Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 177. Calon Anak Kita


"Paman! Nanti berhenti di supermarket sebentar ya," pinta Emily di tengah perjalanan mereka.


"Baik Nona!" balas sopir tersebut.


Tak butuh waktu lama mobil pun berhenti di tempat yang diminta Emily. Gadis itu segera turun dan melarang Khansa untuk ikut dengannya.


"Kamu tunggu aja di sini. Jangan ikut turun, nanti kecapekan," ujar Emily melongokkan kepala ke mobil ketika kedua kakinya sudah menjajak ke tanah. Lalu kembali menegakkan tubuhnya dan menutup pintu mobil sebelum Khansa sempat berucap.


"Iih padahal aku enggak apa-apa. Enggak capek juga!" gerutunya mengembuskan napas berat.


Merasa bosan, akhirnya Khansa menghubungi suaminya melalui chat. Tak sabar ingin segera berjumpa dengan sang suami dan memberi kabar bahagia tersebut.


"Leon, aku pulang ke villa ya." Pesan yang dikirim Khansa langsung terbaca dan terlihat jika Leon sedang mengetik. Karena sesibuk apa pun dia, Khansa tetaplah prioritas.


"Iya, Sayang. Aku nanti langsung ke sana," balas Leon. Khansa tersenyum karena Leon membalasnya dengan cepat.


"Jangan pulang malam-malam ya." Khansa membalas lagi.


"Iya, Cinta, iya. Udah kangen banget ya? Sama aku juga😘"


Senyum lebar pun menghiasi bibir Khansa. Ia tidak membalas lagi, kini mengambil foto hasil USG dan menatapnya dalam. Manik matanya berkaca-kaca saat melihatnya. Jemarinya mengusap lembut kertas kecil berwarna hitam dengan corak berwarna putih itu.


Hatinya berdebar saat menyadari, ada makhluk kecil yang akan tumbuh dalam dirinya. Satu tangannya mengusap perutnya yang masih datar. "Kamu kuat banget, Nak. Masih sekecil ini sudah membuat ibu bangga," gumamnya tanpa terasa menitikkan air mata.


Bagaimana tidak? Beberapa waktu terakhir Khansa melakukan banyak kegiatan ekstrim. Dan janin dalam kandungannya masih bersemayam dengan nyaman di rahim Khansa.


Emily sudah kembali dengan dua kantong plastik besar di tangannya. Sopir dengan sigap menerimanya dan memasukkan ke dalam mobil. Buru-buru Khansa menyeka air matanya dan kembali memasukkan hasil USG ke dalam tas.


"Kamu belanja apa sih? Banyak banget?" tanya Khansa saat Emily sudah duduk kembali di sebelahnya.


"Itu buat calon ponakan aku dong, ada buah-buahan, camilan sama susu bumil berbagai rasa. Jadi nanti tiap hari bisa ganti-ganti, enggak bosen!" jawab Emily mengusap-usap perut Khansa.


Khansa terperangah juga terharu, "Mmm ... makasih banyak, Aunty," ucapnya memeluk sahabat baiknya itu.


"Sama-sama, Sayang. Sehat-sehat sama demoy ya," cetus Emily menepuk punggung Khansa.


Kening Khansa mengernyit, "Demoy?" tanyanya bingung melepas pelukannya.


"Dedek gemoy, hehe!" sahut Emily tertawa.


Khansa pun tertawa lebar, ia menggelengkan kepala. "Ada-ada aja kamu. Paman, kita pulang ke Villa Anggrek ya." Khansa beralih pada snag sopir yang sudah duduk di balik kemudi.


"Baik, Nyonya!" sahutnya patuh sembari menoleh ke belakang lalu melajukan mobil dengan perlahan.


Kendaraan yang mengantar Khansa dan Emily telah berhenti di pelataran villa setelah menempuh perjalanan selama 20 menit. Dua gadis itu segera turun dan masuk ke bangunan besar dua lantai itu.


"Bibi, nenek di mana?" tanya Khansa yang tidak menemukan wanita baya itu.


"Sedang beristirahat, Nyonya muda," sahutnya pelan sedikit membungkuk.


"Oh, baiklah. Bibi, tolong belanjaan di mobil disimpan ke dapur ya. Terima kasih, Bi," ucap Khansa menyentuh lengan pelayan itu.


"Baik, Nyonya."


Mereka melenggang masuk, Emily mengajaknya untuk menonton film action favoritnya, seperti yang sering mereka lakukan dulu. Khansa pun sangat bersemangat, mereka menonton di kamar, mematikan semua lampu dan menutup gordennya. Menciptakan suasana layaknya di bioskop.


Khansa dan Emily duduk di karpet yang terbentang di marmer kamar tersebut. Beberapa camilan dan minuman juga sudah dihidangkan oleh pelayan di hadapan mereka.


Di tengah keseriusannya saat menonton, dering ponsel Emily membuyarkan konsentrasi mereka. Tangannya terulur meraba-raba tas yang tergeletak di sampingnya. Pandangannya masih fokus ke depan, ibu jarinya mengusap layar lalu meletakkannya di telinga.


"Emily! Kamu di mana? Kok gelap?" Suara bariton di ujung telepon menyadarkannya.


Emily tersentak, ia segera menjauhkan ponsel itu. Ternyata video call dari Hansen. Khansa tampak tak terganggu. Ia masih fokus menonton sambil memakan buah-buahan yang tersaji di hadapannya.


"Hehe, maaf. Aku pikir panggilan telepon," ucap Emily saat menghadapkan kamera depan tepat di wajahnya. Ia tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.


Hansen tampak mengernyit dengan tatapan tajam. "Di mana kamu?" tanyanya dengan nada ketus.


Emily mengalihkan kamera belakang, menyorot pada Khansa yang tak berkedip lalu bergerak dan menyorot layar televisi yang memutar adegan action para pria tampan dan bertubuh kekar.


"Sama Bara?" tanya Hansen menaikkan sebelah alisnya.


"Enggak, Barbara tadi lagi sibuk di dapur sama mama. Jadi aku keluar sendiri," sahut Emily.


"Yaudah, selalu hati-hati." Hansen langsung mematikan sambungan teleponnya.


Emily berdecak dengan keras. "Dih, sekali kulkas tetep kulkas!" gerutunya kesal meletakkan ponselnya.


Saat mengangkat pandangan, Emily terkejut karena Khansa ternyata memperhatikannya lekat-lekat. Bahkan film di depannya sudah tidak menarik lagi. Emily menelan ludahnya, menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal. Lalu tersenyum canggung.


"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Khansa.


Emily menggeleng, "Enggak, ini aku mau cerita kok."


Khansa hanya mengangkat kedua alisnya tanpa membuka suara. Tatapannya seolah menuntut. Emily lalu mengangkat tangannya perlahan. Menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Kedua manik indah Khansa melebar, "Kamu sama Hansen?" pekiknya mengguncang kedua bahu Emily. Sedangkan gadis itu hanya mengangguk dengan senyum yang lebar.


"Aaa selamat, Bestie! Akhirnya ...." teriak Khansa memeluk Emily.


Emily pun membagi cerita perjalanan kisah cintanya hingga ke jenjang tersebut. Khansa turut bahagia mendengarnya. Apalagi sedari awal dia memang sangat mendukung dua orang itu. Perbincangan pun mengalir begitu saja sampai tak terasa senja sudah mulai menampakkan diri.


"Aku pulang dulu ya. Mama pasti ngomel nih," pamit Emily beranjak dari duduknya.


Khansa turut berdiri, menyalakan saklar lampu kamarnya. "Mama apa mama nih?" sindir Khansa dengan seringainya.


"Iih beneran mama." Emily dengan wajah memerah. Karena ia tahu ditujukan pada siapa sindirannya itu. Dan hatinya pun berdebar saat mengingatnya.


Khansa masih terus menggodanya. Mereka turun ke lantai bawah sambil bersenda gurau, Khansa meminta sang sopir untuk mengantar Emily ke rumah, mengambil mobilnya.


Baru hendak berbalik, deru mesin mobil yang familiar di telinganya menghentikan langkah Khansa. Benar saja, kini suaminya sudah pulang sesuai janjinya. Khansa pun berdiri menyambutnya dengan senyum hangat.


Leon segera turun dan setengah berlari menghampiri istrinya. "Sayang!" serunya menghambur mendekap erat perempuan itu. Menghujani ciuman di wajah wanita yang teramat dicintainya.


"Cepet banget pulangnya, ayo masuk!" ajak Khansa melingkarkan lengan di pinggang suaminya.


Leon pun merangkul bahu Khansa, keduanya serentak melangkah masuk ke kamar. Khansa membantunya melepas jas hitam legam dari tubuh kekar suaminya lalu meletakkan pada keranjang kotor. Leon mengendurkan simpul dasi yang seharian terikat di kerah kemejanya, lalu melepas kancing kedua lengannya dan menggulung hingga siku.


"Kamu mau mandi dulu? Aku siapin airnya," tawar Khansa berjalan mendekat.


Leon mendaratkan tubuhnya di ranjang empuknya, menepuk ruang di sebelahnya agar Khansa duduk di sana. "Aku masih kangen," sahutnya.


"Perasaan kita baru berpisah beberapa jam," cibir Khansa namun lalu menyurukkan kepala di dada bidang pria itu. Menghirup sisa-sisa aroma parfum yang bercampur dengan aroma khas suaminya.


"Kamu emang selalu ngangenin, Sayang!" aku Leon mendekapnya erat.


"Mmm ... Leon, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Khansa mendongakkan kepala.


"Apa, Sayang?" Leon menundukkan pandangannya.


Khansa melepas rangkulannya, ia berdiri mengambil sesuatu dari tasnya. Dadanya berdegub kencang saat ingin menyampaikan kabar bahagia itu pada sang suami. Dia menyembunyikannya di balik punggung, kembali menghampiri Leon.


Khansa memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Leon menautkan kedua alisnya, ia penasaran dengan apa yang akan disampaikan istri cantiknya itu.


Kedua lengan Khansa terulur di hadapan Leon. Kepalanya menunduk dalam, menyerahkan foto hasil USG calon anaknya.


"Apa ini?" tanya Leon menerimanya, memperhatikan dengan wajah serius. Dia sama sekali tidak mengerti gambar apa yang ada di tangannya itu.


"Leon," panggil Khansa lirih. Tubuhnya terasa gemetar, ia sedikit menunduk lalu menunjuk foto di tangan Leon. "Ini, adalah calon anak kita," ucap Khansa.


Seketika Leon mendongak, kedua manik elangnya justru berubah tajam. Degub jantung pria itu berdenyut nyeri. Tangannya mengepal dengan kuat, bahkan foto USG itu ikut teremas hingga membentuk gumpalan kertas.


"Le ... Leon," panggil Khansa lagi dengan terbata. Ia sedikit ketakutan melihat perubahan ekspresi Leon.


Bersambung~


Nah lo, kenapa mas? Kok aku deg deg an 😰 ...