
Leon tengah menatap serius layar laptop di ruang kerjanya. Setiap layar tersebut menunjukkan rekaman CCTV seluruh gedung kantornya.
Tak hanya itu, beberapa layar monitor juga menunjukkan gambar beberapa gedung di luar kantor, yang berhasil dia retas selama beberapa hari terakhir.
Suara ketukan pintu membuyarkan fokus pria tampan itu. "Masuk!" ucapnya cukup keras saat melihat siapa yang datang dari benda layar datar di hadapannya.
Bibirnya melengkung sempurna membentuk senyum lebar saat istrinya memasuki ruangan. Khansa melangkah panjang sembari menenteng rantang makanan di tangannya.
"Aku ganggu enggak?" tanya Khansa meletakkan rantang tersebut di meja. Ia duduk di sofa ruangan tersebut.
"Enggak, malah aku seneng kalau digangguin kamu," gurau Leon tertawa.
"Iissh, ayo makan dulu. Tadi aku masak sama nenek," tawar Khansa membongkar hasil karyanya dan disejajarkan di meja.
Leon segera beranjak, bersemangat melangkah cepat menghampiri sang pujaan hati. Duduk di sebelah Khansa merengkuh pinggang perempuan itu lalu mendudukkannya. "Jangan capek-capek, Sayang. Kamu bisa telepon agar aku pulang," ujarnya lembut menangkup kedua pipi Khansa, mendekatkan kepala lalu menciumu kening dan kedua pipi Khansa.
"Hmm ... manisnya suamiku." Khansa menyodorkan satu porsi makanan untuk Leon.
Dengan senang hati, pria itu menerimanya. "Oh iya, sesuai perkiraanku Hendra udah bebas, Sayang," ucap Leon di sela makannya. "Lihat deh di monitor 1-10," tunjuknya pada dinding polos yang sangat luas pembiasan dari laptopnya.
Khansa mengernyitkan keningnya. Matanya menyipit meneliti satu per satu monitor CCTV di perusahaan Hendra. Tampak pria itu sudah mulai beraktivitas kembali.
"Rumah sakitnya gimana?" tanya Khansa.
"Masih disegel. Bukti-buktinya cukup kuat," terang Leon sesekali menyuapkan kembali makanannya. Tampak ia sangat lahap menikmati setiap makanan buatan istrinya.
"Kamu nggak makan, Sayang?" tanya Leon yang melihat Khansa sama sekali tak menyentuh makanannya.
Khansa menatap serius setiap video yang terekam jelas di sana. "Sepertinya aku tahu nih kita mulai dari mana," tutur Khansa tersenyum menyeringai menatap sang suami. Ia justru mengalihkan pembicaraan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hansen meraih jemari Emily lalu mengangkatnya. Menunjukkan cincin yang melekat di jari manisnya. "Kamu sudah berstempel sekarang!" tegas Hansen tak berkedip.
Emily membuka maskernya, tersenyum lebar menatap pria yang kini menjadi tunangannya. Ia beralih menatap Bara yang berubah posisi melipat kedua lengannya. Masih dengan senyum di bibirnya.
"Boleh peluk Barbara?" izin Emily bersuara lirih. "Kalau bukan karenanya, mungkin aku nggak akan sampai di sini," sambungnya sembari menggigit bibir bawahnya.
Manik mata Hansen bergerak mengamati dua orang tersebut. Ia menghela napas panjang, melepaskan tautan tangannya, "Jangan lama-lama!" ucapnya bernada tidak suka.
Emily mengangguk beberapa kali. Ia langsung menghambur ke pelukan lelaki itu setelah mendapat izin dari Hansen. Dua orang itu justru menumpahkan tangisannya. Isakan mereka sampai terdengar memilukan. Pelukan itu pun sangat erat.
"Selamat, Baby. Semoga ini awal kebahagiaan kamu," ucap Bara di tengah tangisnya. Dia pun turut merasakan kebahagiaan gadis itu. Bertahun-tahun bersama, melewati suka duka dan canda tawa, membuatnya berat ketika suatu hari nanti harus terpisah. Ia sadar ini pasti akan terjadi.
"Bar." Emily tidak bisa berkata-kata. Saat ini semua perasaannya campur aduk.
Kakak tingkatnya yang dulu selalu membela sewaktu ia dibully, dihina dan direndahkan, ketika mulai menginjakkan kaki untuk menempuh pendidikan di Bali. Pria yang selalu ada untuknya dan mengajari banyak hal agar selalu kuat menjalani kehidupan. Emily tidak akan bisa melupakan jasa-jasa Bara. Begitu pun sebaliknya, Emily selalu ada disaat titik terendah Bara, bahkan disaat semua keluarga menjauhinya.
Mereka seperti terikat satu sama lain. Saling support, saling melindungi dan saling memberi kekuatan satu sama lain. Hubungan yang mengalir begitu saja diiringi ketulusan dari hati.
Hansen memasang raut tak suka. Matanya memicing dengan tajam. Bara yang mengangkat pandangannya, tak sengaja bersitatap dengan mata tajam Hansen.
"Ganteng, jangan liatin kayak gitu. Jadi berdebar gini," seru Bara tertunduk malu melepaskan pelukannya.
"Iih, sadar!" geram Emily menyentil kening Bara dengan kuat.
"Sakit, Baby!" gerutunya mencebikkan bibir sembari mengusap keningnya yang memerah.
Emily kembali mendekati Hansen, menelusupkan tangannya pada lengan kekar Hansen. Ia tersenyum kecil sembari menengadahkan kepala. Hansen pun tak tahan untuk tidak tersenyum melihat wajah imut sang kekasih.
"Mau makan siang di mana?" tanya Hansen menundukkan pandangan.
"Ke rumah aja. Mama sama papa pasti seneng banget. Aku tadi langsung ke sini!" seru Emily.
"Belum tidur dong?" Hansen kembali bertanya sembari mengerutkan dahi. Ia mulai melangkah menuju basement perusahaannya.
Bara mengekorinya di belakang. Ia berjalan sembari memainkan ponselnya. Hingga tanpa sadar banyak para staff wanita yang berlarian mengejarnya. Bara terkejut saat mereka menarik-narik lengan dan kemeja Bara.
"Om, minta video si boss dong yang lamaran tadi!"
"Iya, Mas. Sharing dong!"
"Eh, Om. Ganteng amat sih. Biar tambah ganteng bagi video tadi ya!"
Para wanita muda itu bergelayut manja mengelilingi Bara. Pria itu menelan salivanya. Detak jantungnya kian berpacu. Ia tersadar langkahnya sudah berjarak dengan Emily.
"Beib ... Baby! Tolong!" teriak Bara ketakutan.
Ia berlari dan berusaha keras bisa terlepas dari jeratan para perempuan genit itu. Emily menghentikan langkahnya, Hansen pun menoleh seketika. Ia mengerutkan dahi saat melihat Bara berlari dengan kuat.
"Kenapa dia?" tanya Hansen pada Emily.
"Dia emang gitu kalau dikejar cewek-cewek!" sahut Emily terkikik.
"Kok sama kamu enggak?" tanyanya dengan wajah serius. Emily hanya mengedikkan kedua bahunya sambil tertawa.
Melihat Hansen yang menatap tajam, membuat para bawahannya itu mengalihkan langkahnya. Tidak ada yang berani mendekati Bara lagi. Mereka berbalik arah serentak dan melupakan tujuannya.
Napas Bara masih tersengal-sengal, ia bersandar di salah satu mobil yang terparkir di basement tersebut. "Gila! Karyawannya agresif semua. Hiii," gumam Bara bergidik ngeri.
Emily terkekeh melihatnya. Ia menepuk-nepuk lengan Bara yang masih mengatur napas. Hansen segera mengambil mobilnya, Emily duduk di kursi depan. Sedangkan Bara sendirian di belakang. Ia terus menggerakkan kemejanya, menghilangkan keringat yang membasahi tubuhnya. AC di mobil tidak begitu berpengaruh. Wajahnya memerah.
Kedatangan Emily tentu saja membuat mamanya memekik bahagia. Kepulangannya yang tiba-tiba merupakan kejutan untuk orang tuanya. Emily memperkenalkan Bara pada mereka. Yang mana gadis itu sering bercerita mengenai pria gemulai itu.
"Emily!" teriak wanita paruh baya itu kegirangan. Ia segera mencium dan memeluk anak gadisnya. "Eh ada Tuan Hansen juga, mari silakan masuk!" ajaknya.
Emily lalu memperkenalkan Bara, pria yang menjadi manajer sekaligus bodyguard selama ia di Bali. Ini pertama kalinya pria itu diajak pulang ke Palembang. Namun namanya sering mengudara di telinga sang mama. Emily sering menceritakan Bara agar orang tuanya tenang karena selama ini ada yang menjaganya sekaligus mengurusnya.
"Oh, ini yang namanya Bara. Makasih ya, Nak. Selalu jagain Emily. Dia pasti sangat menyusahkanmu! Emily banyak bercerita tentangmu," ucap Monica setelah mempersilakan mereka masuk.
Bara hanya tersenyum sembari mengangguk. Dia merasa canggung karena sambutan mama Emily ternyata begitu ramah. Berbeda dengan yang ada di pikirannya.
"Ma, kita sekalian makan siang di sini ya."
"Oo iya tentu saja, Sayang. Kebetulan 'kan memang sudah jam makan siang," sahut sang mama merengkuh lengan Emily.
Dan acara makan siang tersebut berjalan begitu saja. Diselingi obrolan hangat di antara mereka. Hansen pun mengutarakan keseriusannya untuk menjalin hubungan dengan putri semata wayangnya.
"Tuan dan Nyonya Frans, saya sekaligus ingin mengutarakan niat saya untuk mengajak Emily ke jenjang yang lebih serius. Kalau diizinkan, nanti ketika orang tua saya pulang dari luar negeri, saya ajak ke sini untuk acara resminya," ucap Hansen dengan serius.
Sontak kedua bola mata Monica melebar. Ia tidak menyangka akan secepat ini. Ia saling melempar pandang dengan suaminya yang tak kalah terkejutnya.
"Ee ... semua kami serahkan pada Emily, Tuan Hansen. Karena dia yang akan menjalaninya. Kebahagiaannya adalah prioritas utama kami," sambung Frans yang merasa tersanjung.
"Tapi, bukankah Emily masih ada beberapa kontrak ya? Kalau mama nggak salah ingat masih satu tahun lagi 'kan?" tanya Monica pada putrinya.
"Semua tergantung Emily, Tante. Kalau mau putus kontrak bisa sih bayar pinalty. Mudah sih, bisa pulang sekarang aja karena si ganteng eh maksudnya Hansen yang bayar pinalty 20 juta. Soalnya sebenarnya dia harus kejar stripping selama sebulan ini," celetuk Bara setelah meneguk air putih dan mengakhiri makannya.
Semua orang melebarkan matanya, mengarah pada Bara. Terutama tatapan mematikan dan geraman dari Hansen. Bara tidak sadar telah membuka rahasia yang disimpan rapat-rapat.
"Maksudnya apa nih? Jadi sebenarnya gue nggak dapet libur, Bar? Lo bohongin gue?" Emily mendelik.
'Mampus! Salah ngomong!'
Bersambung~