Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 132. Belajar Menembak


Degub jantung Khansa semakin berdenyut kencang. Tangannya mencengkeram kuat kuncian lengan pria itu. Sedang tangan lainnya menggenggam erat senjata yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Khansa meneguk salivanya dengan berat.


"Hei! Jauhkan pistolmu dari wanitaku. Atau aku akan patahkan lenganmu saat ini juga!" teriak Leon menggelegar melepaskan kacamata hitamnya.


Semua pria itu membelalak menurunkan senjatanya. "Maafkan kami, Tuan!" ucap mereka membungkuk.


Khansa menoleh pada Leon yang menggeram marah. Terlihat dari tatapan tajam dan geraham yang mengetat. Gadis itu mengernyit bingung, ia pun melepaskan kuncian tangannya karena sepertinya situasi sudah aman.


Leon berjalan melangkah tegas mendekati Khansa. Ia merengkuh pinggang wanita itu, menatap nyalang satu per satu pria yang mengelilinya.


"Kali ini saya maafkan, karena kalian masih baru. Tapi tidak di lain waktu. Ingat baik-baik bagaimana Nyonya Sebastian! Jangan sampai kepala kalian kupenggal karena berani menodongkan senjata padanya atau bahkan menyakitinya!" tegas Leon bernada ancaman.


Pimpinan pengawal Leon merekrut banyak orang baru, karena sebagian ditugaskan untuk memperketat penjagaan di rumah sakit. Karenanya, mereka belum mengenal Leon dengan baik, apalagi Khansa.


"Baik, Tuan. Sekali lagi maafkan kami. Maaf, Nyonya!" ucap mereka serentak membungkukkan tubuhnya.


Leon mengajak istrinya masuk ke gedung itu, mereka turut mengekor di belakang Leon dan Khansa. Setiap orang yang dilalui, selalu membungkuk hormat. Khansa hanya diam menyamakan langkah sang suami. Meski dalam hati berdegub tak karuan dan dipenuhi sejuta pertanyaan. Tangannya mencengkeram erat tangan lebar Leon.


"Perhatian semuanya! Ini adalah Nyonya Sebastian yang harus kalian jaga dan lindungi dengan segenap jiwa raga kalian!" seru Leon memperkenalkan Khansa.


"Siap!" teriak semua pengawal itu bersamaan.


Leon mengibaskan tangannya tak lama kemudian, mereka membubarkan diri. Khansa menarik lengan Leon agar sedikit menunduk, "Ini gimana?" bisiknya menunjukkan pistol yang masih ia genggam.


"Pake aja. Ayo!" ajak Leon menarik lengan Khansa.


"Kemana?"


"Katanya mau belajar meledakkan kepala orang?" goda Leon mengedipkan sebelah matanya.


Khansa terperangah. Ia pikir ucapan Leon waktu itu hanya bercanda. Padahal masih terkejut dengan keadaan barusan, "Serius?" tanya Khansa dengan mata berbinar.


"Ayo!" Leon kembali melanjutkan langkahnya.


Khansa tersenyum lebar, ia sangat bersemangat mempelajari hal-hal baru. Semua jenis senjata yang Leon dan anak buahnya gunakan adalah legal.


Mereka sampai di sebuah ruangan, ada sebuah papan berbentuk lingkaran menempel pada ujung dinding. Leon menempatkan Khansa lurus pada papan tersebut dengan jarak beberapa meter. Ia berdiri di belakang wanita itu.


"Sekarang, fokus pada titik tengah lingkaran itu. Bidik tepat sasaran dan tarik pelatuknya." Leon mulai memberi arahan. Khansa mengangguk, ia menatap titik pusat itu lamat-lamat.


"Pakai ini dulu, karena masih pertama takutnya terkejut," ujar Leon memasangkan penutup telinga pada Khansa.


Leon memeluknya dari belakang, satu tangannya meluruskan lengan Khansa untuk membidik sasaran. Tubuh mereka rapat tak berjarak. Detak jantung Khansa sudah berdegub semakin kasar. Ia takut, namun juga penasaran.


Setelah beberapa saat, Leon menepuk bahu Khansa, "Lepas!" ucapnya agar Khansa melesatkan tembakan pertama.


"DOR!"


Tubuh Khansa terpundur, untung saja Leon menangkapnya. Meski sudah mengenakan penutup telinga, Khansa tetap terkejut. Getaran di tangannya sangat terasa.


"Nggak apa-apa, santai. Baru pertama memang gitu," ucap Leon mengusap bahu Khansa yang terlihat naik turun seiring dengan embusan napas kasarnya.


"Gagal," rengek Khansa menatap kecewa saat melihat tembakannya melesat jauh dari titik pusat. Ia melepas satu penutup telinganya.


Leon mengusap puncak kepala Khansa sembari tersenyum. "Namanya juga belajar. Nggak ada yang langsung lihai. Mau coba lagi nggak?" Khansa mengangguk bersemangat. Ia merasa penasaran sebelum berhasil. "Good! Ini baru wanitaku. Pantang menyerah. Kamu harus fokus, pastikan saat melepaskan peluru tangan kamu jangan sampai bergeser," lanjut Leon lagi kembali meluruskan tangan Khansa.


Khansa mengangguk, ia kembali fokus pada titik merah. Tatapannya sangat tajam, Leon sedikit mundur agar Khansa bisa berkonsentrasi. Dan saat Khansa menarik pelatuknya, lagi-lagi ia harus mendesah kecewa karena gagal.


Leon terkekeh melihatnya. Ia menarik kedua bahu Khansa, menunduk untuk menatap kedua manik mata indahnya. "Hati kamu masih belum tenang. Makanya kamu nggak bisa fokus. Jangan tergesa-gesa, anggap di depan itu adalah musuh yang paling kamu benci. Ingat, harus tenang. Kamu pasti bisa!" ucapnya mengepalkan tangannya, agar bersemangat.


Khansa memejamkan mata sejenak, memang benar yang dikatakan Leon, hatinya masih belum tenang. Khawatir, dendam, marah masih menggulung jadi satu di hatinya. Khansa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar.


Mata Khansa semakin menajam, Leon mulai melepaskannya sendiri. Perlahan tapi pasti, Khansa mengumpulkan semua kebenciannya di satu titik. Hingga Khansa melepas peluru itu tepat sasaran. Pelunya mampu menembus titik tengah papan lingkaran itu.


Khansa bergegas berlari mendekat untuk memastikan, Leon tersenyum bangga. Jemari Khansa meraba lubang itu, lalu menatap Leon sambil tersenyum, "Berhasil!" serunya sangat bahagia.


"Kamu hebat!" puji Leon mengacungkan kedua ibu jarinya.


Khansa kembali berlari pada Leon dan mengambur ke pelukan pria itu. Ia sangat puas dan bahagia karena berhasil melakukannya. "Terima kasih!" ucap Khansa melepas satu penutup telinganya.


"Jangan puas diri, kamu harus banyak berlatih. Setelah ini latihan di luar ruangan yang lebih banyak mengganggu konsentrasimu!" ujar Leon menyeka bulir keringat yang mengalir di kening Khansa.


"Aku harus bisa!" serunya mengepalkan satu tangannya sambil mengatur napas.


Benar kata Leon, Khansa tampak sangat bahagia. Bukan diajak liburan, namun memberikan dia pengalaman dan pelajaran barulah justru sangat berkesan di hati Khansa.


Selain itu, Leon memang ingin Khansa lebih mengupgrade kemampuannya. Ia pun memiliki keinginan untuk menyekolahkan sang istri agar menjadi dokter yang hebat di berbagai bidang.


"Mau istirahat dulu nggak?" tawar Leon.


"Enggak! Aku mau langsung coba di luar." Kali ini Khansa mendahului langkah Leon. Ia berjalan dengan tergesa. Di sana, sudah disiapkan beberapa orang-orangan yang berjajar. Dan Khansa harus membidik tepat pada organ vitalnya.


Seharian Khansa tak mengenal lelah, ia terus berusaha untuk belajar membidik dan menembak agar tepat sasaran, lama kelamaan, ia mulai terbiasa. Sudah bisa melepas penutup telinga, tembakan yang mulai tepat sasaran karena tangannya sudah tidak gemetar lagi. Khansa benar-benar belajar dengan baik.


Saat matahari mulai menanjak tinggi, Khansa menghampiri Leon yang sedang berbincang dengan beberapa pengawalnya. Dilihat dari penampilannya, sepertinya itu hanya orang-orang tinggi yang dipilih Leon.


"Sudah?" tanya Leon ketika Khansa sudah berada di dekatnya. Orang-orang itu segera pamit undur diri.


"Iya! lihatlah, aku bisa menumbangkannya tepat sasaran di beberapa tembakan terakhir," jelas Khansa dengan bangga.


"Kita istirahat dan makan dulu ya." Leon merengkuh bahu Khansa mengajaknya berjalan menuju mobil.


Khansa terlihat berat meninggalkan tempat itu. Namun, Leon bersikeras menyudahinya, mengambil kembali senjata api itu dan menyerahkannya pada sang anak buah.


"Masih mau di sini," rengek Khansa menatap gedung yang semakin jauh itu.


"Next time kita latihan lagi. Aku pengen lihat seberapa kuat pengantinku ini dalam bela diri," ucap Leon mencubit dagu Khansa dengan gemas.


"Siapa takut! Eh tapi, kenapa kamu mengajariku menembak? Bukankah itu berbahaya?" tanya Khansa penasaran.


Bersambung~


Terima kasih banyak supportnya cintaah 😘😘 Maaf jika kurang eeeuuggh ya. bener2 mood mengobrak abrik rasa nulis.. hehee... pen bales satu2 tapi takut nggak keburu buat nulis lagi.. pokoknya makasih banyak buat semuanya.. ,😘😘🤗




😒 Astaga Bambang.... lu pura2 nggak tau napa?!


MasLe: Salah gw di mana?


😩 Salah besar karena lu ngomong, Dul... yaelah. Nggak peka! Syalun emang.