Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 57. Gara-gara Susan


Khansa kembali merasakan gemuruh di dadanya. Baru saja mau percaya, tak berselang lama ia mendengar suara wanita yang genit dan menggoda. Bahkan Leon menyuruhnya datang ke tempat itu juga.


“Yang mana?” tanya Leon pura-pura lugu.


Melihat wajah Leon yang sok polos namun terlihat semakin imut itu justru semakin membuat Khansa meradang. Ingin sekali menampol wajah tampan di depannya itu.


Khansa menyeringai dingin, kedua tangannya sudah terkepal kuat di atas meja. “Kamu menyuruh wanita simpananmu datang ke sini?” Khansa menggelengkan kepala lalu tertawa sumbang.


Gadis itu beranjak berdiri, berjalan mendekat pada jendela sambil melipat kedua lengannya di dada. Leon mengernyitkan alisnya bingung.


“Oh, barusan?” Leon membulatkan bibirnya. Ia pun menyusul sang istri yang berdiri di samping jendela. Kedua tanganya masuk ke saku celana. Bibirnya menyungging senyum tipis. Khansa melirik bayangannya pada pantulan cermin di depannya.


Wajah perempuan itu semakin masam saja. Tatapannya yang tajam menghunus jantung siapa pun yang melihatnya.


“Aku nelepon Gerry,” jelas Leon dengan santai.


Khansa memutar tubuhnya, ia berkacak pinggang. “Jadi Gerry perempuan?” pekiknya melotot tajam.


“Hah? Apa?” Leon terkejut, bahkan sampai mengerjapkan mata berulang kali. “Sejak kapan Gerry jadi perempuan, Sa? Kamu ada-ada saja, haha!” Leon tertawa terpingkal-pingkal.


Khansa berdecak sebal. Pria di depannya itu memang benar-benar menyebalkan. Ia menyebikkan bibir lalu kembali memutar tubuhnya. Memalingkan muka dari sang suami.


“Tadi aku denger sendiri kok itu suara perempuan, genit lagi!” sahut Khansa mencelos.


Leon menepuk bahu Khansa, namun gadis itu segera bergeser hingga tangan Leon terlepas. Leon menahan tawanya agar tidak kembali menyembur. Sungguh menggemaskan sekali wanita di depannya ini kalau sedang merajuk.


“Nggak usah sentuh-sentuh!” geram Khansa memicingkan mata. Leon maju selangkah menyamakan titik berdirinya Khansa, kepalanya sedikit menunduk, karena tubuhnya jauh lebih tinggi dari Khansa.


“Itu Susan tadi yang bicara,” ucap Leon membuat Khansa menganga. Kedua bola matanya membulat sempurna.


“Jadi bener dia simpananmu?” pekik Khansa memukul bahu Leon. Matanya mengkilat tajam saat menatap Leon.


Pria itu mengernyit bingung, tidak mengerti maksud ucapan Khansa. Helaan napas panjang ia hembuskan. Berpikir sejenak kenapa Khansa bisa berucap seperti itu.


“Mana ada simpanan, Sasa? Eh tapi, bener sih aku memang banyak simpanan bahkan di luar kota juga cukup banyak.” Leon diam sebentar untuk melihat perubahan wajah Khansa.


Benar saja, tubuh Khansa menegang, bahkan terdengar sangat keras saat ia menelan saliva, tenggorokannya tercekat. ‘Semua laki-laki sama saja!’ batinnya penuh sesal.


Menyesalkan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan perasaan yang muncul pada Leon. Tidak bisa mengendalikan hatinya yang terpaut pada pria itu. Karena ia tidak siap terluka lagi. Ia tidak siap jika suatu hari akan hancur kembali.


Satu tangannya mengepal dengan kuat, lalu menopangnya pada dinding di depannya. Napasnya sudah memburu. Leon mengulum bibirnya kuat-kuat. Lalu meraih kedua bahu Khansa, memutar untuk menghadapnya.


“Kamu tahu, simpananku tidak akan habis sampai tujuh turunan. Uang, emas, perusahaan, saham, tanah, bangunan dan masih banyak aset-aset lainnya yang jadi simpananku,” tutur Leon menggoda Khansa.


Tubuh Khansa melemas, ia mengembuskan napas lega sekaligus kesal. Bibirnya tertahan untuk tidak tersenyum. Rasanya malu sekali.


Leon memiringkan kepalanya, menikmati wajah Khansa yang memerah seperti tomat. Dia tahu istrinya yang polos itu pasti akan berpikir hal lain.


“Jadi … kamu cemburu dengan semua simpananku itu? Kamu tahu? Kalau nggak ada itu semua, aku tidak akan menikmati kehidupan seperti ini.”


Khansa terdiam, mengiyakan ucapan itu. Namun menurutnya ini hanya alibi untuk mengalihkan perhatiannya terhadap Susan.


“Ck!” Khansa berdecak sembari melangkah menuju ranjang. “Mengalihkan pembicaraan berarti membenarkan dugaan!” cebiknya mendudukkan diri di atas ranjang.


Leon terkekeh tanpa suara saat gadis itu sudah memunggunginya. Ia pun mengekori Khansa yang masih menggerutu.


“Ya siapa lagi? Dari tadi dia yang aku tanyain, kamu malah muter-muter nggak jelas gitu. Artinya kamu memang mengiyakan kalau Susan itu wanita simpanan. Mana ada bawahan berani masuk ke kamar presdir bahkan sampai berani menyentuh barang pribadi atasannya kalau tidak ada sesuatu antara kalian berdua?!” sembur Khansa hampir tak berjeda.


Fluktuasi hormon estrogen saat menstruasi sangat mempengaruhi mood swing Khansa saat ini. Perasaannya sangat sensitif.


“Cemburu?” goda Leon merapatkan duduknya.


Namun Khansa segera bergeser menjauh dari Leon dengan mata memicing tajam.


“Dari tadi marah-marah mulu,” ucap Leon menyeringai.


“Enggak! Aku kan cuma nanya aja! Nggak usah Ge-er!” elak Khansa.


“Udah ketahuan masih nggak mau ngaku juga?” sanggah Leon menimpali.


Khansa masih mengelak dengan tegas bahwa ia sama sekali tidak cemburu. Hanya saja … ah dadanya memang bergemuruh saat mengatakannya. Namun, ia juga malu mengakuinya karena Leon pasti akan semakin besar kepala.


“Jujurlah Nyonya Sebastian, kalau kamu sedang cemburu,” goda Leon lagi sembari membungkuk, kepalanya menjulur di hadapan Khansa.


Tidak tahan digoda seperti itu, Khansa mendorong kedua bahu Leon. “Dibilang enggak ya enggak!” sentak Khansa dengan ketus.


Leon terpundur, lalu menekan kedua bahu Khansa hingga membentur headboard kasur. Sepasang mata elangnya menatap dengan tajam. Khansa sedikit tersentak saat punggungnya terantuk sandaran empuk itu secara tiba-tiba. Matanya menunduk, tidak berani menatap Leon dengan jantung yang berdegub hebat.


Pandangan Leon dipenuhi aura dingin yang menusuk, Leon memaksa Khansa bertatapan dengannya, satu tangannya mencubit dagu Khansa lalu menaikkannya agar pandangan mereka saling beradu.


“Kamu sungguh keras kepala Nyonya Sebastian. Apa beratnya coba mengakui kalau kamu cemburu, hm?” ucap Leon dengan nada pelan namun ada penekanan setiap katanya.


Khansa hanya menelan ludah saat menatap wajah tampan di depannya itu. Tubuhnya terpaku serasa susah digerakkan, saat tiba-tiba diterjang Leon dan memeluknya erat.


“Tidurlah, bukannya semalaman kamu belum beristirahat? Beberapa hari ini juga kamu kelelahan menjaga Bibi Fida,” ucap Leon mengeratkan pelukannya, menghirup aroma wangi yang menguar di indera penciumannya.


“Kamu selalu buntutin aku ya?” tanya Khansa bingung. Padahal Leon tidak ada di sampingnya, tapi pria itu tahu kegiatannya.


“Enggak, sudah kubilang, mataku banyak,” tegas Leon.


Leon menyipitkan mata dan memandang Khansa yang ada di pelukannya ini, menatap bulu mata yang lentik, hidung yang mancung. Khansa selalu membuat hati Leon penasaran. Tegas namun polos saat bersamanya. Dua sisi berbeda yang terlihat menggemaskan.


“Ayo tidur, atau mau aku tiduri?” goda Leon tersenyum nakal.


Khansa melepas pelukan itu, menatap jengah senyuman Leon yang membuatnya merinding.


“Dasar tuan muda mesum!?” Khansa memukul-mukul dada Leon.


Leon menangkap kedua pergelangan tangan Khansa, “Kamu harusnya seneng dong aku tiduri. Banyak loh perempuan yang berlomba-lomba ingin tidur bersamaku,” ucap Leon menaik turunkan kedua alisnya.


“Enggak! Sana pergi!” sentak Khansa.


Wajahnya semakin memerah. Ia mendorong Leon dan membanting tubuhnya di ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Leon terkekeh geli melihatnya. Ia tidak  menghibur Khansa dan sungguh pergi dari sana.


Bersambung~