
" sudahlah Raka, mana mungkin kebetulan , pasti Sindi yang bilang, kamu tau apalagi tentangku hah?" tanyaku.
" aku nebak aja megan , lagian semua kesukaanmu itu seperti anak-anak , dan kamu kekanakan, mudah sekali menebaknya" Raka menghabiskan es krimnya segera mengemudikan mobilnya. dan aku hanya mendengus kesal karena Raka masih belum mengakui tentang persengkongkolannya dengan sindi.
Tak berselang lama Raka memberhentikan mobilnya di gang depan rumah kami. Raka membuka pintu mobil , membawa tas belanjaanku.
" kamu mau kemana?" tanyaku kasar
" mau ketemu mamah kamu lah" jawab Raka asal
"ngapain? udah kamu pulang aja. ini udah maghrib aku gak nerima tamu" jawabku dengan mengambil tas belanjaan ku dari Raka.
" aku mau ikut sholat sekalian, rumahku kan agak jauh, bisa terlewat waktu shalatnya" Raka menatapku dengan lembut
"rumahku bukan mesjid , di depan ada mesjid . Kamu bisa sholat disana" aku menunjuk mesjid dengan telunjuk tanganku.
" megan kenapa sih pelit aku mau numpang kamar mandi juga ,udah kebelet" Raka ngeloyor pergi meninggalkan ku yang sedang mematung.
Aku semakin bingung dengan sikap Raka. Apa hanya perasaanku saja dia sedang berusaha mendekatiku. Atau Raka hanya ingin menjadi teman, sama seperti sahabatku yang lain. Aku setengah berlari kecil mengejar Raka yang berjalan dengan langkah lebarnya.
" assalamualaikum" Raka mengucapkan salam.
"waalaikumsalam " mamah membuka pintu ,tampak mamah kebingungan melihat Raka ,dan aku terhalang berada dibelakang tubuhnya yang tinggi dan tegap itu.
" tante saya mau numpang kamar mandinya sekalian mau numpang sholat, apakah boleh" Raka meraih tangan mamah, dan mengecup punggung tangannya.
"oh iya, silahkan, kamu siapa? Raka bukan" mamah bertanya dengan nada terbata
" iyah tante" Raka tersenyum lebar.
" ya udah megan kamu antar Raka ke kamar mandi, biarkan dia sholat di kamar kamu, kamu sholat di kamar mamah ya" mamah mempersilahkan Raka masuk . Dengan kesal aku menunjukan kamar mandi dan kamarku.
" Raka jangan ngacak-ngacak kamarku yah, kalau udah sholat kamu bisa pulang" aku meninggalkannya dengan kesal. Bisa-bisanya dia beralasan hanya untuk mampir ke rumahku.
Terdengar Raka menutup pintu kamarku. Raka melihat sekelilingnya. Tertata dengan sangat rapi, sebuah kamar mungil berukuran 3x3m. Raka menatap semua dinding kamar. Disana ada foto megan bersama mamahnya, kemudian foto megan bersama semua saudaranya. Sebuah meja dan rak buku tertata rapi. Di samping tempat tidur ukuran single , ada sebuah lemari pakaian . Raka mengambil sajadah yang tersimpan di atas meja . Raka melaksanakan sholat maghrib. Setelah selesai Raka menyimpan sajadah di tempat asalnya. Di samping nya ada sebuah note kecil, Raka membacanya seksama, Hanya sebuah jadwal harian megan seminggu ke depan. Dan di hari minggu tertulis bermain basket. Di jaman secanggih ini megan hanya menulis jadwal di note kenapa gak di hp saja fikir Raka. Raka menyimpan note itu, Kemudian dia melihat sebuah buku binder. Disana banyak foto bersama 3 sahabatnya. Dia membaca lembar demi lembar.Sampai Raka tercengang melihat namanya di halaman terakhir. Raka tersenyum dan merapikan semuanya seperti sedia kala.
" hei Raka, kamu sudah selesai?" tanyaku dengan mengetuk pintu. Raka membuka pintu. Kemudian pergi ke arah ruang tamu.
" mana mamahmu?" matanya mengitari seluruh ruangan .
" mamah sudah berangkat kerja, dia baru saja pergi. Kamu cepat pulang gak enak di rumah kita cuman berdua" aku menarik tangan Raka menuju pintu keluar rumah.
" ya udah aku balik dulu, sampaikan salam ku pada mamahmu, assalamualaikum" Raka tersenyum manis dan membalikan badannya pergi menjauhi pintu rumah
"Raka" teriakku.
" terima kasih traktirannya, lain kali kamu gak usah traktir aku kayak tadi sampai bayarin belanjaan aku" aku menatap Raka
" oke , tapi lain kali kamu yang harus traktir aku" Raka mengedipkan sebelah matanya. Kemudian meninggalkan teras Rumahku.
Setelah Raka pergi aku duduk di ruang tv menyalakan televisi walaupun tidak ada acara yang berfaedah sama sekali. Aku melihat jam dinding menunjukan pukul 7 . Setelah memindah-mindahkan channel tv akhirnya aku melihat acara lawak di tv itu, daripada kesel sendirian.
tok.tok .tok......
Aku berlari menuju pintu. Betapa senangnya aku ketiga sahabatku datang. Aku refleks memeluk mereka. Ku lihat Rasya hanya diam , wajahnya yang selalu hangat diam tanpa ekspresi.
" gue kangen kalian ih" aku memeluk erat mereka. Iko melepas pelukanku.
"megan lu bau ,jangan peluk-peluk gue" iko ngeloyor masuk ke ruang tv. Aku menarik tangan alex dan Rasya .
"mana mamah?" tanya alex . Bolanya matanya berkeliling melihat sekitar rumah.
Rasya hanya diam melihat kami bercanda, dia sibuk dengan hapenya. Iko mengambil gitarnya kemudian memainkannya sedangkan alex bernyanyi dengan merdunya. Kami bernyanyi bersama . Hanya Rasya yang dian mematung tanpa ekspresi tanpa kata.
" megan ,ini duit dari lomba festival" iko menyodorkan amplop coklat. Aku menatap alex dan Rasya. Aku membukanya. Kenapa banyak sekali , aku kembali menyimpannya di meja.
" gue ngambil 4juta buat beli guitar bass , sementara alex ama Rasya saat ini belum butuh duitnya, Kita sepakat lu aja yang nyimpen. " Iko menatap alex ,alex hanya mengangguk. Aku mengambil uang itu dan menyimpannya. Rasya tetap tak bergeming, dia sibuk dengan hapenya
" Sya lu kenapa sih?" alex memukul lengan Rasya, Rasya hanya diam .
" tadi di rumah gue biasa aja " iko pura-pura gak tau tentang kesalah pahaman Rasya dan megan
" lu ada masalah apa?" tanya alex dengan wajah serius.
Rasya beranjak dari tempat duduknya . Dia berjalan ke arahku, wajahnya masih tetap sama. Rasya menarik lenganku dengan kasar. Iko dan alex hanya saling tatap melihat Rasya sekasar itu. Rasya menyeret tubuhku membawaku ke ruang tamu.
" megan gue udah cukup sabar, ada hubungan apa lu sama Raka?" Rasya mebelalakan matanya. Menatap tajam ke arahku. Aku kesal dengan sikap kasar Rasya.
" gue gak ada hubungan apa-apa sama dia. Kenapa lu harus bentak gue" aku kesal dengan sedikit marah aku melepas genggaman tangan Rasya. mendengar pertengkaran kami Iko dan alex menghampiriku.
" kenapa loe berciuman di mobil?Apa itu yang dinamakan gak ada hubungan apa-apa?"
"apa!!!!" iko dan alex setengah berteriak berkata dengan bersamaan , menatapku dengan pandangan menakutkan.
Aku hanya menundukan wajahku, aku gak berkata apa-apa. Tak terasa bulir air mataku menetes di pipi. Aku terisak. Alex menghampiriku, daguku diangkat. Alex menatapku dengan sinis.
" kenapa lu nangis , apa benar yang dikatakan Rasya? " alex menyeka air mataku.
"gue..." aku terisak . Isakanku semakin menjadi.
"iyah benar yang diucapin Rasya, Raka mencium gue. Gue gak ngerti , gue juga bingung, dia tiba-tiba nyium gue" aku menangis .
" kenapa lu diem aja megan, gue melihat semua itu, lu diem aja pas si brengsek itu nyium lu, lu bahkan menikmatinya" nada suara Rasya menjadi sinis.
plakkkk
sebuah tamparan melayang di pipi Rasya.
" jangan keterlaluan Rasya" pipiku memerah, aku tidak bisa menahan amarahku. Rasya memegang pipinya. Alex masih menenangkanku. Sementara iko menenangkan Rasya.
"gue memang suka sama Raka, tapi gue sadar diri siapa gue" Aku menundukan wajahku. air mataku tak berhenti mengalir.
"gue memang gak pantes ,gue gak tau diri" Iko memeluk megan erat, Alex mengepalkan tangannya . Wajahnya memerah , dia marah.
" kenapa harus cowok brengsek itu megan , apakah tidak ada yang lain?" Rasya mengepalkan tangannya .
" kenapa harus secepat itu menyukai lelaki brengsek seperti itu" Rasya meninju kursi yang dia duduki.
"gue gak suka lu deket sama pria brengsek itu megan" Raka meninggikan nada suaranya.
" kenapa gue gak boleh deket sama dia, gue tau dia sudah punya pacar, gue bisa temenan sama dia,tentang perasaan gue biar gue sendiri yang urus" aku mendengus kesal, amarahku memuncak.
"gue suka sama lu , gue gak mau lu deket-deket sama pria brengsek itu, gue cemburu" Rasya menatapku tajam . Aku hanya bisa menatapnya dengan marah
brukkkkk
Alex memukul Rasya . Alex sangat marah . Matanya memerah. Rasya pun membalas pukulan alex. Iko yang melihat sahabatnya saling tonjok melerai keduanya. Dan aku hanya terduduk
" kalian kenapa malah bertengkar disini" iko membentak dengan merentangkan kedua tangannya memisahkan alex dan Rasya yang sedang saling tinju. Mereka masih mengepalkan tangannya