Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 38 : Sudah Sadar


Pagi yang cerah di tengah padatnya aktivitas, Hansen tengah sarapan pagi bersama keluarganya. Sejak pertikaian dengan ibu tirinya, sampai sekarang mereka enggan bertegur sapa. Hansen tidak begitu mempedulikannya. Yang terpenting adalah restu dari ayahnya.


"Jen!" panggil Hansen setelah menyeka mulutnya dengan tissu.


"Hmm!" sahutnya yang masih mengunyah mengangkat pandangan pada sang kakak.


"Nanti ikut Emily fitting baju. Sekalian kamu milih gaun buat acara bulan depan," ucap Hansen setelah meletakkan gelas usai meneguk air putih.


Jennifer mempercepat kunyahannya. Kedua manik matanya berbinar dengan bibir menahan senyum hingga menelan penuh makanannya. "Siap! Nanti dijemput apa ketemu di mana?" tanya nya antusias.


"Ya! Telepon saja. Paling yang bales Bara. Dia jarang pegang ponsel!" sahut Hansen.


Tanpa sadar Jennifer bertepuk tangan sangat keras. Menarik perhatian seisi rumah yang tengah melingkari meja makan itu. Hansen menautkan kedua alisnya. "Semangat banget!" cibir Hansen sedikit curiga.


"Ah! Itu 'kan karena bentar lagi jadi adik ipar artis. Ah Kakak mah, nggak peka!" balasnya memasang wajah jutek. Hansen hanya mengedikkan bahu.


Agnes menghentikan makannya sedari tadi, menggenggam sendoknya dengan kuat. Pandangannya tertunduk malu. Ia segera beranjak ketika Hansen mulai meninggalkan kursinya.


"Han! Tunggu!" seru Agnes menghentikan langkah pria itu. Namun enggan berbalik.


Wanita paruh baya itu segera mengikis jarak dengan putranya. Jantungnya berdebar, takut menghadapi kemarahan Hansen. Karena memang kemarin adalah pertama kalinya Hansen meluapkan amarah padanya. Namun ia sadar, kesalahannya sangat fatal.


"Saya buru-buru!" ketus Hansen mengangkat lengan sembari menatap jam yang melingkar di sana.


"Maaf!" pinta Agnes dengan suara pelan.


Hansen terdiam, namun masih dalam posisi yang sama. Pandangannya pun lurus ke depan.


"Ibu minta maaf atas semua kesalahan yang ibu lakukan. Tidak seharusnya ibu terlalu ambisius dan menekan kamu. Dan ibu juga minta maaf atas semua perlakuan ibu pada Emily," ujarnya menunduk.


Tuan Mahendra bersama Jennifer saling pandang dan menghentikan kunyahannya. Mereka serentak menoleh pada Agnes yang tampak masih ketakutan.


"Diem aja, jangan ikut campur, biar jadi pelajaran buat ibumu agar tidak menilai orang hanya dari covernya saja," ujar Tuan Mahendra yang hanya didengar oleh Jennifer. Gadis itu mengangguk patuh.


"Tolong sampaikan pada Emily, ibu sangat menyesal," ucapnya semakin menunduk.


Masih terdapat sisa-sisa sakit hati. Namun Hansen mencoba berdamai jika memang ibunya sudah sadar. Meski sikapnya belum bisa kembali seperti sedia kala.


Agnes mendaratkan bokongnya kembali. Sudah tidak berminat untuk melanjutkan makannya. Dalam meja makan itu pun berubah sunyi, hanya terdengar denting sendok berbenturan dengan piring.


Tak berapa lama, bell rumahnya berbunyi. Jennifer melompat dari kursi dengan bersemangat. Kakinya melangkah cepat menuju pintu, karena yakin bahwa tamunya adalah Emily.


"Brak!"


Saking semangatnya, Jen membuka pintu dengan kasar. Bibirnya tersenyum sangat lebar, namun seketika merapatkan kembali bibirnya ketika melihat yang ada di hadapannya adalah Bara.


"Eh! Mmm ... Kak Emily mana, Kak?" ucapnya gugup merapikan rambut ke belakang telinga.


Bara menoleh ke arah mobilnya. Tampak, gadis yang dicari Jen baru saja keluar dari mobil setelah menyiapkan diri akan bertemu calon mertuanya. "Tuh!" tunjuk Bara dengan dagunya.


Jenn melongokkan kepala, karena terhalang oleh tubuh kekar Bara. Ia lalu berlari kecil menghampiri Emily. "Kakak!" serunya menggamit lengan Emily.


Kedua gadis itu berjalan serentak masuk ke dalam rumah. Namun saat mencapai pintu, Emily menghentikan langkahnya. "Jen, ibu kamu gimana ya? Kakak takut," gumam Emily ragu.


"Tenang aja. Ibu udah sadar!" sahut Jen menenangkan.


"Emang kemarin-kemarin nggak sadar?" celetuk Bara melipat kedua lengannya, bersandar pada pintu yang terbuka setengah.


"Kreek! Bugh!!"


Pintu itu tidak kuat menopang tubuh Bara hingga bergerak dan pria itu terjatuh ke lantai. "Aduh!"


"Yaampun, Bara!" pekik Emily.


"Kak Bara!" teriak Jen melepas tautan lengannya, lalu berjongkok dan refleks menyentuh lengan pria itu. Keduanya pun terlibat kontak mata cukup lama.


Bersambung~