RISAU

RISAU
LUKA (Drummer Cantik)


Aku memikirkan dengan baik apa yang harus aku lakukan, setelah mempertimbangkannya dengan matang aku memutuskan untuk bergabung dengan sahabatku untuk masuk dapur rekaman. Aku sudah meminta izin pada orang tuaku dan mereka mengizinkannya. Begitupun orang terdekatku mereka mendukungku selalu, termasuk Raka .


Hari ini aku dan ketiga sahabatku pergi ke sebuah label music indi di bandung. Kami akan bertemu produser beserta jajaran manager untuk meeting mengenai kontrak dan jadwal rekaman. Diantara kami berempat hanya alex yang paling kalem, dia tidak gugup dan gemetar . Kami sudah berada di ruang meeting yang cukup luas , dengan beberapa kursi dan meja yang berbentuk persegi panjang. Rasya nampak gelisah , begitupun iko. Setelah setengah jam kami menunggu ,akhirnya datang 3 orang pria dengan pakaian formal.


" Selamat siang" Rasya berdiri dan menyalami beberapa orang dari pihak label .Kami berempat pun menyalaminya.


" Selamat siang ,saya Hendrik head manager di label ini" pria setengah baya dengan rambut yang sedikit ikal menyalami kami. Kami tersenyum menyambut perkenalannya.


"Ini pak dwianda Rio selaku produser kami, dan ini Ali selaku road manager " Kami tersenyum menyalami keduanya dan memperkenalkan nama kami oleh Rasya.


" saya Rasya, ini alex, iko dan megan" Rasya menunjuk kami satu persatu.


" silahkan duduk" ucap pak hendrik Ramah. Kami pun duduk bersama di ruang meeting itu.


" Label music ini apa kalian sudah mengetahuinya?" tanya pak rio memulai pembicaraan.


" yah tentu saja kami sudah mengetahui informasinya" alex menjawab dengan tenang.


" baiklah, kalian sudah memutuskan untuk bergabung?" pak rio membuka sebuah map berisi dokumen ditangannya yang diberikan manager hendrik.


" sudah pak,setelah mengetahui tentang label musik ini kami setuju untuk bergabung" Rasya menatapku ,iko dan alex.Aku dan iko hanya diam menyimak tanpa banyak berkata karena Rasya dan alex sudah pasti bisa menghandle rapat ini.


" bagus, saya menyukai lagu lagu yang kalian bawakan, aransemen dan musikalitas kalian sungguh luar biasa, apalagi karakter vokalistnya semakin menambah kuat band kalian" Pak rio berbicara dengan panjang , menyerahkan dokumen pada Rasya .


" kalian bisa baca kontrak ini, Jika ada kesepakatan yang mengganjal dan menurut kalian tidak sesuai kita bisa mendiskusikannya disini, tolong dibaca seksama poin demi point" pak hendrik memberikan salinan dokumen padaku, alex dan iko. Kami membaca lembaran demi lembaran yang ada dalam kontrak. Hampir setengah jam kami membaca dokumen itu.


" pak , disini tertulis kami di manageri oleh seseorang dari label music ini, apa point ini tidak bisa berubah?" tanya Rasya yang membolak balik kontrak itu dengan serius.


" tentu saja bisa berubah, jika kalian sudah mempunyai manager yang bisa menghandle jadwal kalian dan segala urusan kalian , kalian bisa tetap dengan manager kalian. Namun jika kalian tidak mempunyai seseorang yang bisa memanage kalian mau tidak mau pak hendrik yang akan menjadi manager kalian langsung" Pak rio dengan wajah hangatnya menjelaskan secara detail.


" kalau kami tidak cocok dengan manager yang bapak berikan , bisa kah kami menggantinya. ?" Rasya bertanya lagi dia tidak mau jika suatu hari ada masalah tentang band nya ini.


" tentu saja kalian bisa mengatur kontrak dengan manager kalian diluar kontrak kerja ini, jadi apakah kalian mempunyai manager untuk mengatur dan membantu kalian ?" pak hendrik bertanya dengan ramah.


( kami menggelengkan kepala serentak)


" kalau begitu biarkan pak hendrik menjadi manager kalian untuk sementara, untuk menghandle jadwal kalian" pak rio memberikan saran yang mungkin baik buat kami.


" baiklah kami setuju" Rasya mengiyakannya


" jadi apakah kontrak kerjanya perlu dirubah?" ucap pak hendrik dengan tatapannya yng serius.


" cukup pak, kami setuju dengan kontrak ini" Rasya sebagai leader sekaligus pengarang lagu menanda tangani kontrak itu mewakili kami.


" kalau begitu untuk schedule rekaman dan lainnya pak hendrik yang akan menghubungi kalian, senang berkerja sama dengan kalian" pak rio menyalami kami.


" saya ada urusan lain, jika ada hal yang masih ingin dibicarakan silahkan dengan pak hendrik" pak rio keluar ruangan dan di ikuti oleh pak ali.


Hari ini Rasya mengantar ku pulang karena alex dan iko harus bergegas pergi kuliah, hanya Rasya saja yang bisa mengantarku. Diperjalanan hanya deru motor yang terdengar tidak ada sepatah katapun . Dalam perjalanan aku pun tertidur dipunggung Rasya. Rasya melingkarkan tanganku di pinggangnya agar tidak terjatuh, aku yang pulas tidak sadar ap yang dilakukan Rasya.


" megan udah di rumah" Rasya membangunkanku karena kami telah sampai didepa teras rumahku


" maaf yah sya, aku ngantuk banget tadi" aku mengucek mataku, membuka helm dab memberikannya pada Rasya.


" aku pulang dulu" Rasya memarkirkan motornya .


" ya udah hati-hati makasih yah sya" aku yang setengah mengantuk berjalan menuju rumah. Dan betapa terkejutnya aku melihat Raka dan mamah sedang asyik berbincang di teras rumah.


" Raka kapan kamu datang" tanyaku menghampirinya dan duduk disamping mamah.


" udah 15 menit " ketusnya dengan wajah kesal.


" mamah kedalam dulu ya sayang, nak Raka mamah tinggal dulu" mamah mengelus rambutku dan tersenyum ke arah Raka kemudian meninggalkan kami di teras .


" kok gak telepon aku?" tanyaku penasaran .


" check hapemu" ketusnya lagi dengan nada kesal.


" ya ampun, hapeku mati kayaknya baterainya udah drop, maaf ya ka" aku menatapanya dengan tulus, namun mukanya masih narah dan kesal


(batinku)


" aish, kenapa lagi sih ni anak"


Raka terus saja mendiamkanku, ucapan maafku tak di gubrisnya. Dia sibuk dengan hapenya.


" aku ganti dulu baju kamu tunggu sini yah" Raka masih tak menghiraukanku. Aku masuk kedalam , pergi ke kamar mandi dan mengganti bajuku dengan pakaian kerja.


" yuk kita berangkat ,udah siang nanti telat" aku mematung di depan Raka, Raka menatapku kemudian berlalu meninggalkanku. Aku menegekorinya dari belakang


"Dia pms kali yah, mendiamkan aku tanpa sebab" gerutuku dalam hati.


Raka duduk kedalam kemudi mobilnya. Akupun duduk disebelahnya . Raka melajukan mobilnya ke arah mall xx. Tanpa sepatah katapun di dalam mobil hanya ada keheningan.


" kamu kenapa sih sayang, aku tadi kan udah minta maaf, nanti di mall aku benerin hapeku deh" aku menatap Raka yang sedang fokus menyetir,lagi Raka hanya membisu dengan ekspresi datarnya.


" ya udah aku gak ngomong lagi males banget gak di dengar" aku cemberut dan kesal dengan sikap Raka yang entah kenapa mendiamkanku.


" kenapa kamu memeluknya tadi?" Raka berbicara dengan intonansi tinggi. Aku masih belum mengerti arah ucapannya.


"meluk siapa maksudnya?" aku mengernyitkan dahiku


" emang di motor gak bisa gitu gak usah pelukan dan nempel kayak tadi " Masih dengan kekesalannya aku baru mengerti kenapa Raka kesal padaku.