Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 20 : Hamil?


Leon membulatkan kedua matanya, "Ish! Gila! Kamu mau meruntuhkan harga diri suamimu yang tampan ini?"


"Loh, kok bisa? Itu hanya sebagai reward aja buat assisten Gerry, Sayang. Karena sudah bekerja dengan sangat keras," elak Khansa mengerutkan bibirnya.


"Tidak! Kalau kamu nggak mau dibuang saja! Lagi pula setiap bulan aku sudah memberinya reward yang tinggi!" ketus Leon melepas rengkuhannya lalu meraih jas dan disampirkan di salah satu lengannya, kemudian melangkah keluar.


Khansa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Ia sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan ucapannya. Kali ini, wanita itu sungguh tidak peka dalam menjaga wibawa suaminya di depan bawahannya.


Buru-buru Khansa meraih tasnya dan bersiap pergi ke rumah sakit. Hari ini tidak ada jadwal praktik. Dia ingin memastikan kondisi Emily dan Bara saja.


Khansa segera berpamitan pada sang nenek, menoleh ke sana ke mari namun tak menemukan suaminya.


"Leon sudah keluar tadi, Sa. Sepertinya buru-buru sekali," ucap nenek melihat Khansa celingukan.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, Sasa berangkat dulu ya, Nek!" ujarnya mencium punggung tangan sang nenek dan melenggang pergi.


Benar saja, Leon sudah bersiap di balik kemudi dengan pintu sebelahnya terbuka lebar. Khansa hanya mengulum senyum tipis, merasa lucu dengan suaminya yang marah namun tetap perhatian padanya. Segera wanita itu duduk dan mengenakan sabuk pengaman.


Khansa melirik Leon dengan ekor matanya. Wanita itu bingung mau berkata apa. Akhirnya mereka pun saling diam selama perjalanan. Saat melalui sebuah toko bunga, Khansa mendadak ingin berhenti.


"Sayang! Stop!" teriak Khansa menepuk lengan dengan keras.


Leon yang terkejut segera menginjak pedal rem kuat-kuat. "Astaga, Sa!" gumamnya terkejut mengusap wajahnya kasar.


"Maaf, hehe. Tunggu sebentar ya," pintanya turun dari mobil.


Dengan langkah anggun, wanita itu memasuki sebuah toko bunga. Leon menautkan alisnya, untuk melenyapkan rasa penasaran dia pun segera mengikutinya.


"Mau ngapain?" tanya Leon pada Khansa yang sedang melihat-lihat bunga lily putih.


"Mau bawain bunga buat Emily," jawabnya tanpa menoleh.


"Kenapa nggak ambil dari kebun nenek saja tadi?" celetuk Leon membuat Khansa langsung menoleh dengan cepat.


"Tadi yang ngambek terus buru-buru keluar dan masuk mobil siapa?" cibirnya dengan kesal, lalu kembali memalingkan muka dan memilih beberapa tangkai bunga lily segar.


Leon tak menjawab, namun refleks menarik satu tangkai bunga mawar merah kesukaan Khansa, di depannya. Ia berbalik mendekati Khansa yang masih memunggunginya, lalu menjulurkan lengan kanannya tepat di hadapan Khansa.


Pria itu tersenyum penuh percaya diri, karena yakin Khansa akan mudah luluh jika dia bersikap romantis. Namun tanpa diduga, Khansa justru merasa mual saat mencium semerbak aroma bunga mawar tersebut.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Leon khawatir, merengkuh pinggang Khansa yang tanpa sadar masih menggenggam bunga mawar tersebut.


Dan hal itu semakin membuatnya ingin muntah. Khansa tak kuasa menahannya. Matanya membeliak lalu menghempaskan beberapa bunga di tangannya dan berlari keluar. Ia tidak sempat mencari tahu di mana toilet toko tersebut. Satu-satunya jalan adalah keluar ruangan.


Dan di tepi jalan, Khansa mengeluarkan seluruh isi perutnya. Leon gemetar ketakutan melihat istrinya seperti itu. Wajah cantiknya berubah pucat dengan bulir keringat yang membasahi wajahnya.


Setelah beberapa lama, Khansa mengganti cadar yang dikenakannya. Karena sedikit terlambat membukanya sehingga sedikit basah.


Leon kembali dengan satu botol air mineral yang sudah terbuka dan diserahkan pada Khansa, yang segera diteguk hingga habis setengahnya.


"Sudah? Masih mual? Kok bisa sih?" tanya Leon menyeka keringat Khansa, dan kembali menutup botol tersebut.


"Udah!" jawab Khansa singkat sembari menunduk.


"Serius? Ayo ke rumah sakit! Masa dokter kok bisa sakit!" cibir Leon menarik lengan Khansa.


Wanita itu menepuk lengan Leon, "Dokter juga manusia! Lagian mawarnya bau! Nggak enak banget!" lanjutnya memijit keningnya yang terasa pening.


"Hah? Wangi kok. Bukannya itu bunga favorit kamu?" ujarnya membukakan pintu untuk Khansa.


Khansa menurut, tubuhnya memang terasa lemas kali ini. "Nggak tahu. Udah buruan sana!" titah Khansa.


Leon berlari kecil meminta pada penjual untuk merangkai bunga pilihan Khansa. Meski dalam benaknya bertanya-tanya. Padahal ia merasa bunganya sangat harum seperti mawar-mawar lainnya.


"Istrinya kenapa, Tuan?" tanya ibu paruh baya pemilik toko bunga tersebut.


"Muntah-muntah, Nyonya. Padahal bunga favoritnya mawar merah. Entah kenapa katanya baunya tidak enak. Eh! Maaf, Nyonya," jawab Leon keceplosan dan merasa tak enak hati.


Awalnya tersentak, namun kemudian wanita itu tersenyum mengulurkan bunga yang selesai dirangkainya. "Mungkin bawaan hamil, Tuan."


"DEG!"


Tubuh Leon membeku, tangannya bahkan masih menggantung di udara setelah menerima buket bunga tersebut. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kuat. "Ha ... hamil?" gumamnya terbata-bata.


Bersambung~


Hamil nggak? 🤔