
Jennifer menggenggam erat seatbelt yang membelit tubuhnya, matanya terpejam rapat dan terus berdoa dalam hati. Karena saat ini, Hansen seperti tengah kesetanan dalam mengendarai mobilnya.
Klakson terus dibunyikan, ia terus menyalip, masuk ke celah-celah jalan yang dilaluinya. Pikirannya kalut dengan emosi yang membuncah.
Sementara itu, Bara sudah cukup jauh meninggalkan kediaman Hansen. Bahkan sudah hampir sampai di rumah orang tua Emily. Gadis itu terus menekan dadanya yang terasa sesak. Air matanya membanjir tanpa bisa dihentikan.
"Baby, kalau kamu pulang dalam keadaan seperti ini, kamu akan membuat mama khawatir," ucap Bara membelai puncak kepala Emily.
"Iya," sahutnya pelan tanpa menoleh. "Aku nggak mau pulang. Nginep aja di hotel. Aku nggak mau nanti mama sama papa marah. Aku juga butuh menenangkan diri, Bar," lanjutnya dengan suara lemah.
"Ok!" ucap Bara kembali fokus pada jalan sembari mencari hotel yang nyaman untuk mereka menginap. Ia mengerti apa yang kini ada dalam benak Emily.
Salut, satu kata yang saat ini dilayangkan pada gadis itu. Dalam kondisi tertekan dan hancur, dia tetap menghormati orang tua, memikirkan perasaan orang tuanya. Rasa sayang Bara semakin tumbuh untuk perempuan yang selama bertahun-tahun selalu bersamanya itu.
Ponsel Emily sedari tadi terus berdering, tapi ia mengabaikannya. Saat ini, Emily benar-benar tidak ingin diganggu. Ingin menyembuhkan hatinya yang diremas habis dan kembali menyatukan serpihannya.
Bara sesekali mengusap puncak kepala Emily, pandangan gadis itu lurus ke depan. Bara memperlambat laju mobilnya saat ada kemacetan karena rambu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Dari sisi kanannya, melaju sebuat truk kontainer dengan kecepatan yang sangat tinggi dan tak terkendali.
"BRAAAK!!"
Terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan sepuluh kendaraan roda empat dan beberapa kendaraan roda dua. Mata Emily membelalak, Bara pun panik seketika.
"Bara awas!!" pekik Emily menepuk lengan Bara.
Jeritan orang-orang, suara pecahan dan hantaman mobil satu dan lainnya seperti menghantam jantung Emily dan Bara. Kepala Bara terantuk setir mobil. Asap keluar dari mobil bagian depan.
Tiba-tiba Emily merasakan sesak dalam dadanya. Jeritan dan suara hantaman keras kendaraan di depan sana membuatnya gemetar di sekujur tubuhnya. Emily membungkuk, menutup telinga rapat-rapat dengan kedua tangannya.
"Darah! Tolong! Tolong!" jerit Emily menangis terisak. Kedua matanya tertutup rapat, kilasan-kilasan masa lalu kembali berputar di otaknya.
Keringat dingin mulai bermunculan, wajahnya pucat pasi. Begitupun dengan Bara. Tidak peduli dengan luka di kepalanya, dia justru memekik kesakitan menekan kepala dengan kedua tangannya. Manik cokelat lelaki itu terpejam kuat. Seperti ada guncangan hebat dalam dadanya.
Beberapa waktu berlalu, dengung sirine ambulan dan polisi memekakkan telinga di sebuah perempatan lampu merah itu untuk evakuasi korban.
Hansen yang baru saja hendak melalui jalan tersebut, merasakan lemas di tubuhnya. Mobil ia tepikan, matanya membelalak dengan dada yang berdenyut nyeri. Ia takut Emily berada dalam barisan korban tersebut.
"Kak!" seru Jennifer ketakutan, debaran jantungnya bergemuruh hebat.
"Emily!" ucap Hansen mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan keterkejutan.
Mereka berdua segera melepas seatbelt dan turun dari mobil. Keduanya berlari sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Emily. Hansen masih berusaha menelepon kekasihnya itu meski sama sekali tidak ada jawaban sejak tadi.
Bersambung~