
Khansa menatap batu giok hijau yang menjadi liontin di kalung itu. Ia merasa, laki-laki itu bukan dari kalangan keluarga biasa. Dari kejauhan, Maharani tersenyum licik. Dia sengaja menempatkan mata-mata di sekitar rumah Khansa semenjak menjadi Nyonya Isvara.
Dan saat ia mendapat laporan, bahwa Khansa sempat bermalam dengan seorang pria, Maharani bergegas untuk segera melihatnya sendiri. Tak lupa memotretnya dari kejauhan untuk dia jadikan senjata menjatuhkan Khansa.
Maharani menangkap bahwa pria yang ditolong Khansa bukanlah pria sembarangan. Batu giok yang diberikan pada Khansa, bukanlah batu giok biasa. Hanya keturunan bangsawan yang memilikinya. Maharani bisa tahu dari circle pergaulannya dengan para sosialita.
"Kamu ikuti mobil itu jangan sampai ada yang curiga." Maharani menunjuk satu orang suruhannya. Lalu beralih pada orang satunya, "Dan kamu, lakukan berbagai cara untuk mencuri batu giok itu. Aku nggak mau tahu bagaimana caranya. Yang pasti, kalian harus mendapatkannya!" perintah Maharani.
"Baik Nyonya!" seru dua orang pria berbadan bongsor itu lalu segera menjalankan tugasnya .
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Leon mengalami nyeri yang hebat pada kepalanya. Sejak tadi, dia berusaha menahannya. Leon mendesis kesakitan menyentuh kepala. Gerry yang panik segera meminta supir untuk melajukannya dengan cepat. Mobil yang ditemukannya remuk redam, bisa selamat dari kecelakaan maut itu merupakan suatu keajaiban bagi Leon.
"Tolong percepat lagi kecepatannya! Cari rumah sakit terdekat!" teriak Gerry dengan panik sembari memegangi tubuh Leon yang kaku.
"Baik, Tuan!" seru supir tersebut menambah kecepatan sekaligus menajamkan pemandangannya untuk mencari rumah sakit terdekat.
Sepuluh menit kemudian, mereka berhenti di depan pintu IGD di pinggiran kota. Cukup jauh dari kediaman Khansa. Buru-buru, Gerry memanggil petugas medis untuk segera membawa Leon yang telah pingsan.
Selama beberapa jam, Gerry mondar-mandir di depan IGD. Sedangkan Leon menjalani segala macam pemeriksaan. Ia juga sudah menyelidiki kasus tersebut dan menjebloskan pelaku ke penjara.
"Dokter! Bagaimana keadaannya?" tanya Gerry saat sang dokter keluar dari IGD dengan beberapa lembar hasil pemeriksaan.
"Mari, saya akan jelaskan di ruangan saya," ucap dokter tersebut.
Gerry mengangguk, ia bergegas mengikuti sang dokter ke ruangannya dan duduk di hadapannya. Gerry sangat khawatir pada tuannya itu.
"Begini, Tuan. Saya menemukan luka yang cukup serius di otaknya. Namun, karena mendapatkan pertolongan pertama dengan baik, dia bisa melewati masa kritisnya. Namun, ada satu hal yang saya curigai." Dokter berhenti sejenak, membuka lembaran kertas selanjutnya.
"Apa itu, Dok?" tanya Gerry dengan cepat.
"Kemungkinan pasien mengalami neuritis optik. Yaitu, kondisi di mana lapisan mielin pada saraf optik meradang." Gerry berdebar mendengarkan penjelasannya.
"Jika terjadi gangguan atau mielin tidak ada, sinyal visual tidak dapat terkirim dengan baik menuju otak. Akibatnya, pasakan mengalami gangguan pada penglihatannya, seperti pandangan mata kabur atau buram."
Dokter kembali menaikkan pandangannya. Gerry nampak pucat, ia tidak tahu apa yang akan dikatakan pada nenek sebastian.
"Apakah bisa pulih sepenuhnya?"
"Bisa, Tuan. Pasien harus menjalani pengobatan dan beberapa terapi. Mungkin sekitar dua minggu sampai satu bulan," jelas dokter tersebut.
Gerry pun mendesah lega, ia menghela napas panjang sembari membenarkan kacamatanya, "Baik, Dok. Lakukan yang terbaik," pintanya memohon.
Leon dipindahkan ke ruang rawat VIP. Dan ternyata benar diagnosis dokter, bahwa pria itu mengalami masalah dengan syaraf matanya akibat benturan yang begitu keras.
Maharani berhasil mengambil batu giok Khansa saat ia meninggalkan rumah. Dan sejak saat itu, Khansa tidak begitu mempermasalahkannnya. Ia pikir lupa meletakkannya.
Hari terus berganti, hampir tiga minggu Leon mendapat perawatan intensif. Keadaannya sudah membaik, penglihatannya juga sudah pulih dengan sempurna.
"Gerry," panggil Leon pelan.
"Bawa aku pulang ke villa. Nenek pasti khawatir," pinta Leon.
Dokter sudah mengizinkannya untuk pulang. Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Gerry pun segera mengurus kepulangan Leon. Tepat saat ia baru keluar dari ruangan, seorang gadis terjatuh di depan kursi roda Leon.
"Hei!" pekik Leon terkejut.
Gadis berkuncir satu itu mendongak lalu beranjak berdiri. Namun ia sengaja berlama-lama membungkuk untuk memperlihatkan kalung yang ia pakai.
"Maafkan saya, Tuan," ucap gadis itu dengan seulas senyum.
Mata Leon menangkap batu hijau yang menyilaukan matanya. Ia sangat yakin, itu adalah kalung miliknya. Hanya ada satu di dunia, motif seperti itu. Saat gadis itu hendak melenggang pergi, Leon meraih lengan kurusnya. "Tunggu!"
Gadis itu tersenyum menyeringai. Ia lalu berbalik, kembali menghadap Leon. "Siapa namamu?" tanya Leon tanpa basa basi. Karena ia yakin, kalung tersebut adalah kalung yang diberikan untuk gadis penolongnya. Meski sejsk dia bangun mengalami gangguan penglihatan, namun batu itu adalah satu-satunya benda yang bisa kembali mempertemukan dengan penyelamatnya.
"Saya Yenny, Kak. Yenny Isvara," ucapnya malu-malu.
Yenny menyukai pria itu sejak pandangan pertama. Tentu saja, dia bersedia melakukan apa pun yang diminta ibunya. Meski setiap hari harus datang ke rumah sakit itu untuk menjalankan rencananya.
"Yenny, terima kasih sudah menyelamatkanku. Sebagai gantinya, aku akan memberikan tiga permintaan. Sebutkanlah apa pun keinginanmu," ucap Leon melepaskan genggamannya.
Gerry mengernyitkan alisnya. Ia percaya saja, karena sewaktu menjemput Leon kemarin, Gerry hanya fokus pada atasannya. Tanpa mempedulikan orang lain di sekitarnya.
"Benarkah itu, Kak?" seru Yenny berbinar.
"Ya," sahut Leon menatapnya datar.
"Mmm ... permintaanku yang pertama, aku ingin kuliah di Singapura. Bagaimana?" tanya Yenny dengan dada berdegub kencang. Ia takut jika rencananya gagal. Selain itu, berada di dedak Leon membuatnya merasakan gelayar aneh di tubuhnya. Yenny benar-benar menyukai pria tampan itu.
"Baik, persiapkan dirimu. Aku akan mengurus semuanya. Asisten Gerry, catat nomor ponsel dan rekeningnya. Juga, urus pendidikannya ke Singapura," ujar Leon memutar tubuhnya pada sang asisten.
Yenny tidak percaya bisa mendapatkannya semudah itu. Kebahagiaannya membuncah, kedua tangannya mengepal dengan kuat menahan rasa bahagia itu.
"Terima kasih banyak, Kak!" ucap Yenny membungkukkan tubuhnya.
"Lalu, apa permintaan selanjutnya?" tanya Leon kembali mendongak, menatap Yenny.
"Untuk selanjutnya akan aku kabari kalau aku sudah membutuhkan, Kak," jawab Yenny mengulum bibirnya kuat-kuat untuk menahan tawanya.
"Ya. Terima kasih sudah menyelamatkanku," ucap Leon sekali lagi.
Yenny mengangguk, lalu segera menyebutkan nomor ponsel dan rekeningnya. Setelah Gerry mencatatnya, mereka melenggang pergi. Leon bergegas pulang ke Villa Anggrek terlebih dahulu untuk menemui sang nenek. Setelah itu, ia kembali ke Jakarta. Karena selama ini Leon mengembangkan usaha di sana. Hanya saja, sewaktu berjanji ingin menemui sang nenek ternyata harus mengalami kecelakaan besar.
Sedangkan Yenny, langsung melakukan panggilan pada ibunya, mengatakan bahwa misinya kali ini berhasil.
Bersambung~