
Di balik telepon Khansa menghela napas panjang, ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Sekalipun Leon sudah dinyatakan sembuh, ia masih bisa kambuh ketika pemicu terkuatnya kembali muncul. Namun Khansa mencoba untuk tetap tenang. Menetralkan suaranya agar tidak terdengar khawatir.
"Sayang, di saku jas kamu sudah aku siapkan obat. Minum dulu satu butir. Jika dalam waktu 10 menit masih cemas dan pusing, minum satu lagi," ucap Khansa dengan suara pelan.
Leon segera meraba saku jasnya. Ia tidak menyangka istrinya sudah menyiapkan semuanya. Meski gemetar, Leon berusaha mengambilnya. Mengeluarkan satu butir dan menelannya.
Rico yang memperhatikan segera membukakan segel air mineral dan menyodorkannya pada Leon, "Silakan, Tuan!"
Leon meraihnya dan meneguknya dengan cepat. Napasnya masih terdengar memburu. Keringat pun membasahi wajahnya. Leon memejamkan mata, menyandarkan kepala dengan mata terpejam.
"Sudah? Sekarang rileks, Sayang. Pejamkan mata kamu. Bayangin bentar lagi ketemu Cheryl, terus nanti kita main bareng. Bayangin betapa bahagianya Cheryl ketika dia tahu akan mempunyai adik kembar. Dan bentar lagi kita akan mengadakan resepsi pernikahan." Suara Khansa terdengar lembut.
Ia terus memberikan sugesti pada suaminya. Terus berbicara meski hanya deru napas yang terdengar di telinganya. Karena Leon berusaha meredam kesakitannya. Jika dulu akan meluapkannya dengan mengamuk, kali ini dia menahan itu semua. Karenanya rasa sakit mendera sekujur tubuhnya.
"Tarik napas panjang dan embuskan perlahan, tenangkan pikiran, okay? Ah gini aja, aku panggil Cheryl sekarang, bisa?" tanya Khansa mencoba opsi lain.
"Sebentar, aku boleh minum obatnya lagi?" Leon bertanya balik. Ia sudah bisa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Boleh, Sayang. Kalau masih pusing. Aku telepon Jihan ya, biar Cheryl yang nyamperin."
Khansa beranjak meninggalkan ponselnya. Ia beralih ke telepon rumah untuk menghubungi Jihan. Khansa mengatakan bahwa pria itu sudah menunggu di bawah dan harus cepat kembali. Sehingga memintanya untuk mengantar Cheryl turun menghampiri.
Khansa berani meminta Cheryl menemui Leon, karena ia yakin Leon tidak akan pernah bisa menyakiti anak itu.
Setelahnya, Khansa kembali pada sambungan telepon suaminya. "Tunggu saja di mobil, Sayang. Mereka segera turun. Sudah merasa lebih baik sekarang?"
"Iya, Sayang. Terima kasih," ucap Leon yang napasnya mulai berembus teratur.
"Tenang, pikirkan hal yang indah-indah aja."
"Nggak mau!" tolak Leon tegas.
"Kok nggak mau?" Khansa mengernyit.
"Cuma mau mikirin Sasa dan twins! Aku nggak kenal indah!" jawab Leon tegas.
Mendengar gurauan suaminya, Khansa sudah bisa menghela napas lega. Karena pertanda bahwa Leon sudah bisa menguasai dirinya lagi.
"Iya, ya? Haha. Yaudah aku tunggu kedatangannya ya. Hati-hati, Sayang. Love you," ucap Khansa sebelum menutup teleponnya.
"Love you more, Sayang!"
Selang beberapa menit, tampak Cheryl berlari kecil menghampiri mobil Leon. Leon segera turun dari mobil dan berjongkok, mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap gadis kecil itu.
"Om Papa!" pekik Cheryl tertawa, melompat ke dalam pelukan Leon.
"Hai, Sayang!" sapa Leon berdiri sembari memeluk erat gadis kecil itu. "Kita langsung berangkat ya. Aunty mama udah nunggu di rumah. Kami punya kejutan buat Cheryl," ucapnya mencolek ujung hidung Cheryl.
"Apa itu, Om?" tanya Cheryl penasaran.
"Rahasia dong. Namanya juga kejutan. Lets go!"
Tiger tersenyum melihat kedekatan mereka. Pria itu menyerahkan sebuah koper kecil pada Rico yang segera diletakkan di bagasi.
"Maaf, Leon. Jihan sedang sakit, kalau hari-H sudah baikan kami akan segera datang. Tapi mohon maaf jika kami tidak bisa hadir," ucap Tiger pada adiknya itu.
"Tidak apa-apa, semoga lekas sembuh. Kami berangkat dulu," jawab Leon segera membawa Cheryl masuk ke dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sepanjang perjalanan, Cheryl asyik bercerita. Leon menjadi pendengar yang baik, ia selalu tersenyum dengan sesekali memberikan tanggapan.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai di Villa Anggrek tepat di tengah hari. Gadis cilik itu langsung berlari tanpa menunggu Leon. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan aunty nya.
Sayangnya saat sampai di depan pintu, tangannya belum sampai untuk meraih bell. "Aunty mama! Cheryl datang!" pekiknya dengan suara melengking.
Leon berjalan dengan langkah tenang. Ia terkekeh dengan antusias ponakannya itu. Kehadirannya sejak dulu memang selalu menjadi penyembuh bagi Khansa dan dirinya sendiri.
"Ceklek!"
Khansa muncul dari balik pintu, ia langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
"Cheryyylll!" seru Khansa menangkap tubuh kecil yang melompat ke dalam pelukannya. "Aunty kangen banget!" lanjutnya mengeratkan pelukan sembari bergerak ke kiri dan kanan.
"Cheryl juga kangen sama aunty mama," ucap gadis kecil itu lalu mencium pipi Khansa.
Khansa beranjak berdiri, menggenggam tangan kecilnya. Namun Cheryl enggan beranjak, membuat Khansa menghentikan langkahnya. "Kenapa sayang?" tanyanya membungkuk menyamakan tinggi gadis kecil itu.
"Gendong aunty!" ucapnya.
Leon langsung mengangkap tubuh Cheryl dan menggendongnya. "Aunty nggak bisa angkat yang berat-berat, Sayang. Cheryl udah makin berat nih."
"Kenapa? Apa aunty nggak sayang lagi sama Cheryl?" Cheryl berkaca-kaca.
"Eh, siapa bilang? Aunty nggak boleh angkat yang berat-berat dulu karena di dalam perutnya aunty ada dede bayi, Sayang!" jelas Khansa dengan lembut. "Sebentar lagi, Cheryl punya dua adik dari perut aunty!" lanjutnya berusaha menjelaskan.
"Dedek bayi?" Cheryl tampak bingung menatap Leon dan Khansa bergantian.
"Iya, dia masih tumbuh. Ukurannya masih segini," jawab Leon mengepalkan tangannya. "Makanya, nanti takutnya dede kesakitan kalau Cheryl minta gendong. Jadi sama om papa aja ya," sambungnya memberi pengertian.
"Hore!! Cheryl punya dua adek!" teriaknya bertepuk tangan. Cheryl meronta ingin turun, ia langsung memeluk perut Khansa dan menciumnya bertubi-tubi.
Mereka lalu segera masuk, menikmati makan siang bersama. Nenek juga sangat senang dengan kehadiran Cheryl. Gadis cilik itu meluluhkan hati nenek yang pernah begitu membenci Tiger.
Cheryl sangat senang tinggal bersama Khansa dan Leon. Karena semua keinginannya pasti terpenuhi. Pasangan itu tetap menyayangi Cheryl sepenuh hati sekalipun mereka akan mempunyai anak sendiri.
Hingga sampai H-1 acara, Khansa harus meninggalkan mereka ke rumah Emily. Dengan sangat terpaksa dan tertekan, Leon pun mengantarnya.
"Maaf, Sayang. Semalam aja kok. Besok pagi kita ketemu lagi," ucap Khansa.
Mobil yang dikendarai Leon berhenti di pelataran rumah yang mulai dipenuhi dekorasi untuk pernikahannya. Sedangkan acara resepsi mereka akan diadakan di taman terbuka di pusat kota.
Leon masih tampak cemberut. Wajahnya masam sembari menguatkan cengkeraman setir di tangannya. Cheryl masih tinggal di Villa bersama nenek.
Khansa menghela napas panjang, ia mengerti perasaan Leon. Memang selama ini mereka tidak pernah berjauhan. Cukup lama berdiam tanpa suara di dalam mobil.
"Okey, kamu ikut nginep di sini. Tapi khusus malam ini kita pisah ranjang," putus Khansa setelah beberapa saat.
"Apa?" pekik Leon terkejut.
Bersambung~