RISAU

RISAU
DILEMA (Kembali Lagi)


Ada hal dalam hidup ini yang harus kita relakan, ada hal yang harus dipertahankan. Kita bisa mengukur itu semua. Tuhan tidak selalu memberikan kepahitan karena dibaliknya akan ada hikmah dan hal indah menunggu untuk kita. Kita hanya harus merelakannya dengan ikhlas. Sebatas manusia dengan angan, sebatas manusia dengan harapan dan batas manusia hanya harus kembali pada kenyataan dan takdir Tuhan .Manusia hanya sebatas manusia. kita jangan terlalu meninggi jangan juga selalu merendah. Tinggi rendah itu tergantung situasi . Kita bukan nabi, bukan malaikat apalagi kita bukan setan. Kita hanya perlu menjadi seperti malaikat berpolah seperti nabi dan kita tidak perlu seperti setan. Walaupun hidup kita tak luput dari dosa. Hiduplah dengan damai hanya itu cara kita dapat bersyukur. Damai dengan takdir . Percaya bahwa Tuhan menyiptakan pelangi atas dasar hujan lebat kemudian cerah. Dan berusahalah dengan keras untuk setiap kebahagiaanmu .


Hidupku tidak melulu menderita ,aku terlahir di saat ayah ku poligami , dan kala aku dikandung ayahku menikahi wanita ke empat untuk dijadikan istrinya. Aku dilahirkan dari ibu kuat ( itu anugerah luar biasa). Dia membawa beban berat sepanjang hidupnya. Ada banyak hal yang bisa aku ambil dari perjalanan hidup ibu. Merelakan cinta walaupun itu berbagi dalam sebuah ikatan perkawinan. Poligami tidak melulu buruk. Ayah memberi kehidupan pada janda yang tidak mempunyai suami. Dia menafkahi sebagian anak yang bukan darah dagingnya meskipun itu hanya sedikit saja.


Tumbuh menjadi anak dengan kelembutan ibu yang luar biasa, walaupun tanpa kasih sayang ayah. Terlalu bodoh jika aku harus menyiakan hidup karena ayahku. Aku masih banyak saudara seibu yang sangat mencintaiku. Kehilangan Raka tidak masalah bagiku. Aku masih banyak yang lebih berharga untuk aku pertahankan . Yaitu kebahagiaan diri sendiri


(batin)


mamah terima kasih kau menjadi wanita yang begitu hebat. Sekarang aku bisa melepaskannya pergi berkat dirimu. Kamu adalah teladan . Aku akan menjadi sepertimu merelakan apa yang seharusnya direlakan. Semoga aku senantiasa selalu menemukan kebahagiaan di masa depanku.


" megan hari ini kamu mau kemana?" teteh membuyarkan lamunanku. Aku kembali menyantap sarapan yang sudah dihidangkan di atas meja.


" aku mau mengelilingi yogya teh" ucapku antusias.


" megan mas brama tidak bisa mengantar mu jalan-jalan karena harus mengawasi ujian siswa, tidak apa-apa toh?" mas Brama berbicara dengan logat jawa nya yang begitu kental


" gak apa mas, megan bisa sendiri. Teteh juga gak usah khawatir yah" kataku melihat teteh dengan wajah cemasnya.


"baiklah kalau teteh tidak repot dengan anak bayi ini teteh ingin menemanimu karena sudah lama rasanya teteh tidak berlibur memanjakan mata" sindiran pedas, teteh mengedipkan mata ke arah mas brama yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


" nanti sabar sayang, kita berlibur setelah honorku cair hehehehhe" senyum mas brama melihat wajah teteh yang masih cemberut.


" gak apa- apa mas aku ngerti" teteh merapikan meja makan karena kami semua telah selesai sarapan .


"mas hati-hati yah" teteh melambaikan tangan ke arah suami nya beranjak pergi keluar halaman rumah setelah pamit.


"megan kamu pakai tourist guide gak" tanya teteh yang melihatku masih santai.


" gak teh kayaknya sendiri aja" jawabku dengan masih membereskan barang yang akan kubawa.


" bagus lah. Kamu jangan terlalu malam pulangnya . Kalau kemalaman jangan maksain pulang mening nginep hotel soalnya jalanan ke arah sini rawan " teteh mewanti-wantiku seperti mamah .


" oke teteh, teh pinjam kameramu dong" rengekku.


"sebentar, ni kamu gendong dulu arkanda " teteh memberikan anak bayi lucunya padaku. Aku pun menggendong dengan hati-hati. Tapi belum lama arkanda nangis mungkin tidak nyaman aku gendong karena masih kaku.


" jup jup jup" aku menimang arkanda yang masih menangis. Aku mencoba membenarkan posisi tanganku agar arkanda lebih nyaman. Dan berhasil dia berhenti menangis.


" arkanda sholeh ,tampan lucunya" aku menatap wajah bayi yang putih ini. Ingin mencubit pipinya namun pasti dia nangis lagi.


" ini kameranya,kamu cepat berangkat keburu panas nanti, terus jangan pakai sweater kayak gitu nanti kepanasan, teteh udah nyiapin 2 atasan nih" teteh menyimpan kamera dan 2 blouse berwarna putih.


*styleku*



" bisa feminim ternyata sekarang" ejek teteh melihat pakaianku.


" huh bisa dong, aku berangkat sekarang ya teh" aku mencium tangan teteh kemudian pamit salam pada teteh.


Destinasi ku kali ini, aku ingin ke tempat bersejarah yaitu Tebing breksi.Cukup jauh jarak dari rumah teteh aku menggunakan kendaraan yang telah ku sewa bersama supir menuju kesana. Tidak hanya aku, banyak wisatawan domestik yang ikut dalam mobil itu. Setelah sampai di tebing breksi aku memasang tripod kameraku. Aku berfoto disana. Pemandangan yang indah ditambah terik matahari yang muncul membuat hasik fotoku lumayan bagus.


Siang hari aku mencari restoran yang berada di dekat breksi. Tidak seperti dulu, setelah band ku mengeluarkan album, honorku tidak terlalu sedikit untuk berfoya-foya jadi aku tidak usah lagi memikirkan harga jika ingin sekedar makan. Aku bisa makan apapun yang aku ingin tanpa melihat pricelistnya .Setelah menyantap makanan siang, aku melanjutkan tujuan wisataku, aku ingin ke candi prambanan. Ingin melihat sejarah secara langsung bagaimana candi itu berdiri.


Di sana aku memotret candi dengan lensa fokus kameraku. Candi tua menjadi saksi sejarah di negeri ini. Aku meminta tolong kepada wisatawan lain untuk memotretku di depan candi . Hari ini aku puas berjalan-jalan, sepertinya fikiran tentang Raka sedikit menghilang.


Senja telah menampakkan dirinya. Perlahan menghilang berganti pagi. Malam hari aku pergi ke tugu yogyakarta dan membeli oleh-oleh di sekitaran jalan malioboro.


Aku membawa hadiah untuk teteh dan keluarga, untuk mamah dan sahabatku. Puas berbelanja aku pun menyewa lagi mobil untuk pulang ke daerah teteh.


" assalamualikum" aku memasuki rumah mungil itu karena pintu terbuka. Sama sekali tidak ada orang . Mungkin teteg sedang ngelon arkanda dan mas brama sudah tidur. Aku memasuki kamar ruang tamu


(batin) siapa yang tertidur dikamarku. Masa mas brama tidur disini.


Aku melihat ada seseorang yang sedang tidur di kasur. Membelakangi arah pintu masuk. Melihat tubuh itu aku merasa familiar sekali.


Aku mendekati ranjang yang dia tiduri. Perlahan membungkuk untuk melihat wajahnya. Dan lagi Aku melihat Raka sedang tidur pulas.


"Rakaa" teriakku dengan suara memekik dan ekspresi kaget.


Teteh dan mas brama yang mendengar teriakanku langsung menghampiriku. Sementara Raka masih mengucek matanya sambil duduk ke arahku.


" kamu kenapa teriak?" ucap teteh kesal karena suaraku sangat keras tadi.


" Kenapa dia ada disini?" aku menunjuk Raka yang masih mengumpulkan nyawanya.


" maaf teteh lupa mengabarimu, tadi sore dia kesini mencarimu. Karena kelelahan teteh menyuruhnya istirahat disini" senyum teteh menandakkan kalau dia sedang berbohong


*readers terima kasih untuk vote like dan komentnya, Jangan lupa terus like dan komen. episode yang baru ini. Vote kalian semua aku tunggu*