
Leon melajukan motor gagahnya dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya meliuk-liuk seiring dengan gerakan motornya yang menyalip beberapa kendaraan di depannya. Seperti pembalap yang sedang berkompetisi di arena. Namun, ia tetap hati-hati dan berkonsentrasi.
Tak sampai 15 menit ia sudah sampai di parkiran luas dari bangunan tinggi nan gagah yang menjulang ke langit. Ia segera melepas helm dan turun dari motor. Tubuh kekarnya dibalut pakaian semi formal dengan rambut yang sedikit acak-acakan namun justru membuatnya terlihat semakin maskulin dan keren di mata kaum hawa.
"Selamat sore, Tuan!" sapa dua orang satpam yang bertugas di loby.
Leon terus melangkah, pintu loby pun bergeser otomatis ketika mendeteksi orang yang hendak keluar ataupun masuk. Sepanjang ia berjalan menuju lift, banyak para karyawan wanita yang sesak napas melihat ketampanan pria itu.
Terbiasa melihat penampilan rapi dan sempurna, kini mata mereka dimanjakan dengan pemandangan lain. Tetapi justru semakin membuat mereka kagum dan terpesona.
"Gerry masih di ruangan?" tanya Leon pada salah satu sekretarisnya.
"Masih, Tuan. Ada yang bisa saya ban ... tu," gumamnya saat baru sadar bahwa pria itu adalah bossnya. Seketika sekretaris itu meneguk ludahnya. Namun buru-buru menepuk kedua pipinya sendiri untuk menyadarkan diri.
Leon bergegas masuk ke ruangannya. Kemudian duduk di kursi kebesarannya, menyalakan laptop lalu menekan sebuah tombol yang langsung terhubung ke ruangan Gerry.
"Ke ruanganku sekarang, Ger!" titah Leon dengan tegas.
"Baik, Tuan!"
Hanya beberapa detik saja Gerry sudah sampai di ruangan sang boss. Sedikit kaget dengan kehadirannya. Karena Gerry tahu sebentar lagi atasannya akan lepas landas ke negeri tetangga.
Leon melirik sekilas, "Lacak keberadaan Tiger dan suruh datang ke sini tidak boleh lebih dari satu jam!" perintah Leon di balik layar laptopnya.
"Segera saya laksanakan, Tuan!" Gerry bergegas kembali ke ruangannya, dengan cekatan melacak keberadaan Tiger melalui nomor ponsel yang dikirimkan oleh Leon. Leon enggan menghubunginya secara langsung.
Hampir satu jam Leon menunggu sembari merapikan pekerjaannya untuk diserahkan pada sang asisten mulai besok. Konsentrasinya buyar ketika terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" ucap Leon tegas tanpa menoleh.
Gerry membukakan pintu dan membawa Tiger masuk ke ruang kerja yang luas itu. Ia melakukan perjalanan kilat dari resortnya. Napasnya bahkan masih terengah-engah karena berpacu dengan waktu. Tiger tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Leon.
"Tinggalkan kami, Ger!" ujar Leon menepiskan tangannya.
Asisten kepercayaannya itu segera undur diri setelah berpamitan dengan sopan. Leon merebahkan punggung pada sandaran kursinya. Tatapannya dingin dan menyeringai dilemparkan pada Tiger.
"Leon," ucap Tiger memulai pembicaraan.
"Aku tidak suka berbasa-basi! Aku juga tidak suka bertele-tele. Satu hal yang ingin aku sampaikan, kalau masih berharap aku menerima maafmu, tanggung jawab atas benih yang kamu tanam di rahim perempuan itu!" tandas Leon dengan tegas dan tentu saja mampu meledakkan jantung Tiger saat itu juga.
Raut muka Tiger berubah pucat, sedangkan Leon menatapnya tanpa berkedip. Eskpresinya masih dingin dan tak tersentuh. Leon menunggu selama beberapa detik, Tiger masih diam seribu bahasa.
"Tinggal jawab iya atau tidak! Kalau iya ikut aku sekarang. Kalau tidak silakan pergi dan jangan pernah temui aku lagi!" tegas Leon penuh penekanan lalu beranjak dari duduknya dan melenggang pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua perempuan yang tengah berbincang di ruang tamu itu menoleh serentak, ketika mendengar suara bariton menelusup telinganya, mereka bisa melihat tatapan nyalang dari pria paruh baya yang baru saja pulang dari bekerja. Pria itu melangkah tegas dan tampak penuh emosi.
"A ... Ayah!" ucap Jihan dengan bibir gemetar.
"Apa benar yang tadi ayah dengar?" tanya Fauzan mengepalkan tangannya.
Ia terkejut beberapa saat lalu, ketika melihat kedatangan Jihan di rumah itu. Namun bertambah terkejut lagi dengan ucapan Khansa mengenai kandungan Jihan.
"Tunggu, Yah," sergah Khansa.
"Sudah kabur dengan mencuri semua aset di rumah ini masih berani pulang? Dalam keadaan hamil? Dasar anak tidak tahu diri?!" berang Fauzan hendak menampar Jihan, namun segera di serobot oleh Khansa dan menahannya.
Dua pasang mata tajam itu saling menatap kuat. "Cukup! Bukan kemauan Jihan juga seperti itu, Yah!" tandas Khansa dengan tegas. "Jihan diperkosa. Dia sedang terpuruk! Jangan pernah merasa ayah orang paling baik dan paling suci. Maaf jika Khansa lancang. Tapi setiap orang pasti punya masa lalu. Yang terpenting sekarang bagaimana orang itu mau berubah untuk masa mendatang!" lanjutnya yang langsung menusuk tepat jantung Fauzan.
Ya, bagaimana mungkin dia bisa lupa. Ia sendiri mempunyai masa lalu yang kelam. Dan jika bukan karena Khansa mungkin sampai saat ini dia masih mendekam di penjara. Fauzan tercengang, ia mengusap wajahnya kasar, lalu terduduk di sofa sambil meremas kepalanya.
"Biarin aku pergi dari sini, Sa!" lirih Jihan menyentuh lengan Khansa.
Khansa membangunkan perempuan itu, "Tidak! Tetap tinggal di sini sampai anak ini lahir. Setelah itu terserah kamu mau apa dan pergi ke mana!" tegas Khansa menatapnya tajam.
Masih nampak keraguan dari wajah Jihan. Ia melirik ke arah Fauzan yang masih menunjukkan ekspresi kompleks. Ia tidak yakin Fauzan akan menerima kehadirannya.
"Mbak! Sini!" Khansa memanggil seorang pelayan yang usianya masih muda.
Pelayan tersebut segera menghampiri Khansa lalu membungkukkan setengah badannya. "Saya, Nyonya."
"Mbak, mulai sekarang tolong kamu urus semua keperluan Jihan. Pastikan semua makanan yang dikonsumsi sehat dan bergizi. Karena sebentar lagi aku harus pergi," perintah Khansa yang segera diangguki patuh oleh pelayan tersebut.
Khansa beralih pada Jihan, "Dan kamu, Ji. Jangan pernah berani berbuat hal yang akan membahayakan janin dalam kandunganmu. Jaga dengan baik, meskipun aku tidak ada di sini tapi aku akan selalu tahu apa pun yang kamu lakukan!" tandas Khansa dengan tegas. Terdengar seperti ancaman. Ini harus ia lakukan, agar Jihan tidak seenaknya sendiri apalagi bertindak bodoh.
"Kamu mau ke mana, Sa?" tanya Jihan menyentuh lengan Khansa. Ia merasa takut jika harus tinggal bersama Fauzan.
"Aku akan pindah ke luar negeri. Tenang aja, kamu aman di sini. Leon sudah menempatkan beberapa pengawal di rumah ini," balasnya menumpukan tangan pada jemari Jihan dengan tatapan lembut.
Melihat Jihan, rasanya Khansa seolah terlempar ke masa lalu. Dulu sewaktu ia terpuruk di desa, hanya segelintir orang yang tulus menolongnya. Dan kini Jihan seolah merasakan hal yang sama dengannya. Khansa yakin, jika Jihan di luar sana, pasti banyak yang akan menghujatnya yang tentu saja akan memperburuk kondisinya.
"Ayo makan dulu!" ucap Khansa menarik Jihan ke meja makan.
Sudah terhidang beraneka ragam makanan beserta lauk pauk juga satu piring potongan buah di meja yang cukup besar itu. Khansa sangat antusias menyiapkan piring untuk Jihan.
"Kamu nggak mual-mual 'kan? Enggak pilih-pilih makanan 'kan?" tanya Khansa meletakkan piring yang penuh ke hadapan Jihan.
Jihan menggeleng, ia tersenyum sambil menyeka air mata haru yang menyeruak di kedua sudut matanya. Tiba-tiba Jihan kembali berdiri dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Sa, makasih banyak!"
"Sama-sama!" Khansa menepuk punggung Jihan lalu meregangkan pelukannya. Ia mengusap perut Jihan dengan tatapan nanar, "Dia harus tumbuh dengan baik. Aku nggak sabar nunggu dia lahir," ungkapnya yang menusuk hati Jihan.
Bersambung~