Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 215. Go Public


Melihat perubahan raut wajah Khansa, seketika kedua MUA itu terdiam merapatkan bibirnya. Suasana menjadi canggung. Buru-buru salah satu MUA itu membungkuk dan menautkan kedua tangan di depan tubuh.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud ...."


"Sudah? Lanjutin aja, nggak apa-apa," sindir Khansa memotong ucapannya sambil tersenyum kaku.


"Tidak, Nyonya. Mari kita mulai saja." Wanita itu mengalihkan pembicaraan, tidak ingin mendapat masalah.


Sebuah kamar yang cukup luas, berjajar alat-alat kosmetik dan beberapa gaun melekat di patung-patung manekin yang terlihat glamour dan begitu menyilaukan. Khansa menyebarkan pandangan, terdiam sejenak, mengira-ngira kejutan apa yang akan diberikan suaminya. Namun, otaknya tidak bisa berpikir.


"Permisi, Nyonya." Salah satu MUA mulai membuka cadar Khansa dan menampilkan kecantikan paripurna yang sedari tadi, berusaha ia tembus dari kain tipis penutup sebagian wajah itu.


Tangannya sampai menggantung di udara, matanya enggan mengerjap dengan mulut sedikit terbuka karena ia benar-benar takjub dengan wanita yang akan mereka rias itu.


"Kenapa?" Khansa memicingkan mata saat perias itu tak juga bergerak.


"Eh, ma ... maaf, Nyonya. Anda benar-benar cantik, sungguh!" pujinya sambil mencoba menenangkan diri. Tangannya dikibas-kibaskan ketika mulai gemetar. Sedangkan rekannya yang sibuk dengan gaun sedari tadi, kini mengalihkan pandangan pada cermin. Reaksinya pun sama ketika melihat Khansa.


Decakan halus terdengar dari bibir Khansa, "Masa sih? Eh kalian tahu nggak ini mau ada acara apa?"


"Tidak, Nyonya. Tuan hanya memerintahkan untuk merias Anda."


Khansa mengembuskan napas kasar, sementara itu Leon juga tengah mengganti pakaiannya usai membersihkan diri di kamar lain. Pakaiannya pun sudah berganti menjadi semi formal. Kaos hitam panjang hingga menutup lehernya, dibalut dengan jas berwarna merah maroon dengan sedikit glitter semakin membuatnya tampan bercahaya.


Kini ia berdiri tepat di depan kamar Khansa, membelakangi pintu sambil berbicara dengan beberapa bawahannya yang berjajar di sepanjang lorong. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana hitamnya.


"Mario, bagaimana perkembangan SSG?" tanya Leon pada kepala pengawal, yang saat ini sudah ditunjuk sebagai pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang keamanan.


"Siap! Security Sebastian Grup saat ini sudah berkembang dengan baik." Mario menjawab dengan lantang dan tegas.


"Hmm ... tambah pelatihan militer. Pastikan yang baru masuk fisik dan mentalnya harus benar-benar kuat. Latih pertahanan dan penyerangan dengan baik! Jangan sampai ada komplain dari klien!" titah Leon dengan pandangan serius.


"Baik, Tuan!" balasnya tegas.


"Keamanan di sana sudah kamu cek kembali?" Leon kembali bertanya, ia mengangkat tangan sambil melihat jam yang melingkar di pergelangannya.


"Semua sudah diterjunkan ke lokasi, Tuan. Sudah dipastikan aman!"


Leon mengangguk, setelah satu jam lamanya, terdengar derit pintu terbuka. Leon segera membalikan badan. Dan seketika tubuhnya terpaku. Matanya sama sekali tak berkedip melihat istrinya berdiri di ambang pintu.


Gaun malam ketat berwarna maroon bertabur berlian sepanjang tumit namun terdapat belahan di sisi kanan. Mata bulat yang indah dengan bulu mata lentik, make up bold dan rambut tergelung indah menampilkan leher jenjangnya, membuat Leon bergetar dan dada yang bertalu kuat.


"Leon," panggil Khansa yang masih melihatnya bergeming.


Segera ia berdehem dan menarik kembali kesadarannya. Ia berjalan santai mendekati sang istri, mata elangnya bergerak mengikuti gerakan manik indah Khansa. Keduanya tenggelam dalam tatapan memabukkan.


"Hei, Sayang! Kita mau ke mana?" Khansa kembali menyadarkan Leon.


Pria itu menjulurkan tangan, merapikan kain tipis yang sedikit merosot dari tempatnya. "Malam ini, seluruh dunia akan tahu siapa Nyonya Sebastian," ungkapnya dengan senyuman lebar.


"Kamu ... yakin?" tanya Khansa setelah beberapa saat.


"Kita lihat saja!" sahut Leon mengedikkan bahu masih menyungging senyum yang lebar.


Mereka sudah mencapai mobil limousin hitam yang sudah dibukakan pintu oleh Gerry. Asisten kepercayaan Leon itu membungkuk setengah badan. Khansa masuk terlebih dahulu, Leon tiba-tiba berhenti menepuk bahu Gerry dan merematnya kuat. "Terima kasih kerja kerasnya!" puji Leon setengah berbisik lalu segera naik menyusul istrinya.


Gerry membeku dengan mata mengerjap beberapa kali di balik kacamata beningnya. Ia lalu mengangguk mengurai senyum sembari menggeser pintu mobil hingga tertutup rapat.


'Sudah tugas saya, Tuan!' gumamnya dalam hati.


Iring-iringan mobil mewah Leon beserta para anak buahnya kini mengular di jalan raya. Hingga mobil berhenti di ujung tangga yang sudah digelar karpet merah. Namun sebuah tirai berwarna putih menjuntai dari ketinggian puluhan meter dan juga membentang sangat luas mengelilingi suatu tempat.


Suasana sudah begitu ramai dengan ratusan para awak media yang sudah siap sembari membawa alat-alat rekam mereka. Perhatian mereka semua langsung tertuju pada mobil mewah tersebut.


Gerry membuka pintu, Leon menurunkan kedua kaki dengan perlahan. Kilatan flash kamera menghujani pria yang tengah menjajak di atas karpet merah. Tubuh tegap, tinggi dan kekar cukup memukau para kaum hawa. Ketika perlahan pandangan mereka naik, mulut mereka menganga lebar. Melihat betapa tampan nan rupawan sosok itu.


"Astaga! Tampan sekali!" jerit para pemburu berita, kaum wanita. Mereka hendak menyerbu ke arah Leon, namun barisan pertahanan SSG segera membentang melindungi sang presdir hingga tak ada yang dapat menyentuhnya. Teriakan dan pekikan histeris menggelegar di keheningan malam.


Leon merunduk ke dalam mobil, ia menjulurkan lengannya sambil menatap sang istri yang tak kunjung bergerak. "Ayo turun, Sayang!" ucapnya pelan.


"Kita di mana Leon? Kenapa ramai sekali?" ucap Khansa sedikit panik.


"Tenang saja, mereka hanya menjalankan tugas. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu," tegas Leon meyakinkan.


"Tapi...." Khansa masih tampak gelisah dengan pandangan sesekali keluar mobil.


"Apa perlu aku gendong?" tantang Leon mengangkat kedua alisnya.


Khansa menggeleng dengan cepat. "Ti ... tidak! Tidak!" sahutnya menekan dada yang sungguh sudah antah berantah. Khansa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sampai merasa sedikit tenang.


Tangan putih dan mulus Khansa segera menyambut uluran tangan Leon. Ia turun dari mobil dan seketika menyita perhatian semua orang yang ada di sana. Kilatan flash kamera kembali menghujani mereka berdua tanpa celah sedikit pun. Khansa sedikit silau, ia menundukkan kepala.


Penampilan keduanya tampak menyilaukan, begitu serasi dan mengundang decakan kekaguman semua orang.


"Leon, aku panik!" bisiknya setelah berdiri di sebelah Leon. Tatapan sendunya beralih pada pria tampan di sebelahnya. Cengkeraman tangannya semakin kuat dan terasa dingin.


Leon menepuk punggung tangan Khansa, "Tegakkan tubuhmu dan angkat kepalamu, Sayang!" ucapnya mengangguk.


Bersambung~



😁😁😁 maap... dr kmren susah masuk!



😒Masuk ke NT, Mas! Lu kira masuk ke mana?