RISAU

RISAU
DUKA (Sedingin gunung es)


Pagi datang menggantikan malam yang kelam. Raka membuka matanya, sinar matahari menembus jendela melalui tirai vitrace apartement.


" aww kenapa kepalaku sakit sekali" Raka berteriak dengan memegang kepalanya yang sangat berat.


" bagaimana kau tidak sakit kepala, satu botol bir kau habiskan " nada suara Rika terdengar sinis.


Rika mengambil air minum , dan membuat sup anti pengar. Memberikan pada Raka yang masih kesakitan.


" minumlah ini, kau baru pertama kali minum dan menghabiskan sebanyak itu, bagaimana tidak pusing" Rika memukul lengan Raka yang kekar.


"ini sakit banget" Raka memegang kepalanya dengan meremas rambutnya.


Rika memberikan air kemudian menyuapi supnya pada Raka .


" ini apaan sih gak enak banget" Raka memuntahkan sup yang diberikan Rika.


"aish kau ini. makan saja itu sup asparagus dan jahe, biar pengar kamu hilang ,minum lah paksakan" Rika kembali menyuapi Raka.


Setelah dipaksa dengan omelan kakaknya Raka menghabiskan setengah mangkuk supnya. Dia kembali tiduran karena pengar akibat alkohol masih belum hilang. Namun sedikit demi sedikit rasa sakit di kepalanya mulai membaik.


Ding dong.


Terdengar suara bel , Rika beranjak ke arah ruang tamu , Rika melihat siapa yang datang melalui lubang yang ada di pintu.


Mami kenapa dia bisa tau apartemenku (batinnya)


Raka kembali ke ruang tv, membangunkan Raka yang kembali tertidur. Suara bel terus saja berbunyi.


" hey bangun, di depan ada mami. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Kau temui mami. Aku akan bersembunyi jangan sampai mami tau aku ada disini" Rika mengambil bekas sup dan gelas yang Raka minum .Dia masuk ke kamar utama dan menguncinya.


Dengan langkah berat, Raka beranjak dari sofanya. Rambutnya berantakan. Kemeja yang nampak kusut disertai matanya yang masih menyipit. Masih tercium aroma alkohol di mulut dan tubuhnya.


klekk


Raka membuka pintu tanpa berkata apapun. Dia membalikkan kembali badannya . Tante veronica sempat menyipitkan kedua matanya melihat kelakuan anak bungsunya. Namun tanpa banyak berkata tante veronica mengikuti langkah Raka.


Raka menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tv, tante veronica pun duduk di sebelah Raka. Hidungnya sedikit mengendus ke arah Raka .


" sayang kamu mabuk?" hidung tante veronica mengendus seperti kucing sedang menegendus ikan.


" bukan urusan mami" ucap Raka ketus.


Tante veronica terperangah melihat jawaban anaknya. Raka yang selalu manis sekarang berani berbicara dengan ketus. Bahkan belum pernah sama sekali meninggikan suaranya ketika emosi sekalipun . Raka selalu manis ,selalu bisa menahan emosi dibanding anak sulungnya . Karakter serta sifat Raka dan Rika memang terbalik. Rika yang notabene nya seorang perempuan lebih blak-blakan ,sedikit kasar, dan agak pembangkang. Berbeda dengan Raka, dia adalah anak manis, berkata selalu dengan sopan dan lemah lembut kepada siapapun itu, tatapannya selalu hangat dan bermakna. Namun kali ini sorot matanya sangat tajam, aura dingin sedingin gunung es membuat tante veronica bergidik merinding. Matanya yang hitam semakin menggelap. Tak ada lagi kehangatan dalam ekspresi wajahnya.


Tante veronica mengusap dadanya,kali ini Raka akan sulit ditaklukan , dan tante Veronica sangat paham penyebabnya. Tante Veronica hanya harus lebih bersabar dan berakting lebih lembut kepada anaknya yang berubah 180 derajat ini.


" kamu sudah sarapan sayang" tanya tante veronica sambil mengelus punggung anak bungsunya


" katakan, mami ada urusan apa kesini?" Raka masih ketus. Kata-katanya masih terdengar kasar. Matanya sudah dipenuhi emosi, membuat semua orang yang menatap matanya akan otomatis menunduk.


" sayang , kamu kan baru pulang, mami sudah sangat merindukan anak mami yang manis ini" Tante veronica masih bersikap tenang, tak terpancing oleh amarah Raka yang sudah memanas.


" Raka cukup, apa karena perempuan itu kamu menjadi seorang pembangkang dan berani mengusir mami" mata tante veronica memerah. Tante veronica sudah tidak bisa lagi bersabar kali ini.


"perempuan mana yang mami maksud hah? Raka sudah tidak bersama perempuan manapun, oh apa nanda maksud mami,perempuan rendah yang selalu menempel bahkan Raka sudah muak melihat kelakuannya" nada suara Raka meninggi , sorot matanya menggelap.


" stop Raka. Kamu bahkan sudah dikhianati masih saja membelanya?" ucap Tante veronica menahan kekesalannya. Kali ini Raka sudah sangat keterlaluan menurutnya.


" jadi mami tau? apa ini semua ulah mami? bahkan mami bertindak melebihi takdir Tuhan , itu sangat keterlaluan "


" kau berani menuduh mami?" bentak tante veronica.


" cukup , pergilah sebelum habis kesabaranku"


Raka meninggalkan tante veronica yang masih mematung di ruang tv. Raka mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Raka menyalakan shower. Membasuh mukanya berkali-kali. Air matanya kembali menetas bersama dengan aliran air dari shower.


Raka aku hanya bisa nerima apa yang akan kamu lakukan tentang hubungan kita, namun aku akan mengingatkan satu hal jangan sampai kamu menyakiti orang tuamu, gimanapun kamu menyayangiku


Perkataan megan saat itu selalu terngiang di telinga Raka. Bahkan Raka selalu berusaha menyenangkan maminya selama 2 tahun terkakhir. Namun kali ini maminya sudah sangat melewati batas.


" megan kali ini aku sudah berusaha bersabar, salahkah aku jika aku bertindak seperti ini. Maafkan aku terlalu menyayangimu. " lirihnya . Suara gemercik air masih lebih keras dari perkataannya.


Raka berusaha menyadarkan dirinya. Bahwa dia harus bangkit. Sekalipun kepahitan kali ini membuat dunianya terhenti sesaat. Sudah waktunya dia kembali dengan bisnisnya. Jimmy sudah cukup berat dibebani pekerjaan yang banyak selama ini.


Raka keluar dari kamar mandi dengan mata sedikit sembap. Tante veronica sudah tidak ada disana. Hanya ada Rika yang duduk sambil menonton acara televisi. Raka masuk kedalam kamar. Dan memakai pakaian formalnya. Setelan kemeja dan jas senada dengan celananya. Setelah mengeringkan rambutnya .Raka keluar dengan membawa tas kerjanya.


" kau bekerja Raka?" tanya Rika .


" ya aku harus mengurus bisnisku, terima kasih sudah menghandle semuanya ketika aku pergi" Raka duduk di samping Rika..


" pergilah, aku juga akan kembali ke medan hari ini" ucap Rika.


" kenapa hari ini?" tanya Raka dengan wajah heran .


" aku sudah lama tidak mengecheck usahaku disana" kata Rika santai.


" baiklah aku pergi dulu, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara. Aku akan menyuruh jimmy untuk mengantarmu"ucap Raka.


" tidak usah , aku bisa naik taksi, kau fokuslah dengan pekerjaanmu, sibukkan dirimu sebisa mungkin" Raka masih khawatir melihat keadaan adik bungsunya ini.


" baiklah hati-hati, kalau sudah di medan kabari aku" Raka meninggalkan Rika menuju ruang tamu.


Raka mengernyitkan dahinya ketika melihat jimmy yang sudah duduk di sofa ruang tamu .


" jim kapan kau datang?"


" sekitar 10 menit yang lalu pak" wajah jimmy kali ini tidak terlihat buruk. Kerutan di dahinya sudah menghilang.


"ayo kita pergi " Raka melangkahkan kaki keluar dari apartemen di ikuti oleh jimmy.