
Gelap, lampu utama ruangan tersebut tidak dinyalakan. Khansa mengedarkan pandangannya hingga tertuju pada cahaya laptop yang membias pada wajah tampan suaminya.
"Sasa!" panggil Leon memiringkan kepala, melihat wanita itu di ambang pintu.
"Kok gelap-gelapan sih, kenapa nggak dinyalain lampunya?" tanya Khansa melangkah sembari meraba di depannya takut terbentur sesuatu.
Leon tidak bisa menghentikan monitor di layar laptopnya, ia menatap Khansa dan layar itu bergantian. Takut jika Khansa tersandung sesuatu.
"Sini, Sayang!" Leon memundurkan kursi kerjanya, merentangkan kedua tangannya.
Khansa langsung duduk di pangkuan Leon, melingkarkan lengannya di bahu sang suami. "Lagi ngapain sih sampai dini hari gini? Ingat sama kesehatan kamu, Leon. Jangan keseringan begadang," ucap Khansa menangkup kedua pipi Leon.
Pria itu tersenyum tipis karena perhatian Khansa. Leon mengecup kening Khansa lalu kembali merapatkan kursi pada mejanya. Pandangannya kembali fokus ke depan. Jemarinya juga sibuk bergerak dengan cepat di atas keyboard meski sedikit terganggu karena Khansa di pangkuannya. Namun bukan masalah besar, justru menyuntikkan semangat untuknya.
"Tidurlah lagi, aku harus memecahkan CCTV 10 tahun yang lalu. Semua tindakan kejahatan harus dicabut sampai akar-akarnya." Leon menarik kepala Khansa agar bersandar di dadanya.
"Lanjutin besok 'kan bisa, Leon. Lagian bawahan kamu 'kan banyak, kenapa harus kerja sendiri sekeras ini sih?" gerutu Khansa menarik kembali kepalanya untuk menatap wajah tampan suaminya.
Leon masih fokus pada layar laptopnya, "Siapa bilang aku kerja sendiri, Sayang. Kita kerja tim kok. Mana bisa aku tidur nyenyak kalau mereka saja kerja keras seperti ini? Bos yang baik itu bukan hanya asal tunjuk, tapi kerja keras bareng-bareng," ucapnya menangkup kedua pipi Khansa mengarahkannya pada sudut laptop.
Deg!
Kedua bola mata Khansa melebar dengan sempurna. Jantungnya hampir melompat dari sarangnya, saat melihat beberapa bawahan Leon yang terekam di layar. Mereka saling terhubung secara virtual.
Khansa segera melompat dari pangkuan Leon dan berjongkok di bawah. Kepalanya tenggelam di atas paha Leon. Ia sungguh merasa malu karena ternyata sedari tadi banyak yang memperhatikan mereka berdua.
"Leon! Kenapa nggak bilang sih!" gerutu Khansa menggigit paha Leon dengan gemas.
"Aw!" teriak Leon membungkuk merasakan ngilu pada pahanya.
"Sakit, Sayang. Aduh!" rintih Leon meringis sembari mengusap bekas gigitan Khansa.
Gerry yang sedari tadi berada di ruangan itu hanya menelan ludahnya. Sesekali ia melirik ke arah bosnya yang memang sangat berbeda jika sedang bersama istrinya itu. Mereka memang sengaja mematikan lampu agar bisa fokus dengan layar laptop masing-masing. Dan Khansa sama sekali tidak menyadari kehadiran Gerry di sana.
'Apes banget nasib gue!' gumam Gerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau lagi virtual meeting?" geram Khansa menengadahkan kepalanya.
"Udah aku matiin, Sayang. Mereka nggak akan lihat kita berdua. Kecuali ...."
"Kecuali apa?" tukas Khansa memotong dengan cepat.
Leon mengarahkan pandangannya ke seberang. Gerry pura-pura tidak mendengar atau melihatnya. Ia fokus dengan laptop di pangkuannya. "Kecuali Asisten Gerry," gumam Leon menyentuh tengkuknya.
Khansa semakin melebarkan kedua bola matanya. Mulutnya pun terbuka lebar. "Kenapa nggak ngasih tau dari tadi sih?" Khansa menangkup wajah dengan kedua tangannya.
"Dia nggak lihat kok. Sini duduk lagi," pinta Leon menepuk pahanya.
"Enggak mau lah, aku di sini aja. Kamu lanjutin aja kerjanya!" gerutu Khansa menyandarkan kepalanya pada kaki meja. Leon sesekali mengawasi software yang sedang berjalan sambung menyambung dengan anak buahnya.
"Iya, Nyonya. Saya nggak lihat, tenang saja," celetuk Gerry tanpa berani menatap ke arah bosnya.
Kedua tangan Khansa memegang tepi meja, kepalanya mendongak dan mengintip keberadaan Gerry yang memang samar-samar dalam pandangannya.
Khansa menepuk dahinya sambil menggeleng, sudah dipastikan wajahnya memanas saat ini. Ia kembali duduk di lantai memeluk kedua lututnya menyembunyikan wajahnya di sana.
Leon hanya tersenyum, mengusap puncak kepala Khansa dan melanjutkan lagi aktivitasnya. Beberapa saat kemudian, Khansa beranjak berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Leon menyentuh lengan Khansa.
Khansa berjalan cepat keluar ruangan. Tak berapa lama ia kembali dengan membawa nampan berisi tiga cangkir kopi. Ia meletakkan dua cangkir di meja kerja Leon, lalu beralih ke hadapan Gerry.
"Asisten Gerry, minumlah dulu," tawarnya.
"Terima kasih banyak, Nyonya. Maaf merepotkan," ujar Gerry menunduk tidak berani menatap istri bosnya itu.
"Sama-sama asisten Gerry, tidak perlu sungkan," balas Khansa lembut lalu berbalik dan duduk berseberangan dengan Leon.
Leon mengernyit sambil memiringkan kepala, "Kenapa untukku dua, Sa?"
Khansa mendekatkan salah satu cangkir ke hadapannya, "Satunya buat aku, hehe."
Leon tersenyum, "Doyan juga," gumamnya lalu menyesap kopinya sedikit dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Wajahnya nampak serius membuat kadar ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Khansa terus mengamatinya, enggan memalingkan pandangan dari sang suami. Sampai berubah-ubah posisi tetap saja ia kagum dengan suaminya itu.
"Kamu kalau capek tidur dulu aja, Sa!" ucap Leon setelah beberapa saat.
Tidak ada sahutan apa pun. Pandangannya beralih dari benda layar datar di depannya. Ia terkejut saat menemukan Khansa yang menopangkan kepala di atas meja dalam keadaan terpejam.
"Udah tidur?" gumamnya merasa bersalah.
Leon berdiri dari duduknya, ia berjalan menghampiri Gerry yang masih fokus. "Gerry, tepat jam tiga nanti akhiri dulu. Istirahatlah, sampaikan sama yang lain. Dan lagi, Dokter Benny sudah kau hubungi untuk datang besok pagi?" tanyanya dengan suara pelan agar tidak membangunkan Khansa.
"Baik, Tuan. Untuk Dokter Benny, beliau akan datang sekitar jam 10 pagi," jelas Gerry menunduk sopan.
"Mmm ... aku tinggal dulu, kasihan Khansa. Jangan matikan laptopku," pesan Leon lalu berbalik mendekati Khansa. Leon menggendong tubuh wanita itu, buru-buru Gerry membantu membukakan pintu ruang kerja juga kamar atasannya tersebut.
Leon berjalan santai, seperti tanpa beban apa pun. Gerry segera kembali dan melakukan tugasnya sesuai dengan perintah sang bos. Perlahan, Leon merebahkan tubuh gadis itu. Melepas sandal rumahnya dan memasang selimut.
Pria itu beralih ke kamar mandi terlebih dahulu untuk sekedar mencuci muka. Kemudian segera bergabung di bawah selimut, memeluk Khansa seperti biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Leon!" teriak Khansa terjingkat dari tidurnya.
Napasnya terengah-engah disertai bulir keringat yang membanjiri wajahnya. Leon yang mendengar teriakan Khansa segera terbangun.
"Sa, ada apa?" tanya Leon menepuk bahunya.
Khansa berbalik, ia langsung memeluk suaminya dengan erat, wajahnya nampak panik ketakutan. Leon membelai rambut Khansa dengan lembut.
"Kenapa, Sayang?" tanya Leon lagi.
"Darah, aku lihat darah di mana-mana. Aku takut, Leon!" Khansa menenggelamkan wajahnya di dada bidang Leon. Tangannya gemetar dan mencengkeram kuat piyama Leon. Suaranya pun mulai tercekat.
"Enggak ada apa-apa, Sayang. Itu cuma mimpi," balas Leon mencoba menenangkannya.
"Aku takut!" Khansa mulai menangis. Tidak, dia tidak siap kehilangan lagi. Tak dapat dipungkiri, rasa trauma dan takut itu belum hilang sepenuhnya.
"Jangan takut, kamu sama mimpi itu sama. Kalau mimpi adalah bunga tidur, kamu adalah bunga kasur," gurau Leon tertawa masih membalas pelukan erat perempuan itu.
Bersambung~