
"Sasa! Kamu di mana?" teriak Leon lagi mengedarkan pandangan berputar-putar dengan jetski tersebut. Tubuhnya menegang, ia menajamkan kedua matanya untuk mencari keberadaan sang istri. Wajahnya nampak pias, ketakutan kini menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Aku di sini, Leon," ucap Khansa pelan muncul ke permukaan beberapa saat kemudian. Tangannya menyeka air di seluruh wajahnya. Termasuk sisa-sisa air matanya.
"Hah! Kamu membuatku takut, Sayang! Ayo naik!" Leon bernapas penuh kelegaan.
Khansa menaikkan dua jari telunjuknya sembari tersenyum di balik cadar yang basah pula. Kedua kakinya terus bergerak di dalam air. Leon semakin mendekat, untuk memudahkan Khansa menaikinya.
"Kamu aja yang nyetir sini!" perintah Leon mengulurkan satu lengannya. Khansa menyambutnya dengan senang hati meskipun ia sama sekali tidak pernah mengendarai jetski sebelumnya.
"Gimana caranya?" tanya Khansa setelah duduk di depan.
"Gas aja!" Leon masih memegang kedua setir jet ski itu. Namun lama kelamaan, ia melepaskannya.
Khansa menggerakkannya perlahan, sedikit berdebar karena ini pengalaman pertama. Cukup cepat ia belajar, beberapa saat kemudian Khansa melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Leon! Ini seru!" teriak Khansa memutar-mutar laju jet ski nya.
Pria itu mengangguk, ia mengeratkan pelukan di perut Khansa. Menopangkan dagu di pundak Khansa. Lautan seisinya, serasa milik mereka berdua.
Setelah merasa puas, Khansa menepi. Mereka turun dengan pakaian yang sudah lumayan kering. Leon menahan gerakan Khansa saat ia hendak membuka pelampung di tubuhnya.
"Jangan sekarang. Masih ada yang seru lagi!" ucap Leon menggenggam lengan Khansa dan mengajaknya pergi.
Keduanya berhenti di sebuah wahana yang lebih memacu adrenalin lagi. Khansa menarik lengan Leon, "Leon, kamu yakin? Aku nggak bisa naik ini," bisiknya sambil berjinjit agar sampai di telinga Leon.
Khansa melihat orang-orang yang menjulang tinggi dengan dengan sebuah perangkat seperti papan pijakan yang terhubung dengan jet ski. Leon mengajaknya untuk menaiki flyboarding.
"Bisa! Tunggu ya." Leon tengah bersiap untuk mengenakan papan pijakan di kedua kakinya. Salah seorang instruktur mengendarai jetski yang terhubung pipa dengannya.
"Sini!" panggil Leon melambaikan tangan.
"Kamu yakin?" ucapnya ragu.
"Buruan!"
Khansa semakin mendekat, Leon meraup tubuh Khansa dalam gendongannya. Dan tak berapa lama, nozzle pembuangan air laut bertekanan tinggi di kaki Leon membawa mereka terbang menjulang tinggi ke langit. Khansa berteriak sembari memeluk erat suaminya.
"Buka matamu, Sayang," bisik Leon.
Perlahan Khansa membuka matanya, ia bisa melihat keindahan dari ketinggian. Leon terus menggerakkan papan itu naik turun, berbelok bahkan posisi terbalik dengan cepat. Khansa berpijak di kaki Leon, memeluk sang suami dengan erat, jeritan dan tawa lepas dari wanita itu. Keromantisannya jelas mengundang rasa iri di sekitarnya.
"Jantungku seperti ketinggalan di langit," canda Khansa setelah mereka selesai dengan wahana tersebut.
"Tapi asyik 'kan?" tanya Leon menggenggam lengan Khansa.
"Iya sih, tapi malu. Ternyata banyak yang lihatin," cetus Khansa tersenyum, lalu melenggang pergi.
Seharian itu, mereka sangat menikmati keberadaannya di sana. Mencoba banyak sekali wahana ekstreme yang memacu adrenalin. Hingga hari mulai gelap. Mereka pun bergegas pulang ke resort. Setelah membersihkan diri, mereka makan malam romantis sesuai permintaan Leon pada pihak resort.
"Apa yang kamu rasakan, Sa?" tanya Leon di sela makannya.
"Eum ... seneng, lega juga," sahut Khansa sesekali menatap ke arah Leon.
Tangan Leon terulur untuk menyentuh jemari Khansa dan menggenggamnya. "Berjanjilah satu hal."
Khansa menghentikan menyuapkan makanan. Memperhatikan Leon untuk mendengarkan kelanjutan ucapannya. "Apa?"
"Tadi kamu sudah menangis sepuasnya, kamu sudah melepaskan semua rasa sakitmu. Saatnya kamu bangkit, jangan pernah menangis lagi apa pun yang terjadi nanti. Kamu harus menjadi wanita yang lebih kuat. Ingatlah, ada aku yang selalu ada di sisimu," ucap Leon menatapnya dengan serius.
Khansa merasa ada yang aneh saat Leon tiba-tiba berucap seperti itu. Ia hanya mengangguk pelan menanggapinya.
"Janji?" ulang Leon sekali lagi.
Seharian menangis dan menjerit memang mampu melegakan perasaan Khansa. Beban yang menghimpit dadanya seolah hancur dan perlahan menghilang.
"Besok pagi-pagi kita pulang. Tidur yuk," ajak Leon beranjak berdiri.
Khansa meraih tangan Leon, keduanya berjalan menuju kamar dan segera tidur saling berpelukan. Leon yakin Khansa sangat kelelahan. Ia tidak ingin mengusik tidur istrinya malam itu. Hanya memeluknya sembari menghujani kecupan di wajah istrinya.
"Leon, terima kasih banyak untuk semuanya," ucap Khansa mendongak.
"Sama-sama. Udah tidur, kamu pasti lelah!" ucap Leon membelai rambut Khansa.
Ia menggigit bibir bawahnya, bingung bagaimana mengucapkannya. "Emm ... kamu ... itu." Khansa menggaruk kepalanya.
"Apa, Sayang?" tanya Leon menaikkan dagu Khansa.
"Kamu, enggak pengen?" tawar Khansa malu-malu.
Leon mengernyit, ia paham maksud istrinya. Namun kali ini Leon sengaja ingin menggodanya. Khansa nampak lucu jika malu-malu seperti itu.
"Pengen apa?" tanya Leon balik menahan tawa.
"Ah yaudah, tidurlah!" Khansa berbalik membelakangi Leon. Ia menyesal bertanya seperti itu.
Leon membalikkan tubuh Khansa, "Sa, kalau kamu pengen bilang aja. Kenapa malu-malu gitu sih?" ucap Leon terkekeh.
Khansa mengerutkan bibirnya, ia menunduk semakin malu. Leon segera menaikkan dagu Khansa dan menyambar bibir manisnya. Hingga terjadilah malam panas seperti sebelum-sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pukul 10 pagi, Khansa dan Leon sudah mendarat di Palembang. Gerry sudah stand by sedari tadi untuk menjemput atasannya itu. Buru-buru ia membukakan pintu mobil saat Leon dan Khansa mendekat.
"Mau pulang ke mana?" tanya Leon ketika mobil sudah bersiap untuk melaju.
"Ke rumah sakit, aku harus bertemu dengannya," ucap Khansa dengan tatapan memohon.
"Ke rumah sakit, Ger!" tegas Leon.
"Baik, Tuan!" angguk sang asisten dengan patuh.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Leon meremas jemari Khansa untuk memberikan kekuatan pada perempuan itu. Khansa menoleh, "Aku nggak apa-apa," ucapnya dengan pelan sembari tersenyum.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di rumah sakit. Khansa bertemu dengan salah satu dokter untuk meminta hasil tes DNA terlebih dahulu. Sempat membacanya sejenak, kemudian menuju ruangan di mana Fauzan berada.
Ada beberapa polisi yang berjaga. Mereka tidak mengizinkan siapa pun bertemu dengan pria itu. Setelah Leon menjelaskan, akhirnya Khansa diberi waktu maximal 20 menit untuk berbicara dengannya.
Khansa menjulurkan tangannya untuk membuka handel pintu. Tatapannya datar saat manik matanya saling beradu dengan Fauzan. Selangkah demi selangkah, Khansa semakin mengikis jarak di antara mereka.
Tangan Khansa meraih pisau buah yang ada di atas nakas. Lalu kembali berjalan dan semakin dekat dengan pisau di tangannya. Fauzan membulatkan kedua matanya. Wajahnya mendadak pias.
"Kha ... Khansa! A ... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Fauzan melebarkan mata dengan jantung yang berdentum kuat.
Khansa tak menjawab, tatapannya masih datar. Hingga langkahnya terhenti tepat di hadapan Fauzan. Matanya menelisik pria itu dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Lalu, ia menodongkan pisau itu tepat di hadapan Fauzan.
"Ja ... jauhkan pisau itu, Sa!" pintanya terbata-bata.
Bersambung~
Mon maap kalo ada typo ya... Karena udah ngantuk...wkkwk...
BTW keuwuwan Flyboarding bisa liat di IG @sensen_se ya. bikin anuu 🤧