Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 183. Mood Swing


Tiba-tiba Khansa tersentak kaget karena teringat sesuatu. Ia menahan dada Leon yang tampak naik turun dengan cepat. Mata gadis itu mengerjap dengan kasar.


"Tu ... tunggu!" sergah Khansa.


Leon mengernyitkan alisnya, "Kenapa?" tanyanya terkejut. Raut kecewa nampak sekali menghiasi wajah tampan pria itu.


Sepasang manik indah Khansa melebar, kepanikan kian melanda hatinya, "Bibi Fida! Aku mengunci Bibi Fida sejak tadi! Berapa lama aku tidur? Terus gimana dengan Hendra? Kok kamu bisa ada di sini?" cecar Khansa yang baru kembali sadar sepenuhnya. Matanya mencari penunjuk waktu yang ada di kamar tersebut.


"Ini aku jawab yang mana sih?" desah Leon disertai embusan napas kasar. Tangannya menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal. Kepalanya juga mulai berdenyut.


Khansa memutuskan kontak mata mereka. Kemudian ia segera bangkit, membenarkan gaun dan cadarnya lalu bergegas keluar dari kamarnya. Leon menendang-nendang udara, kesal karena harus dipaksa menahannya.


"Huuft!" Pria itu akhirnya ikut turun dan keluar mengikuti sang istri meski hatinya gusar.


"Sayang pelan-pelan! Kau bisa menyakitinya!" teriak Leon saat melihat Khansa ceroboh berlarian menuruni tangga.


Seketika langkahnya terhenti. Lengannya refleks berpegangan pada relling tangga, ia lupa kalau saat ini sedang mengandung. Kepalanya menoleh dan tersenyum pada suami yang menuruni tangga dengan langkah tegasnya.


"Lupa, hehe," cetus Khansa meraba perutnya.


Leon menyambar tangan Khansa, menautkan jari-jarinya dan menggenggamnya kuat. Kehangatan pun mulai menjalar di telapak tangan Khansa. Leon menoleh, tatapan penuh cinta ia pancarkan pada sorot mata sendu milik wanita itu. Senyum khas tersungging di bibir pria itu. Langkah kaki keduanya serentak menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan.


Sesampainya di depan kamar, Khansa segera membuka laci dan meraih kuncinya. Ia menunjukkannya pada Leon. Pria itu langsung menyambarnya dan segera membuka pintu kamar.


"Bibi!" seru Khansa melepas tautan tangannya dengan Leon.


Dia segera menghambur ke pelukan Bibi Fida yang menangis karena ketakutan. Matanya memerah juga sembab, khawatir terjadi sesuatu dengan Khansa ketika mendengar suara tembakan. Leon bersandar di tepian pintu, kakinya menyilang dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Memperhatikan interaksi kedua wanita itu.


"Non, Non Sasa baik-baik saja? Bibi takut sekali, tadi sempat mendengar suara tembakan. Apa yang terjadi, Non?" cecar Bibi Fida menangkup kedua pipi Khansa, beralih pada seluruh tubuhnya. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.


Khansa mengalihkan pandangan pada sang suami untuk meminta jawaban. Karena ia sendiri pun tidak mengerti apa yang terjadi. Leon masuk ke ruangan tersebut sembari bercerita mengenai apa yang terjadi tadi dengan runtut. Juga, kejadian naas yang harus Hendra karena kenekatannya.


"Lalu itu cairan apa, Tuan. Apakah berbahaya untuk Non Sasa dan bayinya?" seru Bibi Fida penuh kekhawatiran setelah Leon selesai bercerita tanpa ada yang menyela. Khansa pun mendengarkan dengan seksama.


"Dokter mengatakan itu obat tidur dosis tinggi, tapi Sasa punya antibodi yang kuat, Bi. Semua baik-baik saja," terang Leon merunduk tepat di depan wajah Khansa sembari membelai kepalanya.


Bisa dipastikan wajah Khansa memerah, Leon kembali menegakkan tubuhnya, menyandarkan kepala Khansa pada perut sixpack nya. Bibi Fida yang melihatnya ikut terharu dengan perlakuan Leon. "Syukurlah, kalau Non Sasa dan bayinya baik-baik saja."


"Dia memang selalu luar biasa, Bi," sahut Leon menatapnya bangga.


Khansa teringat jimat yang diberikan oleh nenek, ia menggenggam liontin merah yang menggantung di lehernya, "Semua karena doa nenek. Beliau juga rajin membuatkan aku minuman rempah yang katanya bagus buat kekebalan tubuh," ujar Khansa menatap Leon dan Bibi Fida bergantian sembari tersenyum lembut.


"Maaf ya, Bi. Sasa terpaksa kunci Bibi. Takut diapa-apain sama Hendra," aku Khansa menggenggam lengan Bibi Fida.


"Nggak apa-apa, Non. Yang penting semuanya baik-baik saja.


Sebelum hari semakin menggelap, Khansa berpamitan pulang ke Villa Anggrek. Karena ia sudah berjanji pulang pada sore hari. Sebelum pulang, ia memastikan para pelayan untuk membantu Bibi Fida yang masih dalam masa pemulihan. Dan melarangnya beraktivitas sampai benar-benar dinyatakan sembuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam semakin menanjak, Khansa merasa gelisah di atas ranjangnya. Ia terus berguling mencari posisi yang nyaman. Namun tak jua mendapatkannya.


"Haah! Kenapa sih sering ngilang sampai tengan malam!" gerutu Khansa mendudukkan tubuhnya.


Ia meraih ponsel, asik berselancar di media sosial untuk mengalihkan kejengkelan. Keningnya mengernyit saat melihat sebuah tempat wisata yang baru saja dibuka beberapa hari yang lalu.


"Bukankah ini?" tanyanya penasaran.


Khansa semakin menyelami tempat wisata tersebut. Selain itu juga terdapat resort dan tempat hiburan. Matanya terus bergerak membaca artikel yang tertulis, menerangkan detail lokasi tersebut.


Tentu saja, karena tempat wisata baru itu adalah tempat di mana dia dipaksa tumbuh dewasa oleh keadaan, tempat di mana dia harus merasakan pahitnya kehidupan sejak usia dini.


Khansa yang terlalu fokus dengan ponselnya, tidak menyadari kedatangan Leon. Pria itu menutup pintu perlahan, tak lupa menautkan kuncinya. Leon cukup terkejut saat melihat Khansa yang terbangun, karena ia melanjutkan pekerjaan ketika wanita itu sudah lelap dalam tidurnya. Matanya melirik ke dinding, waktu menunjukkan pukul satu dini hari.


"Sayang, kenapa bangun?" tanya Leon mendaratkan tubuhnya di ruang kosong sebelah Khansa.


"Ditinggal sih!" gerutunya mencebikkan bibir, namun matanya tak beralih dari layar ponsel. Ia masih serius memperhatikan benda itu.


"Yaudah, ayo tidur lagi. Kemarin ada pekerjaan yang belum selesai. Maaf ya!" ucapnya lembut.


Tidak ada pergerakan dari istrinya. Leon mengira Khansa merajuk, wanita itu sama sekali tidak menoleh padanya. Leon mendengkus sebal, ia merebut ponsel yang sudah membuat Khansa berpaling darinya.


"Aaa Leon balikin!" seru Khansa mencoba meraihnya.


"Enggak! Tidur!" sentak Leon dengan tegas menyembunyikan ponsel Khansa di balik punggung.


Bibir Khansa terkatup rapat, matanya enggan berkedip. Menatap nanar pria yang merupakan suaminya itu. Melihat buliran bening yang hampir menetes dari manik Khansa, Leon segera menyergap tubuh mungil perempuan itu. Mendekapnya erat, "Maaf! Aku cuma ingin kamu istirahat yang cukup." Leon memelankan suara sambil membelai rambut panjang Khansa.


Terbawa suasana saja, mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, membuatnya mudah baper. Leon tidak mengerti bagaimana cara menenangkan istrinya. Mereka terdiam cukup lama.


"Aku nggak sengaja lihat berita di media. Desa yang aku tempati dulu sekarang udah berubah jadi tempat wisata. Aku coba cari tahu kemana pindahnya warga desa dulu." Khansa bersuara lirih setelah sekian lama menenangkan diri.


Leon menarik tubuhnya ke belakang, menatap Khansa yang wajahnya basah karena air mata. Hal itu membuat dadanya sesak. Jemarinya mengusap kedua pipi mulus Khansa dengan lembut.


"Gerry sudah mengantongi informasinya. Kamu mau ke sana?" tawar Leon memainkan rambut panjang Khansa.


"Benarkah?" tanya Khansa tidak percaya. Leon hanya mengangguk. "Kok bisa?" pekiknya penasaran.


"Hmmm ... dulu aku pernah menyelidikinya waktu mau cari kamu. Eh ternyata sampai sana sudah ada proyek pembangunan tempat wisata itu. Terus aku menyuruh Gerry untuk melacaknya," jelas Leon.


"Oh iya? Kok aku nggak tau. Kapan itu?"


Khansa semakin antusias ingin mendengarnya. Ia menegakkan punggung dengan duduk bersila tepat di hadapan Leon. Leon mendecih saat melihat istrinya mudah berubah. Ia pun mencubit hidung mancung Khansa dengan gemas, bahkan sampai memerah.


"Iih iseng banget sih!" sungut Khansa menepis lengan Leon.


Pria itu terkekeh, ia pun menceritakan perjalanannya sewaktu pergi ke desa saat mencari tahu siapa sebenarnya wanita penolongnya. Karena memang sedari awal ia tidak terlalu bersinggungan dengan Yenny, yang waktu itu memegang batu giok pemberiannya.


Kemunculan Khansa di kehidupannya membangun keraguan di benak Leon, hingga akhirnya ia pun mencari tahu kebenarannya sebelum semuanya terungkap.


Khansa mengangguk-angguk, namun malas melanjutkan percakapan. Ia sendiri bingung kenapa bisa batu itu jatuh di tangan Yenny. Melihat perubahan raut wajah Khansa, Leon pun mengakhirinya.


"Sudahlah, yang penting sekarang aku sudah menemukan malaikat penolongku. Takdir selalu berusaha menyatukan kita!" gumam Leon menaikkan dagu Khansa, agar keduanya saling bersitatap.


"Boleh ke sana nggak? Aku pengen ketemu orang-orang baik yang dulu membantuku, sekalian liburan. Sepertinya di sana indah banget, bebas polusi. Bagus juga buat proses penyembuhan kamu karena situasi yang tenang dan jauh dari keramaian," papar Khansa menyebutkan keinginannya.


"Mmm ... itu ...."


Khansa melihat raut wajah Leon yang berubah sendu. Perempuan itu mengernyitkan alisnya. Dalam hati bertanya-tanya, bukankah tadi menawarkan diri untuk ke sana? Kenapa tiba-tiba berubah seperti keberatan?


Bersambung~



😆😆 Sabar weeeeh sabar 🤏 dah di ubun2 ya 🤣 pusing nggak? pusing nggak? pusing lah masa enggak! wkwkwkwk


Mas Le; Rese banget sih lu!