Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 51 : Suami Istri


Bara menjulurkan tangan untuk menahan kepala Jennifer agar sedikit menjauh darinya. "Iisssh Enggak! Apaan sih, bayik! Pulang sana! Ditinggal keluarga kamu tuh!" usir Bara dengan ketus.


Sedikit mundur dari duduknya dengan terpaksa, Jen mengerucutkan bibirnya, "Ya kali bayik, bisa bikin bayi lho!" celetuknya namun segera menutup mulutnya rapat. Ia sendiri terkejut mendengar ucapan randomnya itu.


Bara memutar bola matanya malas, "Jeje! Belajar dulu deh yang pinter. Jangan mikirin sayang-sayangan gitu. Apalagi cinta! Kalau nggak sesuai ekspektasi, yang ada kamu bisa depresi." Bara semakin mendekatkan kepalanya pada Jennifer. "Paham?" gumamnya pelan hingga napas segar dan wanginya lelaki itu menguar di indera penciuman Jennifer.


Perempuan itu membeku seketika. Jantungnya seolah berpindah ke lambung. Gadis itu seolah tidak siap menerima terjangan badai yang menghantam hatinya.


"Kak? Ya ampun, punya panggilan spesial dari Kak Bara!" seru Jennifer menutup wajahnya yang memerah. Ia memang tak pandai menyimpan suasana hatinya.


Bara hanya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. "Haih! Udah sana pulang! Masa depan kamu masih panjang, Je. Nggak usah mikir hal-hal yang nggak penting! Jadi mulai sekarang fokus sama pendidikan biar cepet lulus dan jadi orang! Nggak takut apa digeprek sama nyokap?"


"Tapi ini penting banget buat aku, Kak! Tungguin aku lulus ya, Kak," ucap Jen dengan kedua tangannya menekan dada yang berdentum kuat, wajahnya berseri sedari tadi.


"Ck! Eeerrgh!" geram Bara beranjak berdiri dan meninggalkan Jennifer. Ia pusing sendiri, entah bagaimana cara menjelaskan pada gadis kecil itu.


"Eh, Kak! Mau ke mana?" pekik Jen mengekorinya dengan cepat.


"Toilet! Mau ikut?" tandas pria itu yang seketika membuat Jennifer berhenti seketika.


"Enggak, hehe!" balasnya kembali mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Kak Bara ada yang ketinggalan!" pekik Jennifer.


Bara menghentikan langkahnya, lalu kembali menatap Jennifer. "Apa?" tanyanya menaikkan kedua alis.


Jen pura-pura mengambil sesuatu dari kolong meja. Mengangkat tangannya dan membentuk finger love mengarah pada Bara. "Saranghaeyo, Kak!" celetuknya tertawa.


Bara berdecak kesal. Ia segera bergegas masuk mengabaikan gadis remaja itu. Tak berselang lama, Jen yang sudah ditinggal orang tuanya kini sendirian di sana. Hanya tinggal para pelayan yang membersihkan tempat tersebut.


"Loh, ini adiknya Hansen 'kan?" tanya Monica yang baru masuk ke rumah, setelah mengantarkan para tamu yang berpamitan.


Jen tersenyum, "Iya, Tante," sahutnya mengangguk.


"Kok sendirian? Ayo masuk. Istirahatlah, sambil nunggu acara nanti malam. Di dalam masih banyak kamar kosong kok," ajar Monica.


"Hehe, iya Tante. Terima kasih."


Sebenarnya ia ingin menunggu Bara, namun bingung cara menolak permintaan Monica. Ia juga merasa tidak enak. Akhirnya Jen pun mengiyakan ajakan Monica untuk beristirahat di kamar tamu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar Emily....


Emily tengah membersihkan make upnya di depan cermin riasnya. Hansen menghempaskan tubuhnya yang begitu lelah di atas ranjang.


Ia memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. Hatinya bagai dihujani ribuan bunga, mengingat statusnya yang sudah berubah menjadi suami Emily. Perjuangannya akhirnya berbuah manis.


Beberapa waktu berlalu, Hansen beranjak duduk. Ia melepas jas dan membuka kemejanya dengan santai.


"Sa ... sayang! Kamu mau ngapain?" seru Emily melihat pergerakan Hansen dari pantulan kaca.


Hansen menoleh, dada bidangnya sudah terlihat. Sebagian kancing telah terbuka. Ia pun berjalan mendekati perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Istirahat, nanti malam lebih padat acaranya," ucap Emily menangkup sebelah pipi Hansen.


Hidung mancung Hansen merambat pada bahu putih Emily. Gadis itu sampai menutup mulutnya, menahan agar tidak mengeluarkan *******.


"Han!" panggil Emily menahan napasnya.


"Apa?!" goda Hansen bersuara pelan, menopangkan dagu pada bahu polos Emily.


Ia terkekeh melihat rona merah dari wajah istrinya. Pandangan mereka menyatu pada cermin. Saling melempar senyum yang begitu memabukkan.


"I love you, Istriku," gumam Hansen memeluk erat perut ramping Emily.


"I love you too, Suami. Ciee suami," gurau Emily yang sebenarnya menutupi kegugupannya. "Eee ... Aku mau mandi, terus tidur biar nanti malem fresh!" Emily memaksa untuk melepas lilitan tangan Hansen.


Ia segera menyusup dan berlari ke kamar mandi. Hansen tertawa melihat wajah Emily yang merona seperti itu.


Setelah menyelesaikan mandinya selama beberapa saat, Hansen ternyata sudah tertidur lelap di ranjang Emily. Ia memang kelelahan ditambah semalam kurang tidur.


Emily bergegas berganti pakaian sembari mengeringkan rambutnya. Setelahnya, segera menyusul suaminya. Gadis itu merangkak ke atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati.


Pandangannya enggan menyingkir dari pria tampan di sebelahnya. Mengagumi setiap detail garis wajah yang selalu membuatnya merasa jungkir balik. Dadanya berdenyut hebat, tak kuasa menahan senyum di bibirnya.


"Suami?" Emily bergumam lirih. Meyakinkan hatinya bahwa ini nyata. Lama kelamaan, ia tertidur menyusul Hansen menuju alam mimpi.


Sore harinya, sayup-sayup gedoran pintu kamar menelusup pendengaran. Emily mengerjapkan matanya, tersentak ketika tubuhnya tidak bisa bergerak.


Emily membuka mata dengan cepat. Dadanya berdegub tak karuan, ia masih terdiam mengumpulkan kesadarannya.


"Baby! MUA nya udah nungguin nih!" teriak Bara menggedor-gedor pintu kamarnya sedari tadi.


"Iya! Iya!" balas Emily berteriak pula. Akhirnya teringat jika ini adalah hari spesialnya.


"Buruan!" pekik Bara lagi. Jika biasanya pria itu akan menerobos masuk, mulai detik ini tentu tidak bisa lagi.


Hansen ternyata sudah bangun, tapi ia masih enggan melepas lilitan tangannya di perut ramping Emily. Rasanya masih ingin menempel seperti itu sepanjang hari.


"Sayang, bangun. Udah ditunggu MUA nih!" ucap Emily menepuk lengan Hansen perlahan.


Hansen bergeming, tidak bersuara. Ia berusaha memutar tubuh hingga bertatapan dengan suaminya.


DEG!


Ternyata lelaki itu menopang kepala sambil tersenyum manis ke arahnya. Jemarinya bergerak menyapu wajah cantik istrinya itu, yang seketika membuat darah Emily berdesir seketika.


"Cantik," gumam Hansen masih memainkan jarinya. Ia semakin mendekatkan wajahnya, tinggal beberapa inchi saja, Bara kembali berteriak.


"Baby!!"


Bersambung~