
Khansa mengerjapkan kedua matanya, mengumpulkan segenap kesadarannya. Lalu mendudukkan diri, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
“Leon di mana?” Tangan Khansa mengucek mata yang masih mengantuk. Lalu melihat jam yang menggantung di dinding. Matanya menyipit dengan kening mengernyit, memperjelas pandangannya. “Jam dua,” gumamnya lalu menyibak selimut yang membalut tubuhnya. Ia khawatir dengan kondisi Leon.
Sunyi, tidak ada aktivitas maupun suara apa pun di sana. Hatinya kembali berdenyut ketika mengingat bagaimana raut kecewanya Leon tadi ketika ia menolaknya. Namun, Khansa yang keras kepala tetap ingin mempertahankan keperawanannya.
Khansa selalu beranggapan, bahwa berekspektasi bahagia karena orang lain, hanya akan membuatnya hancur saat orang itu mengecewakannya. Butuh waktu lama untuk kembali bangkit sendirian saat sudah terbiasa berpegangan pada orang lain.
“Aku hanya tidak mau mengulangi rasa yang sama,” lirih Khansa menghela napas panjang.
Saat kaki jenjangnya turun dan mulai melangkah untuk mencari Leon, terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Khansa terpaku, matanya menangkap tubuh kekar Leon yang bertelanjang dada, hanya mengenakan boxer, Lagi-lagi membuatnya berdebar tak karuan. Tetesan air yang mengalir dari ujung rambutnya hingga wajah juga dada bidangnya, semakin menambah sexy di mata Khansa.
Binar kedua manik Leon meredup, bibirnya sudah memucat kebiruan, tubuhnya menggigil kedinginan. Pria itu mendongak, saat pandangannya menangkap kedua kaki Khansa.
“Sasa,” panggil Leon dengan suara lemah.
Leon menarik tubuh Khansa yang masih terpaku, terpesona dengan pahatan terindah dari Tuhan di hadapannya. Leon merebahkan kepalanya di ceruk leher Khansa. Bersandar dengan nyaman di sana.
Khansa sedikit terjingkat saat kulitnya bersentuhan dengan Leon. Rasa panas menempel di lehernya. Ia segera mengangkat tangannya, meletakkan di kening Leon.
“Leon, kamu demam,” ucap Khansa panik sampai mengabaikan panggilan tuan yang selalu disematkannya.
Khansa segera memapah Leon hingga ranjang, tubuhnya yang melemah terhempas di kasur yang sangat empuk itu.
“Kenapa bisa seperti ini? Apa yang kamu lakukan tadi?” Khansa memegang dahi Leon dan demamnya lebih tinggi.
Khansa hendak membantu Leon, ia mengeluarkan jarum untuk pengobatan akupuntur. Namun, Leon justru menarik lengannya hingga tubuhnya terhuyung dan terjatuh di samping Leon.
“Leon,” panggilnya membelalakkan mata.
Leon memeluk tubuh Khansa dengan sangat erat, ia menempelkan kepalanya di dada Khansa. Seperti anak kecil yang tengah memeluk ibunya. Panas di pipi Leon terasa menyengat kulit Khansa.
“Sasa … aku sangat menderita,” gumam Leon dengan suara serak sembari mengeratkan pelukannya.
Tubuh Khansa menegang, detak jantungnya kembali berdentum kuat tak beraturan. Tidak menyangka pria sekuat Leon bisa manja padanya.
“Aku sudah mandi dengan air dingin berkali-kali. Tapi aku tetap tidak bisa meredamnya. Aku menginginkanmu, Sa,” ucap Leon memelas.
Kali ini nenek Sebastian menggunakan trik yang kejam sampai Leon menderita seperti itu. Semalaman Leon berusaha mandi air dingin berkali-kali namun masih tidak bisa memadamkan api gairah di dalam tubuhnya.
Khansa menelan salivanya dengan kasar, “Kamu, bisa cari wanita lain untuk membantu menuntaskan hal itu,” ucapnya pelan namun terdengar jelas di telinga Leon.
Leon memenjauhkan tubuhnya, melepaskan lilitan tangannya. Ia segera bangkit meski kepalanya terasa berputar-putar.
Kedua mata Leon menjadi merah membara dan memandangi Khansa dengan kejam, pandangannya sangat dingin.
“Apa maksudmu?” teriak Leon dengan suara lantang. Matanya menatap nyalang.
Khansa pun turut menegakkan tubuhnya, sedikit merasa gemetar karena bentakan Leon.
“Aku, tidak bisa melakukannya. Kamu bisa memilih wanita sesukamu di luar sana,” jawab Khansa tidak berani menatap mata Leon.
Leon berdiri, berjalan pelan sambil tertawa sumbang. Kedua tangannya berkacak pinggang, kemudian kembali menghadap Khansa. “Kamu istriku, Sa! Sudah seharusnya kamu yang melayaniku! Bukan perempuan-perempuan tidak jelas di luaran sana!” pekik Leon tepat di depan wajah Khansa mencengkeram dagunya.
“Iya, saat ini aku memang istrimu. Tapi entah bagaimana besok siapa yang tahu? Jika suatu hari kamu bosan denganku lalu membuangku, dengan mudahnya kamu bisa mendapatkan penggantiku. Sedangkan aku? Ketika aku sudah menyerahkan semuanya, lalu tiba-tiba kamu meninggalkanku begitu saja, aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Tuan Leon!” Khansa turut bersuara tinggi.
“Kenapa kamu selalu berspekulasi sendiri? Kepalamu hanya berisi hal-hal yang belum tentu terjadi!” Leon mengepalkan kedua tangannya. Giginya terdengar bergemeletuk dengan keras.
Khansa mendongak, “Aku bukan berspekulasi! Tapi aku hanya ingin menjaga diri!” elak Khansa.
“Tok! Tok!” Ketukan pintu terdengar begitu keras.
“Khansa! Leon!” teriak Nenek Sebastian sembari mengetuk pintu.
Pertengkaran Khansa dan Leon kali ini menyeberang hingga kamarnya. Sayup-sayup mendengar teriakan dua cucunya itu meskipun tidak begitu jelas.
“Leon! Buka pintunya,” pekik nenek sekali lagi.
Dua orang itu terdiam dan saling pandang, lalu Khansa keluar membuka pintu, sedangkan Leon bergegas mengambil kaos asal dan mengenakannya.
“Sa, kamu nggak apa-apa? Kenapa kalian teriak-teriak? Apa Leon menyakitimu?” tanya Nenek Sebastian menangkup kedua pipi Khansa, memeriksa setiap bagian tubuh cucu menantunya itu.
Khansa menyentuh kedua tangan renta itu, tersenyum dan berkata dengan lembut, “Khansa tidak apa-apa, Nek. Leon tidak menyakitiku.”
“Tidak perlu membelanya, Sa. Katakan pada nenek, kamu diapain sama Leon?” Nenek memperhatikan wajah Khansa, khawatir jika perempuan itu terluka. Apalagi mengingat Leon yang memiliki tempramen tinggi saat insomnianya kambuh.
Pandangannya turun ke leher Khansa yang terlihat jelas bertaburan jejak percintaan di sana. Senyum mengembang di bibir wanita tua itu. Khansa yang melihatnya pun hanya mengerutkan dahi.
“Ada apa, Nek?” Leon tiba-tiba bergabung dengan dua wanita yang berada di ambang pintu.
Meskipun ia tahu, sangat tersiksa karena rencana sang nenek, tentu saja pria itu tidak akan pernah bisa marah padanya. Leon sangat menyayangi neneknya.
“Nenek tadi denger kalian lagi ribut-ribut.” Leon sempat menegang, takut jika sang nenek mendengar pertengkaran mereka. “Tapi sepertinya, nenek salah mendengar, dan juga kayaknya nenek akan segera mendapatkan cicit,” lanjutnya terkekeh.
Khansa dan Leon saling melempar pandang. Tak lama, Leon segera beralih pada neneknya. “Sudah malam, Nek. Kembalilah ke kamar dan beristirahat, maaf jika kami mengganggu,” ucap Leon menyentuh bahu sang nenek.
“Ya, tentu saja. Nenek bisa tidur nyenyak malam ini. Kalian lanjutkan saja. Nenek permisi,” pamit Nenek Sebastian berbalik menuju kamarnya dengan raut bahagia.
Leon melihat betapa tingginya harapan neneknya itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya sang nenek jika mengetahui keadaan sebenarnnya.
Leon segera menarik Khansa dengan kasar lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia menekan pundak Khansa ke dinding, kilat tajam kembali menyorot di kedua matanya. Tangan Leon sudah membentuk kepalan kuat.
“Maaf, aku tidak bisa," ucap Khansa lirih melihat sorot kecewa dan kemarahan di kedua manik Leon.
Detik selanjutnya, Leon mengacungkan tinju dan Khansa tidak menghindari lesatan tinju yang kencang itu, Khansa hanya memejamkan mata.
Bersambung~