RISAU

RISAU
AURA (KEBAHAGIAAN, PART 1)


Aku kembali bekerja, setelah sehari Raka memberikan ku izin, lututku sudah membaik dan memarnya sudah terlihat samar. Sudah hampir seminggu Raka tidak menampakan batang hidung nya di food court, aku merindukannya. Aku tau Raka mengelola usahanya dengan giat, dia bisa membagi waktu antara kuliah dan usahanya. Aku mendengar bahwa foodcourtnya telah berkembang , dia membuka cabang di beberapa mall di bandung dan di daerah jakarta. Mungkin itulah yang membuat dia tak pernah menampakan batang hidungnya. Walaupun begitu dia tidak hentinya mengirimku pesan. dan meneleponku di waktu senggang.


***Fans gila


hai, aku kangen kamu manis, Minggu pagi aku jemput kamu bermain basket oke.😘


***To Fans Gila


oke😊


"Raka aku merindukanmu" batinku.


Rutinitas ku setiap hari hanya ke sekolah mengecheck apa kah ada hal penting di sekolah , kemudian sorenya bekerja. Biasanya sepulang kerja Raka selalu memaksaku pulang dengannya, tapi seminggu ini dia sibuk dengan beberapa cabang foodcourtnya. Aku benar-benar merindukannya. Merindukan setiap tingkah konyol dan semua perhatiannya.


Suara cicitan burung terdengar di luar jendela kamar. Aku membuka jendela kamarku menghirup udara minggu pagi yang cerah . Seperti biasa hari minggu aku selalu menyempatkan untuk berlatih basket. Lututku sudah sembuh, jadi aku bisa berolahraga lagi.


"megan" mamah meneriakiku dari luar kamar.


" iyah mah kenapa" aku mnghampiri mamah di dapur yang sedang menyiapkan sarapan


" sayang bukain pintu, ada tamu kayaknya" mamah membuat roti panggang isi selai coklat.


" siapa sih pagi- pagi gini udah bertamu" aku bergegas keluar.


" assalamualaikum" Raka tersenyum manis sekali.


"aaaaa" aku menutup mukaku yang masih berantakan dan belum sempat cuci muka . Penampilanku berantakan. Aku lupa hari ini Raka mengajakku bermain basket


" siapa nak, kenapa kamu berteriak" mamah berlari menghampiriku. Melihat ku menutup muka, mamah tersenyum.


" nak Raka yah, silahkan masuk" mamah mempersilahkan Raka masuk. Raka duduk di ruang tamu. Aku masih mematung menutup wajahku dengan kedua tanganku


" kamu kenapa megan, malu belum cuci muka? sana cuci muka dulu" mamah terkikih melihat tingkahku.Raka hanya tersenyum geli melihat tingkahku. Aku berlari ke kamar mandi dan mengganti pakaianku.


" nak Raka kebetulan tante sedang membuat sarapan , ayuk sarapan bareng" Mamah berkata ramah.


" gak usah tante, merepotkan saja " jawab Raka sopan ,sebenarnya Raka belum sempat sarapan, Raka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan megan, sehingga melupakan sarapannya. Raka sudah sangat merindukan megan.


" udah ayuk sarapan dulu" mamah menarik tangan Raka, akhirnya Raka mengikuti mamah yang memaksanya untuk sarapan. Raka duduk di meja makan ,Raka sangat canggung dengan situasi ini.


"megan sarapan nya udah siap" mamah meneriakiku, aku keluar kamar dengan pakaian basketku. Aku mengernyitkan dahi melihat Raka sudah duduk di meja makan.Aku duduk di kursi depan Raka. Mamah menyiapkan roti panggang . Kemudian menyiapkan susu cokelat kesukaanku.


" kamu mau susu coklat nak Raka?" mamah bertanya dengan lembut.


" boleh tante itu pun kalau tidak merepotkan" senyumnya terkembang di wajah Raka. Mamah menyiapkan susu coklat untuk Raka. Kami makan bersama.Setelah sarapan aku dan Raka pamit untuk bermain basket.


"mah, megan berangkat dulu yah" aku mencium tangan mamah, di susul Raka dia pun mencium tangan mamah .


"hati-hati jangan sampai terjatuh lagi, Raka jagain megan yah" mamah mengedipkan matanya pada Raka.


"iyah tante aku pasti jagain megan, tante gak usah khawatir. kami pamit ya tante , assalamualaikum" Kami berdua meninggalkan rumah .


" kamu naik motor" tanyaku pada Raka ketika aku melihat di depan teras rumah ada motor terparkir.


" iyah memangnya kenapa" tanya Raka heran


" tumben biasanya kan kemana-mana pakai mobil" jawabku.


" huh maumu" aku memanyunkan bibirku.


Kami berangkat ke gor deket rumah. Raka mengajariku bermain basket, kami bermain bersama. Sesekali dia mengajariku free style dengan bola basket. Raka sangat mahir, dia layaknya atlet basket profesional. Dengan sabarnya mengajariku yang masih biasa aja dalam olahraga ini. Hampir satu jam kami bermain basket . aku sudah kelelahan. Aku sangat menikmati kebersamaan dengan Raka, hampir seminggu aku tak melihatnya. Aku rindu. Kami pun pulang , diperjalanan Raka mengebutkan motornya sampai aku ketakutan, dan refleks aku memeluk pinggangnya. Raka memegang tanganku kemudian memperlambat laju motornya. Aku berusaha melepaskan tangannya ,tapi dia menahan nya dengan genggaman yang sangat erat.


" jangan dilepas megan , biarlah seperti ini" ucapnya


Aku tidak melepas pelukanku. Raka terus saja menggenggam tanganku. Aku sangat bahagia sekali. Sampailah kami dirumahku. Raka memarkirkan motornya.


" aku pulang dulu, berangkat kerja aku jemput yah" Raka membuka helm yang terpasang di kepalaku


" iyah" aku menjawab dengan tersenyum.


" ya udah aku pulang dulu" Raka menyimpan helm nya di depan motornya.


"kamu hati-hati jangan kebut-kebutan" aku melambaikan tanganku. Raka membalasnya dengan sebuah senyuman manis.


Di sudut lain ,mamah memperhatikan ku. Mamah menatapku dengan senyumannya.


" jadi kalian sudah pacaran" mamah menggodaku , aku membantu mamah menyiram tanaman dan merapikannya.


" apa sih kami cuman teman mah" aku memetik bunga yang sudah layu kemudian menyiramnya


" masa belum pacaran sudah pelukan di motor" mamah terus menggodaku.


" apaan sih mah" aku meninggalkan mamah di teras kemudian masuk kedalam rumah.


Siangnya aku bersiap untuk pergi bekerja. Hari ini aku tidak perlu naik angkot ataupun memesan ojeg online karena Raka akan menjemputku. Aku sudah menunggu di ruang tamu, memainkan hapeku. Tak lama suara ketukan pintu terdengar . Aku bergegas membukanya.


" sudah siap" tanya Raka ketika aku membuka pintu.


"iyah, sebentar aku pamit mamah dulu" aku mencari mamah ke ruang televisi. aku berpamitan dan menyusul Raka yang sudah menungguku d teras rumah. Aku berjalan ke depan gang rumah, karena Raka memarkirkan mobilnya disana. Raka membuka pintu mobilnya dan aku duduk di samping jok kemudi Raka. Raka melajukan mobilnya ke arah foodcourt.


" Raka boleh aku bertanya" aku membuka obrolan dengan Raka yang sedang fokus menyetir


" apapun yang kamu tanyakan aku pasti menjawabnya dengan jujur" Raka menatapku dengan lekat-lekat.


" bagaimana hubunganmu dengan nanda" aku memberanikan bertanya masalah pribadinya, aku hanya tidak ingin menjadi duri dalam hubungannya. Raka menatapku kemudian tersenyum


"nanda sudah mengakhiri hubungan kami sejak lama, karena dari awal dia yang mengejarku, aku hanya kasian jika harus menolaknya" Raka kembali fokus menyetir.


" oh gitu" jawabku singkat


" jadi kamu sudah percaya dan nerima aku menjadi pacarmu?" raka bertanya lagi soal hubungan kami.


" maaf Raka aku belum bisa" jawabku dengan hati-hati.


" baik megan aku akan menunggu. sampai kamu bisa menerimaku" Raka mengembangkan senyumnya padaku.


Hampir sebulan dari kejadian itu, setiap hari Raka menjemput dan mengantarku pulang. Aku sudah terbiasa dengan kelakuan Raka. Bahkan sudah nyaman berada di sampingnya. Setiap hari minggu kami selalu menghabiskan waktu bersama ,sekedar jajan mie ayam, atau bermain bola basket.


Mengenai ketiga sahabatku ,aku begitu merindukan mereka aku tidak berani harus menghubungi mereka setelah waktu itu aku mengusirnya. Mereka pun seperti hilang menjauhiku. semoga saja mereka bisa memaafkanku, karena bagaimanapun mereka sahabat yang selalu bersamaku dua tahun terakhir ini.


" iko, alex, Rasya aku merindukan kalian" batinku. Tak terasa air mataku terjatuh ketika mengingat ketiga sahabat ku itu.