
Mario bergeming dengan raut wajah kebingungan. Bibirnya masih mengatup rapat. Semua pengawal memusatkan pandangan pada istri tuannya itu.
Tidak melihat pergerakan apa pun, Khansa melirik pada pinggang Mario. Dengan gerakan secepat kilat, Khansa meraih desert deagle milik kepala pengawal itu, lalu menodongkan moncong pistol itu tepat pada kepala Mario. Sontak, semua mata membelalak lebar. Mario pasrah dan tetap bertahan dalam kediamannya.
"Kenapa Leon bisa terluka?" berang Khansa dengan amarah meledak-ledak. Tangannya masih menjulur lurus pada kepala Mario, bersiap untuk menarik pelatuk.
Gerry, Hansen dan Simon berlari keluar saat mendengar jeritan Khansa. Mereka masih berdiskusi di ruang tamu saat itu. Dan sontak mereka terkejut melihat Khansa berubah menjadi sosok yang mengerikan.
"Nyonya!" panggil Gerry dengan sopan, semakin mendekat sembari mengangkat kedua tangan.
Wanita itu memicingkan mata, lalu kembali menatap Mario. "Cepat carikan kotak P3K!" perintahnya tidak menerima bantahan.
"Sekarang, Mario!" gertak Khansa melotot tajam saat tak melihat pergerakan. Segera Mario mengangguk, berjalan mundur lalu beralih menuju mobilnya.
Khansa menggerakkan pistol tersebut mengarah pada dada Gerry. Matanya sudah menyalakan tombak api yang siap melesak pada siapa pun yang ditatapnya.
"Ceritakan apa yang terjadi! Jangan ada yang kamu tutupi!" Nada bicara Khansa penuh intimidasi.
"Kakak ipar, turunkan senjatamu. Kita bicarakan baik-baik," sela Simon pada ketegangan di tengah malam itu.
Khansa menoleh dengan cepat, ia pun beralih mengarahkan moncong pistolnya bergantian pada Hansen dan Simon. Manik matanya berubah merah. Deru napasnya sangat kasar, irama detak jantungnya juga meletup-letup.
"Apa? Kalian juga pasti tahu 'kan? Aku berhak mengetahui semuanya! Aku berhak tahu apa yang dialami oleh suamiku!" teriak Khansa menggelegar.
"Baik, kami ceritakan semuanya. Tapi turunkan senjata itu, Kak. Kami janji!" Kali ini Hansen yang menyahut dengan nada tenang. Namun matanya menatap waspada.
Khansa mengatur napasnya, ia memejamkan mata. Hansen pun melangkah maju, lalu meraih senjata itu dari Khansa dan menyerahkannya pada Gerry. Hansen lalu memapahnya duduk di kursi panjang tak jauh dari mereka berdiri.
"Kak Leon berkelahi dengan Tiger," ucap Hansen to the point. "Maaf, kami datang terlambat. Dan ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, Kak Leon memaksa untuk putar balik. Dia nggak mau ninggalin kakak ipar, dia khawatir dengan kakak ipar jika sendirian," lanjutnya.
Seperti duri yang menancap tepat pada jantungnya. Rasa sakit pun mulai menjalar ke seluruh tubuh Khansa. Kepalanya menunduk dalam.
"Tempat ini sebenarnya adalah milik Tuan Tiger, Nyonya. Tuan Leon sudah mengetahuinya, namun karena tidak mau mengecewakan Nyonya, beliau tetap memaksa untuk reserved tempat ini. Karena beliau tahu, di sini tempat paling penting dalam hidup Anda. Mohon maaf, Nyonya. Tapi Tuan hanya ingin Anda bahagia," papar Gerry menjelaskan kronologinya.
Seketika tenggorokan Khansa tercekat. Air matanya kembali luruh dengan sangat deras membasahi kedua pipinya. "Bodoh! Kenapa kamu sangat bodoh, Leon!" teriaknya menangis menutup wajah dengan telapak tangannya.
Semua pria di sana menatap iba pada perempuan hamil itu. Tapi tidak mungkin juga harus menyembunyikan semuanya dari Khansa. Dia selalu pandai membaca situasi. Tidak akan pernah bisa dibohongi.
"Di mana Mario?! Kenapa dia lama sekali?!" pekik Khansa kembali menurunkan kedua tangannya, menatap tajam asisten suaminya.
Gerry tersentak kaget, ia segera meraih ponsel di saku jasnya. Tangannya gemetar, panik kian mendera. Hingga ponsel di tangannya terjatuh ke tanah. Ia terbiasa dimarahi oleh Leon, namun sungguh syok dan panik ketika dimarahi sang nyonya.
'Ckckck! Sungguh wanita luar biasa. Kusebut kau pemberani. Membuatku semakin bersemangat!' Sekelebat bayangan nampak di sudut villa. Sosok itu menyeringai dingin lalu berbalik dan melenggang pergi ditelan gelapnya malam.
Terdengar deru mesin mobil yang memasuki pelataran. Khansa segera beranjak dan melangkah dengan cepat menghampirinya saat tahu bahwa sang pengemudi adalah Mario.
"Kakak ipar, tetap hati-hati! Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi kami!" ucap Hansen.
Khansa menerima sebuah kotak obat lengkap untuk pertolongan pertama. Ia menoleh sejenak, lalu mengangguk dan bergegas masuk dengan langkah cepat.
Keempat pria itu mendesah lega. Mereka menatap kepergian Khansa sampai punggung perempuan itu lenyap dari mata. Kemudian mereka saling pandang satu sama lain.
"Apa besok kita akan ditembak oleh Kak Leon?" celetuk Simon melirik ketiga kawannya satu persatu.
Hansen merangkul bahu pria itu, "Tenang aja. Sekarang udah ada pawangnya. Kakak ipar pasti di pihak kita. Ayo kembali!" ajaknya mengendikkan kepala menuju villa yang mereka tempati.
"Tuan, maaf. Saya harus kembali, ada sedikit masalah di kantor. Besok harus segera saya selesaikan," ujar Gerry menghentikan langkah dua tuan muda itu.
"Pulanglah, Gerry. Hati-hati dan bawa beberapa pengawal!" Hansen menepuk bahu asisten kakaknya itu.
"Baik, Tuan. Terima kasih, saya akan selalu memantau dari kejauhan," sambung Gerry mengangguk sejenak.
Hansen dan Simon segera kembali ke Villa. Gerry pulang ke Palembang di malam yang sudah sangat larut. Karena mendapat info mendadak mengenai kepentingan perusahaan. Mario kembali bersiaga bersama para bawahannya.
"Maaf ya, Nak," gumamnya mengusap perutnya dengan pelan.
Usai sedikit mereda, Khansa kembali melajukan langkah menuju kamar. Leon masih memejamkan mata. Hatinya teriris melihat luka Leon. Dengan cekatan ia segera menekan pergelangan tangan Leon untuk memeriksa denyut nadinya. Setelahnya membuka kotak obat dengan cepat dan mulai membersihkan luka tersebut.
Leon menangkap pergelangan Khansa. Ia memang sangat sensitif saat tidur. Selalu bangun setiap mendapat sentuhan atau suara yang menelusup ke telinganya.
Kedua matanya terbuka, nampak sangat memerah karena sangat lelah dan mengantuk. Tatapan keduanya saling bertabrakan. Manik sendu Khansa hampir menitikkan air mata. Namun sebisa mungkin ditahan.
"Bodoh!" cetus Khansa dengan cuek lalu kembali membersihkan luka itu, memeriksanya seberapa dalam dan lebar luka tersebut. Tampaknya luka itu kecil namun sepertinya cukup dalam.
"Kau mengatai suamimu bodoh?" Satu alis Leon terangkat. Ia bergerak untuk duduk.
"Jangan bergerak!" ucap Khansa dengan ketus sembari melotot tajam.
Leon terpaku, ucapan Khansa adalah perintah yang tidak bisa dilanggar, semenjak wanita itu hamil. Ia pun bergerak perlahan menyandarkan punggungnya. Sesekali ekor matanya melirik sang istri yang nampak memerah wajahnya.
Khansa mengambil air putih di atas nakas dan menyodorkannya pada Leon. Gelas itu kosong setelah beberapa kali tegukan besar.
"Kamu cantik kalau cemberut gitu. Tapi lebih cantik lagi kalau senyum." Leon memamerkan deretan gigi putihnya sambil meletakkan gelas kosong di atas nakas.
Khansa hanya melirik dengan tajam. Memberi obat lalu menutup luka tersebut dengan kasa steril. Setelah menempelkan plester, Khansa beralih mengobati sudut bibir Leon.
"Aargh!" desis Leon meringis. Khansa menekannya sedikit keras. "Sakit, Sayang! Pelan-pelan," rengek pria itu.
Khansa menatapnya kuat, tanpa ada keinginan untuk berkedip. Menyelami manik kelam Leon yang selalu menyimpan banyak misteri. Lama kelamaan, rasa sesak tiba-tiba menghimpit dadanya.
"Aku kecewa sama kamu Leon," ucap Khansa bersuara parau. "Apa susahnya sih ngomong sama aku? Kenapa selalu sembunyi-sembunyi? Dan kenapa kamu membahayakan diri seperti ini, hah? Udah merasa kuat? Punya nyawa sembilan terus saingan sama kucing?" cecarnya yang tanpa sadar air matanya mengalir deras.
Leon merasa bersalah, memang sudah menjadi kebiasaan tidak mau membagi masalah pada siapa pun. Ia lupa, situasinya sudah berbeda sekarang. Mereka terdiam selama beberapa saat. Hanya isak tangis Khansa yang menggema di kamar tersebut.
"Aku mau pulang," ucap Khansa kemudian setelah lebih tenang.
Leon mengembuskan napas berat. Semua yang terjadi diluar kendalinya. Pria itu menarik kepala Khansa ke dalam pelukannya. "Maaf, aku pikir bisa segera membereskannya tanpa melibatkanmu," aku Leon membelai rambut Khansa.
"Kamu anggap aku apa?" gerutu Khansa mencebikkan bibir.
Pandangan Leon menunduk, menangkup pipi Khansa sembari menyeka air matanya. "Kamu adalah belahan jiwaku. Makanya cukup aku saja yang terluka. Kamu jangan! Aku nggak akan sanggup," sahut Leon membuat Khansa memutar bola matanya.
"Kamu pikir aku juga sanggup? Enggak Leon, aku juga sakit melihat kamu terluka! Minimal kamu cerita, Leon. Seenggaknya kita bisa menghindari hal-hal buruk. Coba dari awal kamu bilang kalau resort ini milik Tiger, aku juga nggak akan mau tinggal di sini."
"Meskipun kita nggak ketemu di sini, dia tetap akan mengincarmu. Maaf ya, baby moonnya berantakan," sahut Leon mencium bibir Khansa sekilas.
"Pokoknya besok kita pulang! Lukamu cukup dalam, harus periksa ke dokter dulu!" Khansa menahan telapak tangan Leon di pipinya.
Leon menggeleng tidak setuju. "Enggak perlu, udah kamu obatin. Tenang aja, aku nggak selemah yang kamu kira. Mau coba?" godanya mendekatkan kepala pada wajah Khansa.
Sontak perempuan itu memundurkan punggungnya. "Dasar mesum!" cibir Khansa mengerutkan bibir.
"Tidurlah, sudah hampir pagi," ucap Leon mengusak rambut Khansa lalu mencium keningnya.
Keduanya pun merebahkan tubuh bersamaan. Saling berhadapan dan menatap lekat. Enggan berpaling walau sedetik saja. Leon menaikkan selimut hingga dada lalu merapatkan tubuh pada istrinya. Lengan kekarnya melingkar erat pada pinggang sang istri.
"Leon, masih ada hal yang kamu sembunyikan dariku?" tanya perempuan itu mendongak.
Bersambung~
Iya eemm... minggu depan aja boleh? boleh lah ya... masa enggak😁