Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 61. Aku Bercanda


“Hai, Kak Hendra. Apa kabar?” tanya Khansa basa-basi, ia berucap dengan manis. Khansa maju beberapa langkah semakin dekat dengan pria itu menyisakan jarak sekitar satu meter.


Kedua manik indah Khansa, terus mengarah pada Hendra. Pria itu mengangkat sebelah alisnya saat melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Khansa.


Jihan yang merasa tatapan Khansa berbeda segera berpindah tempat, beralih tepat di hadapan Khansa.


“Kak Hendra, bukankah kamu mengatakan masih menginginkanku? Dan kamu ingin kembali padaku? Aku mau loh kembali sama kamu.” Khansa berucap lembut namun terasa mengoyak hati Jihan.


“Apa-apaan kamu Khansa? Jangan bicara omong kosong!” pekik Jihan yang sudah meradang. Sedangkan Hendra merasakan sekujur tubuhnya menegang, dengan detak jantung yang semakin berpacu kuat.


“Heh! Bener-bener jalangg kamu ya, Sa! Tega-teganya mau merebut kekasih adikmu! Ternyata punya banyak simpanan tidak cukup bagimu. Sekarang malah ingin menjadi milik Hendra! Dasar tidak tahu malu! Kamu ingin menghancurkan pesta pertunangan Jihan!” berang Maharani melotot tajam.


Khansa menyandarkan bokongnya di meja. Senyum terbit di balik cadar, ia menunduk sejenak lalu kembali menatap Hendra, tidak mempedulikan ucapan Maharani. Ia sudah cukup kebal dengan cibiran wanita paruh baya itu.


“Jihan, aku tidak bicara omong kosong. Aku datang ke sini sini memang berniat merebut Hendra dari tanganmu!” tegas Khansa menajamkan matanya saat menatap Jihan.


Jihan membelalakkan kedua bola matanya. “Kamu gila ya, Sa! Kak Hendra itu milik aku. Berani-beraninya kamu mau merebutnya!” jerit Jihan mendorong bahu Khansa.


Sedangkan Khansa sedikit terhuyung namun tidak sampai terjatuh, karena keseimbangannya cukup bagus. Ia menepis bahu bekas tangan Jihan, seolah sedang membersihkan kotoran.


“Kak Hendra, bukankah kemarin kamu sendiri yang mengatakannya? Kalau kamu ingin kembali bersamaku dan memulai semuanya dari awal ‘kan? Apa kamu lupa?” tantang Khansa menegakkan tubuhnya. Ia melipat lengannya di dada, sedang satu telunjuknya menyentuh dagu. “Emmm … udah aku ingetin nih kalau emang lupa. Dan di sini aku ingin mengatakan kalau aku bersedia, gimana Kak Hendra?” sambung Khansa penuh penekanan.


Gadis itu lalu meraih sebuah gelas berisi minuman warna-warni yang berjajar rapi di meja tamu. Ia meneguknya sedikit masih bersandar pada meja yang cukup besar.


“Beraninya kamu!” seru Jihan yang sudah diliputi emosi. Ia hendak menyerang Khansa namun keburu Hendra memajukan langkah dan semakin dekat dengan Khansa. Menghalangi langkah Jihan dengan tubuh kekarnya.


Semuanya terkejut saat melihat Khansa datang untuk merebut Hendra. Pria itu terhenyak dengan semua ucapan Khansa. Hendra sama sekali tidak menduga Khansa akan berkata seperti itu.


“Sa,” panggil Hendra berbinar. Ia menelan salivanya yang terasa cukup berat. Dadanya merasakan getaran yang hebat.


Khansa merapatkan bibirnya, menggoyangkan gelas yang tinggal setengah itu, namun pandangannya terarah pada iris hitam Hendra.


“A … apa benar yang kamu ucapkan tadi?” Hendra bertanya untuk memastikan.


Khansa mengedarkan pandangannya. Semua orang ikut tegang melihatnya. Banyak yang saling meremas tangan pasangan mereka, seolah merasakan posisi Jihan. Tawanya hampir meledak saat itu juga, namun hanya senyum seringai yang muncul dari bibir mungilnya. Dan tak ada seorang pun yang melihatnya.


“Sasa, apa kamu benar ingin kembali bersamaku?” ulang Hendra sekali lagi penuh harap.


Khansa memiringkan kepalanya, ia mencari tahu raut wajah Jihan saat ini di balik tubuh Hendra. Wajahnya tampak merah padam, matanya seolah menyorotkan tombak api yang siap dilepaskan, juga hampir menyemburkan air mata secara bersamaan.


“Aku … hanya bercanda,” jawab Khansa membuat semua orang menghela napas lega, setelah dibuat menahan napas oleh Khansa selama beberapa saat. Tubuh Hendra melemas, kedua kakinya hampir tidak bisa menopang tubuhnya kalau saja ia tidak segera menarik kesadarannya.


Khansa terkekeh geli melihat ketegangan di sekitarnya. Apalagi melihat wajah pucat Maharani dan putrinya. Ditambah, Hendra yang sedang menahan amarahnya.


“Iya, kupikir beneran. Astaga,” gumam yang lainnya.


Khansa tersenyum puas, “Jihan ... Jihan, tenang saja. Aku tidak akan pernah mau menjilat ludah sendiri. Barang yang sudah kubuang, tidak akan pernah aku pungut kembali. Apalagi kalau kamu sudah memungutnya, ah rasanya semakin enggan. Bahkan sekedar untuk melihat pun rasanya malas.” Khansa menyindir Jihan yang hampir menangis itu.


Jihan sudah tidak mampu  menahan emosinya. Ia berdiri sejajar dengan Hendra, mengacungkan telunjuknya pada Khansa. “Kau! Dasar mulut besar!” pekiknya.


“Nggak masalah. Daripada mulut sampah sepertimu!” ujar Khansa menyerang balik. Namun tetap calm down tanpa emosi yang menguar. Meski begitu, ucapannya begitu tajam menyayat hati Jihan.


Suasana menjadi sangat canggung. Semua tamu bahkan terdiam menyaksikan perseteruan dua saudara itu. Lebih tepatnya saudara tiri.


Untuk memecah kecanggungan yang semakin terasa, Fauzan turut mendekat. “Mmm …  sepertinya sudah waktunya acara dimulai,” seru pria tua namun masih gagah itu, sembari menatap jam di pergelangan tangannya.


Tepuk tangan yang bergemuruh mencairkan suasana. Hendra mendengkus kesal, ia membuang pandangannya ke samping mencoba menghilangkan bayangan Khansa dari otaknya.


Jihan pun mencoba menarik kedua sudut bibirnya yang terasa kaku, sambil merapikan anak rambutnya. Tubuhnya yang sempat tegang itu, sedikit demi sedikit kembali normal.


Hendra mundur selangkah, memutar tubuhnya tepat menghadap Jihan. Pandangannya sempat beradu. Ia melihat binar kebahagiaan di mata wanita itu. Senyum tidak pernah pudar dari bibir merahnya.


Fauzan melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di samping Khansa. Matanya memicing  dengan kejam. “Khansa! Jangan berbuat onar dan berusaha mengacaukan acara ini!” ujarnya dengan nada pelan namun penuh penekanan.


Tak sedikit pun ada keinginan Khansa untuk menoleh. “Cih! Punya hak apa ayah melarangku? Bukankah ayah tidak pernah peduli denganku? Sekarang terserah aku dong mau berbuat apa,” balasnya menatap lurus ke depan.


“Berani kamu!” Fauzan menekankan kata-katanya dengan geram.


“Sejak ayah membuangku, sejak saat itu pula aku sudah kehilangan rasa takutku! Ayah sendiri yang membuatku seperti ini!” tekan Khansa melirik tajam dengan ekor matanya. “Tidak akan ada asap, jika tidak ada api!” lanjutnya penuh penekanan.


Pandangannya mengarah ke depan di mana saat ini Hendra berlutut di hadapan Jihan di atas karpet merah yang membentang di area luas itu. Fauzan hanya bisa menggertakkan giginya, saat terdengar kembali riuhnya tepuk tangan orang-orang yang memusatkan perhatian mereka pada pasangan itu.


Hendra menunduk sejenak, meraih kotak beludru berwarna merah, dengan cincin berlian yang berkilau di mata semua orang. Pada akhirnya Jihan adalah tokoh utama di acara pertunangan yang indah ini.


‘Bagaimanapun aku harus menjadi nyonya keluarga Ugraha. Barulah bisa memiliki cara untuk memberi pelajaran pada Khansa setelah menikah dengan Kak Hendra!’ gumam Jihan dalam hati.


Bersambung~


 


Haiii haii... aku baru kembali bawa 5 bab. maap lama ya. nunggu titisan dari editor baru dapet tadi malem. aku kebut semaleman biar bisa up hari ini. Mata udah lengket banget 🥱 bayarnya pake like komeng aja cukup. apalagi ditambah kopi sama bunga dan vote.. lope deh sekebon cabe 🥰😘🌶🌶


Kalian buka tutup apk berapa kali 😄😄 aku juga sama buka tutup email dari editor...wkwkwk


semoga gak ada typo ya. aku lgsg up dulu. revisi pelan-pelan sambil jalan. makasihh yang slalu nungguin 😘