Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 186. Dia Suamiku!


Sepertiga malam yang kelam bagi Jihan. Seluruh tubuhnya remuk redam, hancur dan benar-benar direndahkan. Selepas mendapatkan kepuasannya, Tiger meninggalkan perempuan itu tanpa perasaan, meski memberinya segepok uang.


Pria hypersex itu memang selalu seenaknya sendiri. Ia selalu memaksa siapa pun wanita yang diinginkannya, untuk memenuhi hasratnya. Biasanya ia pasti mengenakan pengaman sebelumnya, namun keinginan yang sudah membuncah membuatnya langsung menerjang perempuan itu tanpa ampun.


Pakaian yang dikenakan Jihan sudah terkoyak. Ia memaksa tubuhnya bergerak untuk bangun, kedua matanya sembab karena terus menangis. Tangannya menangkup kemeja dan membelitnya dengan kuat di dada. Rasa sakit dan sesak menjalar di sekujur tubuhnya. Matanya hanya melirik ke arah tumpukan uang di meja, namun tidak berniat untuk menyentuhnya sekalipun dia sangat membutuhkannya.


Setelah mampu meredam perasaan yang antah berantah, Jihan beranjak keluar dari ruangan Tiger. Langkahnya terseok menuju ruang karyawan sembari memegang kepala yang berdenyut hebat, wajahnya sembab dan seluruh pakaiannya berantakan.


"Ji, kau kenapa?" Salah seorang temannya bertanya ketika berpapasan dengan wanita itu.


Jihan hanya menundukkan kepala dalam, kepalanya menggeleng kuat dan gerakannya tertatih. Ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Tidak peduli jika akan berakhir pemecatan nantinya.


Sesampainya di rumah kecil yang ia singgahi, Jihan menatap nanar ibunya. Dia menutup pintu perlahan lalu berjalan menuju kamar mandi dan terduduk di sana. Air matanya kembali meluruh dengan deras. Kedua tangan mencengkeram kuat tepian bak mandi, lalu mengguyur sekujur tubuh dan menggosoknya kuat. Bayangan kebringasan Tiger masih melekat di benaknya.


Darahnya berdesir kuat, rasa takut dan benci bercampur aduk menjadi satu. Jihan menghabiskan waktu di kamar mandi sampai hari menjelang pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maharani terbangun ketika mendengar keriuhan di depan rumahnya. Desas-desus pengiriman bantuan sembako menyeruak indera pendengarannya. Matanya berbinar, karena sudah beberapa hari dia kesulitan makan, Jihan baru bekerja belum lama ini. Sedangkan uang mereka semakin habis.


"Jihan! Ji!" teriak Maharani sambil menatap putrinya yang tidur membelakanginya di lantai beralaskan tikar. Selimut tipis membungkus ujung kaki hingga lehernya.


Tidak ada sahutan apa pun dari putrinya. Bahunya bergerak perlahan, seiring dengan napasnya yang pelan. Jihan baru saja tidur beberapa menit yang lalu. Tubuhnya terasa sangat lelah juga remuk redam setelah menangis semalaman. Maharani berdecak, akhirnya ia pun bangun dan berusaha duduk di kursi rodanya.


Penampilannya berubah drastis, bahkan sampai tidak ada yang mengenalinya saat ini. Didukung dengan pakaiannya yang sederhana dan polos tanpa make up.


"Aku harus mendapatkannya!" gumamnya antusias. Setidaknya bisa menyambung hidup untuk beberapa hari ke depan sampai Jihan mendapatkan gaji.


Meski lelah harus mengayuh kursi roda dengan tangannya, Maharani tidak patah semangat. Ia sampai di barisan paling belakang karena memang datang terlambat. Ia juga tidak bisa mendengar percakapan di depan sana. Termasuk, tidak mengetahui keberadaan Khansa dan Leon karena tertutup banyaknya warga yang berdiri di depannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon kembali mengalihkan pandangan ke depan, kilat tajam terpancar dari sorot matanya. Kedua tangannya mengepal kuat saat mengingat apa yang ia lakukan pada Khansa dan ibunya.


Khansa pun tak berkedip menatap Maharani. Deru napasnya terdengar memburu. Detak jantungnya berirama dengan begitu cepat. Kakinya melangkah dengan tegas dan sangat pelan. Mata tajamnya tak berkedip terpusat pada Maharani.


Ada gejolak ingin mencekik wanita itu saat ini juga. Namun tertahan dan hanya dilampiaskan dengan kepalan kuat di kedua tangannya. Leon mengekori istrinya. Tatapan matanya sama tajamnya. Pria itu mengenakan baju semi formal, tanpa jas yang membalut tubuh kekarnya.


"Apa kabar Maharani?" ucap Khansa pelan saat berdiri tepat di depan wanita itu.


DEG!


Mendengar suara yang familiar di telinganya, Maharani mengangkat pandangan hingga matanya bersirobok dengan manik tajam Khansa. Tubuhnya membeku, bibirnya bergetar dan sedikit terbuka. Bola matanya membelalak lebar.


"Kha ... Khansa!" gumamnya lirih. Ia mencoba bersikap tenang meski dalam hati panik dan ingin segera melarikan diri.


"Masih hidup rupanya. Ah, kamu nggak ada niat untuk berterima kasih gitu? Karena berkat semua hartaku, kamu masih bernapas sampai sekarang," sindir Khansa dengan ketus sembari melipat kedua lengannya di dada.


"Ini semua gara-gara kamu perempuan sialan!" seru Maharani yang mulai menampilkan emosi.


"Heh? Aku bahkan tidak melakukan apa pun!" balas Khansa merunduk hingga matanya saling bersitatap.


"Dan apa kamu bilang? Hartamu? Hei, kamu bahkan sudah dicoret dari Keluarga Isvara. Kamu tidak berhak memiliki harta itu sepeserpun!" geram Maharani melebarkan mata tajam pada Khansa.


Khansa tersenyum lembut, "Itu dulu! Sekarang semua sudah berubah. Seluruh aset-aset dan Perusahaan Isvara sudah berganti atas namaku! Jadi, yang tidak berhak sama sekali atas harta itu adalah ... kamu dan juga anak-anakmu!" tegas Khansa melempar senyum menyeringai.


Maharani menggeleng kuat, "Tidak! Itu tidak mungkin!" sanggahnya sulit percaya.


"Terserah mau percaya atau tidak, biar hukum yang berbicara. Yang jelas, kamu harus membayar semua yang telah kamu lakukan dulu!" tandas Khansa bersuara pelan namun mampu membuat sekujur tubuh Maharani merinding seketika.


Leon hanya berdiri tegap di belakang sang istri. Memperhatikan Khansa dalam diam, yang mana menjadi sosok berbeda saat bertemu dengan musuh-musuhnya, sehingga selalu membuatnya kagum dan bangga memiliki wanita itu.


Manik indah nan jernih Khansa menelisik kondisi Maharani. Ia tertegun saat melihat ujung kaki wanita itu yang ternyata hanya ada satu. Khansa menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar.


"Maharani, sadar nggak kalau karma perlahan-lahan mulai menggerogotimu? Ini karma karena kamu telah menyakiti dan membunuh ibuku tanpa perasaan!" bisik Khansa namun dengan nada penuh penekanan.


"Deg!"


Aliran darah Maharani semakin kacau. Degub jantungnya pun berubah kasar dan semakin berlarian. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, mengalir pada wajahnya yang memucat. Tatapan terkejut kini mencuat dari matanya.


"Kenapa? Kaget, aku bisa tahu setelah sepuluh tahun lamanya? Aku bahkan tahu obat yang kamu campurkan pada makanan ibuku, Maharani. Aku tahu skandal kamu dengan ayahku. Kamu benar-benar biadab!" papar Khansa menekankan setiap kalimatnya.


Ia menahan gejolak di dadanya yang sudah hampir meledak. Ingin rasanya mencekik wanita itu sampai mati, namun Khansa tidak ingin mengotori tangannya. Apalagi sekarang ia sedang mengandung.


Mata Maharani beralih pada Leon. "Oh, pasti semua karena bantuan pria simpananmu itu ya!" elaknya menahan rasa takut dalam dirinya.


"Apa? Hei, Maharani! Kenalin, dia adalah Leon Sebastian. Suamiku! Dia sehat! Bukan pria penyakitan dan sekarat seperti yang kamu takutkan!" Khansa membalas dengan sinis sembari tertawa terbahak-bahak.


"Cih! Pandai sekali mengarang cerita!" cibir Maharani membuang mukanya. Dalam hati masih tak percaya. 'Tidak mungkin, dia pria yang dulu datang ke rumah pertama kali bersama Khansa. Dia pria simpanan Khansa!' Maharani meyakinkan diri sendiri.


Leon hanya memiringkan satu sudut bibirnya. Mata elangnya tak lepas dari Maharani sedikit pun. Ia menggerakkan satu lengannya, melakukan panggilan pada anak buahnya melalui earphone yang ada di telinganya.


"Datang ke lokasi!" ucap Leon tegas.


Tak berapa lama, beberapa orang berpakaian rapi serba hitam turun menemui atasannya. Mereka sudah disiapkan Leon untuk selalu stanby di sekitarnya, untuk berjaga-jaga.


"Amankan dia! Jangan sampai kabur!" Leon menunjuk dengan dagunya. Satu lengannya melingkar di pinggang Khansa.


"Hei! Apa-apaan ini! Kalian mau culik saya! Tolong! Tolong!" jerit Maharani meronta.


Bersambung~