
Di sebuah kamar yang cukup luas, Khansa diletakkan di atas bentangan ranjang berukuran sangat besar. Pria yang memanggulnya tadi, membuka penutup wajah dan jaket kulit yang membalut tubuh kekarnya.
"Hahaha! Akhirnya, aku pun bisa merebut wanitamu dengan mudah! Kita lihat, seberapa cantiknya wanita milikmu ini! Dan seberapa nikmatnya tubuh indah ini," desis pria yang tak lain adalah Tiger. Ia menelan ludahnya dengan terburu-buru. Baru melihat sebagian wajahnya saja, darah Tiger serasa mendidih.
Pria itu menopang kedua tangan di atas ranjang, tubuhnya membungkuk hingga jarak dengan wajah Khansa tinggal beberapa inchi saja. Tangan kekarnya menjulur bermaksud hendak membuka cadar yang dikenakan oleh Khansa. Ia tertawa menyeringai dengan tangan satunya mengusap-usap dagu kokohnya.
Dada Tiger berdenyut dengan keras karena rasa penasaran yang membuncah dalam hatinya. Penasaran akan wajah adik ipar yang kini menjadi incarannya.
Namun tanpa diduga, Khansa menangkap pergelangan Tiger dengan kuat, lalu menarik lengan pria itu hingga tersungkur di hadapannya. Khansa menindih punggung Tiger dengan lutut dan mengunci pergerakan lengan kanannya. Sedang tangan Khansa yang lain menekan tengkuk pria itu hingga tidak bisa bergerak.
"Perkenalan yang sangat epic, kakak ipar. Terima kasih sambutannya!" ujar Khansa menyeringai dingin.
"Ternyata kamu tidak selemah yang aku kira," decih Tiger memicingkan mata. Ia berusaha memberontak, meski sedikit kesulitan karena Khansa semakin menekan pergerakannya.
"Saranku, jangan pernah mengusik kehidupan Leon lagi. Sebelum kamu menyesal karena telah membangunkan paksa singa yang sedang tidur! Sudah cukup Leon selama ini mengalah dan diam," geram Khansa menekankan setiap kalimatnya.
Tiger mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia berhasil membalik keadaan. Khansa terjatuh di sampingnya, dengan cepat Tiger merangkak. Kini Khansa berada dalam kungkungannya. Mata kelam Tiger berubah nyalang. Tangannya mencengkeram kedua pergelangan tangan Khansa dan ditekan di atas kepala.
"Aku tidak pernah takut!" ucap Tiger mencengkeram dagu Khansa.
Khansa semakin memberontak, apalagi saat pria itu memaksa ingin membuka cadarnya. Wajah Tiger penuh seringai, ketika melihat keindahan manik mata Khansa yang lembut, jernih dan tampak bercahaya walau saat ini menyorot tajam padanya mampu membuat darahnya berdesir kuat.
"Semakin kamu memberontak, kamu semakin menantang, Sayang!" desis Tiger membelai pipi Khansa lalu beralih menjambak rambut panjangnya hingga kepalanya mendongak.
Khansa mengatur napasnya yang masih tersengal, bulir keringat mulai membasahi wajahnya. Seluruh tubuhnya menegang, tapi tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Matanya tertutup sejenak, perut bagian bawahnya mulai terasa nyeri kembali.
'Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Kita berjuang bersama ya, Nak!' batin Khansa membuka kedua matanya. Tatapannya semakin tajam layaknya mata pisau yang runcing dan siap menghunus juga merobek-robek tubuh pria yang menindihnya itu.
Tiger melepas kaitan rambut Khansa, dengan cepat wanita itu bergerak membenturkan kepala tepat pada tulang hidung Tiger dengan sangat keras.
"Aaarghh!" Darah pun mulai mengalir dari lubang hidung Tiger. Merasakan ngilu pada hidungnya sampai matanya berkaca-kaca.
Cengkeraman tangannya mengendur, kini kedua tangan Khansa mendorong dada pria bongsor itu hingga Khansa bisa terlepas dari kungkungannya. Ia berdiri dan bersiap untuk melakukan perlawanan.
"Beraninya kau!" berang Tiger mengusap darah dengan punggung tangannya.
"Sadarlah Tiger! Leon sama sekali tidak bersalah, kenapa kamu terus-terusan menyakitinya. Dia adikmu!" tegas Khansa dengan mata tajam namun berkaca-kaca.
"Kamu tidak usah sok ikut campur! Kamu tidak tahu apa-apa!" elak pria bongsor itu mendengkus.
"Aku berhak ikut campur! Karena aku istrinya. Tidak akan ada wanita manapun yang rela suaminya selalu dijadikan target oleh orang lain apalagi kakaknya sendiri. Leon nggak salah! Otak dan hati kamu yang salah!
Dia bahkan selalu mengalah dan tidak mau membalas semua perbuatanmu. Karena dia sayang sama kamu, Tiger! Buka mata kamu!" pekik Khansa meledakkan emosinya.
"Bacot!" teriak Tiger maju dan mengayunkan tangannya untuk menampar pipi Khansa.
Namun tiba-tiba Tiger meringis kesakitan saat ada yang memukul kepala belakangnya dengan benda tumpul. Pria itu memekik kesakitan sembari memegang kepala lalu memutar tubuhnya dengan cepat.
"Kau!" geram Tiger menatap Jihan yang berdiri gemetar sambil memegang gagang sapu yang patah akibat dipukulkan pada Tiger.
Khansa mengernyitkan alisnya saat melihat Jihan yang berdiri ketakutan. Tiger melangkah panjang menatap Jihan penuh kemarahan. Gadis itu mundur sambil menahan tangisnya, dadanya berdegub kasar karena membuat pria pemerkosanya itu marah.
Tidak ingin terlalu lama larut dengan keterkejutannya, Khansa menendang punggung Tiger hingga tersungkur ke lantai. Jihan memukuli pria itu membabi buta sambil berteriak dan menangis histeris.
Tiger yang terkena pukulan-pukulan Jihan, kini beralih mencengkeram benda itu dan bangkit dengan cepat. Jihan membelalak, Tiger melilitkan gagang sapu pada leher gadis itu.
Khansa bingung, dia tidak mungkin meninggalkan Jihan sendirian. Tapi perutnya sungguh terasa nyeri. Bahkan sampai kedua lututnya gemetar, tidak bisa berdiri tegap.
"Sa! Cepat pergi! Uhuk!" Jihan memekik tertahan, karena tekanan Tiger di leher Jihan semakin kuat.
"Iblis kecil, kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, hah? Kamu siap kehilangan pekerjaan? Atau siap mati hari ini juga?" bisik Tiger di telinga Jihan.
"Aku nggak takut dengan semua ancamanmu Raja iblis! Kalau mau membunuh, bunuh saja aku. Karena aku pun sudah tidak mau hidup di dunia ini. Ayo bunuh!" tantang Jihan melirik dengan tajam. Kedua matanya memerah dan terus mengeluarkan air mata.
Khansa menutup mulutnya, dia masih syok dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana bisa mereka berdua saling mengenal? Dan kenapa Jihan membelanya, juga berani melawan Tiger? Berbagai pertanyaan bersarang di benaknya.
"Ji," panggil Khansa lirih membuat gadis itu kembali menatapnya.
"Pergi! Pergi!" Bibir Jihan terus bergerak tanpa suara. Matanya bersirobok dengan manik jernih Khansa. Ada sorot kesedihan dan luka di mata Jihan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Leon melangkah panjang disertai emosi membuncah melewati sebuah lorong untuk mencapai titik lokasi yang ditunjukkan Gerry. Wajahnya tampak sangat menyeramkan.
Beberapa bawahan Tiger menghadang langkahnya. Mereka membawa stick pemukul baseball di tangan masing-masing. Mereka tidak membiarkan seorang pun bisa menerobos pertahanan.
Dengan gerakan super gesit Leon menyerang mereka satu persatu dengan tangan kosong. Ia hanya akan menggunakan deagle jika dalam keadaan terdesak saja. Mengingat sang istri yang tengah mengandung.
Leon menendang, memukul dan menjungkir balikkan para anak buah Tiger dengan seluruh kemampuan bela dirinya. Ia mengambil salah satu stick tersebut ketika berhasil menumbangkan lima orang sekaligus, tanpa kesulitan berarti. Lalu kembali melangkah panjang dan tegas. Mata elangnya menyemburkan api yang menyala.
"Tiger!" teriak Leon menggema di lorong tersebut.
Lagi-lagi empat orang bawahan Tiger kembali menyerangnya. Sangat mudah ditaklukan oleh Leon. Gerakannya penuh emosi melayangkan pukulan dan tendangan. Hansen pun kini datang membantu.
Dua pria itu saling mengangguk untuk memberi kode. Dan dalam satu kali tendangan beruntun, mereka bisa menumbangkan para bawahan Tiger hingga mereka terkapar tak berdaya.
Leon berlari disusul oleh Hansen, mereka menemukan Simon yang sedang bertarung dengan banyaknya bawahan Tiger. Kedatangan Hansen dan Leon sontak mematik kembali semangat Simon yang hampir mati. Meski tubuhnya sudah dipenuhi luka, Simon masih berusaha untuk melawan.
"Simon!" panggil Leon yang nampak khawatir.
"Kak Leon kamarnya di ujung. Cepatlah selamatkan kakak ipar, biar kami yang tangani di sini!" seru Simon masih fokus menangkis serangan-serangan musuh.
Leon mengangguk, lalu ia berusaha menerobos pertahanan musuh hingga berhasil keluar pagar yang dibuat oleh anak buah Tiger. Ia lalu berlari dengan cepat dan menerobos kamar yang ditunjukkan oleh Simon.
Bersambung~
Cut dulu yaa.. udah panjang banget 😄
Semangat Mas Le..... Fighting!!!
Mas Le; Lebih semangat lagi kalo banyak komennya yang greget, Thor! Apalagi kalao banyak gift sama votenya😌
,🤓; Ahh iya.. ide bagus, Mas! Aku setuju!! BTW auratmu ditutup napa, Mas? mencemari mata para kaum hawa tau nggak!🤨
MasLe; Sumuk, Thor!