
" megan bangun sholat subuh dulu " sayup terdengar suara teteh sedang mengetuk pintu dengan keras. Aku membuka mataku perlahan melihat sekilas jam dinding yang sudah menunjukan hampir jam 6 pagi.
" sial kenapa aku bangun sesiang ini di rumah teteh" gumamku.aku bergegas mengambil handuk dan baju gantiku.
brukk
aku menubruk teteh yang sedang mematung di depan pintu.
" megan apa kamu tidak lihat" teteh meringis sambil mengusap kepalanya.
" teteh kenapa tidak membangunkanku dari tadi ini udah siang" aku ngeloyor ke kamar mandi .
" dasar anak itu" rutuknya
Sepuluh menit di kamar mandi. Aku masuk kamar . Setelah selesai, aku membantu teteh yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami berempat. Mas Brama sedang menimang arkanda di ruang tamu, sedangkan Raka sesekali mengajak arkanda bercanda.
" kamu bantu jemur baju di depan , biar teteh yang masak" teteh menunjuk keranjang cucian yang siap di jemur. Aku mengambil keranjang itu dan membawa nya ke halaman depan.
"sini aku bantu" Raka mengambil keranjang cucian yang ada di tanganku. Aku hanya mengikutinya ke arah tempat jemuran
Aku mengambil satu persatu baju yang akan di jemur. Raka membantuku menggantungkan jemurannya.
" hari ini kita jalan- jalan ke pantai gimana?" usulnya memecah keheningan.
" terserah saja" ketusku
" mata kamu hitam banget sayang, apa kamu gak tidur semalaman" tunjuknya ke arah mataku.
" masa iyah gitu?" tanyaku sambil mengusap mataku karena memang semalaman aku tidur sangat larut.
" kamu berkaca aja sendiri. Kapan rencanamu balik ke Bandung" tanyanya lagi
" besok" ucapku asal lagi
" ya udah aku pesenin tiket pesawat " dia membuka hapenya.
" hei siapa yang mau naik pesawat. Aku mau naik kereta api" kataku menyela ucapannya.
" lama udah naik pesawat aja. udah aku pesenin" jawabnya sambil memperlihatkan hapenya .
" kamu naik aja sendiri" gerutukku.
" mubadzir loh uangnya , pulang bareng aja ok?" Raka tersenyum lebar. Aku hanya diam tak berkata apapun.
Tak membutuhkan lama aku menyelesaikan pekerjaan ini. Kemudian masuk ke dapur lagi untuk membantu teteh menyiapkan sarapan. Teteh menghidangkan roti panggang dengan selai didalamnya di meja makan . Teteh memanggil mas brama dan Raka yang masih mengobrol di ruang tamu.
" mas brama mau kopi atau teh?" tanya teteh sambil menyiapkan gelas.
" kopi aja cah ayu. Biar pas mengajar tidak mengantuk" ucapnya masih sambil menggendong arkanda.
" mas biar aku aja yang gendong arkanda, mas sarapan duluan aja aku masih belum lapar" ucapku sambil menggendong arkanda. Sekarang arkanda mulai mengenalku dia sudah nyaman aku gendong.
" Raka kamu mau apa" tanya teteh masih sibuk dengan tangannya.
" aku sama kayak mas brama aja teh" ucapnya.
" baiklah" teteh memberikan 2 cangkir kopi , meletakannya di meja.
" megan yuk sarapan" ajak teteh yang melihatku masih berdiri menggendong arkanda.
" teteh duluan aja. Ntar kalau udah selesai aku sarapan" aku duduk di kursi di samping Raka.
" buka mulutmu" Raka menyodorkan sepotong roti ke arah mulutku.
" kamu duluan aja , ntar aku makan kalau teteh udah selesai" aku menolak dengan halus.
" buka aja , apa susahnya aku nyuapin kamu" tangannya masih di depan mulutku. Akhirnya aku membuka mulutku mengunyah roti yang Raka berikan.
" duh Raka romantis banget , mas brama mana bisa kayak gitu, dia mah yang ada perut dia yang kenyang duluan" teteh menggoda ku dan Raka. seketika wajah kami memerah seperti tomat.
Sarapan selesai aku membereskan piring kotor dan mencucinya.
" teteh aku izin mau pergi sama Raka yah" teteh yang sedang menyusui arkanda tiba-tiba mendekat.
" mau kemana memangnya ?" tanyanya penasaran
" Raka ngajak ke pantai" kataku dengan tangan yang penuh dengan sabun
" kamu kapan pulang?" tanya teteh.
"besok Raka sudah pesan tiket pesawat" ucapku lagi.
" ya sudah kamu hati-hati di kalau mau ke pantai. Jaga dirimu baik-baik" pesan teteh.
" teteh tenang aja"
" boleh teteh tanya sesuatu?" matanya menyiratkan ada hal yang begitu membuatnya keheranan.
" tanyakan saja"
" Raka itu apa dia kekasihmu?" tanyanya
" mantan, aku sudah memutuskan hubungan dengannya? " jawabku asal
" kenapa? sepertinya dia sangat menyayangimu?" teteh sepertinya masih penasaran dengan hubunganku
" teh apakah bisa aku bersatu tanpa restu dari ibunya" aku melamun memflash back segala hubunganku dengan Raka.
" kalau dia jodohmu kenapa manusia bisa menentangnya"teteh memberikanku sedikit harapan namun semua itu tidak akan mengubah apapun .
" tapi untuk sekarang aku tidak bisa melanjutkan hubunganku teh" kataku sendu
" aku mengerti, bahagialah selalu adikku aku selalu mendoakan apapun harapan dan keinginanmu" teteh mengusap punggungku lembut.
" kamu jangan menyerah akan sesuatu yang telah ditakdirkan Tuhan jika dia jodohmu kamu pun takkan bisa menolaknya kan?" teteh menatapku lekat , menyemangati ku . Aku mengangguk pelan.
" aku mengerti"
Raka sudah bersiap dengan tas ransel kecilnya. Aku bersiap di kamar untuk pergi ke pantai. Raka telah menungguku di teras. Mas brama sudah berangkat sejak sarapan.
" loh naik motor memangnya" tanyaku ketika Raka sedang memanaskan motor gede.
" iya aku pinjem motor temennya mas brama, gak mau?" tanyanya
" gimana yah?" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
" sudah naik saja, ni pakai helm mu" Raka menyodorkan helm kepadaku. Akupun memakai nya.
" ayok naik"
Dengan terpaksa aku menaiki motor itu. Karena motor sport ini sehingga membuatku harus duduk begitu dengan Raka. Aku duduk dengan tegak tidak ingin bersandar pada punggungnya. Walaupun itu tidak membuatku duduk dengan nyaman .
" jika duduk mu seperti itu kamu akan jatuh" Raka memakai helmnya kemudian menyalakan mesin motor itu.
Raka memasukan gigi, dan dia sengaja menarik gas sekaligus sehingga refleks aku memeluknya karena takut terjatuh. Aku memukul punggung Raka.
" sengaja ya kamu?" bentakku.
" sayang makanya pegangan ,udah tau motor kayak gini. masih duduk seperti itu" aku pun terpaksa memeluknya. Padahal ada terselip rasa bahagia disana . Aku sungguh merindukannya saat ini
"yang erat dong" Raka menarik tangan ku sehingga melingkar pas di pinggangnya. Aku hanya diam . Biarlah ini menjadi terakhir kali aku menikmati waktu bersamanya.
Raka melajukan kenadaraanya. Aku masih memeluknya. Aroma mint di tubuhnya yang selalu membuatku nyaman.
* jangan lupa vote dong , ditunggu like dan comment nya yah readers . terima kasih*