Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 88. Cerai


“Zan,” panggil Maharani sangat pelan. Pandangannya mengikuti setiap gerakan Fauzan. Pria itu melangkah pelan namun tegas. Kilatan tajam dari manik matanya memancar kemarahan.


Fauzan mengulurkan sebuah dokumen di dalam stopmap tepat di hadapan Maharani. Wanita itu mengernyitkan dahinya.


“Apa ini, Zan?” tanya Maharani dengan lemah menatap dokumen itu. Tangannya terlalu lemah untuk digerakkan, sehingga ia tidak bisa meraihnya.


“Ini adalah surat cerai. Aku ingin kita segera bercerai, Maharani. Aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu!” berang Fauzan menghempaskan dokumen itu tepat di wajah Maharani.


Kedua kelopak mata Maharani terbuka lebar. Mulutnya pun menganga, “Apa? Cerai?” Maharani menggelengkan kepalanya, kedua sudut matanya mulai berlapis cairan bening yang siap berjatuhan.


“Ya! Segera tanda tangani surat cerai itu!” tegas Fauzan tanpa basa-basi.


“Tidak, tidak! Ini tidak mungkin. Kamu pasti bercanda ‘kan, Zan? Kamu tidak mungkin menceraikan aku ‘kan?” elak Maharani tidak percaya, ia menguatkan diri untuk menyingkirkan dokumen tersebut.


Fauzan memicingkan matanya, melipat kedua lengannya di dada sambil berucap, “Sejak kapan aku suka bercanda, hah? Kamu sudah merusak nama baikku, dan bahkan kamu membuat keluarga Isvara hampir bangkrut! Untuk apa lagi aku mempertahankan wanita sepertimu!” sembur Fauzan menunjuk-nunjuk wajah Maharani penuh emosi.


Jihan yang mendengarnya turut gemetar ketakutan. Ia sendiri tidak mau jika ayah dan ibunya harus bercerai. Jihan tidak siap jika harus kehilangan kemewahan yang selama ini ia dapatkan.


“Tidak! Aku tidak mau bercerai denganmu, Zan! Video tadi hanya salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya. Sebenarnya itu hanya sebatas pekerjaan saja, tidak lebih, Zan. Sungguh! Bersama Tuan Arief Wandana, dia memang benar ayah angkatku, berkat dia aku bisa menjadi bintang populer saat itu, Zan. Ini tidak seperti yang kamu kira,” tutur Maharani berusaha menjelaskan. Ia tidak terima dengan alasan Fauzan.


Satu sudut bibir Fauzan terangkat, ia menatap remeh pada Maharani, kedua tangan menopang di atas ranjang. Mata tajamnya kini bertemu dengan mata sayu milik Maharani.


“Dengarkan aku baik-baik. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kamu ucapkan. Yang jelas, tanda tangani surat cerai itu sekarang juga!” tegas Fauzan penuh penekanan. Menegaskan bahwa ia tidak peduli lagi.


Maharani tertawa sumbang, lalu menangis dan kembali tertawa seperti hampir gila saja, “Aku tahu, tahu sampai sekarang kau bahkan masih mencintai Stephanie, ibu kandung Khansa, ‘kan? Kamu tidak pernah memperlakukanku dengan lembut sedikit pun. Seperti kamu memperlakukan Stephanie. Aku juga istrimu, Zan!” pekiknya marah diiringi dengan air mata yang mengalir di kedua pelipisnya.


“Jangan pernah samakan Stephanie denganmu. Dia jelas-jelas berbeda. Tidak sepertimu yang licik dan hanya bisa membuatku malu juga rugi besar!” sentak Fauzan tepat di muka Maharani. Sehingga wanita itu memejamkan kedua matanya erat.


“Kamu jangan pura-pura lupa, Zan! Aku juga banyak membantumu dalam mengembangkan bisnismu selama ini!” elak Maharani berteriak tidak terima.


“Pada kenyataannya kamu hanya selalu membuat masalah dan semakin membuat kerugian besar, Maharani. Aku tidak mau tahu, tanda tangan surat cerai itu!” tandas Fauzan menekan dokumen dan sebuah bolpoin di dada Maharani, lalu melenggang pergi dari kamar tersebut.


Fauzan membanting pintu kamar hingga membuat dua perempuan di dalamnya terlonjak kaget. Maharani menangis tersedu-sedu.


Sudah merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kini malah diceraikan oleh suaminya. Sakitnya berlapis-lapis hingga menembus jantungnya.


“Bu,” Jihan berjalan dengan gemetar mendekati ibunya.


Ia turut menangis memeluk sang ibu. Tiba-tiba Maharani merasa sesak di dadanya. Hal itu membuat Jihan merasa panik.


“Bu, ibu kenapa?” tanya Jihan meletakkan tangan di dahi sang ibu. “Ibu panas sekali!” serunya ketakutan. Jihan bingung harus berbuat apa. Ia sama sekali tidak pernah merawat orang yang sedang sakit. Dia panik dan hanya mondar-mandir di kamar sembari menggigit kuku-kukunya.


Jihan berlari keluar. Tujuan pertamanya adalah ruang kerja sang ayah. Jihan mengetuk beberapa kali lalu memberanikan diri membukanya.


“Ayah,” panggil Jihan takut.


Tidak ada sahutan dari Fauzan. Jihan menunduk sembari berjalan mendekat ke arah meja kerja sang ayah. Fauzan menatapnya dengan dingin.


“Ayah, tolong panggilkan dokter untuk ibu. Dia demam tinggi dan juga merasa sesak ayah. Jihan mohon, Jihan takut ibu kenapa-napa, Ayah,” pinta Jihan menangkupkan kedua tangan di dada.


“Jadi kamu dengan lancang masuk ke sini karena disuruh wanita jalangg itu, iya?” bentak Fauzan menggebrak meja.


Jihan terlonjak kaget. Deguban jantungnya semakin meningkat. Air matanya mulai mengalir. Selama ini Jihan selalu diperlakukan bak seorang putri, ia sangat dimanja oleh Fauzan. Ia pikir bisa menarik simpati ayahnya itu.


Dan hari ini, Fauzan membentaknya tanpa perasaan. Seketika rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping. Ketakutan pun kini membalut hatinya. Nyali Jihan semakin ciut, kepalanya semakin menunduk dalam.


“Bu … bukan seperti itu, Yah. Ibu tidak menyuruhku. Ini inisiatif ku sendiri. Tolong ibu, Yah,” ucap Jihan lirih bahkan nyaris tak terdengar.


“Buat apa aku menolong wanita bergilir seperti dia?! Aku sudah tidak peduli lagi dengannya! Keluar kamu dari sini Jihan!” bentak Fauzan menunjuk ke arah pintu.


Namun Jihan masih bergeming, ia lalu menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan sang ayah. “Ayah, Jihan mohon. Kasihan ibu kesakitan seperti itu,” pinta Jihan berderai air mata.


Fauzan berdiri dari duduknya, Jihan pikir pria itu akan menyetujuinya. Namun sayangnya tidak.


“Aku tekankan sekali lagi, mulai sekarang aku sama sekali tidak peduli dengan wanita itu!” ujar Fauzan menunduk tepat di telinga Jihan dengan penuh penekanan. Bahkan ia enggan menyebut nama Maharani.


Setelah mengatakannya Fauzan pun keluar dan membanting pintu. Tubuh Jihan merosot ke lantai. Ia memeluk lututnya sembari menangis sejadi-jadinya.


Fauzan hendak pergi dari rumah. Tanpa sengaja, di sebuah lorong ia melihat Khansa yang sedang berjalan dengan anggun dan lemah lembut.


Tatapannya saling beradu. Kedua mata Fauzan menunjukkan seberkas rasa sayang pada putrinya itu. Langkahnya memelan agar bisa lebih lama menatap putrinya itu. Ada sedikit rasa penyesalan dari hatinya. Bibir keduanya terkunci rapat, tidak ada kata yang terucap walau sekedar menyapa.


Sedangkan Khansa, meski ada sedikit kerinduan, namun ditenggelamkan dengan segenap rasa kecewa dan sakit hati pada pria yang menjadi ayahnya itu.


Khansa pun mengabaikannya, ia terus melanjutkan langkah, melewati Fauzan begitu saja. Seolah pria itu adalah patung tak terlihat. Fauzan sempat berhenti menatap punggung putrinya.


Berat sekali ingin menelan salivanya, akhirnya Fauzan berbalik dan pergi, cahaya lampu di punggungnya menyiratkan kerinduan dan rasa terluka.


Bersambung~