
" ngapain kamu kesini" tanyaku kasar.
Raka sudah tersadar sepenuhnya. Teteh dan mas brama meninggalkan kami. Raka hanya menatapaku tak berkedip
" malah bengong lagi. Aku nanya kamu kenapa kesini"
" duh sayang, kamu kasar banget sih sama pacar sendiri,kayaknya emang gak seneng aku datang?" Gerutuknya
" siapa yang pacar kamu, kita udah putus, dan lagi kamu ganggu acara liburanku mana bisa aku senang" bibirku manyun karena saking kesal dan kagetnya.
" kapan kita putus? aku belum memutuskan hubungan kita" ucapnya santai.
" kamu gak kangen aku apa?" timpalnya memasang wajah cemberut.
Aku masih diam tidak mengerti lagi harus berbuat dan berkata apa. Aku mengambil handuk yang tergantung di hanger. Namun Raka menarik tanganku. Aku memandangnya dengan tatapan dingin
" lepas gak?" ucapku ketus
" gakkan. Aku gakkan melepaskannya. Kenapa kamu jadi galak sih" ucapnya dengan nada kesal.
" suka-suka aku bukan urusanmu" aku melepas tangan Raka sekuat tenaga. Meninggalkannya yang masih duduk di ranjang. Terdengar dia membuang nafas kasar
(batin Raka)
setelah susah payah aku mendapatkanmu, aku tidak akan melepasmu dengan mudah. Mungkin kali ini aku harus lebih keras lagi berusaha untuk mengambil hatimu
Teteh duduk di dapur. Membersihkan piring kotor bekas makan malam. Aku yang baru keluar kamar mandi dengan memakai handuk kimono. Rambut ikalku basah terurai. Teteh menghampiriku
"heh tunggu, mau kemana?" tanya teteh ketika melihat aku hendak masuk kamar.
" apalagi teh, aku mau ganti baju" jawabku sambil ngeloyor pergi
" hey megan" teteh merentangkan kedua tangannya menghalangi jalanku.
"kamu lupa apa disana masih ada pacarmu"
" aishh aku lupa, teteh usir dia dulu gih aku mau ganti baju" usulku
Teteh meninggalkanku yang masih mematung di dekat dapur. Setelah beberapa menit teteh menyuruhku untuk segera masuk kamar. Teteh memberikan hair dryer nya kepadaku.
" keringkan rambutmu, teteh mau bikin teh hangat dulu buat Raka"
" teh tunggu dulu, dia mau tidur dimana rumah ini kan cuma ada 2 kamar" gerutukku dengan tangan masih memegang hair dryer.
" kamu tidur di kamar. Biar dia tidur di ruang tv , teteh nanti sediakan kasur lantai dan selimut untuk dia tidur" teteh meninggalkan kamarku. Aku mengunci pintunya.
Karena kehausan aku pun membuka pintu kamar , ku lihat Raka sedang duduk di ruang tamu. .Dia tak menyadari aku menatapnya. Sungguh saat ini aku merindukannya. Aku bahkan tidak bisa menahan air mataku sekarang. Aku mengusapnya . Aku tidak tahan jika terus berada di hadapannya padahal kenyataan nya aku sama sekali tidak bisa menggenggamnya. Aku memasuki dapur untuk mengambil segelas air minum. Namun ketika aku akan kembali ke kamar. Raka sudah mematung di hadapanku.
"bolehkah kita bicara sebentar , aku mohon megan" Raka menatapku dengan tatapan lembut dan hangat. Sebenarnya aku tidak ingin berbicara saat ini padanya. Tapi aku benar-benar harus meluruskan semuanya.
" kita ngobrol di luar, aku gak mau arkanda bangun " aku ngeloyor ke luar rumah duduk di teras.
" pakailah aku akan membawakanmu selimut, kamu mana kuat dengan angin sekencang ini , " Raka meninggalkanku di teras. Dia kembali dengan selimut dan ku lihat di tangannya lagi ada secangkir teh hangat.
" minumlah selagi panas" perintahnya.
"megan" ucapnya lirih.
Aku masih diam , aku bingung harus berkata seperti apa di situasi ini.
" apa kamu puas sudah menjauhiku?" tanyanya
" aku belum puas, bahkan aku tidak ingin melihatmu entah saat ini atau selamanya. " aku tak berani menatap matanya, pandanganku terarah pada teh yang berada di tanganku. Saat ini aku sedang berbohong bahkan kepada diriku sendiri. Sungguh aku tidak ingin melakukan hal sebodoh ini. Mungkin aku akan menyesal selamanya . Selama hidupku.
" tatap aku katakan itu dengan melihat mataku" ucapnya
Aku masih belum berani menatap wajahnya.
"tatap aku , katakan itu sekali lagi" tekannya
"yah aku belum puas menjauhimu, bahkan aku tidak ingin melihatmu saat ini dan selamanya" aku mengulangi kata-kata ku kemudian menatap wajahnya, dan menahan segala rasa yang berkecamuk dalam hatiku.
"please, kamu jangan bodoh seperti ini, kita masih bisa mempertahankanku , mempertahankan hubungan ini. Bersikaplah dewasa megan" Raka memohon kali ini. Aku bahkan tidak bisa bicara, dia selalu tau isi hatiku.
" tunggulah 2 tahun lagi aku akan menikahimu" timpalnya lagi
" aku gak bisa , Entah besok atau 2 tahun lagi aku gak bisa melanjutkan hubungan seperti ini. Aku bahkan lelah mempertahankannya Raka hiks hiks" tak terasa air mataku jatuh di ujung perkataanku.
" aku tidak akan memaksamu untuk menunggu, beri waktu aku 2 tahun aku akan kembali bersama mami papi untuk melamarmu, hubungan ini memang terlalu menyakiti kita. Aku harap kamu bisa menunggu walaupun ini harus berakhir saat ini" (matanya berkaca-kaca)
"aku akan berjuang selama 2 tahun untuk meyakinkan orang tuaku, jika kamu lelah kamu bisa menyerah tapi aku tidak akan menyerah, karena aku terlalu mencintaimu"
" aku harap ke depannya kamu tidak akan menitikkan air mata kesedihanmu itu, aku harap kamu bisa bahagia dengan kehidupan mu tanpa aku. " suara Raka bergetar. Aku tau dia sedang menahan sakit hati nya saat ini.Dan aku hanya terisak dalan tangisanku
(batinku)
bagaimana aku bisa bahagia. sedangkan sebab bahagiaku adalah kamu Raka. Kamu adalah salah satu kebahagiaanku
" boleh aku meminta satu hal sebelum kamu benar-benar akan menjauhiku" tanyanya masih menunggu jawabanku. aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya
" aku ingin besok kita jalan berdua mengelilingi yogya. Terakhir aku tidak akan meminta waktumu lagi" matanya berlinang.aku melihat tangannya mengusap ujung matanya yang akan meneteskan air mata.
" iya. ini sudah larut kita sebaiknya tidur. ini selimutmu pakailah" aku memberikan jaket dan selimutnya. Meninggalkan Raka yang masih duduk di teras.
(batinku)
haruskah aku membunuh perasaanku padamu Raka. Bahkan kamu sudah merelakanku pergi. Tapi kenapa hatiku masih tertahan. Kamu bahkan ingin mencapai mimpimu. Kenapa aku tak bisa membiarkanmu. Apakah aku egois.
Malam semakin larut walaupun mata sangat mengantuk, tapi sulit sekali untuk terpejam . Raka sudah memenuhi duniaku. Disaat aku ingin menjauhinya saat itu juga hatiku terasa sakit. membohongi perasaanku sendiri. Hal yang paling sulit aku lakukan adalah merelakannya. Bahkan akal sehatku sudah tidak berguna. Dia memang sangat menyayangiku, bahkan jauh menyusulku datang ke yogya. Tapi dengan enteng aku mematahkan hati dan harapannya. Jika saja tante veron sedikit mengerti tentang perasaan kami mungkin aku tidak akan pernah terjadi seperti ini. Disaat jarak kami dekat seperti ini bahkan aku merindukan Raka.