
" maaf pak," jawabku setelah meminum botol air mineral.
" kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu menghindariku?" tatapan Raka sangat hangat . Aku mana bisa menjauh darinya kalau dia terus seperti ini
" maaf pak tidak enak dilihat banyak orang, saya bukan menghindari bapak , saya cuma tidak mau orang salah paham. Tolong bapak memperlakukan saya sama seperti karyawan lain" aku tidak berani menatapnya. terus menyantap makan malamku.
" megan jangan formal seperti itu, aku ini adalah temanmu ,jauh sebelum kamu menjadi karyawanku kamu adalah idolaku. dan aku adalah fans mu. Dan kita berteman kenapa harus seformal ini" dia menarik daguku , aku sampai malu melihat sekeliling sedang menatapku. Aku menepis tangan Raka dari daguku.
" pak,semua orang menatap kita. Oke kita berteman , tapi bapak jangan tiba-tiba muncul di sekolah seperti tadi" aku menjawab dengan nada sedikit tinggi.
" kamu jangan geer manisku. aku hanya kebetulan lewat di jalan sekolah mu itu, ku lihat kamu keluar dari sekolah , aku tidak sengaja ." Raka meyakinkan
Mukaku merah, memang aku yang kegeeran. Kenapa jadi seperti ini niat hati ingin menjauh dia semakin menggila mendekatiku.
" iyah saya mohon, bapak jangaan memperlakukan saya seperti ini di tempat kerja tidak enak dengan karyawan lain" aku sama sekali tidak pernah menatapnya ketika berbicara mana berani yang ada perasaanku semakin kacau.
" kalau kamu terus menghindariku seperti ini, aku tidak akan pernah berhenti mengganggumu. Saat di rumah ,disekolah ataupun di tempat kerja. " ancamnya. Mendengar ancaman nya itu . Aku semakin ngeri mendengarnya.
"oke kita berteman , tapi setidaknya bapak harus bisa membedakan situasi di tempat kerja" jawabku.
" sebelum pulang kamu ke ruanganku dulu. Makan yang banyak waktu istirahatmu udah selesai" Raka mengusap hidungku.
Mulutku menganga. Aku tidak bisa tahan lagi kalau diperlakukan seperti ini. Jantungku berdetak kencang, darahku mengalir lebih hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki ku ( lagu cipt ahmad dhani) . Aku harus menahannya, membuang jauh-jauh semua perasaan yang akan membunuhku sendiri.
Jam kerja ku sudah hampir habis, area food court sudah sepi. Sebelum pulang aku membersihkan meja-meja dan merapikannya. Membantu karyawan lain mencuci piring.
Setelah itu aku bergegas ke ruang manager.
tok...tok..tok.
krekk
" permisi pak!" ucapku melihat ke arah Raka
"masuk megan" Raka mempersilahkan ku duduk. Dia menyodorkan amplop berwarna coklat.
" ini adalah gaji sebulan kamu , saya membayar kamu di muka karena kinerjamu bagus . Tolong pertahankan. Jangan sampai suasana hatimu sedang buruk kamu tidak bisa ramah kepada pembeli. Tapi dengan sifat ceriamu,aku yakin hal sepele seperti itu tidak akan mempengaruhi profesionalisme mu dalam bekerja" Raka menatap mataku dengan senyuman mematikan. Aku membuka amplopnya.
" pak, ini terlalu banyak, saya hanya minta satu minggu dimuka, bukan sebulan dimuka," saya memberikam kembali amplop itu pada Raka .
" megan anggap saja saya menolong kamu sebagai teman , kamu tidak perlu sungkan , semua karyawanku jika membutuhkan uang aku selalu bersedia membantu. Lagian kamu mendapatkan ini tidak cuma-cuma kamu kan bekerja disini kamu membayar dengan tenagamu. Kalau kamu tidak percaya tanyalah pada sindi , dia sudah lama bekerja disini. " Raka menjawab dengan santai.
" baiklah pak , saya memang sangat membutuhkannya, Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh, saya tidak akan mengecewakan bapak terima kasih untuk kemurahan hati bapak" . Aku tersenyum . pertama kalinya aku tersenyum pada Raka setelah kejadian waktu lalu aku selalu menekuk muka. Raka pun membalas senyumku.
"kalau begitu saya pamit pulang , selamat malam pak"
" selamat malam megan" jawab Raka.
Setelah mengganti pakaian aku bergegas keluar mall xx , di depan aku menunggu angkot biru arah rumahku pulang. Tapi angkot itu belum terlihat. Tiba-tiba mobil sport hitam berhenti tepat di tempat aku menunggu angkot. Kaca mobil itu perlahan terbuka. Aku sudah mengetahui mobil ini adalah mobil Raka.
" megan aku antar pulang bagaimana , ini sudah larut malam angkot ke arah rumahmu jarang sekali lewat kalau jam segini. Tidak baik kamu menunggu angkot terlalu lama . Ini sudah terlalu malam." Dia mengajakku dengan kesungguhannya.
" pak ,tidak usah repot saya bisa naik ojeg online bapak silahkan pulang duluan" jawabku dengan tersenyum.
" megan arah rumah kita sama bahkan lebih dulu rumahmu. ayolah jangan menolakku kali ini , anggap saja ini permohonan maafku setelah kejadian beberapa waktu lalu" matanya tak hentinya menatapku. Sebenarnya dalam hati aku membutuhkan tumpangan itu. Jika aku menolak pasti Raka akan terus memaksa, dan akan terus menunggu sampai aku mau diantar. Akhirnya aku mengiyakan ajakan nya. Aku duduk di kursi depan , karena di kursi belakang banyak barang-barang Raka sepertinya dia habis borong di mall tersebut.
Diperjalanan hanya hening . aku tidak memberanikan membuka mulutku. Hanya sesekali melihat Raka . Raka pun hanya fokus menyetir. Sampailah aku di depan gang rumahku. Suasana cukup sepi karena waktu sudah menunjukan jam 11 malam. Ketika aku akan membuka seatbeltnya entah kenapa susah sekali.
" Pak,kenapa seatbelt nya susah dibuka, bisakah bapak membantu saya" aku masih berbicara formal dan tanganku masih sibuk mengotak-atik seatbeltnya.
" kenapa di luar pekerjaan kamu masih terus berbicara formal. ulangi lagi aku gak mau bantu kalau minta tolongnya kayak tadi. Jangan panggil bapak, panggil saja Raka" Dia memonyongkan bibirnya. Aku mendengus kesal. Kenapa kekanakan sekali batinku.
"oke, aku ulangi Raka tolong bantu aku membuka " belum selesai aku berbiacara Raka beranjak dari kursi kemudinya, sedikit menyondongkan badannya ke tempat duduk ku. Degupan jantungku semakin kuat, aku menutup mataku dengan kuat. Terasa hembusan nafasnya di wajahku . Dia masih membukakan seatbeltnya dan aku masih menutup kuat mataku.
" kenapa lama sekali " batinku. Rasanya waktu berhenti seketika. Nafasku tak teratur. Apakah Raka merasakan detak jantung dan hembusan nafasku. Hatiku semakin gelisah.
cuppp
Bibir Raka mengecup bibirku. Aku hanya diam, karena shock. Mataku masih saja tertutup kuat. Udara dalam mobil semakin panas . membuatku sesak. Jantungku semakin berdegup tak karuan . Seketika melayang di udara. Ini adalah ciuman pertamaku. Kedua tanganku masih kuat memegang seatbeltnya.
cupp
Bibirnya kini menempel pada bibir tipisku.Raka menciumku lagi , aku tetap mematung. Kenapa aku tidak menolaknya. Aku bahkan menerima ciumannya. Bahkan bibirnya masih menempel di bibirku. Dia memegang tanganku. Bibir Raka melumat bibirku. Ciumannya semakin mendalam. Dia menggenggam tanganku erat. Aku masih belum membuka mataku. Nafasku semakin memburu. Dengan liar Raka menciumiku memasukkan lidahnya kedalam mulutku dengan paksa. Kali ini aku membalas ciumannya karena mulutku sudah sesak dari tadi. Dia memainkan lidahnya dalam mulutku. Aku mendorong tubuh Raka sekuat tenaga. Dia kembali ke posisi duduknya
" sudah cukup Raka" teringat perkataan alex tak terasa aku pun menangis. Apa yang aku lakukan. Bisa-bisanya aku menerima ciuman Raka . Raka yang melihatku menangis seperti kebingungan. Dia mencoba menenangkanku.
" megan maafkan aku, aku khilaf , kamu jangan menangis lagi kamu boleh menghukumku" Raka seperti kehabisan ide untuk menenangkanku. Tangisanku semakin menjadi .
" Megan tolong berhenti bagaimana jika ibumu mengetahuimu menangis, aku akan menghukum diriku sendiri. tolong maafkan aku" Raka kembali menenangkanku, tapi aku masih tetap dalam isakanku. Wajahku ku tutup dengan mataku.Raka memegang tanganku.
" berhentilah megan,aku mohon , aku tidak bisa menahan diriku . Pertama kali kita bertemu di festival aku sudah jatuh hati padamu, semua informasi tentang dirimu aku cari tau dan aku sudah mengetahuinya. Tak bisa kah kamu melihat itu, bahwa aku benar-benar menyukaimu." Raka terus menggenggam tanganku.
Akupun berhenti menangis , kemudian aku keluar dari mobil itu tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Raka yang masih memperhatikanku di balik kemudinya . Hingga aku sudah berhenti di depan pintu. Kubuka rumah dengan kunci cadangan, kali ini sepertinya mamah tidak menungguku pulang. Baguslah aku tidak perlu menjelaskan keadaan ku yang seperti ini. Aku mengambil es batu di lemari es. Aku mengompress mataku yang bengkak . Rasanya aku lelah aku ingin tidur saja. AKu tidak mau memikirkan hal yang begitu menyesakkan dadaku. Dan aku pun terlelap......