menikmati setiap sentuhan dari Raka.


"Sayang." suara Raka terdengar sangat berat.


"Aku menginginkan tubuhmu, dari dulu sampai detik ini hanya kamu yang bisa membuatku bergairah. Maafkan aku tapi aku benar-benar menginginkannya" Raka membisikannya di telinga Megan . Wajahnya memerah.


Megan tersenyum mendengar ucapan Raka. Kemudian melihat kebawah dan benar saja ada yang bergerak dibalik celananya.


"Tidak sekarang." ucap Megan dengan datar .


"Tapi aku menginginkannya. Bolehkah?." wajah Raka sudah seperti tomat menahan hasratnya.


"Tidak jangan sekarang, nanti setelah kita menikah, apa kamu bisa menahannya?." Megan malah menggoda Raka .


Megan adalah seorang istri selama menikah Rizal tidak pernah menafkahi batinnya. Setelah berhasil membuat Megan hamil, Megan sungguh merindukan belaian dari seorang pria. Megan tak memungkiri itu. Rizal selalu mengabaikan keinginan bercintanya. Hasratnya sebagai perempuan adalah gejolak normal. Raka telah membuat gejolak itu kembali.


"Aku tidak bisa menahannya." Raka melepaskan pelukannya. Raka menjauhkan tubuhnya. Dia mengacak rambutnya beberapa kali.


"Sungguh aku ingin melakukannya saat ini juga." Raka berkata dengan suar berat.


Tiba-tiba ruangan diketuk dari luar.


"Pak hidangan nya sudah siap." Terdengar suara seorang wanita dibalik pintu.


Pelayan itu masuk membawa nampan. Kemudian menyajikan dan menata nya di meja.


"Aku ke toilet dulu." Raka beranjak keluar dari dalam ruangan.


Apa Raka belum pernah melakukannya sama sekali? apakah dia masih perjaka sampai detik ini? dia menahannya hanya demi aku. Keterlaluan jika memang benar. Sedangkan aku hanya bekas pria lain dan sudah melahirkan. Apa aku pantas?


Megan membatin dalam hatinya. Megan merasa tambah bersalah. Jika dia menerima lamaran Raka. Apa itu pantas. Apa Raka pantas mendapatkan dirinya setelah dijamah pria lain. Megan bergelut dengan fikirannya. Rasanya tidak adil untuk Raka.


Megan belum menyentuh makanannya. Megan menunggu Raka . Tidak lama Raka keluar dengan rambut sedikit basah.


"Kenapa rambutmu basah?." Megan mengambil lauk dan menyimpan di piring.


"Aku sudah wudhu. Kalau aku dekat-dekat kamu terus aku gak kuat." ucapnya dengan wajah masih merah.


"Ya sudah kita tidak usah bertemu lagi, sepertinya keberadaanku menyiksamu" Megan menyiapkan makanannya. Kemudian memberikan pada Raka.


"Bukan itu maksudku. Ah kamu tidak mengerti." Ucap Raka frustasi. Dia tidak bisa menjelaskannya


"Aku ngerti. Justru aku mengerti karena aku pernah melakukannya." Megan menatap wajah Raka yang kesal.


"Sudahlah lupakan, aku akan menyuapimu makan sekarang. Lihat tubuhmu. Ketika aku menyentuhnya sama sekali tidak ada daging. Tulang semua." Raka mengambil sendok kemudian menyuapi Megan makan.


"Kamu makan juga." ucap Megan yang melihat Raka sama sekali belum memakan hidangannya.


Raka kemudian memasukan makanan ke mulutnya. Bergantian menyuapi Megan. Megan tersenyum melihat tingkah Raka.


Setelah selesai menyantap makanannya. Megan dan Raka meninggalkan restoran.


"Besok kamu kerja?." Tanya Raka ketika dia sedang fokus menyetir.


" Ya." Jawab Megan cepat.


"Hari Minggu aku ingin mengajak Tasya main. Apakah kamu mau?." Raka ingin mendekatkan dirinya pada anak Megan .


"Aku akan meminta izin dulu pada mamah" Megan tidak menolak .


"Bolehkah tasya memanggilku papah?." Raka berkata mengagetkan megan yang sedang melamun.


"Kenapa?." tanya Megan .


"Sebelum menikahimu aku ingin dia melupakan Rizal, aku ingin menggantikan Rizal. Walaupun dia bukan anakku. Tapi aku sangat menyayanginya."


" Tentu saja. Setelah kita menikah dia bisa memanggilmu papah." Megan menatap Raka. Raka tersenyum melihat ke arahnya.


" Bisakah kita bertemu besok?." Raka kembali membuka suaranya.


"Haruskah kita bertemu setiap hari?bagaimana pun aku belum resmi bercerai. Apa kata orang nanti." Ucap Megan dengan wajah sesal .


"Tapi aku merindukanmu setiap hari." Raka mengusap paha megan yang dibalut celana jeans.


"Jika kita terus bertemu. Kamu pasti akan menerkamku." Megan terkekeh menggoda Raka. Kali ini Megan ingin membalasnya.


"Hey sayang aku tidak semesum itu." Raka menaikkan suaranya.


"Aku tidak bisa Raka. Nanti hari minggu oke. Kita akan jalan-jalan seharian l." Megan mengusulkan. Megan risih jika harus sering bertemu Raka disaat perceraiannya dengan Rizal belum selesai.


"Baiklah," wajah Raka berubah murung.


Raka ingin terus melihat Megan. menggantikan 3 tahun dia kehilangan Megan. Raka ketakutan jika suatu saat dia tidak bisa melihat Megan lagi. Sungguh hal itu yang membuatnya gila.