Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 64. Harusnya Ayah Membunuhku!


Setelah merasa lebih tenang, Jihan menyusul Hendra ke villa yang memang sudah disewa oleh pria itu. Ia melepaskan heels dari kaki jenjangnya, melipat dan menaikkan ekor gaunnya yang cukup berat itu untuk memudahkannya melangkah.


“Jihan, kamu mau ke mana, Nak?” tanya Maharani yang menatap punggung mulus Jihan semakin menjauh. Gadis itu tak menjawab.


Orang-orang di sekelilingnya tak henti-hentinya menertawakan dan mencibir tentang nasib Jihan. Meski ada beberapa yang merasa iba padanya.


“Jihan, tunggu!” panggil sang ibu lagi beranjak dan menyusul langkah gontai putrinya.


Jihan sama sekali tak mengindahkan panggilan ibunya. Ia terus melangkah dengan tatapan kosong disertai hati yang sudah remuk redam. Kebenciannya pada Khansa memuncak hingga ubun-ubun.


“Ji, semua akan baik-baik saja. Percayalah,” ucap Maharani mencoba menghibur Jihan, ia merangkul lengan Jihan. Gadis itu menoleh sejenak, namun kembali memandang lurus ke depan dengan ekspresi datar.


Fauzan mengedarkan pandangannya. Melihat betapa orang-orang kini tengah membicarakan keluarganya. Pria tua itu mengembuskan napas berat. Lalu segera beranjak, mengekori langkah istri dan anaknya. Mereka menuju ke villa, menyusul Hendra dan Khansa.


Sesampainya di villa, mata Jihan langsung mengedar ke seluruh penjuru. Namun tak menemukan dua orang yang dicarinya. Ia lalu menengadah ke lantai dua. Di mana salah satu pintunya tertutup rapat.


Ia naik ke lantai dua, sedangkan Fauzan menarik lengan Maharani melanjutkan perdebatan mereka di lantai bawah.


Khansa menyentuh handel pintu, ia tidak menoleh pada pria itu, “Hendra, jangan kembali lagi kalau kamu memang sudah menentukan jalan hidupmu, karena aku juga tidak memberi jalan bagimu untuk kembali,” tegas Khansa dengan suara dinginnya lalu membuka pintu dan melenggang keluar.


Di hadapannya, Jihan sudah berdiri dengan seringai tajam. Gadis yang sudah diliputi amarah itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dengkusan napasnya memburu dengan dada yang naik turun dengan cepat. Dua perempuan itu sama-sama sedang bersiap untuk berperang.


“Khansa! Gara-gara kamu aku menjadi bahan tertawaan semua orang. Dan gara-gara kamu pula aku bahan gosip mereka. Puas kamu menghancurkanku. Merusak hari bahagiaku! Mati saja kau, Khansa! Aku akan membunuhmu!” berang Jihan hendak mencekik leher Khansa.


Namun dengan cepat Khansa menepis kedua lengan Jihan sambil memundurkan langkahnya. “Wait! Hellow Jihan, bukankah kamu sendirin yang mengundangku ke sini? Kamu lupa? Bahkan Kamu sampai meneleponku dua kali loh untuk memaksaku datang,” sanggah Khansa membela diri.


“Tapi kamu membuat onar dan merusak acaraku, Sa! Kamu benar-benar wanita sialan!” jerit Jihan yang tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia hendak kembali menerjang Khansa, namun dengan gerakan cepat Khansa memiting tangan Jihan ke belakang, lalu menghimpitnya ke dinding.


Khansa terkekeh, “Jihan, ini merupakan hadiah besar pertunanganmu. Gimana, kamu suka nggak hadiahnya? Seenggaknya minimal bilang makasih gitu. Bukan malah marah-marah nggak jelas gini,” seru Khansa masih menekan tubuh Jihan.


“Dari dulu kamu memang pembawa sial, Sa! Wanita urakan dan licik sepertimu tidak pantas tinggal di sini!” geram Jihan melototnya tajam.


“Jaga mulut sampahmu itu! Kalau aku licik lalu apa sebutan yang cocok buat kamu? Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan obsesimu!” tandas Khansa menyerang balik. Jihan terdiam “Nggak bisa jawab? Kamu tidak lebih baik dari anjing serigala!” umpatnya.


Jihan memberontak, sambil meracau dan membalas umpatan Khansa. Namun Khansa semakin menekan leher dan kedua tangannya ke dinding. Pipi Jihan menempel pada dinginnya dinding itu.


“Aku tidak pernah takut dengan semua ancamanmu! Justru aku sangat bahagia, karena aku bisa membalasmu berkali-kali lipat. Dan itu cukup memuaskanku!” ucap Khansa menarik Jihan lalu menghempaskan tubuh wanita itu hingga terdorong beberapa langkah. Khansa segera turun karena malas berlama-lama di sana.


“Khansa!” pekik Jihan berbalik ingin mengejar Khansa, namun tiba-tiba kepalanya merasa pusing, tubuhnya melemas dengan pandangannya semakin gelap lalu ambruk seketika.


Maharani segera berlari menghampiri Jihan. Fauzan pun melakukan hal yang sama. Ia berlari menaiki tangga berpapasan dengan Khansa. Sedangkan langkah Khansa terhenti di tengah-tengah tangga yang akan ia lalui.


Maharani meraih tubuh putrinya dan memangkunya. Ia menepuk-nepuk pipi Jihan. “Jihan, Jihan bangunlah!” Wajahnya nampak panik. “Zan, cepat telepon ambulan!” pekik Maharani pada suaminya.


“Jihan, bangun, Sayang!” gumam Maharani hampir menangis. Ia memeluk putrinya sangat erat. Khawatir dengan keadaan Jihan.


Fauzan segera melakukan panggilan pada rumah sakit terdekat agar segera mengirimkan ambulan ke tempat mereka.


“Khansa! Apa yang kau lakukan pada Jihan hari ini sungguh keterlaluan!” pekik Maharani membuatnya menoleh.


Khansa tidak berminat untuk membalasnya. Ia hanya melayangkan tatapan tajam pada wanita paruh baya itu.


“Kamu bener-bener kejam, Khansa! Aku tahu, kamu selalu iri dengan Jihan. Makanya kamu terus mencari cara untuk menghancurkan Jihan. Bahkan disaat hari bahagianya kamu tega merenggutnya. Kamu biadab, Khansa!” teriak Maharani penuh emosi.


Fauzan yang selesai menelepon ambulan, kembali memasukkan ponsel ke sakunya. Ia menoleh pada Khansa.


“Apa maumu, Sa? Apa kamu ingin membunuh kami secara perlahan dengan cara sering membuat keluarga Isvara malu seperti ini, hah?! Kamu seolah mencekik kami dengan tangan tak terlihat! Kehadiranmu selalu saja membawa masalah!” berang Fauzan berkacak pinggang.


Khansa menahan gejolak yang ada di dadanya. Matanya memerah dengan segenap amarah yang terkumpul. Segitu hinanya kah Khansa di mata ayahnya?


“Kamu benar-benar perempuan liar Khansa! Tidak seharusnya kamu lahir ke dunia jika pada akhirnya kamu selalu membuat masalah seperti ini!” hardik Fauzan tak berperasaan.


Maharani dan Fauzan mencecar Khansa dengan segala amarah mereka. Khansa menggeram marah mendengar ucapan terakhir ayahnya. Hatinya berdenyut nyeri dengan debaran jantung yang tak terkendali.


Mata Khansa semakin memicing tajam, “Harusnya ayah membunuhku di hari ibu meninggal! Kalaupun aku dilahirkan kembali dan boleh memilih, aku tidak akan sudi mempunyai ayah sepertimu!” teriak Khansa menggelegar lalu berlari keluar.


Khansa berlari menuju jalan raya. Ia berdiri di tepi jalan sembari memesan taksi online. Khansa tidak memerhatikan sekelilingnya. Ia hanya fokus pada layar ponselnya, mengaburkan amarah yang menguasai tubuhnya. Khansa menghela napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.


“Calm down, Sa. Rilex, kamu sudah membuat pertunjukan yang sangat menarik. Tenang, tarik napas.” Khansa menarik napas dengan panjang, “buang,” ucapnya sembari membuang napasnya perlahan.


Beberapa saat kemudian, taksi online yang dipesan Khansa sudah berhenti tepat di depannya. Setelah memastikan benar penumpangnya, sopir segera memepersilahkannya masuk. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata-rata.


Khansa tidak tahu kalau sedari tadi ada sebuah mobil mewah model panjang yang sedang parkir di tepi jalan, ia tidak sadar jika pergerakannya tengah diawasi. Leon menurunkan kaca mobil dan memperhatikan Khansa hingga gadis itu semakin menghilang.


Bersambung~


Duuh dua bab ini ngetiknya sambil jerit2 😫 dalam hati maksudnya 😂