
Waktu sudah menunjukan pukul 5 pagi. Terdengar dari dalam kamar suara seseorang telah memasak. Megan bergegas ke kamar mandi dan mengambil testpack yang dibeli Raka semalam. Setelah mandi, Megan mengambil hasil test urinnya. Dilihatnya hanya satu garis merah. Berarti Megan tidak hamil, fikirnya begitu. Megan menyimpan hasil testpack nya. Megan mulai menyiapkan sarapan bersama mamah Hana. Pembantu yang bekerja membersihkan rumah sudah datang saat subuh tadi.
Megan mengetuk kamar Raka. Tidak ada sahutan dari pemilik kamar. Megan membuka handle pintu dan pintu terbuka. Sepertinya Raka lupa mengunci pintu. Laki-laki dengan tubuh kekar bertelanjang dada sedang tertidur pulas. Megan mengguncang tubuh Raka tapi sia-sia, mata Raka masih tertutup.
"Raka aku hamil." Bisik Megan di telinga Raka.
Dan berhasil, Raka membuka matanya lebar. Tubuh mungil Megan di dekapnya dengan erat. Raka mengecup kepala Megan.
"Terima kasih sayang." ucapnya dengan suara masih serak.
Megan tertegun, bermaksud ingin menjaili Raka tapi Megan yang shock dengan reaksi Raka. Megan teringat dulu saat Rizal diberitahu tentang kehamilannya. Bahkan Rizal mengabaikan semua pesan yang dikirimnya. Jangankan memeluk, menanyakan usia kandungannya saja Rizal tidak pernah. Megan melewati masa sulit kehamilan itu sendirian. Berbeda dengan wanita hamil kebanyakan Megan merasakan mual-mual sampai 9 bulan usia kandungannya. Sudah berkali-kali konsultasi memang Megan memiliki kelainan pada kehamilan pertamanya. Megan menitikkan air matanya, mengingat semua itu membuatnya sesak nafas. Raka menyadari bahwa Megan menangis. Raka melepaskan pelukannya.
"Kenapa kamu menangis sayang?." Raka mengusap air mata dikedua pipi Megan.
"Cepatlah bangun. Ini sudah siang. Raka aku tidak tau aku hamil apa tidak tapi testpack itu menunjukan hasil negative. Maaf aku membohongimu." Megan tersenyum jail menatap Raka.
"Jadi kamu membohongiku? nakal yah." Raka menggelitiki pinggang Megan.
Megan tertawa sambil meminta ampun. Raka menghentikannya.
"Aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Jam 11 siang kita akan memeriksakanmu. Kamu tidak usah khawatir hamil ataupun tidak aku akan tetap bersamamu." Raka mengelus rambut Megan.
"Sepertinya kamu harus segera mandi pak bos. Ini sudah siang." Megan memberikan handuk dan segera menyiapkan baju kerja untuk Raka.
Megan segera menyiapkan sarapan. Setelah itu, memandikan Tasya yang sudah bangun dari subuh tadi.
"Sayang karena jadwal meetingku hari ini urgent. Kita bertemu dirumah sakit. Supir yang akan mengantarmu ke rumah sakit." Ucap Raka sambil menghabiskan sisa sarapannya. Raka mengambil gelas yang sudah terisi kopi dan meminumnya.
"Kamu jangan terlalu mengkhawatirkanku Rakus. Aku bukan Tasya yang harus kamu ikuti kemanapun." Megan tersenyum kearah Raka.
"Aku ini 2 hari lagi akan jadi suamimu. Sudah seharusnya aku mengkhawatirkanmu, Tasya maupun mamah. Kalian semua adalah tanggungjawabku." Raka beranjak dari kursinya menghampiri Tasya yang sedang asyik menikmati serealnya.
"Angelku, daddy kerja dulu oke." Diciumnya kening Tasya.
"Hati-hati dijalan daddy. Jangan terlalu malam pulangnya. Sore hari daddy sudah dirumah yah." Tasya sudah pintar berbicara diusianya yang belum genap 3 tahun.
"Siap angelku. Kamu jangan nakal yah."
Jam 10 supir yang mengantar Megan kerumah sakit sudah standby di depan halaman. Megan sudah bersiap. Hatinya sungguh gelisah. Walaupun bukan kehamilan pertamanya, namun Megan masih trauma dengan rasa mual dan muntah kehamilan sebelumnya. Bahkan berat badannya pun tidak mengalami penambahan selama kehamilan karena makanan yang sudah dipaksa masukpun dimuntahkan lagi.
Hidup tak selalu mulus dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi Tuhan tau takdir mana yang terbaik menurut pilihanNya. Kita hanya harus berusaha dan mengambil keputusan terbaik versi diri kita. Sejatinya kita harus mencintai diri sendiri melebihi cinta pada orang lain. Epiphany adalah mencintai diri sendiri dari setiap kekurangan dan kelebihan. Salah cara terbaik untuk menemukan kebahagiaan tanpa menyakiti orang lain. Menghargai setiap sentimeter kelebihan kita, dan memperbaiki setiap kilometer keburukan diri kita.
Megan sudah tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Selama ini Megan telah menyiksa dirinya bertahan dalam pernikahan yang jelas menjadi toxic dalam hidupnya. Setelah berusaha keluar dalam toxic relationship nya bersama Rizal, Megan menemukan takdirnya bersama Raka. Walaupun kedepannya Megan dan Raka harus berjuang lebih keras lagi dalam kehidupan rumah tangganya. Karena pernikahan adalah belajar paling lama dalam kehidupan, belajar ikhlas lebih besar, belajar tekad lebih kuat, dan belajar memahami dengan luas.
Raka sudah menunggu di lobby rumah sakit ketika Megan sampai disana. Raka menuju ruangan dokter kandungan diikuti Megan. Megan nampak gugup, Raka berusaha menenangkan Megan. Digenggamnya tangan Megan dengan erat.
"Kenapa kamu gelisah?." Tanya Raka
"Aku takut, jujur aku masih trauma pada kehamilan pertamaku." Ucap Megan gugup.
"Aku ada disini, kenapa kamu harus takut. Kita akan melaluinya bersama-sama." Raka mengelus puncuk rambut Megan dengan penuh kasih sayang.
Dokter pun memeriksa kondisi Megan yang sudah terbaring diruang pemeriksaan. Di layar terlihat dalam rahim Megan tumbuh jabang bayi yang hanya sebesar biji kacang.
"Selamat bapak dan ibu usia kandungannya sudah memasuki 4 minggu. Janinnya belum terbentuk bapak dan ibu bisa melihatnya." Dokter wanita yang memeriksa Megan nampak tersenyum kearah Raka.
"Apa dokter yakin? tadi saya melakukan test urine dan hasilnya negative." ujar Megan.
"Test urine terkadang kurang akurat ?Apa ibu sudah melihat hasilnya lagi. Bisa saja hasil itu menunjukan positive tapi bereaksi cukup lama dalam testpack nya." Dokter bernama Meriani menyimpan alat USG.
"Belum saya lihat lagi dokter." Jawab Megan.
" Mari bu." Dokter Meriani mempersilahkan Raka dan Megan duduk dikursi pasien.
"Apa ibu mengalami gejala morning sickness, atau pusing?."
"Tidak sama sekali dokter." Megan nampak kebingungan karena Megan tidak mengalami gejala kehamilan apapun.
"Tekanan darah ibu rendah, ibu harus banyak mengkonsumsi sayur dan makanan yang banyak mengandung zat besi. Usia trimester pertama kandungan sangat rentan. Ibu jangan terlalu lelah, jangan stress. Beruntung ibu tidak mengalami gejala pusing, mual dan muntah. Saya akan memberikan vitamin dan penambah darah. Jangan lupa ibu kembali periksa bulan depan."
Dokter Meriani memberikan resep pada Raka.
Raka nampak sumringah mendengar penuturan dokter. Walaupun kelakuan mereka salah telah melakukan itu sebelum menikah tapi tak menyurutkan sedikit saja kebahagiaan Raka. Justru Raka sangat bahagia Megan bisa mengandung anaknya.