
*Akhirnya aku bisa up . Tolong kalian vote novel aku. Like dan komen. Kita saling timbal balik oke. Kalau kalian suka dengan ceritaku Kalian bisa share cerita aku di akun medsos kalian. Terus vote novel ini. Aku butuh dukungan kalian untuk melanjutkan novel ini.*
Setelah acara pertemuan dengan keluarga Raka. Megan merasa hubungannya dengan Raka belum bisa berakhir bahagia. Mengingat Mami Raka yang begitu membecinya.
"Sayang aku merindukanmu."
Raka mendekati kemudian memeluk Megan dari belakang. Megan yang tengah membereskan piring ke dalam lemari merasa geli karena Raka menyenderkan wajahnya ke tengkuk leher Megan, sesekali Raka menciumnya .
Setelah acara selesai, pembantu yang bekerja di rumah Raka meminta izin pulang lebih awal karena mendapat kabar anaknya masuk rumah sakit. Tinggallah Raka dan Megan dirumah.
"Rakus geli tau ,nanti piring-piring ini jatuh."
Megan mengangkat bahunya agar Raka menjauhkan wajahnya namun Raka semakin mengeratkan pelukannya. Megan menghela nafas panjang kemudian menyimpan pekerjaannya yang belum selesai.
Megan membalikkan badannya menatap Raka. Raka menangkup pipi Megan dengan kedua tangannya. Raka mendekatkan bibirnya kebibir Megan yang tipis. Seolah menjadi candunya. Raka ******* dan menyesap bibir Megan dengan intens. Megan membalas ciuman Raka dengan agresif. Tangannya melingkar sempurna dileher Raka. Lama mereka berciuman akhirnya melepaskannya sekedar mengambil oksigen. Megan tersenyum melihat mata Raka yang sayu menahan hasratnya.
"Sayang bagaimana jika kita menikah minggu depan, tidak usah menunggu Rika. Kita menikah diam-diam saja di KUA. Aku sudah gak kuat menahannya lagi."
Suara Raka terdengar berat, Raka menggesekkan sesuatu didalam dirinya yang sudah mengeras ke lpaha Megan.
"Haish dasar mesum. Aku gak mau nikah kayak gitu. Aku ingin pernikahan kita sakral dihadiri keluarga kita." Megan memanyunkan bibirnya.
"Aku sudah tidak kuat sayang. Lihatlah dia tidak tenang kalau berada didekatmu."
Raka mengedipkan matanya kearah bawah. Refleks Megan meremasnya dengan gemas. Kemudian berlari naik ke atas tangga menjauh dari Raka yang meledak menahan nafsunya.
"Hei wanita nakal, beraninya kamu menggodaku". Raka berlari sekencangnya mengejar Megan.
Bodohnya Megan, dia berlari ke arah kamar Raka. Sebelum sempat menutup pintu, Raka sudah menahannya. Kemudian membuka pintu itu. Raka menendang pintu kamarnya kemudian menguncinya. Megan mundur teratur. Sampai tubuhnya mentok di dekat ranjang besar.
"Hei Rakus, jangan macam-macam." Megan menunjuk Raka dengan tatapan takut.
Raka membuka kancing kemejanya dengan terburu, melempar kemejanya kesembarang arah.
"Aku tidak akan macam-macam, hanya akan melakukan satu macam yang akan membawamu menikmati lagi apa itu surga dunia." Senyum Raka menyeringai menatap Megan yang tengah terduduk di atas ranjangnya.
Raka memeluk Megan, menarik dagu Megan. Mereka kembali berciuman dengan sangat liar. Tanpa sadar Megan telah terbawa kedalam setiap sentuhan yang diberikan Raka. Dan akhirnya mereka melakukannya menuju kenikmatan dan hanya mereka yang dapat merasakannya. Hanya suara desahan menggema didalam kamar yang kedap suara itu. Setelah bergulat diatas ranjang. Keduanya terengah-engah merasakan kenikmatan dunia itu. Megan yang kelelahan akhirnya tertidur karena Raka melakukannya berkali-kali.
Matahari telah tenggelam dengan langit yang berwarna jingga. Megan mengerjapkan matanya berkali-kali. Ada tangan yang melingkar sempurna di perut rampingnya.
Megan terus merutuki dirinya. Namun dia tidak menyesalinya, karena mungkin sudah lama Megan tidak merasakan kelembutan dan kehangatan ini sehingga Megan terbawa nafsunya sendiri. Megan mengangkat tangan Raka perlahan. Kemudian berusaha bangun dari ranjang. Namun Raka menarik pinggang ramping itu sehingga kembali terjerembab kedalam pelukan Raka.
"Rakus aku mau mandi ini sudah sore, kamu bangun." Megan berusaha melepaskan pelukan Raka, namun sia-sia. Raka semakin menempelkan tubuh polosnya pada tubuh Megan.
"Sayang aku masih ingin." Raka berbicara dengan mata yang masih terpejam. Megan kesal dan mencubit tangan kekar Raka.
"Aww kamu KDRT deh sayang." Raka melepaskan pelukannya. Matanya terbuka lebar menatap Megan.
"Rasain, aku mau mandi ini sudah sore kamu harus mengantarku pulang Raka." Megan berjalan meninggalkan Raka, dengan tubuh polosnya memasuki kamar mandi. Raka yang melihat Megan kembali berlari mengikuti Megan.
Akhirnya mereka mandi bersama, dan sudah tentu mereka melakukan hubungan badan berkali-kali dan melakukannya hampir selama satu jam. Setelah selesai bersiap, Raka mengajak Megan untuk makan malam di restoran Jepang favorite Megan.
"Raka bagaimana kalau aku hamil." Megan merasa gelisah karena mereka melakukan nya tanpa menggunakan pengaman.
"Kita akan menikah sayang, kenapa kamu harus takut aku akan menjadi ayahnya." Raka menyantap makanan yang sudah dihidangkan.
"Bagaimana jika itu tidak terjadi. Tante veronica masih belum merestui hubungan kita." Megan masih gelisah mendengar jawaban Raka.
"Sayang aku yakin pernikahan kita akan terjadi. Bulan depan kita menikah, kamu tidak usah khawatir aku sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kita." Raka dengan gemas mencubit pipi Megan.
"Bagaimana dengan permintaan kak Rika yang melarang kamu melangkahinya?." Megan menatap lekat mata Raka. Megan sama sekali belum menyentuh makanannya, padahal perutnya sudah berbunyi. Raka menyimpan sendoknya. Menatap balas Megan.
"Kamu gak usah khawatir sayang, biar aku urus semuanya. Kamu hanya perlu menunggu dan patuh sama aku." Raka mengambil sendok dipiring Megan. Menyuapi Megan yang terus mengoceh padahal perut Megan berbunyi keras dan terdengar oleh Raka.
" Habiskan makananmu sayang, tidak usah memikirkan apapun. Kamu hanya perlu mempersiapkan mentalmu untuk menjadi nyonya muda Prambudi." Raka tersenyum menatap Megan.
"Awas kalau kamu ninggalin aku." Ancam Megan menatap tajam Raka.
"Hai sayang buat apa aku susah payah selama tiga tahun mencarimu kalau sekarang aku akan meninggalkanmu." Raka nampak kesal mendengar ucapan Megan.
" Kali aja setelah tidur denganku kamu ninggalin aku." Ketus Megan disambut tatapan dingin Raka.
"Aku mencintaimu tulus Megan, kamu tahu betapa gilanya aku saat kamu menghilang? Apa aku akan meninggalkanmu sekarang setelah dulu aku bahkan hilang akal karena kehilangan jejakmu." Raka menatap jengah Megan tidak mengerti dengan jalan fikiran wanitanya itu.
"Aku percaya." Megan menghela nafas lega mendengar ucapan Raka.
Raka mengantar Megan kerumahnya. Karena hari sudah gelap dan mamah Hana sudah menelepon meminta Megan agar secepatnya pulang.