
"saya sudah lulus SMA tente" jawabku dengan hati-hati.
" oh begitu ,jadi sekarang kamu kuliah dimana?" tatapannya begitu dingin, aku tidak bisa menyiratkan setiap matanya yang melihat ke arahku.
" kebetulan saya belum melanjutkan kuliah, saya kerja di foodcourt Raka" aku menatap ekspresi mami Raka, benar saja dia begitu shock mendengar perkataanku.
" jadi megan karyawan kamu Raka?" matanya membelalak ke arah Raka.
" gak sih semuanya kebetulan aja, sebelum jadi karyawan, aku sudah mengenalnya mi" jawabnya santai .
Dari ekspresi mami Raka , sepertinya dia kurang menyukai ku. Aku tau diri siapa aku , dari mana aku, aku mana pantas bersanding dengan Raka. Dalam lamunanku terdengar suara mobil berhenti di luar. Selang beberapa menit aku lihat ada seorang pria dengan pakaian jasnya masuk ke dalam rumah. Wajahnya tegas, sangat berwibawa. Mami Raka kemudian menyambutnya, ya itu adalah papi Raka.
"pi, kok malam banget pulangnya, kan gak enak tamu kita sudah nunggu lama" ( tersenyum kecut melihat ke arahku)
" eh ada tamu yah, siapa nama kamu?" tanyanya ramah. Berbeda dengan mami Raka, papi nya lebih ramah dan hangat.
" saya megan om" Saya menyalami papi Raka, om Pram membalas nya dengan senyuman.
" ya udah kita langsung dinner aja, kebetulan papi lapar banget, yuk masuk megan" Om Pram memasuki ruangan lain di rumah itu. Menelusuri beberapa ruangan lain dan sampailah di meja makan keluarga. Aku tak melihat siapapun disini. Hanya ada Raka dan orang tuanya.
" kamu duduk disini" Raka menarik kursi untuk kutempati. Aku duduk saja menempatinya. Duduk disamping Raka
Para pembantu di rumah Raka menyiapkan makan malam yang sangat mewah, di meja makan ada banyak menu makanan . Aku tambah canggung dan gugup.Aku ingin segera pergi dari situasi ini.
" makan yang banyak megan , jangan sungkan" om pram berbicara dan tersenyum padaku
" iya om" hanya itu yang bisa ku jawab. Aku mengambil sedikit nasi dan sayuran serta lauk. Keheningan tercipta di meja makan, hanya ada suara gesekan piring dan sendok. Tante pram masih menatap ku dengan tatapan dinginnya.
" kamu adalah wanita pertama yang Raka kenalin sama kita loh, berarti kamu special banget di mata Raka" om Pram tersenyum ke arahku , aku hanya diam mendengar perkataannya
"iyah pi ,mi ,rencana nya 2 bulan lagi aku ingin melamar megan, aku mau minta izin papi sama mami" Raka mentapku kemudian menatap orang tuanya. Tante pram tersedak mendengar perkataan anaknya.
" maaf ,maaf" ucap tante pram sambil mengelap bibirnya dengan sapu tangan. Wajahnya tidak begitu senang mendengar ucapan Raka.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" om Pram masih belum percaya dengan apa yang dikatakan anaknya. Raka yang selalu cuek dan terkesan bermain-main pada perempuan kali ini menyatakan keseriusannya.
" iya mi, pi, aku yakin . 2 bulan lagi aku ingin melamarnya setahun untuk aku mengenali megan sudah cukup sepertinya. " Raka melahap makanan yang ada di piring nya. Aku hanya diam menunduk tanpa berkaya sedikitpun.
" Raka sayang, kamu masih kuliah, ditambah kuliah kamu sedang cuti sekarang, kamu yakin dengan keputusan kamu, rasanya mami kurang setuju" Tante Pram menolak halus permintaan Raka. Aku yang mendengarnya akhirnya bersuara.
" tante benar , sekarang bukan waktu yang tepat banyak hal yang mesti kamu selesaikan dulu" aku menatap orang tua Raka.Om pram tersenyum ke arahku.
"Tapi keputusanku sudah bulat, mami papi tinggal menyetujuinya. Masalah yang lainnya aku akan mengurusnya. Lagian ini kan hanya pertunangan bukan acara pernikahan" Raka masih tetap dengan keinginannya.
" iyah udah papi serahin sama kamu, asal kamu senang papi bisa menyetujuinya. Asal dengan satu syarat , kalian jangan dulu menikah sampai kamu lulus" Om Pram menatap kami bergantian.
" duh sayang sepertinya mami sudah kenyang, kepala mami sedikit pusing, mami ke kamar dulu yah" Tante pram meninggalkan meja makan. Aku semakin yakin kalau Tante pram tidak menyukaiku apalagi mendengar anaknya yang ingin melamarku sepertinya dia shock.
Kami selesai dengan jamuan makan malamnya. Setelah ngobrol sebentar akhirnya Raka mengajakku pulang.
" pi, ini sudah larut, aku antar megan pulang dulu, papi istirahatlah jangan terlalu lelah bekerja" Raka melihat ayahnya yang terlihat sangat capek.
" ya sudah kalian hati-hati dijalan, papi ke kamar dulu, megan om gak bisa antar kamu ke depan yah" (berbicara dengan wajah lesu)
" gak apa-apa om ,silahkan om beristirahat saja. Terima kasih untuk jamuan makan malamnya " Aku berusaha tersenyum.
" jangan sungkan kamu kan teman special Raka, sering-seringlah main kesini, om masuk dulu yah" Om pram meningglkanku dan Raka di meja makan.
" Sayang yuk pulang , aku takut mamah khawatir" ajak Raka.
Raka menarik tanganku. Aku mengikutinya dari belakang. Di depan rumah mobilnya sudah terparkir, aku dan Raka memasuki mobil. Raka melajukan mobilnya ke luar rumahnya. Di dalam mobil aku hanya melamun mengingat sikapTante Pram padaku.
"sayang kamu kenapa sih ngelamun terus" Raka yang sedari tadi memerhatikanku menggenggam tanganku. Aku tersenyum menatapnya. Aku tahu bagaimana sifat Raka. Dia anak yang akan kukuh dengan keinginannya, dan tidak akan ada yang bisa menolaknya. Sekalipun orang tuanya.
" gak kok" jawabku singkat.
" jadi kamu gak mau ngomong?" paksa nya ,aku melihat nya yang sudah sedikit kesal.
" rakus , kamu yakin sama semua ini?" tanyaku lagi.
" Aku yakin banget, apa kamu masih meragukanku?" tanya nya . (tatapannya fokus di depan kemudi nya)
"Kamu selalu berhasil ngeyakinin aku, tapi izinkan aku untuk meyakinkan orang tua mu kalau aku calon yang pantas untuk mereka, keputusan mu terlalu mendadak, orang tuamu pasti butuh waktu untuk mengenalku." Aku berusaha membujuk Raka untuk mengurungkn niatnya. Namun usahaku gagal.
"waktu 2 bulan sepertinya cukup untuk mereka mengenalimu ,lagian aku sudah sering cerita ke mereka tentang kamu" Raka masih fokus menyetir, Aku harus jujur sama Raka.
" Raka mami mu sepertinya shock banget, alangkah lebih baik dia tau dulu siapa aku dan bagaimana aku ,izinkan aku mendekati mami mu , 2 bulan bagi aku agak akan cukup mengingat jadwal manggung ku" dengan keyakinan aku berusaha membujuk Raka.
" sayang ada yang kamu sembunyiin dari aku?" tatapannya membuatku gak bisa berbohong lagi. Aku diam mendengar perkataan nya .
"bicaralah apa yang membuat kamu bersikeras seperti itu" lagi Raka paling bisa mengetahui fikiranku.
" kayakanya mami mu kurang begitu menyukaiku" kataku pelan .
"megan sifat mami emang kayak gitu, maafin mami kalau nyinggung kamu" ucapnya tulus.
" bukan gitu aku tau gimana perasaan orang tua kamu. Mereka ingin melihatm masa depan dan karirmu dulu baru kamu memikirkan hal lainnya. ". Aku menatap Raka , wajahnya datar seperti memikirkan satu hal.