
Aku masih menatap wajah Rika. Bisa-bisanya menyuruh Raka untuk membawaku kawin lari. Jika aku egois aku ingin saja mengiyakan ucapannya. Karena aku tau sudah tidak harapan tentang hubunganku dengannya. Bahkan jika mengadah memohon pada Tuhan aku pesimis, mengingat jauhnya jarak antara kami. Tapi aku tidak pernah menyerah , aku selalu meminta pada Tuhan untuk selalu menyatukan kami. Walaupun banyak sekali halangan yang kami hadapi. Aku selalu berdoa agar Rakalah kelak yang kelak akan menjadi imamku. Menjadi ayah dari anak-anakku di masa depan.
" Aku juga tidak akan pernah menyetujui ide gila kak Rika" aku membuang nafas kasar.
" terserah kalian , kakak yakin sampai manapun hubungan kalian tidak akan pernah bisa berlanjut" Rika menyandarkan punggungnya. Dia memejamkan matanya.
" gue cuman gak mau megan ngerasain apa yang gue rasain dulu. Dan terutama lu Raka gue gak mau liat adik kesayangan gue menderita. Menurut gue ini jalan terakhir. " Rika membuka matanya menatap kami .
(memeluk Rika bersamaan)
" kakak jangan terlalu memikirkan kami, megan sudah ikhlas jika memang Raka bukanlah jodohku" aku memeluk lengan Rika. Tapi Raka mendorong tanganku .
" jadi kamu sudah gak mau bersamaku" tanya Raka melotot ke arahku.
" bukan begitu, aku tidak ingin melawan takdir Tuhan , aku pernah bilang sama kamu . jika Tuhan tidak pernah mengizinkan kita bersama , kita cuman bisa ikhlas" Heran dengan Raka dia terlihat ngotot ingin menikahiku. Padahal kalau difikir aku baru saja mengenalnya.
"sampai kapan pun aku tidak akan pernah merelakan kamu dengan siapapun. Kamu camkan itu" nada suara Raka berubah menjadi sarkas. Aku hanya diam, tidak ingin lagi berdebat dengannya dalam keadaan seperti ini, apalagi berusaha menasehatinya yang ada dia berontak. Aku tau sifatnya .
" baiklah aku ada urusan sebentar ,kamu diantar sama Raka yah" Rika mengambil jaketnya kemudian berlalu meninggalkan kami berdua.
" ayok anterin aku pulang , besok subuh aku harus berangkat ke kuningan" aku menarik tangan Raka , tapi Raka menarik tanganku sehingga aku jatuh dipangkuaannya.
Raka menatapku dengan tatapan tajam. Aku bahkan tidak bisa menebak fikirannya. Aku bergerak ingin berdiri dan menjauh dari dekapannya. Namun tenaga Raka sangat kuat aku bahkan tidak bisa menahannya . Dia memelukku dengan sangat erat.
" kenapa menatapku seperti itu" tanyaku yang merasa risih dengan perlakuannya saat ini.
" kamu cantik" bisiknya. Seketika saja wajahku memerah.
" aku ingin kamu menciumku, seperti perempuan-perempuan yang mengejarku dulu mereka selalu menciumku duluan." bisiknya lagi. Aku kesal mendengar ucapannya. Kenapa bisa Raka bisa berfikiran seperti itu.
" gak mau, lepasin tanganmu, aku gak bisa nafas" Aku meronta berusaha melepaskan pelukan Raka. Namun sia-sia tubuhnya yang kekar jauh lebih kuat dibanding badanku yang mungil.
" ayolah sekali ini saja, aku mohon" pintanya merengek.
" gak mau, lepas gak tanganmu" teriakku. Namun Raka tak bergeming hanya menggelengkan kepala.
" pleasee" mohonnya. Kulihat jam sudah menunjukan hampir jam 8. Dia tidak akan melepaskanku. Lebih baik aku turuti permintaanya. Toh ciumanku sudah diambilnya.
cuupp ,( mencium bibirnya sekilas)
Ketika lengah aku berusaha melepaskan pelukannya. Namun lagi-lagi Raka menarik tanganku , aku kembali berada dalam pangkuannya dia ******* bibirku dengan lembut. Kemudian melepaskannya. Raka tersenyum ke arahku yang masih memejamkan mata.
" bibirmu bikin aku ketagihan sayang" refleks mendengar ucapannya aku membuka mata dan berdiri menjauh darinya.
" cepet anterin aku pulang, sebelum mamah ngomel sama kamu" aku sudah berada dekat pintu. Tidak mau berlama-lama dekat dengannya takutnya setan menguasai nafsu Raka dan nafsuku..
Raka berjalan dan mengunci apartemen nya. Kami berjalan berdampingan menuju tempat parkir.
" kok bisa , apa tante veron mengizinkanmu?" kulihat Raka menganggukan kepalanya.
" kamu bisa sering main kesini kalau ingin menemuiku" Raka tersenyum padaku.
" gak mau" jawabku cepat
" eoh ,kenapa gak mau?" tanyanya mengernyitkan dahi.
" gak mau aja kalau berduaan di apartemen kayak gitu , aku takut kamu khilaf" jawabku dengan wajah cemberut. Dan Raka mencubit pipiku dengan gemas .
" itu memang benar setiap di dekatmu bahkan aku tidak bisa menahan nafsuku untuk memakanmu" ucapnya dengan tersenyum licik padaku.
" tuh kan " kataku menunjuk nya
" yah di mobil aja aku gak kuat, apalagi di apartemen kayak tadi" dia terkekeh menatapku yang sudah merona di goda olehnya. Aku mencubit pinggangnya.
" awwww sakit tau sayang" Raka mengusap pinggangnya yang aku cubit . Refleks aku mengusapnya .
" sakit yah? habisnya kamu ngomong kayak tadi " aku memanyunkan bibirku. Raka hanya tersenyum kearahku dan mengacak rambutku dengan gemas
" sayang kamu percaya akan cinta sejati?" tanya nya serius
" aku tidak percaya" jawabku singkat
" kenapa?" tanyanya.
" Tuhan maha membolak balikan hati manusia. Kecuali aku mengalami hal itu sampai tua dan sampai menutup mataku aku akan percaya" jawabku panjang lebar pertanyaannya. Raka hanya diam mendengar perkataanku
" apa kamu percaya cinta sejati?" tanyaku dengan penuh penasaran
" aku sangat percaya, kamu adalah cinta sejatiku. Aku akan membuktikannya megan" ucapnya penuh keyakinan. Aku tersenyum menatap matanya , sama sekali tidak ada kebohongan dalam matanya. Raka memang pria tulus yang pernah ku temukan. Sosoknya mampu menguatkanku menjalani kehidupanku yang sangat berat.
" terima kasih telah mencintaiku Raka, aku juga sangat mencintaimu" itulah kata yang bisa ku ucapkan saat ini. Aku tidak ingin berjanji seperti Raka yang selalu meyakinkanku dengan kesungguhan perasaanya. Aku tidak seperti Raka yang dengan lugas menyampaikan setiap hal perasaannya padaku. Aku lebih banyak diam dibandingkan dengannya. Hanya sesekali aku mengungkapkan perasaanku.
Aku turun dari mobil, Raka hanya diam dalam kemudinya . Karena aku melarangnya untuk turun menemui mamah. Aku tidak ingin mamah bertanya banyak hal pada Raka. Itu akan semakin membuat kami sulit.
Raka melajukan kendaraannya menjauhi jalan dimana tepat aku berdiri. Aku berjalan menuju arah rumahku dan masuk kedalam rumah yang tak dikunci. Sudah sangat sepi sepertinya mamah sudah istirahat .
Aku mengambil hapeku . Aku membuka galeri foto pada hapeku. Aku memandang foto-foto yang terkahir di ambil. Ada foto-foto ku saat manggung dan tour kemarin. Aku menatap lekat wajah alex dan mengusapnya
(bergumam dalam hati)
"alex aku harap kamu bisa melupakan perasaanmu padaku. Aku bahkan tidak sadar kamu dan perasaanmu. Aku bahkan terlalu banyak memberimu beban dan menyakiti hatimu. Terima kasih untuk cintamu. Semoga kamu bisa menemukan seseorang yang bisa lebih mencintaimu dengan tulus"