
Khansa semakin mendekatkan ujung mata pisau kecil itu pada wajah Fauzan, tatapannya datar. Ia dapat melihat sorot ketakutan dan frustasi dari pria itu. Khansa memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang semakin memburu agar tidak meledakkan emosi dalam dadanya.
Gadis itu mengerjap lembut, tangannya menggerakkan pisau lalu mengalihkan benda tajam itu di telapak tangan Fauzan. Khansa menyodorkan lengannya tepat di bawah pisau itu.
"Tolong, bunuh saja aku, Ayah! Bunuh darah dagingmu sendiri, jangan hanya mencoret namaku dari daftar keluargamu. Biar kamu puas!" ucapnya pelan namun penuh penekanan. Matanya mulai berkaca-kaca. Padahal ia sudah berusaha untuk membendung bulir bening itu.
Fauzan tersentak, hendak melepas pisau itu namun ditahan oleh tangan Khansa yang lain. Mengarahkannya tepat pada urat nadi lengannya.
"Aku ingin bertemu dengan ibu, memeluknya, dan membagi rasa sakitnya denganku akibat ulahmu. Aku terima semua perlakuanmu padaku. Membuangku, mengabaikanku, bahkan lebih menyayangi anak-anak tirimu, aku terima." Khansa menyeka air mata yang membobol kedua sudut matanya.
Khansa mengepalkan kedua tangan, kepalanya mendongak dengan sorot mata yang berubah tajam. "Tapi aku tidak terima kamu menyakiti ibuku! Bahkan sampai embusan napas terakhirnya!" teriak Khansa menunjuk muka Fauzan.
Fauzan melepas tangan Khansa dengan kasar, lalu membuang pisau itu ke lantai. "Kamu tidak tahu apa-apa," sahut Fauzan dengan napas tersengal.
"Dulu aku memang belum mengerti apa-apa, tapi setelah mendengar pengakuan dari seseorang, aku jadi tahu seberapa brengseknya kamu pada ibuku. Kamu menelan mentah-mentah apa yang kamu lihat tanpa mencari tahu lebih dulu. Dan kamu justru menikahi iblis wanita yang telah meracuni ibuku! Padahal, tanpa ibuku kamu bukan siapa-siapa!" Khansa tertunduk, tenggorokannya mulai tercekat.
"Jangan bicara sembarangan!" sanggah Fauzan tidak terima.
Khansa mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membuka dan menekan hasil rekaman suara. Khansa meletakkannya di dekat kepala Fauzan.
"Kamu pasti tahu 'kan itu suara siapa?" tanya Khansa menelan ludahnya dengan kasar. Ia juga meletakkan hasil tes DNA di sebelah lengan Fauzan.
"Dalam tubuh kita, mengalir darah yang sama. Ayah, seandainya skenario hidup bisa kubaca terlebih dahulu, aku akan menghapus bagian cerita yang tidak ingin aku perankan. Terima kasih atas semua tinta hitam yang kau torehkan dalam hidupku, juga ibuku!" lanjut Khansa berbalik dan melenggang pergi.
Khansa menyeka air matanya yang berjatuhan tanpa permisi. Ia keluar ruangan itu, yang segera ditangkap oleh Leon. Pria itu membawanya duduk di kursi menangkup kedua pipi Khansa dan menatap manik matanya bergantian.
"Aku kuat kok!" ucap Khansa mengepalkan kedua tangannya sembari tertawa.
"Hmm ... ayo ikut aku!" Leon berdiri mengulurkan tangannya.
"Aku mau jenguk Bibi Fida," tolak Khansa. Leon tak menggubris, ia terus menarik lengan perempuan itu hingga parkiran.
"Nanti aja!" tegas Leon mendudukkan Khansa di kursi penumpang dan memasang seatbeltnya.
Leon bergegas duduk di kursi kemudi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Khansa mengedikkan bahunya, pasrah saja mau dibawa ke mana. Pasalnya suaminya itu memang penuh kejutan.
Tak berapa lama, mobil milik Leon berhenti di pelataran gudang, tempat Khansa berlatih menembak. Matanya berbinar, buru-buru ia melepas sabuk pengamannya.
"Kita latihan nembak lagi?" tanya Khansa antusias.
"Tidak! Kamu sudah bisa. Next time aja lagi." Leon segera turun dan melangkah panjang ke dalam gedung. Para anak buahnya menyapa sambil membungkuk hormat saat Khansa dan Leon melaluinya.
"Kosongkan ruang latihan!" perintah Leon yang segera dilaksanakan oleh para anak buahnya.
Leon melangkah tegas diikuti Khansa yang mengekor di belakangnya. Hanya ada dua sejoli itu di ruangan. "Mau ganti baju nggak?" tanya Leon.
Khansa mengedarkan pandangan kagum. Ruangan yang luas itu terdapat beberapa samsak yang menggantung, beserta perlengkapannya.
"Enggak usah, pake gini aja nyaman kok," ucap Khansa.
"Pemanasan dulu yuk. Udah menguasai apa aja?" ajak Leon memasang kuda-kuda yang segera diikuti Khansa.
"Dulu aku diajari Guru Fei bela diri kungfu, juga pengobatan tradisional China. Pemanasanku nggak pernah di ruangan. Pasti lari dari rumah menuju pendapa yang terletak di puncak gunung," aku Khansa.
Leon beralih di belakang Khansa, membenarkan bagaimana ia harus melakukan gerakan dengan benar. "Jadi, sejak itu kamu pakai cadar?" Leon kembali mengajarkan pemanasan.
"Ya, itu syarat dari Guru Fei selama aku berlatih sampai sekarang. Beliau sangat berjasa dalam hidupku," ucap Khansa menyendu.
Leon kembali melakukan gerakan-gerakan pemanasan yang diikuti Khansa. Gadis itu sudah cukup berkeringat. Leon menyeka bulir keringat di kening Khansa.
"Kabar terakhir, sebelum aku kembali ke kota, Guru Fei telah meninggal," sahut Khansa melenturkan kedua tangannya, karena Leon sudah mengakhiri pemanasan tersebut.
Leon beralih masuk ke kamar, ia kembali dengan sepasang sarung tinju dan mengenakannya pada tangan Khansa. "Sekarang, pukul samsak ini sepuas kamu. Lampiaskan amarahmu pada benda itu," ucap Leon menepuk puncak kepala Khansa.
Dia tahu, Khansa tengah menahan amarahnya saat ini. Leon tidak ingin Khansa memendam kemarahannya yang akan berakhir seperti dirinya.
Benar saja, Khansa memukuli samsak tinju itu membabi buta sesekali berteriak saat menghantamkan lengannya pada karung berisi pasir itu.
Leon beralih duduk di meja kerjanya. Menerima telepon yang saat itu tengah berdering. "Ada apa?" tanya Leon singkat.
"Tuan, semua dokumen perusahaan Isvara sudah selesai ditangani," lapor Gerry di seberang telepon.
"Mmm ... minggu depan panggil semua karyawan untuk kembali bekerja. Apa semua gaji mereka sudah beres?"
"Sudah, Tuan! Tinggal tanda tangan saja," jawab Gerry mantap.
"Baik. Terima kasih kerja kerasnya," sahut Leon mematikan sambungan teleponnya.
Setelah beberapa lama, Khansa sudah berhenti memukul samsak tersebut. Ia memeluk samsak itu sembari menunduk, menahan keningnya di sana. Leon segera menghampiri memeluknya dari belakang sembari melepas sarung tinju yang membalut tangan lentiknya. Nampak, jemari putih Khansa memerah saking kerasnya pukulan itu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?" tanya Leon menopangkan dagu pada bahu Khansa.
Khansa mengangguk sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia beralih menatap Leon dan tersenyum lebar.
"Pelajaran kali ini cukup. Lain waktu aku ajari kamu bela diri lainnya."
"Kamu sudah lama punya komunitas seperti ini?" tanya Khansa dengan rasa penasaran yang membuncah.
"Mmm ... tidak. Dulu hanya beberapa bodyguard saja. Tapi sekarang aku menambah anggota dan mempersiapkan segalanya sebelum sesuatu yang besar terjadi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa." Leon mengeratkan pelukannya sembari memejamkan mata.
Khansa mengernyitkan dahinya. "Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Nanti kamu akan tahu sendiri. Tidak ada maksud apa-apa. Hanya berjaga melindungi diri saja, dan yang paling utama adalah melindungi kamu," ucapnya mengecup pipi Khansa.
"Ck! Sok misterius!" decak Khansa memicingkan matanya.
Leon hanya tertawa, "Mau ikut ke kantor?" tawar Leon menggenggam jemari Khansa dengan lembut.
"Mmmm ... tapi aku nggak mau dicuekin!" ungkap Khansa.
"Enggaklah, kamu ratuku. Mana ada yang berani mengabaikanmu!"
Khansa tersipu mendengarnya. Ia berjalan beriringan dengan langkah Leon. Setiap berpapasan dengan para anak buah Leon, Khansa selalu mengangguk membalas sapaan mereka. Dan itu cukup membuat Leon tidak suka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di rumah sakit. Debaran jantung dan denyut nadi Fauzan meningkat dengan pesat. Kedua bola matanya membelalak saat mendengarkan rekaman Bibi Fida yang sempat direkam oleh Leon. Air matanya mulai menyeruak dari kedua sudut matanya.
Bersambung~