
*flashback*
Megan menaiki mobil Raka, di seberang jalan terlihat Rasya memarkirkan motornya menatap arah megan . Malam itu Rasya kebetulan melewati mall xx , dia melihat megan mematung di tepi jalan sedang menunggu angkot . Ketika Rasya akan menghampiri megan, ada mobil sport berhenti di depan megan . Ternyata mobil Raka . Tidak berapa lama megan menaiki mobil itu.
Rasya mengikuti mobilnya yang menuju arah rumah megan . Sampailah mereka di gang rumah megan.Rasya memarkirkan motor nya jauh dari mobil Rasya . Melihat megan tidak juga keluar dari mobil , Rasya mengendap mendekati mobil Raka, dibalik pohon Rasya melihat Raka mencium megan. Betapa marahnya Rasya.
" brengsek, beraninya dia mencium megan, kenapa megan diam saja" Wajah Rasya memerah, kedua tangannya mengepal memukul pohon yang berada di sampingnya. Tangan Rasya terluka karena terlalu keras memukul pohon. Hatinya sesak ada rasa sakit disana, seperti terbakar. Rasya tidak bisa menahan lagi emosinya. Ada rasa kesal dalam dirinya . Sakit hati dan kecewa.
Ketika hendak menghampiri mobil Raka, megan keluar dari mobil, megan menangis. Rasya mengurungkan niatnya melihat megan menangis . Rasya kembali ke motornya . Besok saja Rasya menanyakan semua ini kepada megan . Dengan perasaan kacau, Rasya memutar arah motornya . Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
*flashback end*
Rasya masih melihat hapenya . Tidak ada pesan dari megan. Kenapa megan mengabaikan pesannya. Di kampus Rasya tidak bisa belajar dengan fokus. Konsentrasinya nya buyar. Rasya terus saja menatap hpnya. Kekesalan nya tidak berhenti dari semalam. Bahkan Rasya tidak bisa memejamkan matanya.
" kalau lu gak mau bicara megan, gue akan buat lu bicara " Rasya bergumam dalam hatinya, Rasya mengepalkan tangannya.
#Mall xx#
Jam menunjukan pukul 14:00. Aku menunggu Sindi yang sedang melayani pelanggan . Aku menunggu di ruang ganti. Sindi menghampiriku.
"ada megan kenapa kamu mau berhenti kerja" Sindi menghampiri ku yang sedang duduk di kursi. Aku berbisik dengan sangat pelan
"aku benci sama si Raka, kemarin dia mengantarku pulang, terus.." aku menghentikan omonganku. Melihat sekeliling memastikan tidak ada orang lain disana .
"terus apa?" sindi penasaran
" tiba-tiba dia menciumku" wajahku memerah seketika. aku menunduk malu. Walaupun aku dan sindi selalu berbicara tentang kehidupan kami, tapi tetap saja aku malu. Sindi tahu dengan kehidupanku sedetail nya, sebaliknya aku tahu sindi sedetailnya. Dari kecil Sindi tumbuh bersamaku, kami saudara dekat . Umur kami tidak jauh berbeda sehingga menjadikan kami seperti saudara kandung.
"apa pak Raka menciummu" Sindi berteriak setengah keheranan. Aku menutup mulut Sindi dengan tanganku. Kenapa dia berteriak begitu,bagaimana jika ada orang lain mendengarnya. Menyesal aku menceritakannya.
"ssstttt kamu tidak perlu berteriak seperti itu" aku mendengus kesal.
Diujung terdengar manager memanggil nama Sindi. Karena shift Sindi belum selesai , dia harus bekerja kembali.
"aku harap kamu bisa profesional, jangan sampai kamu keluar gara-gara ini. aku ke depan dulu" Sindi setengah berlari kecil ke depan good court.
Aku keluar dari food court. Perutku sudah keroncongan . Aku pergi ke kantin karyawan ,disana segalanya murah .Dan aku ingin makan ayam geprek yang seporsi cuman 17rb sama nasi. Kantin karyawan berada tidak jauh dari foodcourt dekat lift naik berada di ujung lantai 4 mall xx. Aku memainkan hapeku sambil berjalan ke kantin.
brukkk
Lagi-lagi aku terpental karena menubruk orang. Badan ku yang mungil kesakitan kalau menubruk orang lain. Hapeku terpental. Aku meringis kesakitan. Aku melihat siapa yang telah ku tubruk. Ketika melihat wajahnya. Aku tidak menerima uluran tangannya. Aku berdiri dan membersihkan bajuku yang kotor .
"maaf aku teledor " aku pergi dari tempat orang itu berdiri.
Aku memesan makanan pada ibu kantin kemudian melahapnya. Sambil makan aku memikirkan apakah aku perlu berhenti kerja. Tapi benar kata Sindi aku harus profesional.
Aku harus melanjutkan kerjaku , sekuat tenaga akan menghindari Raka kalau perlu aku akan bermain petak umpet dengannya.
Waktu kerja ku hampir tiba aku berganti pakaian. Sindi sedang bersiap untuk pulang. Di ruang ganti kami melanjutkan obrolan kami yang sempat tertunda
" megan kayaknya dia naksir kamu deh" sindi berkata sambil mengganti bajunya.
" naksir gimana sin , jelas-jelas dia mau mempermainkanku" jawabku kesal.
"maksudmu megan?, aku gagal paham sama ucapanmu, dia nguber-nguber kamu loh, apa kamu gak sadar?" Sindi menimpal
" dia udah punya pacar sin, mana ada dia naksir cewek jelek kayak aku" aku memakai topiku .
" megan kamu manis kok, siapa yang bilang jelek, setau aku dia single. Kamu tau darimana?" Sindi memakai tas nya kemudian duduk.
" Alex yang bilang, sepupu dia pacarnya, berarti dia cuman mainin aku doang sin" ucapku dengan menahan sakit. Jujur aku memang menyukai Raka. Tapi itu sangat tidak mungkin, sehingga aku mengubur perasaanku untuk yang kedua kalinya.
"udah jangan punya fikiran negative, kamu jalani aja pekerjaan ini. Kalau memang dia benar menyukaimu pasti dia akan perjuangin" Sindi menenangkanku.
" ya udah aku kerja dulu, kamu hati-hati pulangnya. Salam untuk pacarmu" .
Aku dan sindi keluar dari ruang ganti. Aku memulai pekerjaan ku dengan melayani pembeli. Tiba-tiba ada seseorang memanggilku. Suaranya begitu familiar.
"pelayan"
Aku menghampiri pembeli yang ada di pojok foodcourt. Ternyata benar aku kenal dia.
"Rasya ngapain dia kesini" batinku. Aku ingin sekali menghindarinya , tapi dia datang sebagai pembeli mana bisa mengabaikannya.
" mau pesan apa , ini menunya" aku memberikan menu pada Rasya.
" kenapa pesanku lu abaikan, ada hubungan apa lu sama pria brengsek itu" Raka menarik tanganku , Aku melihat sekeliling ,untung saja sepi jadi tidak ada yang memerhatikan kami.
" saya harus bekerja , jika ingin membicarakan masalah pribadi nanti saja setelah saya pulang, kalau anda tidak ingin memesan saya akan melayani pembeli yang lain" aku menepis tangan Rasya. Ketika aku akan meninggalkannya ,Rasya menarik lagi tanganku dengan kasar sampai terasa sakit.
"jawab saja pertanyaanku megan" suara Rasya terdengar sedikit keras, matanya melotot. Mukanya memerah, sepertinya dia sedang marah. Entah kenapa sifatnya begitu, dia hanya sahabatku hanya saja terlalu keterlaluan jika sikapnya seperti itu.
" lepaskan gue, bukan urusan lu Rasya " aku melepas tangan Rasya sekuat tenaga. Sakit rasanya melihat perlakuan Rasya seperti itu. Tak terasa air mataku menetes. aku memutuskan untuk meninggalkan nya dan pergi ke toilet.
Rasya masih kesal akan perlakuan ku. Dia menggebrak meja dan pergi meninggalkan foodcourt. Rasya marah, kesal, cemburu semuanya membuat rasa ingin melampiaskan emosinya.