
Jihan buru-buru menyeka air matanya. Gadis itu berlari menuju dapur meminta tolong pada pelayan untuk mengurus ibunya yang sakit. Karena sang ayah tidak mau memanggil dokter untuk mengobatinya. Dan saat kembali, Jihan berpapasan dengan Khansa tepat di depan kamar ibunya.
“Ngapain lo ke sini? Mau menertawakan nyokap gue?” sembur Jihan melotot pada Khansa.
Khansa yang tadinya terdiam kini tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai mengeluarkan air matanya. “Jihan, Jihan. Padahal tadinya aku tahan-tahan loh biar nggak ketawa. Eh kok malah kamu ingetin sih. Kan jadinya nggak bisa berhenti ketawa nih. Hahaha!” Khansa memegang perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
“Dasar nggak punya hati, lo!” berang Jihan mengerutkan bibirnya lalu masuk ke kamar sang ibu. Meninggalkan Khansa yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
Saat pintu sudah tertutup, Khansa kembali berdiri tegak, tawanya terhenti dan mulutnya mengatup sempurna. Namun pandangan dingin ia lemparkan pada pintu yang tertutup itu.
Khansa memilih untuk menjenguk kakeknya terlebih dahulu. Ia sangat merindukan pria baya yang sudah lama tidak ia jumpai.
Masih terbaring lemah di atas ranjang dengan mata yang masih terpejam begitu rapat. Khansa berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang.
“Kakek,” panggil Khansa memeluk tubuh renta itu.
Khansa menumpahkan tangis dan kesedihannya di sana. Lalu memeriksa keadaan sang kakek, yang entah sampai kapan akan mendapat keajaiban untuk sadar. Namun Khansa yakin, kakeknya pasti bisa sadar dan sembuh seperti sedia kala.
Beberapa saat kemudian, setelah Khansa membantu melakukan pengobatan akupuntur disertai pijat tui na, Khansa berpamitan pergi.
Sementara di kamar Maharani, wanita itu sudah sedikit membaik setelah diberi paracetamol dan dikompres oleh pelayan. Demamnya sudah turun meski kondisi tubuhnya masih melemah.
“Bu, gimana rencana kita selanjutnya? Aku nggak mau pergi dari rumah ini, Bu,” rengek Jihan menghentakkan kedua kakinya di lantai.
Sampai kapan pun Jihan tidak akan rela hidup susah. Karenanya dia takut jika ibunya benar-benar bercerai dengan Fauzan.
“Kamu tenang aja. Ibu tidak akan pernah menyetujui perceraian itu. Kita nggak boleh keluar dari sini. Ibu nggak mau pengorbanan ibu selama ini sia-sia,” terang Maharani menyentuh tangan putrinya.
“Ya makanya, Bu. Kita harus bisa bertahan di sini. Tapi aku juga takut, Bu. Tadi ayah membentak dan memarahiku waktu meminta memanggil dokter untuk ibu. Aku harus gimana dong, Bu?” Jihan mengadu dengan wajah sendu. Mengingat bagaimana tadi Fauzan memarahinya.
Maharani membelalak, “Apa? Tadi Fauzan memarahimu?” tanyanya tak percaya.
“Iya, Bu. Makanya aku takut banget. Tapi aku juga nggak mau pergi dari sini,” kekeh Jihan.
Maharani mencoba memutar otaknya, ia menggenggam jemari putrinya, “Kamu tenang aja. Mungkin karena kamu menyebut ibu makanya ayahmu emosi. Kita harus tenang, nggak boleh gegabah untuk mendapat simpati Fauzan lagi. Saat ini dia lagi emosi. Biarkan menenangkan diri dulu, nanti juga bakal baik lagi kayak dulu. Tenang aja ya,” jelas Maharani.
Tiba-tiba terdengar derit pintu terbuka. Dua perempuan itu mengira yang datang adalah Fauzan. Ternyata Khansa yang muncul dari balik pintu.
“Eh, yang abis diserang sama istri sah. Gimana rasanya? Mantap nggak? Atau masih kurang?” sindir Khansa melenggang masuk mendekati ranjang Maharani.
“Bocah ingusan tahu apa kamu, hah?” bentak Maharani penuh emosi. Dia sangat marah ketika disindir Khansa seperti itu.
Maharani menggeram marah. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil mendesis kesakitan. Karena saat ini ia benar-benar tidak berdaya. Tubuhnya benar-benar lemah dan tidak bisa berbuat banyak untuk menyerang Khansa.
“Ckckck! Makanya Maharani, coba deh sekali aja jadi orang yang bener. Kedoknya sih ayah angkat, eh nggak taunya …. Hahaha!” Khansa tertawa puas menyandarkan bokongnya di nakas.
Kemarahan menggerogoti hati Maharani. Ia melotot tajam pada Khansa yang terus menertawakannya.
“Jaga mulut, lo. Kayak udah bener aja hidup lo!” bentak Jihan membela ibunya.
“Sepertinya yang ngomong tadi juga bibit pelakor deh. Kan buah jatuh nggak bakal jauh-jauh dari pohonnya,” sindir Khansa melirik pada Jihan yang sudah tersulut emosi.
“Biasa aja ngomongnya. Nggak usah ngegas. Kalau emang nggak salah, pasti nggak bakal dapet kemalangan kayak gini kok. Ingat semakin kakap mangsa kalian, semakin sakit pula apa yang akan kalian rasakan. Belajar deh dari masa lalu. Jangan malah belajar makin nggak bener,” ucap Khansa dengan tenang.
“Anak kemarin sore tau apa kamu, hah? Nggak usah sok-sokan deh. Jangan ikut campur masalahku. Urus aja hidup kamu sendiri yang juga nggak bener itu!” sanggah Maharani tidak terima.
Khansa menunduk sejenak, menggesekkan kakinya di lantai sembari tertawa. “Hei, Maharani! Ingat baik-baik ya, catat di otak kamu yang kotor karena tercemar oleh rencana busukmu itu!” Khansa menunjuk kepalanya sendiri, menatap tajam Maharani.
“Aku kembali dari desa untuk menemukan bukti kejahatanmu. Dan jika sudah pada waktunya nanti, aku akan menghancurkanmu hingga benar-benar hancur lebur sampai tak bersisa ampasnya!” Khansa tertawa menyeringai.
“Sial! Cuma satu hal yang aku sesalkan sekarang.” Dada Maharani kembang kempis akibat emosi yang tertahan. Khansa mengangkat kedua alisnya, mendengarkan dengan seksama ucapan ibu tirinya itu.
“Aku sungguh menyesal karena tidak membunuhmu sejak dulu, Khansa!” pekik Maharani dengan napas menderu. Rasa sakit di tubuhnya semakin menjalar. Namun terkalahkan oleh emosinya. Khansa pandai memancing amarah wanita paruh baya itu.
“Oiyaa? Aku sangat menantikannya. Pasti dulu kamu berpikir, bahwa membuangku ke desa terpencil tanpa fasilitas apa pun akan mati secara perlahan? Iya ‘kan?” Khansa menahan tawanya. Lalu detik berikutnya ia melempar tatapan tajam dan menyeringai dingin.
“Kamu salah Maharani! Lihatlah, aku masih baik-baik saja sampai sekarang. Bahkan aku lebih baik dari pada yang dulu. Walaupun tanpa sentuhan dari ayah sedikit pun. Dan apa kamu tahu apa yang membuatku kuat sampai saat ini?”
Khansa berdiri tegak, menunjuk wajah Maharani, “Kamu. Tujuanku adalah menghancurkanmu!” ucap Khansa dengan tegas dan penuh penekanan.
“Hahaha! Jangan mimpi kamu, Sa. Karena kamu yang akan hancur duluan. Asal kamu tahu ya, Yenny Isvara kini sudah kembali. Aku yakin, semua akan baik-baik saja. Dan sebaliknya aku yang akan menyaksikan kehancuran kamu!” balas Maharani menyeringai dingin.
Jihan yang sedari tadi tertunduk lesu karena putus asa, kini mulai bersemangat lagi saat mendengar Yenny Isvara kembali.
Jihan mendongakkan kepalanya dengan angkuh, “Siap-siap aja kamu, Sa. Kamu tahu sendiri ‘kan? Kak Yenny adalah kebanggaan dari keluarga Isvara, putri kesayangan ayah yang paling terkenal di Palembang,” ucapnya jumawa.
Khansa tersenyum, “Sungguh kebetulan sekali, aku sudah lama menanti hari ini!” ucapnya dengan tenang.
Bersambung~