
Khansa melangkah dengan anggun, namun pandangannya menunduk merapikan bajunya. "Emily, aku ke toilet dulu ya. Tungguin bentar," pamit Khansa melenggang pergi.
Sebelum turun dari mobil, Emily mengenakan masker dan kacamata hitam juga topi yang menggulung rambutnya. Ia tidak ingin dikeroyok fans saat memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
Sebuah tanktop hitam dilapisi kemeja kebesaran yang tidak dikancingkan membalut tubuhnya, apa pun yang dikenakan oleh gadis itu tetap terlihat fashionable.
Emily berjalan ke arah Yenny yang sedang memilih pakaian di sebuah stand kemeja. Ia sengaja menabrak bahu Yenny dengan keras hingga tubuh Yenny tergeser.
"Aww! Apa-apaan sih?" jerit Yenny melotot tajam sembari memegang sebelahnya.
"Oopss sorry, sengaja!" ucap Emily dengan suara indahnya namun bernada sinis.
"Kamu punya masalah apa sama saya?" seru Yenny mengamati penampilan wanita di depannya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Emily berjalan mendekat hingga tepat berdiri di hadapan Yenny. Tiba-tiba tangan Emily menjulur dan mencengkeram baju di dada Yenny. "Salah besar karena lu lahir ke dunia ini. Apalagi untuk menjadi ratu drama dan mencari simpati sama orang-orang!" kecam Emily penuh penekanan.
"Lepasin! Apa-apaan sih ini! Siapa kamu?!"" Yenny mencoba melepaskan cengkeraman tangan Emily namun tidak bisa, karena Emily mengerahkan seluruh tenaganya. Giginya terdengar bergemeluk dan menampilkan senyum seringai.
Jihan yang melihat kakaknya tiba-tiba diserang berlari menghampiri. "Kakak!" teriaknya dengan langkah panjang menjambak topi yang dikenakan Emily hingga terlepas.
Kemudian Jihan menarik kedua bahu Emily lalu membantingnya ke belakang. Sepasang tangan lebar menangkap tubuh Emily hingga membentur dada bidangnya. Pandangan Emily mendongak, menatap wajah tampan berkacamata dengan bingkai warna emas.
Mata cantiknya mengerjap dengan lembut di balik kaca mata hitamnya. Gemuruh dalam dadanya sudah seperti genderang mau perang. Keduanya sama-sama terpaku dengan posisi masih sama, pria itu seolah memeluk tubuh ramping Emily.
"Han! Ngapain lu?" Sebuah suara diiringi tepukan di bahunya membuat sepasang manusia itu tersadar.
Emily bergegas menegakkan tubuhnya sembari mengambil topi yang sempat dibuang oleh Jihan. Namun, keningnya berbenturan cukup keras dengan Hansen yang juga hendak memungut topi tersebut.
"Aw!" desis Emily mengusap keningnya yang memerah.
"Maaf! Ini," Hansen mengulurkan tangan dan menyerahkan topi tersebut.
Tanpa sadar, mereka telah dikelilingi oleh para pengunjung mall tersebut karena teriakan Jihan. Beberapa dari mereka ada yang mengabadikan momen jatuhnya Emily di pelukan Hansen.
"Emily," panggil Khansa mempercepat langkahnya saat melihat gadis itu berhadapan dengan Jihan dan Yenny yang menatap penuh amarah pada Emily.
"Nggak apa-apa, terima kasih Tuan Hansen," ucap Emily dengan suara merdunya.
"Kayak kenal suaranya," gumam Simon yang berada di sebelah Hansen.
Mereka berdua tidak sengaja melalui lorong di mana Emily berdiri, saat usai menghadiri pertemuan dengan klien. Refleks Hansen menangkap tubuh gadis itu saat hampir terjengkang ke belakang.
"Emily, kau tidak apa-apa?" tanya Khansa sedikit tersengal menyentuh kedua bahu Emily dan memeriksa sekujur tubuhnya.
"Oh! Jadi ini si anak pungut!" teriak Jihan menantang. "Pantes ya, anak pungut memang cocok bergaul sama anak kampung!" sambungnya menatap Khansa dan Emily dengan jumawa.
Emily tidak terima, ia hendak menerjang Jihan. Kedua tangannya sudah mengepal dengan kuat. Matanya menatap nyalang penuh amarah. Kakinya melangkah panjang. Namun dengan cepat Khansa menahan lengan Emily.
"Tuh 'kan bener dugaanku. Suaranya nggak asing," Simon bergumam lagi.
"Emily," panggil Khansa pelan menggelengkan kepala.
Khansa mengedarkan pandangan. Banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Bahkan tak sedikit pula yang mengabadikan momen tersebut.
Emily turut mengedarkan pandangannya. Ia melakukan saran dari Khansa. Karena tujuannya adalah menghancurkan Keluarga Isvara, bukan menghancurkan karir sendiri. Setelah berulang kali menghela napas panjang, Emily bisa mengontrol emosinya.
"Kenapa nggak jadi? Takut ya? Hahaha! Kalian memang bukan level kami!" Jihan kembali mengompori.
"Cih! Bersenang-senanglah sebelum aku menjatuhkan bom atom tepat di kepala kalian!" geram Emily yang kembali merapikan rambutnya dan memakai topinya lagi.
"Ka ....! Aaaawww!" Simon hampir memanggil Khansa dengan sebutan kakak ipar seperti biasa. Khansa yang peka segera menginjak kaki Simon dengan sneakersnya.
"Tuan Simon, Tuan Hansen, senang berjumpa dengan Anda," ucap Khansa mengedipkan mata dengan senyuman di balik cadar.
Hansen mengerti, ia pun bersikap sewajarnya. Seolah memang sudah saling mengenal. Sedangkan Simon masih mendesis kesakitan. "Khansa, apa kabar?" tanyanya dengan suara dan gaya cool.
Yenny dan Jihan terperangah, saat melihat Khansa bercengkerama dengan Tuan Muda konglomerat di Kota Palembang. Mereka saling menatap satu sama lain sembari mengendikkan kedua bahu bersamaan.
"Baik, Tuan. Kami permisi dulu, mari." Khansa menarik lengan Emily untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Oh, hati-hati," ucap Hansen mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Kakak...! Aaassssyemmm!" Simon kembali memekik karena mendapat sikutan dari Hansen. "Han, lu apa-apaan!" gerutunya menekan perut yang terkena sikutan Hansen.
Mata Emily menangkap manik Hansen yang mengikuti gerakannya. Senyuman tipis masih tersungging di bibir, menambah ketampanan pria berkacamata itu.
"Ayo Emily," gumam Khansa menarik lengan gadis itu. Tidak tahu saja jika saat ini, organ di dadanya serasa ingin keluar dari sarangnya.
Saat punggung kedua gadis itu menghilang dari pandangan Hansen, pria itu merangkul Simon dan bergegas pergi. Tak lupa Hansen juga menghadiahkan sentilan di kening Simon yang suka ceplas ceplos di setiap tempat.
"Sumpah sakit, Han. Gila, tega banget kamu aniaya aku di depan para gadis. Kadar ketampananku berkurang nih jadinya. Lepas weh, bisa jalan sendiri aku. Sakit nih leher," gerutu Simon melepas lilitan lengan Hansen.
"Ya abisnya kamu hampir keceplosan manggil Kakak ipar. Jangan kayak gitu lain kali. Kecuali kalau mereka sudah mempublishnya sendiri. Hargai privasi mereka," ucap Hansen membuat Simon mengangguk paham.
Sementara itu, Emily menggerutu kesal. Bahkan ketika di mobil, ia langsung memukul-mukul setir mobil. Membayangkan seolah-olah itu adalah Jihan.
"Aaarrggh! Sumpah ingin kucakar-cakar, kutendang mukanya si Jihan yang mulutnya kek mercon, sama Yenny yang sok kalem itu! Kesel! Kesel!" teriak Emily menghentakkan tangannya.
"Tenanglah Emily, bersabarlah sebentar lagi. Ah, di rumah sakit emaknya pasti sendirian nih. Aku yakin Fauzan nggak akan mungkin mau menunggui istrinya itu. Kita eksekusi ke sana aja dulu!" ucap Khansa menaik turunkan kedua alisnya.
Emily langsung berbinar, ia menjentikkan jemarinya lalu segera melajukan mobil dan keluar dari pelataran mall tersebut. "Target pertama telah dibidik!" ucap Emily tersenyum mengerikan.
Bersambung~
Cepet banget 200nya ðŸ˜ðŸ˜ oke makasih usahanya yaa... meskipun ada yang ngebom komeng juga...wkwkwk... maap kalo ada typo..
kali ini kalau tembus 500 komentar bakal up lagi hari ini juga. Kalau enggak yaa besok aja. Biar napas dulu.. hahaha...
😌 : Biarin gw seneng dikit dong, Bambang! Kan namanya juga usaha.... 🤣🤣
Sabar ya tolong, konfliknya biar dikelarin pelan-pelan, biar berasa. Kalau cepet cepet berarti bukan novel, tapi cerpen 😊