Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 56 : Malam Pertama


"DEG!"


Jennifer terhenyak dalam debaran jantung yang berantakan. Ia tidak berani bergerak sedikit pun. Bahkan untuk mengambil napas saja, ia lakukan dengan sangat hati-hati.


Begitupun dengan Bara, terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Matanya mendelik dan bahkan jantungnya seolah melompat dari dadanya.


"Woooow! Langsung dapet bunga sekaligus pasangannya!" teriak MC disambung tepuk tangan yang memekakkan telinga karena semua orang turut histeris bahagia.


Buru-buru Jennifer berdiri dan merapikan gaunnya. Tubuhnya gemetaran dan salah tingkah. Ia melirik ke arah Bara yang justru menatapnya dengan tatapan tak mengenakkan.


Tanpa berucap apa pun, Jen berlari keluar dari arena pesta. Perasaannya campur aduk sampai tidak bisa membedakan harus bahagia, malu atau takut.


Jen berlari menuju toilet wanita. Di sana ia berdiri di depan wastafel dengan cermin yang begitu besar, yang memantulkan bayangan seluruh tubuhnya. Wajah cantik dengan polesan make up natural itu kian memerah, rasanya juga panas.


"Habislah aku! Setelah ini nggak tahu deh harus gimana menghadapi Kak Bara!" gumamnya kebingungan sembari menggigit kuku-kukunya.


Ia memilih bersembunyi di sana sembari menetralkan detak jantungnya yang sudah amburadul. Apalagi mengingat semua orang pasti memperhatikannya.


Sementara itu, Bara yang menjadi pusat perhatian kembali ke mode cueknya. Ia meletakkan buket bunga di meja, lalu fokus dengan makanannya. Tidak ada yang tahu jika pria itu pun tengah berperang dengan hatinya.


Hansen dan Emily saling bersitatap, mereka mengedikkan bahu sembari tertawa bersamaan, kemungkinan besar isi pikiran mereka pun sama.


Setelahnya, para tamu diperkenankan menikmati hiburan beserta suguhan yang disajikan. Leon tak mengizinkan istrinya berdiri untuk menyambut ucapan selamat.


Bukan karena sombong, namun membludaknya tamu termasuk bukan undangan, akhirnya Leon meminta tim membentuk formasi keamanan di depan panggung. Leon juga tidak ingin istrinya kelelahan.


Cheryl sudah terlelap di bahu Leon. Pria itu menyodorkan sebuah alamat pada Hansen. "Han! Nanti pulang ke alamat ini ya. Semuanya nginep di sana. Yang paling deket dari sini. Jangan pulang ke rumah. Bahaya, udah lewat tengah malam," titah Leon.


Hansen mengernyit ketika membaca sebuah villa lengkap dengan alamatnya. Ia belum pernah ke sana sebelumnya, namun memang jika dilihat, letaknya sangat dekat dari lokasi resepsi mereka.


"Villa siapa, Kak?" tanya Hansen.


"Kata Gerry atas namaku. Tapi aku tidak merasa membelinya," jawab Leon.


"Sudah lihat surat-suratnya?" Hansen menatap curiga.


"Sudah. Tadi pagi Gerry menunjukkan surat-surat kepemilikan. Nanti setelah acara akan dijelasin lagi."


Hansen mengangguk-anggukkan kepala. Tak berapa lama, acara spektakuler malam itu pun berakhir setelah ditutup dengan konser akbar dari para musisi ternama.


Satu per satu para tamu meninggalkan lokasi. Doa dan ucapan terima kasih bergulir bergantian.


Hingga kini sudah mulai sepi. Leon membantu Khansa berdiri, menangkup pinggangnya yang sudah mulai melebar. Khansa bergelayut manja di bahu suaminya. Mereka berjalan menuruni tangga perlahan dengan tangan saling membelit.


Langkah kakinya terhenti ketika Fauzan berdiri di hadapan mereka berdua. Khansa seketika menghentikan senyumnya. Menatap lekat sang ayah yang tampak berkaca-kaca.


"Sasa," panggil Fauzan dengan suara pelan.


"Iya, Yah?" jawab Khansa singkat dan datar.


"Ayah turut bahagia melihat kamu bahagia, Sayang. Cucu-cucu ayah, sehat 'kan?" ucapnya kaku menatap perut Khansa yang sudah terlihat menyembul.


Tak dapat dipungkiri, rasa sakit hati itu memang masih ada. Karenanya Khansa tidak begitu dekat dengan ayahnya. Terlalu dalam dan lebar luka yang ditorehkan Fauzan di masa lalu. Namun Khansa berusaha menutupnya, meski tidak akan pernah bisa melupakannya.


"Iya, Yah. Kami sehat!" Khansa mengangguk.


"Maaf Ayah mertua, Sasa harus segera istirahat. Mari istirahat di Villa dekat sini!" ajak Leon memotong percakapan mereka.


Khansa menoleh pada suaminya. Sorot matanya seolah meminta izin. Leon mengangguk sebagai jawaban. Hingga, Khansa melepas tautan tangannya dengan sang suami dan memeluk ayahnya.


"Ayah sehat terus. Biar bisa gendong cucu-cucu ayah kelak," ucap Khansa.


"Iya, Sayang. Ayah nggak sabar."


Mereka lalu berpisah. Khansa segera pulang ke villa yang disiapkan oleh Gerry. Semua keluarga sudah berkumpul di sana. Fauzan memang sengaja tidak ikut. Ia sungkan sekaligus malu. Karenanya memilih untuk pulang saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan! Silakan!" Gerry membukakan pintu mobil ketika mobil yang mengantar Leon berhenti di sana.


Leon segera turun, masih menggendong Cheryl. Ia melenggang masuk ke kamar yang ditunjukkan oleh Gerry. Satu tangannya menggenggam erat jemari lentik Khansa.


Khansa sebenarnya penasaran, tetapi ia sudah sangat lelah ingin segera tidur. Sesampainya di kamar, ia segera membersihkan diri dan mengganti gaunnya dengan piyama.


Leon merebahkan tubuh Cheryl di atas ranjang king size di salah satu kamar. Ia kembali keluar untuk berbicara dengan Gerry.


"Tuan!" Gerry membungkuk sembari menyerahkan sebuah berkas.


Tanpa menjawab apapun, ia meraih dokumen itu. Membukanya satu per satu. "Ini apa, Ger sebenarnya?" tanya Leon.


"Hadiah dari Tuan Tiger, Tuan. Maaf baru saya sampaikan sekarang. Takutnya Anda menolak ketika saya menjelaskan sedari tadi," jawab Gerry.


"Oh! Kamar ada berapa? Masih ada sisa untuk Hansen dan Emily?"


Gerry sedikit terhenyak karena tidak ada tanggapan apapun ketika ia menyebut nama Tiger. Sempat terdiam dalam lamunan, Leon menepuk bahunya dengan berkas yang ia pegang.


"Eh! Maaf, Tuan. Tetapi, kamarnya sepertinya penuh. Satu untuk Nyonya besar, Tuan dan Nyonya Frans, Tuan dan Nyonya Mahendra, Nona Jennifer, Anda beserta Nyonya, terakhir Tuan Bara," papar Gerry.


Tepat bersamaan Hansen dan Emily sampai di sana. Mereka ingin segera beristirahat karena sudah sangat kelelahan.


"Kamar kami di mana, Kak?" tanya Hansen bersemangat.


"Eee ...." Leon bingung menjawabnya. "Emily, kamu mandi dulu di kamar atas. Ada Sasa di sana," tunjuk Leon pada kamar utama.


"Baiklah kakak ipar!" Emily mengangkat gaunnya agar memudahkan menaiki tangga.


Saat Hansen hendak mengekori Emily, Leon menangkap jas Hansen dengan cepat. Hansen menoleh, "Kenapa, Kak?"


"Mau kemana?" tanya Leon mendelik.


"Bersih-bersih sama istriku!" Hansen menekankan kata istriku.


"Tidak bisa! Di kamar lain saja. Ada Sasa di sana!" tolak Leon dengan tegas.


"Tunggu! Jangan bilang kami nggak ada kamar!" Hansen menatap penuh selidik.


Leon dan Gerry hanya saling menatap. Dari sana Hansen sudah mendapat jawabannya. Ia berkacak pinggang. "Kak! Ini malam pertama aku loh!" desis Hansen mengacak rambutnya.


Bersambung~


Jangan galfok ama judul ya... othor emang suka ngeprank, 🤣🤣🙏🙏😭