
*dari author,terima kasih sudah membaca. jangan lupa like comment dan vote yah di profile novelku. (aku menunggu kritikan kalian readers) . berapa koin pun tak masalah, jangan lupa vote kalau kalian menyukai novel ini. Untuk mendapatkan koin , kalian bisa masuk ke profile mangatoon kalian klik poin kemudian ada beberapa cara mendapatkan poin. enjoy with this novel ,thanks*
#Restoran#
Mataku masih melihat sekeliling restoran. Suasana yang begitu nyaman , membuat perasaan yang kacau menjadi lebih sedikit tenang. Aku tidak memperhatikan Raka yang dari tadi menatapku. Namun tersadar ketika dia mengajakku bicara.
" kamu masih marah?" tanyanya tiba-tiba
" sudah tau lagi marah masih nanya ,mana ada cewek yang gak marah melihat cowoknya dipeluk cewek lain" aku menggerutu dalam hatiku, aku menatap Raka sekilas kemudian memalingkan pandanganku. Aku memainkan hapeku, yang bahkan tidak ada notifikasi apapun, open intagram trus close, open fb terus close, open wa terus cloese. Terus kayak gitu.
" sayang ,semua yang kamu lihat tadi gak seperti yang ada di otakmu itu" Raka mendekat kepadaku, dia berada disampingku sekarang,dan aku masih memainkan hapeku.
"emang dia tau apa yang ada di otakku," dalam batin aku mendengus kesal.
" tatap aku" Raka menarik daguku. Aku tidak berani melihat kedua matanya. Aku memandangi sudut ruangan restoran .
" tatap aku ,lihat mata aku megan" Raka menegaskan ucapannya. Aku pun menatap matanya, aku melihat tidak pernah ada kebohongan dimatanya.
"apakah dimataku ada tersirat kebohongan? apa dimataku terlihat tidak ada kesungguhan kalau aku benar- benar mencintaimu" Raka masih memegang daguku yang lancip. Aku menatapnya dalam. Sial ,dia tampan sekali. Aku malah terpesona oleh ketampanannya. Bahkan larut dalam kharisma nya. Begitu sempurna pria yang ada di hadapanku sekarang.
" aku percaya " aku menepis tangan Raka . Raka hanya tersenyum melihatku. Raka tiba-tiba memelukku.
" aku tau kamu masih belum sepenuhnya percaya padaku, tapi percayalah, aku merasakan jatuh cinta hanya padamu" pelukan Raka sangat erat. Aku memang mempercayainya, tapi aku masih kesal dengan apa yang kulihat tadi.
" kamu tidak berniat menjelaskan kejadian tadi padaku?" aku melepas pelukannya.
"apa yang harus kujelaskan, dia datang tiba-tiba kemudian memelukku seperti itu, aku tidak mengundangnya datang" Raka memegang erat tanganku.
" Sudahlah, kamu memang tidak tegas, kenapa kamu tidak mengusirnya?" aku menarik nafas panjang, memonyongkan bibirku.
" bagaimana aku mengusirnya, dia masuk keruanganku tanpa mengetuknya, menghampiri dan memelukku tiba-tiba, Sepertinya aku harus menggunakan jasa bodyguard supaya nanda tidak terus menggangguku" Raka tertawa .
" sepertinya kamu memang harus dikawal oleh bodyguard" aku mendengus kesal.
" manisku, kalau kamu lagi cemburu gitu tambah cantik" Raka mencubit hidungku .
" bisamu cuma merayuku" aku memanyunkan bibirku.
" aku bahkan tidak pandai merayu, berapa lama aku harus meyakinkanmu ,kamu tau itu." senyumnya terkembang sempurna. Manusia sempurna dengan kelembutannya, aku tidak ingin kehilangannya. Duniaku sudah dipenuhi dengan kehadirannya. Jika tidak bertemu dengannya Rasa rinduku begitu menggebu.
"pak makanan anda sudah siap" terdengar suara pelayan di balik pintu.
" ya masuklah" Raka memerintah pelayan itu masuk.
Pelayan itu menyiapkan meja , kemudian menata makanannya.
"silahkan pak, sudah siap. Kalau perlu apa-apa bapak tinggal memencet tombol merah disini kemudian berbicara. "pelayan itu menunjukkan tombol disamping meja .
" saya permisi" pelayan itu kemudian meninggalkanku dan Raka
" aku tau kamu suka masakan jepang, cobalah semuanya, aku sangat lapar dan aku yakin akan menghabiskannya" Raka mengambil sumpit, memulai mencicipi nasi goreng tempuranya.
Aku yang rindu masakan jepang mencoba semua yang ada di meja. Aku teringat masa kecilku, sebelum usaha mamah bangkrut, mamah selalu mengajak kami makan di restoran jepang di akhir pekan, setalah itu aku hanya sesekali makan di restoran jepang lagi. Semua yang dihidangkan dimeja begitu lezat. Aku makan dengan lahap seperti orang yang belum makan 3hari. Begitupun Raka sepertinya dia memang sangat lapar sehingga makan dengan lahap. Kami menghabiskan makanan yang ada di meja begitupun dessertnya sudah tak bersisa.
" apa kamu menyukai makanannya" Raka menatapku dengan senang.
" Raka aku sangat menyukainya, semuanya lezat. " aku memegang perutku yang hampir meledak karena kekenyangan.
" baguslah, aku akan membawamu kesini setiap hari" Raka mencubit pipiku .
"jangan" jawabku cepat.
"kenapa ?",tanyanya keheranan
" apa kamu mau membuatku seperti bola bekel , bulat ,pendek dan gendut" Aku memanyunkan bibir tipisku.
"Aku akan selalu suka kamu walaupun kamu jadi gendut. Asal kamu bisa makan dengan lahap seperti tadi" Raka terus mencubit pipiku, Raka nampak gemas sekali padaku.
" klise" ketusku
" ya sudah kalau gak percaya, aku suka kamu tuh karena sifat kamu, kemandirian kamu, karakter kamu. Masalah cantiknya kamu itu hanya bonus, kalau memang aku melihat fisik banyak gadis yang mengejarku yang lebih cantik dari kamu. " Raka membuatku memujiku terlalu berlebihan. membuatku melayang.
"uh so sweet banget, dasar playboy tukang gombal. Dasar perayu handal. " aku terus mengoceh . Raka hanya tertawa mendengar ocehanku
"Raka pulang yuk, ini udah jam 9 , aku takut mamah khawatir" Aku melihat jam di hapeku.
" ya udah yuk" Raka menggandeng tanganku. Kami menuju parkiran ,masuk kedalam mobil. Di perjalanan Raka tak hentinya menggenggam tanganku. Aku begitu nyaman dengan semua perlakuannya.
Tidak hanya Raka, aku pun merasakan hal yang sama , aku tidak bisa kehilangan nya sekarang, nanti dan selamanya. Aku belum pernah mempercayai perkataan satu lelakipun termasuk ayahku. Hanya Raka satu-satunya yang bisa kupercaya saat ini. Aku melihat kejujuran dan ketulusan dalam setiap perkataannya. Aku tidak perlu bersusah payah mengatakan perasaanku, dia sudah mengerti. Raka bahkan bisa membaca setiap fikiranku.
Sampailah kami di depan gang rumahku. Aku membuka seatbelt dan bergegas keluar. Raka mengikutiku dari belakang.
"assalamualaikum" aku mengucap salam begitu sampai di depan pintu rumah.
"waalaikum salam" mamah membuka pintu.
" tante maaf aku mengantar megan terlalu malam" Raka mencium punggung tangan mamah.
"iyah lain kali sebelum jam 9 harus sudah ada di rumah yah" mamah tersenyum pada Raka.
" baik tante saya pamit dulu,assalamualaikum" Raka meninggalkan rumah .
Aku dan mamah memasuki rumahku. Rumah yang sangat indah, kenangan yang tercipta di rumah ini adalah hal yang membahagiakan .
Rumah ini adalah saksi perjuanganku dan mamah. Dulu rumah kami sangat besar berada di depan gang utama . Tapi semenjak usaha mamah bangkrut kami harus pindah ke rumah ini.
kehidupan kami carut marut . Kami hanya bisa merasakan semua yang terjadi pada kami adalah ujiam walaupun pahit kami harus berusaha menerimanya dengan lapang.
Roda kehidupan berputar, tidak selamanya kita berada dalam kemapanan,tidak selamanya kita berada dalam kemiskinan. Kita tak boleh lelah untuk terus berusaha dan berdoa