Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 42 : Bulan Madu (lagi?)


"Ayang! Bantuin dong!" rengek Emily menggoyangkan lengan Hansen.


Pria itu bingung, di satu sisi tidak tega dengan kekasihnya. Namun di sisi lain, Leon sedang dalam mode tak bersahabat. Hansen mengusap tengkuknya yang menegang.


"Sayang!" panggil Khansa dengan suara manjanya.


Leon melirik sekilas lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Mengabaikan tatapan sendu dan memohon dari sang istri.


Decakan halus terdengar dari bibir Khansa. Ia beranjak dari duduk, sedikit menunduk mensejajarkan bibirnya dengan telinga Leon. Emily menaikkan sebelah alisnya, ketika sahabatnya itu tengah membisikkan sesuatu pada Leon.


Beberapa saat kemudian, Leon tampak terdiam. Menoleh hingga bersitatap dengan sang istri yang tersenyum lembut padanya.


"Mmm akan aku pertimbangkan," ucap Leon.


"Iissh kenapa nggak langsung setuju aja sih?" cebik Khansa kembali duduk.


Emily merasa kesempatan untuk bermanja ria bersama sahabatnya tengah mendapat lampu hijau setelah Khansa memberikan kedipan sebelah mata padanya. Gadis itu menahan senyumnya berusaha agar tidak berteriak kegirangan.


Alis Hansen saling bertaut, ia nampak kebingungan melihat kode-kodean dari para wanita itu.


"Han, jangan undang orang banyak-banyak. Aku nggak mau Sasa kecapean," ucap Leon meletakkan sendok dan garpunya.


"Enggak, cuma 500 aja. Aku juga nggak mau terlalu ramai. Lagian nanti live di stasiun televisi 'kan? Temen-temen Emily di Bali juga nggak semuanya bisa hadir, pada sibuk kejar tayang," balas Hansen menyandarkan punggungnya.


"Oke! Catering dan cake udah belum, Sayang?" Kini Leon beralih menatap Khansa. Perempuan itu menjawab dengan sebuah anggukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai makan siang, pasangan itu berpisah. Khansa harus kembali ke rumah sakit. Menyelesaikan monthly report sebelum dia mengambil cuti panjang.


Leon enggan jauh-jauh dari Khansa, meski pekerjaannya pun menumpuk. Ia justru mengikuti Khansa di ruangannya. Dan menelepon Gerry memintanya untuk membawakan dokumen penting untuk ditanda tangani.


"Sayang, kita nggak ada rencana bulan madu lagi?" tanya Leon membuat Khansa menghentikan pekerjaannya.


Ia mendongak menatap suaminya dengan terkejut. "Hah? Bulan madu?" tanyanya memastikan.


"Iya, Sayang. Abis resepsi kebanyakan langsung pada bulan madu 'kan?"


Khansa mengacak-acak rambutnya, ia terkekeh dengan gelengan kepala. "Yaampun, Leon. Kita udah bulan madu selama lima tahun loh! Masih kurang? Dan kita udah bukan pasangan pengantin baru lagi. Udah ada baby twins nih di perut aku. Mau ditambahin lagi?" celetuknya tertawa.


"Mmm ... calon daddy, romantis banget sih!" cibir Khansa tersenyum, menggerakkan kepala hingga saling tatap dengan Leon. Sontak, pria itu mengecup kening Khansa cukup lama.


Suara ketukan membuyarkan kemesraan mereka sore itu. Khansa terkejut melepas rengkuhan Leon dan menegakkan duduknya.


"Aiih! Siapa sih? Ganggu aja!" cebik Leon mendecak kesal.


"Masuk!" Suara Khansa menggema lalu pintu pun terbuka.


Assisten Gerry menyembulkan kepala, melenggang masuk dan membungkukkan tubuh. "Permisi, Nyonya, Tuan, maaf mengganggu," ujarnya sopan.


"Mengganggu sekali memang!" geram Leon menyandarkan bokongnya di tepi meja besar Khansa sembari melipat kedua lengannya.


"Maaf, Tuan. Saya hanya mengantarkan dokumen urgent sesuai dengan perintah Anda," sahutnya sopan.


"Bawa sini!" titah Leon mengedikkan kepala.


Gerry melangkah panjang dengan perasaan tidak enak menyodorkan beberapa dokumen pada Leon.


"Duduklah, Assisten Gerry. Leon, aku mau keluar sebentar." Khansa membereskan pekerjaannya.


Leon langsung melayangkan tatapan tajam. "Mau ke mana?" serunya mengerutkan dahi.


"Nengok Zahra bentar. Aku lihat hasil pemeriksaan ibunya kemarin sudah membaik. Mau ngundang mereka di acara bahagia kita. Duduklah yang nyaman. Aku segera kembali," pamit Khansa.


Leon menarik lengan Khansa hingga langkahnya terhenti. Mereka saling berhadapan, membuat Khansa menaikkan kedua alisnya. "Kenapa?"


"Jangan lama-lama!" ketusnya mencium kening Khansa lalu melepasnya. Pria itu beralih duduk di kursi kebesaran istrinya.


Wajah Gerry justru nampak memerah. Ia langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah dan menjadi salah tingkah. "Nasib jomblo cuma bisa jadi tim hore," gerutunya dalam hati.


Khansa melebarkan sepasang manik matanya, melirik ke arah Gerry, "Iiss Leon!" gumamnya lalu bergegas pergi meninggalkan rona merah di pipinya.


Leon tidak peduli, ia mengabaikannya lalu fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Gerry mulai membuka suara, menjelaskan beberapa hal penting setelah menenangkan hatinya.


Bersambung~