Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 26 : Sifat yang Sama


Tuan Mahendra menepis lengan istrinya, ia menoleh dengan tatapan tajam. "Sudah kukatakan sebelumnya, jangan pernah mengatur Hansen. Dia bukan anak kecil lagi yang harus dituntun dalam hidupnya!" serunya dengan penuh penekanan.


"A ... aku hanya ingin yang terbaik untuk Hansen," balas Agnes terbata-bata.


"Hansen tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Jangan pernah memaksakan obsesimu pada putraku!" berang Tuan Mahendra, wajahnya terlihat sangat menyeramkan.


Ayah dan anak itu memiliki sifat yang sama. Bijak, tidak banyak bicara, namun sekali meluapkan emosinya mampu mengguncangkan dunia.


"A ... aku hanya bermaksud untuk membalas budi keluarga Alexa," gumam Agnes sangat pelan karena tubuhnya bergetar ketakutan.


"Hei! Kau tahu apa? Bisnis adalah bisnis. Jangan campur adukkan dengan urusan pribadi! Semua modal yang diberikan perusahaan Alexa sudah terbayar dan bahkan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat! Apalagi yang mau dibalas, hah?!" teriak Tuan Mahendra tepat di depan wajah Agnes.


Wanita itu menunduk dalam, wajah piasnya dipenuhi peluh dengan bibir memucat. Tulang-tulangnya serasa terlepas dari tubuhnya. Kedua lututnya bergetar hebat.


"Ma ... maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud ...."


"Sudah cukup! Aku diam saja sejak kemarin karena menghargai Alexa sebagai tamu. Salah kamu sendiri yang terlalu mengumbar dan memamerkan kelebihan Hansen! Padahal kamu tahu sendiri bagaimana perangai anak itu. Jika sudah seperti ini, kamu menyakiti hati banyak anak perempuan. Apa kamu lupa kalau kamu juga mempunyai anak perempuan?! Bagaimana jika suatu hari nanti terjadi dengan Jen?!" potong Tuan Mahendra dengan suara tegas dan lantang.


"Tidak, aku tidak mau," gumam Agnes dengan sangat pelan.


Pria setengah baya itu mendengkus kasar, dadanya naik turun seiring dengan deru napasnya. Kini ia berjalan mendekati Alexa, di mana perempuan itu masih menangis tersedu-sedu.


Tuan Mahendra menepuk bahu Alexa, menatap bola mata yang digenangi cairan bening dan wajah memerah. "Alexa, Paman minta maaf. Bukan bermaksud merendahkan atau menyepelekanmu. Tapi percayalah, terlalu sakit mencintai sendirian. Paman yakin kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik segalanya dibandingkan Hansen."


"Kamu gadis yang hebat, sukses, cantik, kamu juga pintar, pasti banyak pria di luar sana yang menginginkanmu. Sejak dulu, setiap keinginan Hansen tidak akan pernah bisa digoyahkan. Dia akan berjuang dan mempertahankannya mati-matian. Lebih baik mundur dari sekarang sebelum kamu semakin sakit, Alexa," tambah Tuan Mahendra.


Alexa tidak bisa berucap sepatah kata pun. Tenggorokannya terasa sakit. Bahkan saat ini ia hanya bisa memejamkan mata, diiringi deraian air mata yang begitu deras.


"Semangat, Nak. Masa depanmu masih panjang!" Usai mengucapkan petuahnya, Tuan Mahendra beralih ke kamarnya. Ia ingin meredam kemarahan terlebih dahulu, sebelum berbicara dengan putranya.


Sementara itu, Bara kini duduk di sebelah Jennifer. Sejak tadi ia memperhatikan gadis itu, rasanya tidak tega melihatnya menangis seperti itu. Meskipun baginya gadis itu menyebalkan. Tetap saja hatinya tergerak untuk sekedar menghiburnya.


"Bersabarlah. Ini semua hanya butuh waktu. Saat ini memang lagi panas-panasnya," ucap Bara menyandarkan punggung ke dinding.


Jen mengangkat kepalanya. Wajahnya basah dan memerah, refleks ia menyandarkan kepala di bahu Bara. Pria itu terkejut dan membeku seketika. Ia bahkan mengatur napasnya agar tetap berembus dengan teratur.


"Terkadang, Tuhan memberi kita kejutan tanpa disangka-sangka. Entah itu kebahagiaan, kesedihan atau kesakitan," ucap Bara dengan bijaknya.


Jennifer justru semakin menangis. Ia semakin membenamkan wajahnya di bahu pria itu. Hingga lengan baju Bara kini sudah dibasahi dengan air mata gadis itu.


Agnes masih bergeming, jiwanya seolah terlepas dari raganya. Ia terduduk di sofa tunggal yang tidak terkena serpihan kaca. Pandangannya kosong dan bibir pucatnya masih terlihat jelas tengah bergetar.


Bersambung~