RISAU

RISAU
CAHAYA ( TAK BERGEMING)


Hari ini food court sangat ramai, jimmy dan aku sibuk melayani pembeli, dibantu oleh manager. Kiara tidak masuk sehingga kami harus ekstra bekerja keras malam ini. Hingga pukul 21.37 food court telah sepi . Aku menghitung pendapatan shift ini dan meng input nya. Setelah itu aku membereskan meja-meja membantu jimmy . Jimmy menyapu lantai dan mengepelnya. Setelah selesai kami bersiap pulang, aku ke ruang ganti.


"megan kamu pulang naik apa?" jimmy menghampiriku yang sudah bergegas pulang.


" aku mau pesan ojeg online aja jim. Jam segini angkot jurusan rumahku sudah tidak ada" Aku mengotak ngatik hape ku. membuka aplikasi untuk memesan ojeg online.


" ya udah hati-hati ya megan " jimmy melambaikan tangannya dia pergi menuju arah parkir sedangkan aku menuju pintu utama mall. Aku menunggu ojeg yang aku pesan di tempat pemberhentian angkot. Tiba-tiba ada seseorang duduk di sampingku.


"hai" terdengar suara yang begitu familiar. Raka ngapain dia disini ,batinku.


" kamu ngapain disini?"aku menengok kiri dan kanan melihat sekeliling.


" nunggu kamu" Raka tersenyum sedangkan aku sibuk dengan hapeku. Aku tidak merespon perkataannya. Dia hanya menatapku yang sedang asyik dengan hapeku.


" maaf aku duluan yah, ojegku udah sampai" aku beranjak meninggalkannya, tapi Raka membuntutiku.


"ini mbak helmnya" seseorang laki-laki paruh baya yakni abang ojeg yang aku pesan memberikan helm padaku, tapi tiba-tiba Raka mengambil helmnya.


" mohon maaf pak , pacar saya mengcancel orderannya karena saya akan mengantarnya pulang, sebagai ganti ruginya ini pak di terima" Raka memberiak selembar uang seratus ribu kepada abang ojol itu.


" apaan sih, siapa yang mau pulang bareng kamu" aku merebut helm nya , tapi Raka dengan cepat mengambil helm itu dan memberikannya pada abang nya


" tapi mas, tolong mbaknya saja yang cancel,kalau saya yang cancel nanti berpengaruh pada performa saya , terima kasih tipsnya. " abang ojol itu mengambil helm nya.


" baik pak , bapak boleh pergi, maaf atas ketidaknyamanan ini" Raka mengambil handphoneku dan mengcancel pesanan ojegnya. Dia tersenyum kepadaku. Aku kesal sekali dengan sikap seenaknya dia.


"Kamu kenapa sih? siapa yang mau diantar kamu pulang! " aku memanyunkan bibirku , mengambil hapeku ,dan duduk kembali di tempat pemberhentian itu.


" malam-malam begini aku gak mau kamu pulang naik ojeg, terlalu bahaya" Raka mengambil lagi hapeku. Aku berusaha merebutnya tapi aku gak bisa karena tubuhnya yang tinggi sulit untuk aku jangkau.


" balikin gak hapeku? kalau gak aku teriak kamu sebagai maling" ancamku. Karena sangat ramai , dan sepertinya ancamanku berhasil Raka memberikan hp ku.


" kamu mau pulang naik apa megan, ini sudah larut bahaya kalau naik kendaraan umum" Raka memaksaku untuk pulang bersamanya namun aku tak bergeming.


" kamu gak usah perduliin aku, aku bisa jaga diri , lebih bahaya aku pulang sama kamu" aku mendengus kesal dengan perlakuan seenaknya dia.


" bahaya? apa aku sebajingan itu" tanyanya.


" iyah kamu ******** mengambil ciuman pertamaku" aku menutup mulutku yang trus nyerocos tanpa menyaring perkataanku.


" oh jadi itu ciuman pertamamu, beruntung sekali aku" Raka tersenyum puas padaku. Aku membiarkannya.


" kamu beruntung ,tapi aku yang buntung" aku mendengus kesal.


" maksud kamu?" Raka menatapku dengan penuh tanda tanya.


" iya aku sangat buntung, bibir mu itu adalah bekas mencium ratusan gadis, kasihan sekali bibirku harus banyak terinfeksi" aku menatap kembali layar hapeku membuka aplikasi ojeg online.


" Hei, kamu jangan sembarangan, aku tidak sebajingan apa yang ada dalam otakmu" Raka mengangkat daguku dengan tangannya. Aku menepis tangannya .


" apa kamu keberatan dengan ucapanku, itu adalah kenyataan nya" aku kembali pada layar hapeku.


" kalau kamu masih memesan ojeg aku akan banting hape mu sekarang juga" nada suara Raka berubah menjadi suara kesal. Apa ada yang salah dengan perkataanku tadi, batinku. Aku memandanginya. Raka kemudian menarik tanganku dengan kasar menyeretku mendekati mobilnya. Genggaman nya sangat kuat aku tidak melepaskannya.


" masuk" Raka membuka pintu mobil depannya. Aku hanya mematung di samping pintu mobil itu. Raka menggendong tubuhku dan memasukkan ku ke dalam mobil. kemudian menutup pintu dengan kasar. Dia berlari kedalam kemudinya,ketika hendak beranjak membuka pintu mobil , pintunya sudah terkunci. Sial, batinku.


"Apa kamu mau membunuhku ?" Aku berteriak sambil memukul lengannya berkali-kali , tapi dia tidak bereaksi bahkan pukulan ku tidak membuatnya kesakitan. Raka mengurangi kecepatannya aku berhenti memukul lengannya. Aku terdiam menatap keluar jendela. Aku benci sikap nya yang selalu memaksa tanpa meminta persetujuanku.


"apa di matamu aku sebajingan itu megan" tiba-tiba Raka memecah keheningan diantara kami. Aku tak menjawab perkataanya aku hanya diam membisu menatap ke arah luar . Raka memberhentikan mobilnya mendadak dan membuatku kaget.


Raka menarik daguku


" apa di matamu aku lelaki tak berperasaan, jawab aku megan" ekspresi wajahnya mulai serius.


" ya kamu adalah laki laki tidak berperasaan , puas?" aku menatap nya dengan penuh kekesalan


" kenapa kamu menyukai laki-laki ******** seperti aku?" tanyanya


" cih,,siapa yang menyukaimu Raka!" aku menekankan ucapanku


" kamu tidak usah berpura-pura aku sudah membaca bukumu, bahkan kamu jatuh cinta padaku" Raka tersenyum puas


" kamu dasar tidak tau malu membaca buku orang tanpa permisi" aku memalingkan wajahku yang sudah memerah.


" asal kamu tau , kamu adalah wanita pertama yang aku cium" Raka melajukan kembali mobilnya, perkataan Raka membuatku kaget. Benarkah? aku bahkan sulit mempercayainya.


Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, bahkan aku tidak berani mentap wajahnya. Sampailah kami di gang rumahku, Raka menghentikan mobilnya. Aku membuka pintu mobil itu keluar tanpa terima kasih. Aku berjalan menuju rumahku meninggalkan Raka tanpa melihatnya. Terdengar suara mobil melaju dengan kecepatan tinggi . Aku tak menghiraukannya.


Aku memasuki rumah, membuka rumah dengan kunci cadangan . Rumah tampak sepi sepertinya semua orang sudah beristirahat . Aku bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuh dan mengambil air wudhu. Setelah sholat aku membaringkan tubuhku yang sudah lelah bekerja seharian ini. Tiba-tiba hapeku berdering. Raka menelepon.


" ada apalagi sih orang ini, tidak bosankah dia mengganggu ketenanganku" batinku. Aku me_reject panggilannya , tapi dia tak hentinya meneleponku. Akhirnya aku mengangkatnya


" ada apa lagi?" bentaku di balik telepon


" megan aku suka kamu ,tidakkah kamu bisa merasakannya" terdengar suara Raka dengan sungguh-sungguh.


"Raka aku bukan gadis-gadis bodoh yang selalu kamu permainkan, jangan harap aku percaya dengan semua perkataanmu" aku mengungkapkan apa yang ingin aku ucapkan selama ini.


" terserah padamu, aku akan terus mengejar dan membuktikan padamu, bahwa aku bukan lelaki brengsek seperti yang kamu tuduhkan" Raka masih dengan emosinya. Aku hanya diam tak bisa berkata apapun.


"megan, jangan membohongi perasaan mu lagi. Aku tau kamu pun menyukaiku. aku harap kamu bisa menerimaku, dan memulai hubungan ini dengan baik" lagi-lagi aku hanya membisu mendengar perkataannya.


" baiklah sepertinya kamu lelah. tidurlah manisku, i love you" suara Raka terdengar lirih. Dia memutuskan sambungan teleponnya


Aku tidak bisa memejamkan mataku. semua sikap dan perkataan Raka belum bisa meyakinkanku terlebih aku belum tau hubungannya dengan Nanda. Memang benar, aku tidak bisa membohongi perasaanku.


coretan risauku...


terima kasih telah hadir walau sebatas asa.


terima kasih telah hadir walau hanya dalam mimpi.


terima kasih telah hadir walau di waktu yang salah.


aku tidak menyesal mencintaimu.


aku tidak menyesal mengenalmu , yang aku sesali aku tak bisa melepasmu , sekarang ataupun nanti